Riawani Elyta: Resensi Novel Pergi : Memaknai Pentingnya Tujuan Hidup

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Friday, 31 August 2018

Resensi Novel Pergi : Memaknai Pentingnya Tujuan Hidup

 
Buat kalian para pencinta novel lokal, tentu tidak asing lagi dengan nama Tere Liye, salah satu novelis produktif tanah air yang karya-karyanya selalu best seller dan beberapa darinya telah diangkat ke layar lebar. Penulis kelahiran Lahat ini, juga selalu membuat rangkaian series untuk novel-novelnya. Mulai dari serial Anak-anak Mamak, dwilogi Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk, serta serial Bumi.

Pada bulan April 2018 lalu, Tere Liye kembali menyapa pembaca-pembacanya dengan novel terbarunya berjudul "Pergi". Novel ini merupakan sekuel dari novel “Pulang”, yang terbit pada tahun 2015 dan bergenre action-thriller. Satu hal yang berbeda, untuk pertama kalinya, pada novel terbaru Tere Liye ini tertera nama Sarippudin sebagai co-authornya, yang tak lain adalah keponakannya. (sumber : hot.detik.com).
Novel ini dibuka dengan kisah tentang Bujang yang telah menjadi Tauke Besar Keluarga Tong, bersama rekan-rekan setianya pada novel Pulang (Salonga, White, si kembar Yuki dan Kiko) yang tiba di Meksiko. Tujuan mereka adalah  menemukan salah satu hasil teknologi penting yang didanai keluarga Tong dan kabarnya dicuri oleh kelompok lain. Teknologi itu penting sekali, untuk mendeteksi serangan siber (hal. 5).

Siapa menduga, kedatangan mereka yang langsung menuju gudang kontainer tempat kemungkinan alat teknologi itu berada, justru mempertemukan Bujang dengan seorang pria misterius bertopeng yang kemudian menantangnya berkelahi. Bujang kalah dalam perkelahian itu. Sang pria misterius pergi dengan menyisakan pertanyaan bergumpal dalam benak Bujang.

Cerita pun terus bergulir dan menjadi kian kompleks, bercampur antara kisah pencarian teknologi yang hilang, serangan dari lawan keluarga Tong yaitu Master Dragon yang cukup merepotkan Bujang dan kawan-kawan, kilas balik beberapa episode novel Pulang dan kisah masa lalu sang ayah, serta upaya Bujang untuk mengungkap rahasia sang pria misterius. 

Berhasilkah Bujang menemukan teknologi yang hilang tersebut dan menumpas Master Dragon, serta menyibak rahasia sang pria misterius? Apa pula  makna “Pergi”  dalam novel ini? 

Sudah menjadi kekhasan Tere Liye untuk meramu sebuah novel yang padat dalam segala elemen penyusunnya, mulai dari alur, tokoh, latar cerita, pesan hingga konflik, sehingga sangat membuka peluang untuk mengulasnya dari berbagai sisi. Berikut ulasannya :

Tema : Sama halnya dengan novel pendahulunya “Pulang”, novel sekuel ini kembali mengangkat topik shadow economy dengan segala intriknya yang dikombinasikan dengan perjalanan batin sang tokoh.

Saya kutip beberapa paragraph yang menyebutkan secara eksplisit akan kedua topik ini :
“Apa itu shadow economy? Itu adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam. Blackmarket. Underground economy.
Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, prostitusi, atau judi. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka hanya menjadi kecoa haram dan menjijikkan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, valas, pasar modal, hingga penemuan medis tak ternilai...... (hal. 38)

“........Dan lebih penting lagi, kemanakah aku sendiri akan pergi? Apakah aku akan menjadi monster seperti itu terus menerus?  Aku akan PERGI kemana?
Aku tidak tahu jawabannya sekarang. Semua masih segelap langit malam. (Hal. 158).

Latar : untuk latar tempat, Tere menggunakan cukup banyak negara, yaitu Meksiko, Indonesia, Jepang, Macau dan Hongkong. Jadi jangan heran, jika dalam novel ini kalian akan berulang kali menemukan adegan tokoh-tokohnya, terutama Bujang yang menaiki pesawat dan tiba di bandara. Dan untuk setiap tempat, pada umumnya Tere lebih fokus dalam hal menjelaskan keterkaitan tempat tersebut dengan shadow economy.  Ini lumayan meningkatkan wawasan untuk orang yang awam terhadap dunia ekonomi, sehingga bisa mengetahui tempat-tempat yang menjadi pusat shadow economy untuk jenis bisnis yang berbeda-beda. 

