Riawani Elyta: Pingin "sexy"? Ayo Rajin Baca Buku!

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 29 January 2016

Pingin "sexy"? Ayo Rajin Baca Buku!



Mengawali tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Stiletto Book atas evennya yang kece badai ini. Jujur aja, tahun lalu, ide untuk menggelar even serupa sempat muncul dalam benak saya, juga pernah saya share di grup menulis di facebook. Karena saya udah gemees banget dengan fakta akan betapa rendahnya minat baca buku masyarakat kita. Biar nggak dikira hoax, ini saya sertakan capture-nya :


Saya juga udah menulis artikel tentang kecintaan saya terhadap buku, kira-kira dua bulan sebelum Stiletto Book menggelar lomba ini (baca di sini ya : Beli Buku....Buat Apa Sih). 

koleksi buku saya dan anak-anak *abaikan ketidakrapiannya*
Jadi, boleh dikatakan, tulisan ini adalah sekuelnya. Dan berhubung saya udah cerita panjang lebar pada tulisan tersebut tentang buku, sejak kapan saya senang baca buku, buku genre apa yang saya senangi, berapa buku yang saya beli per bulan dan berapa budgetnya, serta kenapa saya cinta banget sama buku (tuh, semua yang udah saya ceritain nyambung banget ‘kan ama tema lomba Stiletto book? Hehe), maka pada tulisan kali ini saya akan bercerita pula tentang pengalaman saya dalam mendorong minat baca masyarakat, baik berupa aktivitas offline maupun online. Kalian pingin tahu juga? :)

Aktivitas offline

Pertama, donasi buku
Sejak buku pertama saya terbit, saya memang sudah menjadikan donasi buku sebagai sebuah kewajiban. Baik buku saya pribadi, maupun buku dari koleksi pribadi. Donasi buku biasanya saya berikan ke rumah baca, perpustakaan daerah, panti asuhan hingga individu yang mengadakan kuiz buku atau sedang mengumpulkan buku untuk keperluan donasi.
Selain yang saya berikan secara cuma-cuma, ada juga yang dibeli oleh perpustakaan daerah. Kalo dihitung-hitung, total jumlahnya sudah di atas 100 eksemplar buku.
 
buku2 karya saya yang kini jadi aset Perpustakaan Daerah
 Buat saya, aktivitas donasi buku adalah salah satu kontribusi positif yang bisa saya lakukan – termasuk kita semua - untuk mendorong minat baca. Meskipun kita tidak turun langsung untuk memotivasi masyarakat agar gemar membaca, at least, kita sudah ikut berpartisipasi dalam penyediaan buku-buku bagi masyarakat secara gratis.

Buat kalian yang juga ingin berdonasi buku, caranya mudah dan murah kok. Tinggal kumpulin aja buku koleksi kalian yang masih layak baca, lalu donasikan ke rumah baca terdekat atau panti asuhan. Jika sulit menemukan rumah baca, kalian bisa cari alamat rumah baca di internet dan sosial media lalu dikirim via pos.

Nggak punya koleksi buku? Atau duit lagi cekak untuk beli buku buat didonasikan? Jangan khawatir. Kalian bisa cek obral buku di toko-toko online ataupun di toko-toko buku. Harganya sangat miring dan kondisinya jelas bagus karena masih bersegel. Kalian bisa beli buku-buku obral ini untuk didonasikan. Masih terasa berat juga? Ayo patungan dengan teman-teman. Intinya, sepanjang ada niat dan kemauan, insya Allah bisa!

Kedua, menjadi juri lomba resensi buku
Lho, emang ada hubungannya jadi juri lomba resensi dengan mendorong minat baca? Jelas ada dong. Karena tujuan lomba resensi, salah satunya adalah untuk mendorong minat baca buku. (tentang ini sudah saya tulis lengkap di sini : Kilas Lomba Resensi SLTA se-Kabupaten Bintan).

