Riawani Elyta: Serepih Luka di Tesso Nilo (Cerber Femina part 3 - tamat)

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Monday, 17 April 2017

Serepih Luka di Tesso Nilo (Cerber Femina part 3 - tamat)

Kisah sebelumnya bisa dibaca di sini
“Belum tidur?”
Saya tidak perlu menoleh untuk memastikan sang pemilik suara. Tiga tahun ternyata terlalu singkat untuk menghapus ingatan saya akan suara bass-nya yang sedikit berat itu.
“Belum. Aku mau menyelesaikan tulisan sebelum pulang,” jawab saya dengan mata tetap tertuju pada laptop.
Saya menggunakan ruang depan untuk menulis. Jendela saya biarkan terbuka. Saya ingin merasakan kondisi udara di taman nasional pasca pembakaran hutan agar bisa mendeskripsikan dengan tepat bagaimana situasi sesungguhnya saat ini. Namun, saya juga tidak menduga kalau Rahadi masih terjaga di tengah malam dan melintasi bagian depan bangunan ini.

“Percuma saja menulis tentang gajah dan perambahan. Sudah berapa banyak berita tentang korban jiwa manusia akibat kabut asap, tetapi apa tindakan yang mereka ambil? Dan tentang perambahan hutan, asal kau tahu, rekan-rekan kami termasuk aku sendiri, harus mempertaruhkan nyawa saat kami berusaha membekuk pelakunya.”
Saya berhenti mengetik. Akhirnya memutuskan untuk menoleh. Rahadi tengah berdiri seraya menumpukan sebelah tangannya pada jendela besar yang tak berteralis. Wajahnya tampak mengeras. Dan matanya menatap saya tajam.
“Aku ingin lebih banyak orang tahu bahwa dampak pembakaran membuat situasi bertambah sulit. Hutan terbakar. Gajah liar menyerbu pemukiman penduduk. Konflik pun tak terhindarkan. Sementara di saat yang sama, warga desa juga harus bertahan di tengah udara yang tercemar asap. Lalu, mengapa kalian sampai harus bertaruh nyawa? Apa para perambah itu dijaga preman-preman?”
 “Bukan preman. Tetapi warga desa. Mereka semua kompak melindungi perambah. Bisnis kelapa sawit terlalu menggiurkan. Lagipula, mereka juga tahu, semua aturan dan aparat setempat akan bertekuk lutut pada orang-orang yang ada dibalik perluasan lahan dan pembakaran hutan. Aku tidak mengajakmu untuk pesimis. Tetapi apa yang kau lakukan itu, tidak akan banyak berguna untuk menghentikan masalah ini.” 
Sesuatu yang panas merambati dada saya saat mendengar kalimat terakhir Rahadi.
“Jadi kau pikir apa yang kulakukan tidak akan berdampak apapun, begitu? Dengar! Akan kubuktikan padamu kalau tulisanku bisa mengubah keadaan meski dalam kontribusi terkecil sekalipun!” Saya benar-benar geram kali ini. Saya merasa tidak seperti menghadapi Rahadi yang dulu pernah membuat dawai hati saya bergetar.
“Tenang, tahan dulu suaramu, Retni. Gajah-gajahku bisa terbangun nanti. Kasihan, mereka sudah bekerja sangat keras hari ini.”
Di depan saya, Rahadi tersenyum separuh bibir. “Aku tidak meremehkan pekerjaanmu. Aku hanya tidak yakin kalau semua yang kau tulis dapat mengubah keadaan. Ini sudah masuk bulan kedua. Tetapi kondisi udara justru bertambah parah. Dan perambahan terus saja terjadi. Lebih baik kau mengambil cuti dan cepat-cepat meninggalkan kota ini sebelum kesehatanmu memburuk. Bulan depan, kau akan lamaran, bukan?”
Saya ternganga. Jadi, Rahadi sudah tahu?
“Pak Salim yang bilang padamu?” Saya memicingkan mata. Rahadi mengangguk. “Kuucapkan selamat. Akhirnya, kau berhasil mendahuluiku.”
Rasa panas dalam dada saya kini menjalar pelan hingga mencapai ubun-ubun. Ucapan Rahadi terdengar begitu sinis. Apakah dia kecewa? Atau marah? Tetapi.........
“Bukankah kau sudah bertunangan? Kupikir, tahun ini kau akan menikah.”
Rahadi menggelengkan kepalanya. “Seperti yang kau lihat, aku masih di sini, melatih gajah-gajah asuhanku untuk mengusir gajah liar sampai konflik gajah benar-benar berhenti.”
“Boleh aku tahu, kenapa pertunanganmu batal?” Saya menurunkan nada suara. Menatapnya sungguh-sungguh. Kami masih berbicara di posisi yang sama. Saya di dalam gedung dan Rahadi di sisi jendela.
“Kau mau tahu kenapa? Karena aku lebih mencintai Momon daripada Ayu! Aku rela menua bersama Momon daripada hidup tersiksa di sisi perempuan yang tidak kucintai.”
Rahadi tertawa. Keras sekali hingga bahunya terguncang. Saya terbelalak. “Hey! Jangan main-main dong! Tidak mungkin kau mau melepaskan Ayu hanya demi seekor gajah!”
Rahadi tak menjawab. Ia berlalu dari jendela bersama sisa-sisa tawanya. Mendadak, tubuh saya menggigil. Suara tawa itu begitu kentara, terdengar bagai nada-nada pedih yang mencoba berlindung dibalik alunan musik yang ceria.

