Riawani Elyta: SEREPIH LUKA DI TESSO NILO [Cerber Femina Part-1]

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Sunday, 26 March 2017

SEREPIH LUKA DI TESSO NILO [Cerber Femina Part-1]

Langit seakan berjelaga. Telah masuk minggu ketiga, angkasa yang menaungi bumi bertuah ini tertutup asap tebal. Tak ada lagi arak-arakan awan berlatar birunya langit. Sang surya seakan bersembunyi di posisi terjauh pada lingkaran tata surya. Meninggalkan singgasananya di pusat orbit. Beberapa menit lalu, ISPU1) menunjukkan angka polutan 410. Telah lewat seratus sepuluh poin, kondisi udara kota ini berada pada level berbahaya.

“Belum ada pertanda apa-apa.”
Di sebelah saya, Pak Roy bergumam dibalik maskernya. Meski separuh wajahnya tertutup masker, kecemasan yang terpancar dari kedua matanya begitu kentara. Pak Roy adalah salah satu pejabat Badan Penanggulangan Bencana Kota Pekanbaru. Dan hari ini, selain saya dan Pak Roy, belasan orang dari lintas instansi berada di tempat ini untuk sama-sama menyaksikan hasil penyemaian hujan buatan. Menurut perkiraan, hujan diprediksi akan turun beberapa hari setelah program modifikasi cuaca dimulai.
Namun sampai hari ini, upaya itu belum lagi menunjukkan tanda-tanda akan berhasil. Lebih buruknya lagi, sudah seminggu ini bandara Sultan Syarif Kasim tutup total. Membuat semua schedule penerbangan pesawat Cassa yang mengangkut ton-tonan garam untuk penyemaian pun terpaksa dibatalkan.
Tadi pagi, tim modifikasi cuaca mencoba alternatif lain dengan bantuan helikopter. Begitu jarak pandang melampaui seribu meter, helikopter langsung bergerak menuju titik-titik potensi pembentukan awan. Diperkirakan, jika kelembapan atmosfer cukup memadai, maka tiga jam pasca penyemaian, langit akan bereaksi. Namun, alih-alih dapat memancing kemurahan Tuhan untuk menurunkan butiran hujan, kadar polutan justru terus meningkat. Meninggalkan level Sangat Tidak Sehat dan memasuki level Berbahaya. Tiga jam sudah berada di udara terbuka, napas saya mulai sesak, dan mata saya terasa perih. Sepertinya, masker hijau yang saya kenakan, hanya mampu memberi perlindungan maksimal tidak lebih dari dua jam.
Ponsel saya membunyikan pesan masuk. Nama Bim Bim, partner kerja saya muncul di layar. Kabar duka, Ret. Yani baru saja meninggal.
Saya terhenyak. Sebuah godam seakan baru saja dihantamkan ke dada saya dan tak sempat saya menangkisnya. Yani. Dalam sekejap, bayangan wajah bocah lima tahun itu berkelebat. Wajahnya yang tersengal kebiruan saat dilarikan ke rumah sakit kemarin sore. Bocah itu mengidap asthma bawaan sejak lahir. Rumahnya persis bersebelahan kost-kostan saya. Dan menurut ibunya yang sempat saya temui kemarin pagi, dari hari ke hari, kondisi kesehatan Yani terus memburuk.
Saya terbatuk. Pak Roy menoleh. “Kenapa Nona? Jika anda kurang sehat, sebaiknya pulang saja. Toh sudah berjam-jam kita di sini, apa yang kita tunggu tak juga datang.”
Entah kenapa, saya menangkap nada pengusiran halus dari ucapan Pak Roy. Saya menggeleng. “Anda tak perlu mengkhawatirkan saya, Pak. Tetapi, untuk anda ketahui, kabut asap ini baru saja menelan satu korban lagi.”