Sebelum meresensi, kita tentunya harus membaca buku dengan saksama  dan memahami isinya. Jadi, aktivitas meresensi merupakan cara efektif untuk mendorong seseorang membaca dan memahami isi buku dengan baik serta mengulas isi buku tersebut.

peserta lomba resensi lagi serius baca buku

Ketiga, menjadi narasumber pada kegiatan Promosi Minat Baca.
Kamis, 21 Nov 2015, bersama para pegawai perpustakaan dan arsip daerah, saya berangkat menuju Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan dalam rangka kegiatan promosi minat baca untuk pelajar-pelajar di sana. Karena kecamatan ini terletak di pulau, maka kami pun berangkat dengan menaiki kapal perpustakaan keliling. Sesampai di sana, kami masih harus berjalan kaki di jalan tanjakan di tengah panas terik selama setengah jam untuk tiba di lokasi. Alhamdulillah, hal itu nggak menyurutkan semangat kami untuk melaksanakan kegiatan ini.
bagian dalam kapal perpustakaan keliling, keren 'kaan? :D

biarpun harus jalan kaki, tetep semangaat, apalagi alamnya cantik begini :D

Sebelum kegiatan dimulai, panitia memberitahu saya kalau waktu untuk saya bicara di depan audiens tidak lebih dari 15 menit. Jujur deh, ini bikin saya galau. Gimana caranya mau kasih motivasi maksimal kalau waktunya terbatas?

Akhirnya, pas giliran saya tiba, saya langsung fokus pada poin ini : mengapa kita perlu membaca? 

Ada dua alasan yang saya utarakan. Pertama, kita nggak bakal mudah dibodoh-bodohin dan dipengaruhi orang. Tahu sendiri ‘kan, di era digital ini, segala macam jenis informasi bisa terakses dengan mudah. Mulai dari yang sifatnya informatif dan edukatif, yang sekadar hoax hingga yang bertujuan untuk menghasut dan memecah belah.

Nah, kalau kita malas menambah ilmu dan wawasan dengan membaca, sudah pasti, kita bakal gampang percaya dengan apapun jenis informasi yang diberikan. Kita juga bakal mudah dibodoh-bodohi dan dipengaruhi oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan dari ketidakpahaman kita.

Kedua, dengan rajin membaca, kita punya peluang untuk menjadi penulis. Nah, pada poin kedua ini, saya menceritakan proses saya dari seorang kutu buku lalu berkembang hingga menjadi seorang penulis buku. Saya juga bercerita asyiknya menjadi seorang penulis buku. Saya jadi punya banyak teman, saya bisa mengekspresikan beragam ide dan imajinasi, juga bisa dapet uang. Saya juga bercerita tentang penulis-penulis top Indonesia dengan segudang prestasi mereka. Harapan saya, para pelajar yang rata-rata murid SD dan SMP itu merasa tertarik untuk menjadi penulis dan tentu saja termotivasi untuk rajin baca buku.
 
saya lagi cuap-cuap di depan para pelajar dan undangan

Tetapi, ada satu hal yang bikin saya sedih. Saat saya melempar pertanyaan, siapa di sini yang hobi membaca? Nggak ada satupun siswa yang mengangkat tangannya. Iya benar. Tidak ada! hiks.

Jadi, data UNESCO tahun 2012 yang menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001, atau dari skala 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku, bukanlah sekadar isapan jempol belaka. Ini berarti, upaya mendorong minat baca buku sangat penting untuk dilakukan.

Aktivitas online

Pertama, meresensi buku
Sejauh ini, ada 155 buku yang sudah saya resensi di blog saya (mau baca resensi-resensi saya, boleh klik sini). Tujuan saya meresensi, selain agar memiliki dokumentasi tertulis dari buku-buku yang udah saya baca, juga karena saya ingin memberi informasi kepada lebih banyak orang tentang buku dan menyemangati mereka untuk membaca buku. Buku-buku yang saya resensi, berasal dari beragam genre dan jenis. Ada novel romance, non fiksi, novel reliji, buku motivasi, dan sebagainya. Jadi saya berharap, para pembaca blog saya juga bisa mencari referensi buku sesuai genre yang mereka sukai dari resensi-resensi tersebut.

Alhamdulillah, nggak sedikit pembaca yang kemudian memutuskan untuk membeli buku yang saya resensi. Ada juga penulis yang mempercayakan bukunya untuk saya resensi, serta penerbit yang mengontak penulis untuk minta naskah setelah membaca resensi saya untuk buku penulis tersebut. Harapan saya, semoga upaya sederhana ini bisa meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya mereka yang terakses dengan internet dan menggairahkan lagi semangat masyarakat untuk lebih mencintai buku.

Buat kalian yang hobi baca buku, yuk informasikan buku yang udah kalian baca dengan meresensinya dan mempublikasikannya di blog atau media cetak. Dengan meresensi di blog atau media cetak, kalian sudah ikut berpartisipasi dalam menularkan virus minat baca kepada masyarakat.