************
“Kondisi udara bertambah buruk. Sebaiknya kau tunda kepulanganmu beberapa jam lagi,” Rahadi menatap langit sedikit cemas saat keesokan paginya saya bersiap-siap meninggalkan Tesso Nilo. Entah apa yang berkelindan dalam benak lelaki ini. Setelah tadi malam dia bersikap demikian, pagi ini dia justru tampak mengkhawatirkan saya seakan-akan saya akan berangkat ke medan perang. Dia juga bersikeras menemani saya dengan sepeda motor, melalui jalan yang kemarin saya lewati bersama Pak Tungkat hingga tiba di tempat mobil saya terparkir.
Saya menggeleng. “Aku mendapat kabar kalau pagi ini giliran hutan Rokan yang membara. Sepertinya, hanya dalam tempo beberapa jam saja kadar polutan akan terus naik. Lebih baik aku pulang sekarang.”
“Perlu aku temani?”
“Tidak. Terima kasih. Aku sudah pernah menyupir lebih jauh dari ini. Doakan saja aku selamat. Oke?”
Rahadi menatap saya seakan-akan ada miliknya yang sangat berharga, ia titipkan pada saya. “Hati-hati. Jangan mengemudi laju-laju. Nomor ponselku masih sama. Kabari aku begitu kau sampai.”
Roda mobil saya baru bergerak beberapa meter saat mata saya tak tahan lagi untuk tidak melihat spion. Rahadi masih berdiri di ujung jalan. Menatap kepergian saya dengan tubuh seakan dirantai. Diam seperti patung.

****************
Sebuah paket seukuran kotak sepatu tergeletak di depan pintu kost-kostan saya. Membuat dahi saya mengernyit. Selama ini, petugas pos tidak pernah meninggalkan barang kiriman begitu saja jika tidak ada orang di rumah. Dan saya juga tidak mendapat telepon dari kurir manapun yang bermaksud mengantar kiriman.
Saya menunduk. Memperhatikan tulisan pada kertas pembungkusnya. Nama dan alamat lengkap saya tertera di sana. Saya menendang kotak itu pelan-pelan dengan ujung kaki. Siapa tahu saja, ada seperangkat bom rakitan didalamnya yang akan meledak begitu picunya tersentuh.
Saya tidak mengada-ada. Beberapa jurnalis Mercusuar pernah mendapat teror dan intimidasi dalam berbagai bentuknya. Mulai dari gertak sambal via SMS hingga yang mengancam nyawa.
Tidak ada nama pengirimnya saat kotak itu saya balikkan. Saya memutuskan untuk mengangkatnya pelan-pelan. Terasa berat. Sepertinya, isi paket ini bobotnya lebih dari satu kilogram.
Saya berjalan menuju bak pembuangan sampah yang berjarak kira-kira lima belas meter, membuangnya di sana tanpa berpikir lagi.