Grafik berikut ini menunjukkan 12 negara dengan shadow economy "paling mapan" di dunia berdasarkan data Forbes tahun 2017 :



Untuk latar waktu pula, Tere menggunakan masa sekarang dan masa lampau. Di sini, Tere menggunakan media surat untuk menceritakan sebagian kisah yang berlatar masa lampau.

Alur : Seperti halnya novel”Pulang”, Tere juga menggunakan alur maju mundur dalam novel ini. Alur maju berisi kisah Bujang dan teman-temannya dalam mencari alat teknologi yang hilang, menghadapi serangan anak buah Master Dragon dan usaha Bujang menyibak rahasia sang pria misterius, sementara alur mundur berisi kisah masa lalu ayah Bujang yang tertuang dalam surat dan kilas balik beberapa penggal cerita dari novel Pulang.

Tokoh : Novel ini kembali menampilkan beberapa tokoh sentral dalam novel Pulang diantaranya sang tokoh utama Bujang, Salonga, White, si kembar Yuki dan Kiko, juga ada Tuanku Imam, Togar, dan Samad. Tokoh-tokoh baru turut dihadirkan diantaranya Otets, Diego, Rambang, Maria, Catrina, serta tokoh Thomas dari novel Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk yang muncul sekilas. Diantara semua tokoh ini, saya sempat berharap tokoh Rambang dan Thomas tampil lebih lama, namun harapan saya pupus. Ending seorang Rambang sungguh di luar dugaan saya, dan peran Thomas berakhir justru saat saya sedang asyik menikmati kisah yang melibatkan tokoh ini dalam acara pernikahan Sakura, anak Yamaguchi.

Konflik : Tere termasuk salah satu novelis yang piawai mengemas konflik. Hampir semua novelnya, selalu menampilkan konflik yang kompleks namun  dijalin dengan cara yang mengasyikkan. Tidak terkecuali dalam novel ini. Konflik perseteruan Bujang dengan musuh bebuyutan Keluarga Tong yaitu Master Dragon dikemas apik melalui rangkaian cerita yang sarat adegan action, diselingi riak-riak kecil yang dialami Bujang bersama tim kecilnya dan tokoh-tokoh baru dalam novel ini.
Sementara konflik batin yang mewarnai novel ini, apalagi kalau bukan pergulatan batin Bujang untuk menemukan makna pergi.

Oh ya, konflik yang menghiasi kisah masa lalu ayah Bujang juga tak kalah menarik untuk disimak. Konflik yang bernuansa asmara ini memberi warna romantis dan mengharukan untuk cerita yang lebih didominasi adegan action dan perkelahian ini.

Sudut pandang : kisah dalam novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Bujang sang tokoh sentral dan seorang lagi yang bertutur melalui media surat. Siapa? Ah, kurang seru pastinya kalau diceritakan di sini. Tetapi, meski penceritaannya hanya lewat surat, dijamin tidak kalah mengasyikkan dengan kisah dari sudut pandang Bujang.

Amanat : Sebenarnya, mudah sekali untuk menemukan amanat novel ini. Amanat yang langsung bisa ditangkap saat membaca blurb di back cover novel yang sekaligus merepresentasikan keseluruhan isi novel :
“Sebuah kisah tentang menemukan tujuan, kemana hendak pergi, melalui kenangan demi kenangan masa lalu, pertarungan hidup – mati, untuk memutuskan kemana langkah kaki akan dibawa. Pergi.”

Namun, melalui rangkaian ceritanya pembaca justru disadarkan, bahwa untuk menemukan makna Pergi dalam kehidupan yang kita jalani bukanlah hal yang mudah.  Seperti yang dialami oleh Bujang, tokoh utama yang digelar Si Babi Hutan ini, harus melalui berbagai peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya baru kemudian terhentak akan makna hidup yang selama ini belum pernah terlintas dalam benaknya.

Sekian? Ah. Tentu saja belum. Masih terlalu dini untuk mengakhiri kupasan terhadap novel setebal 455 halaman ini. Untuk ulasan lanjutannya, saya memilih untuk menggunakan metode Q&A (question and answer).

Karena ini merupakan sekuel dari novel Pulang, bisakah kita membacanya tanpa harus membaca novel Pulang?
Bisa, karena didalam novel ini juga memuat beberapa cuplikan dari novel Pulang, dan pengenalan (atau mengingatkan kembali bagi yang sudah membaca) terhadap tokoh yang pernah ada dalam novel Pulang. Tere juga kembali mengulas tentang shadow economy dalam uraian yang cukup detail, baik melalui narasi maupun dialog antar tokoh-tokohnya. Tetapi, tentu saja akan lebih baik, seru dan komplit jika kalian juga telah membaca novel Pulang.