Kedua, mengadakan kuiz berhadiah buku
Setiap kali buku saya terbit, saya selalu mengadakan giveaway atau kuiz berhadiah buku. Baik buku saya sendiri maupun buku-buku karya penulis lain. Harapan saya, selain untuk keperluan promosi, hadiah buku tersebut akan memancing minat baca penerimanya lalu menularkan minat itu kepada orang-orang di sekitarnya.

Nah, demikianlah beberapa upaya yang sudah dan insya Allah akan terus saya lakukan dalam rangka menyebarkan virus minat baca buku. Tetapi......tentu saja yang saya lakukan itu masih sangat kecil kontribusinya, dan mungkin juga masih sangat kecil dampaknya terhadap perkembangan minat baca masyarakat.

Agar mendapatkan hasil yang nyata, tentu saja membutuhkan upaya bersama dan sinergitas pihak-pihak terkait, diantaranya pemerintah dan penerbit. Khusus untuk penerbit, saya acungkan dua jempol untuk StilettoBook, Penerbit Buku Perempuan yang tetap konsisten menerbitkan buku-buku bermutu khususnya buku untuk perempuan sehingga sangat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup para perempuan Indonesia. Selain itu, Stiletto Book juga rutin mengadakan even-even yang bertujuan mengampanyekan hobi membaca buku dan berbagi buku. Sebut saja diantaranya : Kado Buku Stiletto, Stiletto Book Club, Free Talk bersama penulis, dan lain-lain.

Andai saya dipercaya sebagai duta pembaca pilihan Stiletto Book, pastinya saya akan sangat berbahagia, dan saya berjanji akan melestarikan serta meningkatkan semua upaya-upaya yang sudah saya lakukan selama ini untuk menularkan virus minat baca buku baik lewat aktivitas offline maupun online. *ini kaya’ lagi di-interview untuk pemilihan Putri Indonesia yak, wakakakak*.

Dan kepada pemerintah, saya punya uneg-uneg dan harapan terkait upaya memasyarakatkan minat baca buku di kalangan masyarakat. Harapan saya, opini sederhana ini dapat kiranya mengetuk hati pemerintah untuk mewujudkannya, sebagai berikut :

1.      Saat ini, harga buku kian mahal. Bahkan kenaikannya mencapai dua kali lipat. Dan di tengah budaya baca masyarakat kita yang belum terbentuk, hal ini tentunya akan membuat minat baca kian melemah. Oleh karena itu, kalau boleh saya menyarankan, bagaimana jika pemerintah memberlakukan fasilitas pembebasan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) terhadap buku-buku populer sebagaimana halnya yang telah diberlakukan terhadap buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku agama sesuai ketentuan PMK 122/PMK.011/2013? Dalam hal ini, pemerintah mungkin bisa melakukan tinjauan terlebih dulu, berapa sesungguhnya kontribusi PPN buku terhadap total penerimaan negara dari sektor pajak? Dan bagaimana perbandingannya dengan kontribusi PPN dari sektor lainnya, seperti dari sektor industri, perhotelan, elektronik, dan sebagainya?

Meskipun saya bukan praktisi perpajakan, saya yakin perbandingannya akan menunjukkan angka cukup jauh, mengingat rendahnya minat baca masyarakat sehingga akan berdampak pada rendahnya daya beli masyarakat terhadap buku. Jadi, dengan kontribusi relatif kecil tersebut, sepertinya tak tertutup kemungkinan untuk membebaskan PPN atas buku-buku populer sehingga harganya bisa lebih terjangkau oleh masyarakat. Kalaupun tidak bisa diberlakukan atas semua buku populer yang beredar di toko, pemerintah bisa menetapkan persyaratan tertentu. Misalnya, pembebasan PPN berlaku untuk buku populer dengan kode “buku motivasi” atau buku “how to”.

2.      Jika opini no.1 sulit diwujudkan, mengingat sudah menjadi tugas pemerintah untuk mengamankan pemasukan negara dari pajak, bagaimana dengan alternatif berikut ini : mensubsidi harga buku yang beredar di pasaran sehingga harga buku dapat ditekan? Bukankah minat baca dan daya beli masyarakat kita terhadap buku – sekali lagi – masih tergolong rendah? Sangat jauh dengan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap BBM sehingga meski telah dilakukan reformasi subsidi oleh pemerintah, subsidi untuk BBM, elpiji, dan bahan bakar nabati pada APBN Perubahan tahun 2015 masih berada di kisaran angka Rp 64,7 triliun. Nah, saya yakin subsidi untuk buku, kisaran angkanya bisa jauh lebih kecil dari ini.