****************
Pagi baru saja menyapa saat pintu kost-kostan saya diketuk cukup keras. Saat saya membuka pintu, ternyata Pak Sudi sang ketua RT bersama tiga orang pria yang saya kenali sebagai warga sekitar kost-kostan.
“Maaf, pagi-pagi membangunkan dik Retni. Warga melapor kalau ada bau tak sedap di tempat pembuangan sampah. Barusan ada yang membuka sebuah paket yang dicurigai sebagai sumber bau. Ternyata isinya bangkai kucing. Dan pada kotak itu, ada nama dik Retni.”
Saya terenyak. Kecurigaan saya ternyata benar. Paket itu ternyata memang berisi sesuatu untuk menakut-nakuti saya.
“Saya menerima paket itu kemarin sore, Pak. Tetapi, karena tidak ada nama pengirimnya, juga karena tidak ada yang menelpon dari kantor pos, saya lalu membuangnya.”
Pak Sudi mengernyit. “Apa kamu punya musuh, dan musuh kamu itu bermaksud mengancam dengan mengirim bangkai itu?”
Saya menggeleng. “Saya tidak punya musuh, Pak. Itu sudah risiko pekerjaan saya. Menyampaikan fakta dan kebenaran terkadang menimbulkan ancaman pada pihak tertentu. Jadi barangkali saja, daripada merasa terancam, mereka memilih untuk balik mengancam.”
Di depan saya, Pak Sudi menghela napas panjang. “Saya hanya bisa bilang hati-hati kalau begitu. Jika ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi saya. Kami permisi.”
Saya mengangguk dan menutup pintu setelah Pak Sudi dan rombongannya berlalu. Mereka pikir, menakut-nakuti saya seperti itu akan membuat saya berhenti? Saya tersenyum separuh bibir. Justru saya sedang mempersiapkan pemberitaan lain yang tak kalah menarik. Tunggu saja tanggal mainnya.

*******************
Organisasi Perlindungan Satwa Internasional hari ini melayangkan kecaman keras kepada para pelaku pembakaran hutan yang telah mengancam kelangsungan hidup satwa langka khususnya gajah liar yang berada di wilayah Riau.....
Lelaki itu berhenti sejenak. Tertawa pelan dengan ekspresi meledek. Namun reaksi itu hanya berlangsung sekejap, karena baris penutup dari berita itu spontan menghentikan tawanya.
Seperti juga kemarin-kemarin, tindakan pertamanya adalah meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghubungi nomor yang sudah dia tandai dengan angka khusus. Ia nyaris tidak pernah menggunakan jalur komunikasi yang lain. Tidak via SMS, email, WA, BBM ataupun Line. Baginya, semua kemudahan itu sama bodohnya dengan memasang jerat di halaman rumah. Hanya dalam hitungan menit, lawan bicaramu akan melakukan screenshot atas komunikasi yang terpampang di layar lalu mengirimkannya pada pihak yang membutuhkan. Jadi, wajar saja jika lelaki itu hanya mempercayai pembicaraan langsung via ponselnya yang sudah dilengkapi piranti anti sadap.
“Kau sudah baca berita hari ini?”
“Berita yang mana, Pak?”
“Tentang kecaman dari organisasi satwa internasional. Bagaimana bisa organisasi itu bersuara? Bahkan sampai menjual nama PBB segala?”
“Mereka tidak menjual nama PBB, tetapi mereka memang mitra PBB dalam hal perlindungan hewan. Jadi, suara mereka bahkan lebih didengar dari tuntutan LSM dan media nasional manapun, Pak.”
Lelaki itu mendengus geram. Belum cukup ancaman datang dari dalam, kini pihak luar pun ikut-ikutan menyerang.
“Jalur A kita masih aman, bukan?”
Ada jeda yang membuatnya mengernyit sebelum lawan bicaranya menjawab. “Tidak benar-benar aman, Pak. Dalam waktu dekat, nama perusahaan yang diduga terlibat akan dipublikasi di media cetak juga di media-media online.”
“Lantas, apa yang sudah kalian lakukan?”
“Dari sisi publikasi, tak banyak yang bisa kami lakukan. Tetapi dari sisi hukum, aman. Pihak berwajib hanya akan mengurusi para eksekutor di lapangan.”
“Kau yakin itu?”
“Yakin, Pak. Tetapi, ada satu hal perlu Bapak ketahui. Bahwa api yang memicu asap protes dari organisasi satwa itu, juga berasal dari orang yang sama.”
Lelaki itu terperangah. “Maksudmu, si jurnalis amatiran itu?”
“Benar, Pak.”
“Apa kalian belum memperingatkannya?”
“Sudah, Pak. Tetapi, sepertinya dia sudah kebal dengan ancaman.”
Lelaki itu mendengus. Ucapannya yang terlontar kemudian tak ubahnya anjing yang menyalak. “Bagaimana mungkin anak ayam berani bermain-main dengan serigala? Kau urus saja dulu para kunyuk-kunyuk yang sok suci itu! Jangan sampai mereka terpengaruh lalu beralih memihak kekuatan viral media.”
“Siap, Pak.”
Lelaki itu segera mematikan ponselnya. Dalam benaknya melintas satu pertanyaan yang tak urung membuat giginya bergemeletuk. Siapa gerangan jurnalis berinisial RB itu? Siapa pula yang ada di belakangnya sehingga ia berani menulis sedemikian frontal?
Sebuah pesan masuk menggetarkan ponselnya sesaat sebelum ia melemparnya ke tempat semula.
Pa. Jangan lupa minggu ketiga bulan depan.
Ia hanya membalas singkat. Ya. Namun batinnya justru berkata sebaliknya. Saya tidak janji.