(Resensi novel Pulang bisa kalian baca disini)
Mana yang lebih bagus, novel ini atau novel sebelumnya “Pulang”?
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Sehingga untuk menentukan mana yang lebih bagus, tergantung kepada selera masing-masing. Novel Pergi memuat adegan action dan thriller yang dua kali lebih banyak dan lebih seru ketimbang novel Pulang. Namun typo-nya juga jauh lebih banyak ketimbang novel Pulang yang tergolong nyaris bersih dari typo.

Apa kelebihan novel ini dibandingkan novel-novel Tere yang lain?
Saya memang belum membaca semua novel Tere. Namun diantara novel-novel Tere yang didalamnya terdapat muatan action-thriller, novel Pergi ini adalah yang paling banyak menampilkan unsur tersebut. Boleh dibilang, separuh novel ini berisi tentang perseteruan, perkelahian dan perlawanan antara Bujang and the team menghadapi lawan-lawannya, yang dikemas ala film Mission Impossible dan film action Hongkong.

Lantas, dimana letak kekurangan novel ini?
Selain typo yang cukup banyak, sempat terjadi kesalahan penceritaan sudut pandang pada halaman 150, saat Tere menceritakan tentang Vasily. Semestinya, penggunaan sudut pandang dari tokoh Bujang membatasi pengetahuan sang tokoh terhadap apa yang dilakukan Vasily.

Bagi penggemar novel-novel Tere yang bermuatan filosofis dan perenungan, sepertinya tidak akan mendapatkannya secara maksimal dalam novel ini. Jika dibandingkan dengan novel-novel Tere yang lebih sarat dengan nasehat kehidupan seperti Rindu, Tentang Kamu dan juga Pulang, novel kali ini memang lebih didominasi adegan action-thriller dan tentu saja ekstra pengetahuan seputar dunia shadow economy. Muatan nasehat dan perenungan dari novel ini terasa sangat didominasi oleh dialog antara Bujang dan Salonga. Yang nyaris semuanya menggiring tokoh Bujang (dan para pembaca) pada perenungan akan pentingnya memaknai tujuan hidup.

Saya kutip beberapa ucapan Salonga dalam dialognya dengan Bujang tentang makna hidup :
"..............Kemana aku akan pergi? Apakah langit adalah batasnya? Ternyata tidak juga. Karena segala sesuatu pasti akan ada akhirnya. Apakah aku benar-benar bahagia dengan pilihan hidupku? Apakah aku benar-benar bangga dengan semua yang kulakukan? Akan berakhir di halte mana perjalanan hidupku?" (hal. 388-389)

".........Dan lebih penting lagi, kemana hidupmu akan melangkah pergi. Apa sebenarnya yang hendak kamu lakukan. Sebelum semua terlambat dan waktu melesat cepat, keputusan itu harus diambil." (hal. 395)

Open ending-nya juga berpotensi menyisakan beragam penafsiran dalam benak pembaca. Memang, ini bukan merupakan sebuah kekurangan. Tetapi, bagi pembaca yang sudah telanjur berekspektasi akan sebuah penutup cerita yang mampu menjawab lingkaran pertanyaan dan misteri dalam novel ini, khususnya tentang pencarian makna pergi, sepertinya harus cukup puas dengan sebuah ending yang masih membuka peluang untuk kelanjutan kisah yang baru.

Terakhir, apa yang membuat saya harus memiliki dan membaca novel ini?
Pertama, novel ini membuktikan bahwa karya lokal pun mampu menyamai kualitas novel-novel atau sinema impor dengan genre yang sama.
Buat kalian yang kurang hobi membaca novel pun, novel ini saya yakin dapat menahan kalian untuk terus membacanya sampai lembar terakhir. Kepiawaian Tere tidak hanya dalam hal mengemas adegan action yang "kekinian", tetapi juga dalam membangkitkan rasa penasaran pembaca secara konsisten, diselingi dengan topik shadow economy dan kisah asmara yang membuat novel ini jauh dari membosankan.

Kedua, novel ini menginspirasi pembacanya untuk merenungkan makna  tentang kemana akan pergi, kemana arah selanjutnya dalam perjalanan hidup yang masih tersisa. Kisah Bujang mengajarkan kepada kita bahwa sekompleks dan serumit apapun hidup yang kita jalani, jangan sampai mengabaikan dan melalaikan langkah kita dari tujuan dan makna hidup yang hakiki. Buat saya, inspirasi lain tentang pencarian makna hidup dalam novel ini selain yang bisa kita renungkan dari kisah Bujang, adalah kisah tentang dua petani yang diceritakan Salonga (hal . 391 – 393). Terlalu panjang untuk saya tuliskan di sini. Lebih baik, kalian baca saja langsung dari novel ini ya.