3.      Meningkatkan alokasi anggaran untuk program peningkatan minat baca disertai upaya-upaya efektif untuk meningkatkan minat baca masyarakat
Dalam sebuah wawancara media, kepala kantor perpustakaan di daerah saya mengatakan : “Membangun minat baca masyarakat tidak sama dengan membangun fasilitas umum. Saat pemerintah membangun fasilitas umum seperti jalan, jembatan dan sebagainya, masyarakat bisa langsung menggunakan dan menikmatinya. Tetapi kalau yang dibangun itu sarana baca, seperti perpustakaan, penyediaan buku-buku di perpustakaan, hal itu tidak serta merta akan membuat minat baca masyarakat meningkat. Perlu adanya upaya nyata dan terus menerus untuk mendorong minat baca masyarakat.”

Hmm. Kalau boleh saya menganalogikan, membangun minat baca masyarakat kita itu bahkan jauh lebih sulit dari membangun jalan dan jembatan. Kalau nggak percaya, lihat saja berapa banyak jalan raya, jembatan dan fasilitas umum lainnya yang dibangun di seluruh Indonesia setiap tahunnya. Bandingkan dengan angka peningkatan minat baca masyarakat. Jangan-jangan, sampai tahun ini, angka yang 0,001 itu belum beranjak jauh. Atau justru kian menurun karena masyarakat kita sekarang lebih suka melototin layar gadget ketimbang baca buku. Hiks.

Oleh karenanya, program meningkatkan minat baca masyarakat harus benar-benar digencarkan. Dan dalam hal ini, peran pemerintah sangatlah penting. Saya kasih satu contoh sederhana. Saat ini, di tempat saya ada fasilitas mobil perpustakaan keliling. Kalau dulu, mobil tersebut sekadar datang ke sekolah-sekolah dengan membawa buku-buku. Mau ada yang baca atau tidak, terserah. Walhasil, kedatangan mobil pustaka keliling tidak selalu disambut dengan antusias.

Nah, kepala perpustakaan lalu mencoba terobosan baru. Setiap kali mobil perpustakaan keliling datang ke sekolah, beliau dan para stafnya mengambil waktu beberapa menit untuk mengajak anak-anak berkumpul, bercerita pada mereka tentang pentingnya membaca, lalu anak-anak diberi waktu untuk membaca dengan santai di mana saja. Mau sambil duduk-duduk di bawah pohon, atau sambil selonjoran di koridor sekolah, silakan. Setelah itu, akan diadakan games-games untuk anak-anak itu tentang buku yang udah mereka baca dan yang bisa menjawab diberi hadiah. Alhamdulillah, upaya ini perlahan-lahan mulai menunjukkan hasilnya. Kedatangan mobil perpustakaan keliling beserta buku-bukunya selalu ditunggu-tunggu oleh para pelajar, bahkan tak sedikit kepala sekolah yang minta agar sekolahnya mendapat jatah dikunjungi mobil perpustakaan keliling.

Tuh, sesuatu yang sederhana, ternyata berdampak positif, bukan? Saya yakin, aparatur pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah lainnya pasti punya ide-ide yang lebih cemerlang untuk menggerakkan minat baca masyarakat. Jadi, bapak-bapak dan ibu-ibu, yuk kita realisasikan ide-ide cemerlang itu untuk mendorong minat baca buku masyarakat kita :)

4.      Meningkatkan apresiasi kepada penulis
Tahun lalu, saya mendapat dua berita yang sangat kontradiktif. Di Malaysia, pemerintah memberikan tunjangan tetap setiap bulan kepada seniman negerinya termasuk sastrawan. Sementara itu di negeri kita, almarhum sastrawan besar Korrie Layun Rampan curhat tentang nasib buku-bukunya yang tak lagi dibayar royaltinya sehingga hidupnya pun mengalami kekurangan. Padahal semasa hidupnya, beliau telah menulis lebih dari 300 buku.
curhat alm. Korrie Layun Rampan di media cetak

Hmm. Miris banget ya? Padahal, penulis adalah ujung tombak perbukuan. Meski penerbit jumlahnya ratusan, tetapi kalau para penulis ogah menulis buku, apa yang mau diterbitkan?
Itu sebabnya, pada tulisan ini juga saya menghimbau pemerintah untuk lebih apresiatif terhadap penulis negeri ini agar mereka pun termotivasi dan tersemangati untuk menulis buku-buku yang berkualitas dan mencerahkan. 