*******************
Jakarta, September 2015
Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru bertambah pekat hari ini. ISPU telah memasuki angka 700. Saya terpaksa mengambil jadwal penerbangan melalui Padang untuk berangkat ke Jakarta. Delapan jam melalui perjalanan darat Pekanbaru – Padang, berlanjut dengan lima puluh menit penerbangan dari Bandara Internasional Minangkabau menuju Soekarno Hatta, membuat pinggang saya lumayan pegal.
Upaya pemadaman terhadap titik-titik api, sejauh ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Padahal, biaya yang dihabiskan untuk water bombing, konon telah mencapai angka milyaran rupiah. Sungguh, terlalu mahal harga harus ditebus untuk “membayar” perbuatan manusia merusak paru-paru dunia.
Di lain sisi, saya merasa bersyukur. Artikel saya tentang meningkatnya konflik gajah dan gajah liar yang menjadi korban pembakaran serta perambahan hutan di sekitar Tesso Nilo, telah memantik kegeraman WWF. Pengalaman saya meliput tentang Tesso Nilo tiga tahun lalu, adalah yang pertama kali membuka jalan untuk saya berinteraksi dengan organisasi satwa internasional itu. Tak heran, liputan saya kali inipun dengan cepat memancing reaksi WWF, tak lama setelah saya mengirim surel berisi tautan artikel yang telah dimuat di Mercusuar. Apalagi, peristiwa terparah dari pembakaran hutan tahun inipun turut menjadi sorotan tajam media internasional.
Cuaca cerah dan teriknya sinar matahari menyambut kedatangan saya di bandara Soekarno Hatta. Sesuatu yang sudah dua bulan ini nyaris tak pernah saya rasakan lagi.
Arul menjemput saya di bandara. Rambut ikalnya ia biarkan panjang dan terkuncir di belakang. Sekilas, ia tampak seperti seorang seniman ketimbang blogger.
“Tambah kucel kamu Ret. Kuantar facial dulu ya?” tawar Arul saat kami melangkah menuju parkiran.
“Apa sekadar untuk acara lamaran, aku juga harus tampil maksimal?”
“Buatku sih nggak masalah kamu mau tampil tanpa makeup sekalipun. Tapi, para orang-orang tua itu, khususnya mama dan tante-tanteku, apa kata mereka kalau lihat kamu hitam dan jerawatan begini?”
“Apa semua tantemu akan datang?”
“Ya. Mereka akan datang. Sekaligus mewakili papaku. Ada acara penting yang harus dihadirinya dan tidak bisa diwakilkan pada siapapun. Dan dia...dia minta maaf.”
Ekspresi Arul tampak menyesal saat mengatakan itu. Saya hanya menanggapinya dengan senyum maklum. Entah mengapa, saya tidak terlalu antusias menghadapi acara lamaran yang akan digelar dua hari lagi. Seharusnya saya sudah menjejakkan kaki di Jakarta seminggu lalu. Tetapi, jadwal penerbangan yang sedikit membingungkan membuat saya terpaksa menunda kepulangan. Selain tentu saja, karena saya telah berkomitmen untuk menyelesaikan semua tugas-tugas peliputan saya sebelum meninggalkan Pekanbaru.
Ponsel saya membunyikan notifikasi dari jalur Whatssap. Saya mengintip sebentar. Pesan dari Bim Bim. Maaf, Ret. Tapi kurasa kau perlu tahu ini. Buka link ini.
Saya mengernyit. Jari saya spontan menekan tautan yang diberikan Bim Bim. Tautan yang mengantarkan saya pada situs sebuah media nasional. Tautan dengan berita yang berhasil menahan kedua mata saya dari berkedip. Inilah berita penting yang selama ini dinanti-nantikan banyak pihak, apalagi kalau bukan nama-nama perusahaan raksasa yang ada dibalik pembakaran hutan.
Perhatian saya sesaat teralih pada seraut wajah pria dan nama yang menyertai fotonya. Pria yang disinyalir sebagai pemilik salah satu perusahaan. Wajah dan nama itu .....begitu familier. Saya hanya perlu menoleh untuk melihat wajah ini dalam versi tiga puluh tahun lebih muda.
“Jadi, kita mau kemana dulu nih?” Arul telah duduk di belakang setir dan menghidupkan mesin mobilnya.
Saya meneguk ludah. Terasa pahit saat kemudian berkata, “Aku mau bicara sesuatu. Kita cari tempat nongkrong yang enak. Oke?”