Ketiga, bagi kalian yang punya cita-cita ingin menghasilkan novel yang baik dan berkualitas, novel ini bisa menjadi contoh untuk sebuah novel yang layak diberikan 4 dari 5 bintang dari berbagai unsurnya, sekaligus novel yang memang berpotensi best seller seperti halnya novel-novel Tere selama ini. Di sini, kita bisa belajar bagaimana menghasilkan sebuah novel yang "berisi", yang tidak sekadar menjual adegan action nan seru tetapi juga menghadirkan perenungan didalamnya akan makna hidup.

Sebagai tambahan, setelah tuntas membaca novel ini, saya sempat dibuat tertegun sejenak saat kemudian membaca surat Al-An'am ayat 123 yang artinya :
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Masya Allah. Sungguh benar bahwa muatan Al-Quran tidak akan pernah lekang oleh waktu. Ayat ini seakan mengisyaratkan bahwa para pemimpin besar shadow economy di beberapa negara, adalah mereka yang memang "diizinkan" Allah untuk eksis dengan segala tingkah polahnya tanpa mereka menyadari mudharat dari apa yang mereka lakukan, yang tentu saja dapat memberi kita banyak pelajaran.  Salah satunya dari kisah Bujang bersama bisnis shadow economy yang dijalankannya, seakan mengajak pembaca untuk merenung, bahwa shadow economy, dari permukaan  tampak seperti sebuah kejahatan yang sumir, abu-abu, sulit untuk menggolongkannya sebagai kejahatan murni, namun efek yang ditimbulkannya jauh lebih masif dan berbahaya daripada tindak kriminal sejenis merampok atau mencuri.

Jadi, daripada penasaran, lebih baik segera baca novel ini, dan bersiaplah untuk merenungkan makna pergi yang sejati dalam kehidupan kalian setelah menuntaskannya.
Sebagai penutup, saya kutip cuplikan paragraph berisi rangkaian pertanyaan, yang dapat menjadi “bekal”mu untuk menemukan makna pergi :
“.............Ada pertanyaan penting yang menunggu untuk dijawab. Pergi. Sejatinya, kemana kita akan pergi? Apa yang harus dilakukan? Berangkat kemana? Bersama siapa? Apa kendaraannya? Dan kemana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita?.....” (hal. 86).

Sudahkah kalian menemukan jawabannya?

Judul                     : Pergi
Penulis                 : Tere Liye
Co-author           : Saripuddin
Penerbit              : Republika
Tebal                     : 455 hal
Terbit                    : April 2018


 Ingin baca resensi novel Tere Liye yang lain? Klik aja link dibawah ini ya :



12 comments:

  1. Wuiih .. resensi khas Mbak Lyta .. mengupas tuntas dengan detil ..
    as usual, kereeen..

    ReplyDelete
  2. trima kasih mbak linda sudah mampir...

    ReplyDelete
  3. Saya ada buku nya pulang dan pergi tapi belum sempat terbaca ��‍♀️��‍♀️

    ReplyDelete
  4. Setelah novel Pergi yang cukup membuat ku terkagum, lalu beredar kabar akan keluar sekuel novelnya yaitu novel ini. Excited dan gak sabaran buat baca. But i love it. Walaupun novel ini lebih penuh dengan aktifitas berantem-berantemnya, selalu suka cara Tereliye dalam memaparkan misteri-misteri kehidupan seseorang, tapi untuk typonya emang ampun sekali :)) 4 dari 5 bintang untuk novel ini :3

    ReplyDelete
  5. Sering juga baca novel tere liye cuma untuk yang novel pergi ini belum. Menarikk jugaa novelnya, harus baca nii hhe

    ReplyDelete
  6. Menarik novelnya,
    Aku hanya 1 baca novelnya Tere Liye. Baca tulisan ini jadi pengen baca juga. Thanks kak..

    ReplyDelete
  7. Wah.
    Baru tau novel tere liye ini.
    Shadow economy baru dengerr.
    Menarik utk dikulik lbh jauh

    ReplyDelete
  8. Wah keren banget ini bukunya.... Luar biasa memang ya kak Tere ini

    ReplyDelete
  9. Waktu baca ending, aku langsung mikir, bakal ada lanjutannya hehehe
    Gak seru gak ada cerita tentang saudara se ayah yg baru bertemu hehehe

    ReplyDelete