Kalaupun tidak dalam bentuk pemberian tunjangan tetap seperti yang dilakukan negara tetangga, perhatian itu bisa diwujudkan dengan menggandeng lebih banyak penulis dalam proyek penulisan buku-buku untuk disalurkan ke sekolah-sekolah dan para penulis yang terlibat diberikan honor yang memadai. Atau bisa juga diwujudkan dengan mengurangi pengenaan PPH (Pajak Penghasilan) atas royalti penulis yang sebelumnya berada di kisaran persentase 15 % (bagi pemilik NPWP) dan 30% (bagi yang tidak punya NPWP) menjadi kisaran 5% saja.

*Wah, sist ini seenaknya aja nih nyaranin buat ngurangin persentase pajak.*

Saya kasih tahu ya, menurut undang-undang perpajakan, individu yang dikenai PPH 15% itu adalah yang penghasilan per tahunnya Rp.50 juta – Rp.250 juta. Sedangkan yang sampai dengan Rp.50 juta itu PPH-nya 5%. Nah, boleh dilakukan survei deh ke para penulis, siapa yang penghasilannya murni dari menulis bisa lebih dari Rp.50 juta setahun?

Sebagai perbandingan, PPH 15% untuk PNS (Pegawai Negeri Sipil), hanya dikenakan atas PNS Golongan IV, dengan asumsi bahwa PNS pada golongan ini penghasilannya lebih dari Rp.50 juta setahun. Sedangkan untuk PNS Golongan III, PPH-nya hanya 5%. Jadi ....sepertinya masih bisa dipertimbangkan bukan, usulan pengurangan PPH untuk royalti penulis menjadi 5% saja?

Itulah harapan-harapan saya kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan minat baca buku kepada masyarakat. Saya juga sangat berharap semua pihak terkait, baik pemerintah, penerbit, penulis, pustakawan, penggerak literasi termasuk para pencinta buku untuk sama-sama bersinergi dalam mengampanyekan aktivitas membaca buku sebagai sesuatu yang “sexy”.   

Tentunya, sexy dalam analogi yang positif. Sexy yang bermakna smart atau cerdas. Dan orang yang smart, adalah mereka yang hobi baca buku. Jadi, kalau kalian pingin "sexy" dalam makna yang positif a.k.a smart alias cerdas, kalian harus gemar baca buku. Percaya deh, baca buku itu hobi yang sangat mengasyikkan. Nggak hanya bikin ilmu dan wawasan kita bertambah, tetapi juga bisa membawa kita menjelajahi dunia dengan membaca. Dan pada level yang lebih tinggi, saat kalian sudah menjadi seorang bookaholic, percaya deh, kalian juga akan terdorong untuk menulis buku. Tentang asyiknya menulis buku, kita obrolin di kesempatan berbeda ya.

Juga buat kalian yang wanita, coba deh kalian baca buku-buku terbitan Stiletto Book yang fokus sebagai Penerbit Buku Perempuan, kalian akan mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan berharga untuk meningkatkan kualitas diri dan kehidupan. Juga tentu aja, kalian bakal jadi wanita "sexy" alias wanita yang smart a.k.a cerdas dengan rajin baca buku.  Harga buku-buku terbitan Stiletto Book ini juga bersahabat di kantong lho, karena rata-rata ada di kisaran Rp.20ribuan hingga Rp.40ribuan.
beberapa judul terbitan Stiletto Book
 
Buat kalian yang belum terbiasa baca buku, ini saya kasih tips supaya kalian selalu terakses dengan buku di manapun dan kapan pun, serta selalu termotivasi untuk baca buku :
1.      Jadikan buku sebagai pengisi wajib tas kalian kemanapun kalian pergi. Jadi saat kalian ketemu waktu senggang, misalnya saat menunggu bis, menunggu antrian, menunggu pesanan makanan datang, kalian bisa mengisinya dengan baca buku. Silakan mampir di tulisan saya ini untuk Tips Membaca Cepat ala saya.
2.      Selipkan buku di bawah bantal. Jadi sebelum tidur, kalian bisa meluangkan waktu beberapa menit untuk baca buku.
3.      Bergabung dengan komunitas pembaca buku yang saling menyemangati anggotanya untuk membaca buku dan sekaligus meresensinya.
4.      Ikuti challenge-challenge membaca dan meresensi buku. Kalian bisa mengikuti challenge di Goodreads dan di blog para book blogger.
5.      Ini yang paling penting : tanamkan niat dan keinginan kalian untuk mencintai buku dan menjadikan aktivitas baca buku sebagai rutinitas sehari-hari. Tanpa niat dan keinginan, tips-tips di atas tentu saja nggak banyak berarti. Betul ‘kan?