*****************
 Dua hari kemudian,
Baju kebaya modern berwarna broken white itu masih tergantung di dinding, terbungkus dalam plastik transparan. Saya baru saja bermaksud melipatnya saat ponsel saya berbunyi. Lelaki itu? Saya mengernyit melihat nama Rahadi di layar. Ada apa malam-malam begini dia menelpon?
“Halo....”
“Halo Ret. Maaf, mengganggumu malam-malam. Jaringan telepon mengalami gangguan beberapa hari ini. Aku menelponmu siang tadi tetapi gagal. Aku hanya mau mengucap selamat untuk artikelmu. Aku mengikuti semua tulisanmu di koran dan juga perkembangannya. Kau tahu? Sejak kemarin, ada ratusan tentara diturunkan untuk mengawal pemadaman api di hutan-hutan di Pelalawan. Aku tidak pernah melihat jumlah sebanyak itu sebelumnya. Tadi pagi, dua orang perwakilan WWF Indonesia datang ke Tesso Nilo. Mereka ingin mendapatkan fakta yang lebih detail tentang apa yang sesungguhnya terjadi di sini. Aku minta maaf, Ret, waktu itu telah meremehkanmu. Aku juga minta maaf, tidak pernah berterus terang padamu tentang perasaanku. Karena aku tahu, cepat atau lambat, kau pasti akan meninggalkan Pekanbaru. Sementara aku...aku sudah bersumpah tidak akan meninggalkan Tesso Nilo dan gajah-gajah latihku selama aku masih hidup. Oh ya, omong-omong, kapan hari lamaranmu? Retni, kau masih dengar aku ‘kan?”
“Masih.” Saya menjawab pelan. Entah Rahadi mendengarnya atau tidak. Kata-kata Rahadi seakan berputar ulang di telinga saya. Selamat untuk artikelmu.... Aku mengikuti semua tulisanmu..... Aku minta maaf....
Saya mematikan ponsel. Terlalu banyak yang ingin saya ceritakan pada Rahadi. Tetapi, tidak sekarang. Ini sudah terlalu larut.