Sebagai penutup, saya ucapkan selamat ulang tahun yang ke-5 untuk Stiletto Book, semoga tetap konsisten sebagai Penerbit Buku Perempuan yang menerbitkan buku-buku berkualitas dan tetap bersemangat untuk menebar virus minat baca buku.
Bravo!



 Nama lengkap : Riawani Elyta
Akun FB            : Riawani Elyta
Akun twitter     : @RiawaniElyta
Akun IG            : riawani_elyta
email                : riawanielyta@gmail.com








36 comments:

  1. Kata seksi, meski diberi tanda petik sekalipun, tetap memberikan persepsi yang kurang pas #IMHO

    ReplyDelete
  2. Inspiring Mba :D ngga nyangka mba sebegitu giat menumbuhkan minat baca :) keep up the good work :D semoga menang lombanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin...makasih ya udah berkunjung :)

      Delete
  3. aaah aku balik kanan ah menyelesaikan naskahku untuk lomba ini :)

    ReplyDelete
  4. Wew... banyak prestasinya... semoga menang ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin.....makasih mbak udah berkunjung :)

      Delete
  5. Replies
    1. Iya kadang keteteran juga ya ngikutin challenge

      Delete
  6. Yups..semangat terus mba
    penulis dan membaca lalu pembaca memang saudara sekandung
    btw..ngapa aku jadi fokus ke komen Yeni ya 'seksi'
    wkwkw, hati2 ntar yang nulis jadi gak bisa bobo cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bobo nyenyak mbak aq semalam. Hehe. Gpp Persepsi orang boleh aja beda2.

      Delete
  7. Saya sudah mengoleksi buku sejak SMP. Bener looo, suka membaca bikin wawasan jauh lebih luas dibanding teman-teman lain yang kurang suka membaca. Kadang saya malah terkesan heboh sendiri dengan suatu informasi, tapi ternyata lawan bicara nggak nyambung karena nggak pernah membaca :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe rada sebel juga jadinya ya kalo lawan bicara gak nyambung

      Delete
  8. Kereen, Mbak Lyta. Aksinya nyata. Semoga berkah dan menang lombanya :-)

    ReplyDelete
  9. Iya susah ngajarin rajin baca sama anak-anak jaman sekarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak sekarang balita aja udh maen gadget

      Delete
  10. keren ya Bintan. Salut juga buat kak Lyta. aksi nyata untuk putera puteri penerus bangsa. bravo! bravita!

    ReplyDelete
  11. Wah ini keren. Aku mulai menyurut di dumay, Mbak. Pingin kayak Mbak Riawany nulis buku. Banyak godaan berupa eventr dan kadang kudu rela mundur sebelum perhelatan kelar. Terlalu bersemangat dan merasa bisa, ternyata belum pas buat saya. Kudu fokus. Terima kasih sudah menginspirasi

    ReplyDelete
  12. Tulisan Mbak Ria selalu menginspirasi.

    Iya, miris banget melihat anak-anak sekarang. Ketika ditawari baca, katanya tidak seru, enak main gadget. :(





    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Bagi anak2 maen gadget lebih asyik. Pe er besar buat kita nih...

      Delete
  13. Luar biasa mbak Ria. Buku tak pernah bisa digantikan dengan apapun ya mbak, walaupun internet telah mudah diakses :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya benar
      Ada kebahagiaan tersendiri dgn baca buku yg tdk tergantikan oleh internet

      Delete
  14. Kereen, Indonesia butuh lebih banyak orang kayak Mbak Ria niy...semangat terus y..

    ReplyDelete
  15. Kereen, Indonesia butuh lebih banyak orang kayak Mbak Ria niy...semangat terus y..

    ReplyDelete
  16. luar biasa...

    selamat mbak Ria atas juara duta membaca :)

    ReplyDelete
  17. Selamat Mbak Riawani Elyta sudah terpilih sebagai juara pertama dan menjadi duta membaca pilihan Stiletto Book. Semoga terus semangat menyebarkan virus membaca ya....

    Salam semangat selalu dari Stiletto Book.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih :) trima kasih juga ya udah mempercayakan saya jadi duta membaca :)

      Delete
  18. No wonder tulisan mba jd pemenang. Detil dan lengkap banget. Keren mba!! Pengen deh bisa nulis sebaik ini :)

    ReplyDelete