*******************
Singapura, September 2015
Pukul tiga dini hari waktu setempat. Itu berarti, waktu di Jakarta saat ini menunjukkan pukul dua malam. Lantas, kenapa anak lelakinya menelponnya tengah malam begini?
“Bagaimana tadi? Semua lancar ‘kan? Saya sudah titip pesan pada Budi dan Rendra agar mengurusi semuanya. Tetapi, kenapa mereka belum memberi kabar, ya? Oh, saya lupa. Seharusnya saya yang menelpon. Jadi, bagaimana tadi? Semua lancar ‘kan?”
Lelaki itu tak dapat menyembunyikan kegugupannya. Tak sadar kalau pertanyaan yang ia lontarkan sama persis bunyinya dengan kalimat pembukanya. Mungkin, karena komunikasinya dengan anak lelakinya selama ini memang terlalu minim. Saking minimnya hingga ia nyaris tak pernah tahu semua aktivitas anak lelakinya begitupun sebaliknya. Ia yakin, anak lelakinya juga tak tahu persis sudah sejauh apa sepak terjang bisnisnya selama ini. Atau mungkin juga, rasa bersalah atas ketidakacuhannya pada hari penting anak lelakinya, sedikit banyak telah mengusik kekerasan hatinya yang selama ini tak tergoyahkan.
“Semua lancar, Pa. Seperti mobil yang melaju di jalan tol sendirian. Terima kasih, sudah memadamkan api kebahagiaanku sebelum api itu berkobar. Sementara di belahan bumi yang lain, api yang Papa sulut masih terus berkobar dengan hebatnya. Pantas saja Papa lebih betah di sana. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka kalau Papa adalah orang yang ada dibalik semua kekacauan.”
Klik. Lelaki itu terenyak. Ia belum lagi sempat merespon, belum juga sempat menarik napas saat pembicaraan mereka tahu-tahu saja telah terputus. Anak lelakinya memang suka bermetafora. Mentang-mentang dia penulis. Sesuatu yang sama sekali tak relevan dengan dunia lelaki itu hingga selama ini komunikasi mereka lebih sering berakhir dengan kebuntuan. Namun berbeda dari sebelum-sebelumnya, kali ini ucapan anak lelakinya justru menohoknya tepat di pusat kesadaran.
The number you’re calling is not active. Hanya suara mesin penjawab yang merespons saat ia menghubungi kembali. Lelaki itu menekan nomor tujuan yang sama. Lagi dan lagi. Hingga pada hitungan ke sebelas, ia mengempaskan ponselnya yang hanya memperdengarkan suara mesin penjawab. Tubuhnya seketika merosot. Menggelosor ke lantai.
Dahinya mengernyit oleh reaksi tubuhnya yang tak biasa. Tiba-tiba saja ia merasa lemas dan sulit menarik napas. Lelaki itu spontan mendongak, menatap pendingin ruangan kamar hotel yang berada tepat di atas kepalanya. Air conditioner itu masih menyala. Ia lalu menatap sekeliling. Pada pintu dan jendela kamar hotel yang tertutup rapat. Tetapi kenapa gumpalan asap tebal seakan baru saja masuk dan mengekspansi kamar ini hingga memenuhi paru-parunya?

SEKIAN

1)  Indeks Standar Pencemaran Udara
2)  Asosiasi Pengusaha Sawit Indonesia
3)  Proses perkenalan pria dan wanita yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Bagian dari tradisi lama masyarakat Betawi
4)  Benar-benar
5)  tim gajah latih  
6)  pawang gajah
7)  kandang gajah

9 comments:

  1. ehmmm tidak bisa komen apa- apa selain bagus kak .

    ReplyDelete
  2. Saya banyak belajar ni dari ulisan cerbung Mbak Ria... Renyah....

    ReplyDelete
  3. Endingnya smart! Semoga tahun ini ga ada pembakaran hutan lagi, ya Kak!

    ReplyDelete
  4. How can it goes end? Kurang panjannnngggg...

    ReplyDelete
  5. Keren kak
    Kapan lah bisa nulis cerita kyk gini hihi..

    ReplyDelete
  6. Keren kak
    Kapan lah bisa nulis cerita kyk gini hihi..

    ReplyDelete
  7. Cerita yg menarik.
    Ditunggu sambungannya.

    ReplyDelete