**********
Jenazah Yani telah dibaringkan di ruang tamu rumahnya saat saya dan Bim Bim datang melayat. Sehelai kain putih transparan menutupi wajahnya. Samar terlihat wajah bocah itu yang begitu damai, seakan-akan dia sedang tertidur saja. Di sekelilingnya, suara isak tangis terdengar serupa gumam yang beruntun. Saya tak melihat ibunya. Seorang kerabatnya bilang, wanita itu shock berat dan tak ingin ditemui siapapun.
Serombongan lelaki berseragam tampak menghampiri ayah Yani. Satu darinya memeluk lelaki itu seraya mengulurkan amplop putih. Lelaki yang tengah berduka itu menggelengkan kepala, namun ia tampak terlalu letih untuk menyingkirkan tangan yang menyelipkan amplop itu ke saku baju kokonya.
Pemandangan barusan tak urung membuat bibir saya terangkat separuh. Berapapun lembar yang ada di dalam amplop itu, tak akan mampu mengembalikan lagi sosok Yani dan senyum cerianya ke dunia.
Ponsel saya berbunyi. Dahi saya berkerut melihat nama Bim Bim. Saya luput menyadari kapan Bim Bim keluar dari rumah Yani. Saya mendekatkan ponsel ke telinga sambil menjulurkan leher. Lumayan sulit ternyata, menemukan pria itu di tengah-tengah puluhan pelayat yang menutup separuh wajah mereka dengan masker.
 “Kamu di mana, Bim?”
“Di luar. Arah jam tiga dekat mobil ambulans.”
“Sebentar.”
Saya segera keluar setelah menyalami para pelayat yang mulai memenuhi ruang tamu. Bersama Bim Bim, saya ditugaskan Pak Haris untuk meliput peristiwa pembakaran hutan dan kabut asap yang terjadi di Riau. Rata-rata rekan kami berkeberatan menjalankan titah pimpinan redaksi Mercusuar itu. Alasan mereka kurang lebih sama. Lebih baik meliput peristiwa pasca banjir bandang atau tanah longsor ketimbang pembakaran hutan. Betapapun mengerikannya, bencana yang lain tidak membuat mereka menderita sesak napas.  
“Ada apa, Bim?” Saya menghampiri Bim Bim yang berdiri membelakangi mobil ambulans.
“Ada kabar terbaru. APSI2) akan mendatangi kantor Gubernur besok pagi. Mereka akan menuntut pemerintah atas pembekuan izin perusahaan sawit yang tergabung dalam asosiasi.”
“Oh ya?” Saya melangkah menepi saat beberapa orang pria melewati kami sambil menggotong keranda. Sepertinya, jenazah Yani akan segera diberangkatkan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
“Tinggi juga sinyalmu. Aku malah belum dengar.”
“Ini memang info tertutup. Asosiasi itu akan datang sekitar pukul sepuluh. Kita ketemu di kantor Gubernur sekitar pukul sembilan ya.”
“Oke.”
Tak ada lagi pembicaraan diantara kami saat dari dalam rumah, para pelayat tampak mulai berdiri dan mengatur saf, bersiap menunaikan shalat jenazah.

***************
Singapura, Agustus 2015
Lelaki itu menatap gedung-gedung pencakar langit dari balik gorden kamar hotel. Tangannya menggenggam erat tangkai cangkir, mendekatkan ke bibirnya lalu menghirup kopinya perlahan-lahan. Srluppp......nikmat!
Di luar, cakrawala tampak tertutup kabut. Namun tak ada yang perlu ia khawatirkan. Kadar ISPU di negeri ini belum memasuki level berbahaya. Pun sejak seminggu lalu, pemerintah negeri ini telah membagikan jutaan masker berkualitas dan menyiagakan helikopter. Kapan saja diperlukan, capung-capung raksasa itu siap melakukan tugasnya memancing hujan ataupun melakukan water bombing.
Teringat sesuatu, lelaki itu meraih ponselnya.
“Halo. Selamat pagi, Pak.” Lawan bicaranya menyapanya terlebih dahulu.
“Selamat pagi. Bagaimana di sana? Aman?”
“Sejauh ini....aman, Pak. Beberapa media memang cukup nyaring. Tetapi belum sampai mengganggu.”
“Awasi semuanya. Termasuk yang tidak diperhitungkan sekalipun. Kau mengerti?”
“Mengerti, Pak.”
“Bagus.”
Lelaki itu menyimpan ponselnya dan kembali menghirup kopinya. Merasakan kehangatan cairan hitam pekat itu mengaliri tenggorokan dan melapangkan rongga dadanya saat bernapas. Rasa lapang itu, telah sebulan ini tak lagi dinikmati jutaan penduduk di negerinya. Negeri dengan beberapa wilayahnya kini tengah berkemul asap tebal.

            ************
Pekanbaru, Agustus 2015
Bim Bim ternyata tidak bohong. Saat kami mendatangi kantor Gubernur, belasan jurnalis dari media yang berbeda telah berkumpul di lobi, sebagiannya lagi di kantin. Situasi udara hari ini tak jauh berbeda dengan kemarin, asap tebal masih sedemikian pekatnya, dan matahari masih enggan menampakkan sinarnya.
Pukul sepuluh tiga puluh rombongan asosiasi itu tiba. Jumlah mereka lima orang. Semuanya berpenampilan rapi dan berdasi. Wajah mereka tertutup oleh masker N95. Tampak mencolok diantara para pegawai pemerintah dan jurnalis yang rata-rata hanya berlindung dibalik masker hijau seribu rupiah.
Tanpa bicara apa-apa dan dengan langkah bergegas, mereka langsung menuju ruang rapat. Seorang pegawai humas segera menutup pintu dan memberi isyarat pada kami agar menunggu di luar.
Arloji saya menunjukkan pukul satu siang saat pintu ruang rapat itu kembali terbuka. Rombongan pria berdasi keluar. Wajah mereka kini terlihat jelas dengan masker masing-masing yang telah dilepas.
“Saya minta, apa yang saya sampaikan ini tidak diinterpretasikan berbeda atau ditulis sepotong-sepotong.” Satu dari kelima pria ini mulai bicara. Dia menyebut dirinya sebagai pengacara yang mewakili asosiasi.
 “Kalian pasti sudah tahu, bahwa sebagian besar titik api disinyalir berasal dari lahan konsesi perusahaan sawit. Tetapi, satu hal yang perlu kalian pahami, bahwa lahan itu belum dikuasai oleh perusahaan. Kesimpulannya, lahan yang terbakar adalah milik masyarakat. Dan pelaku pembakaran juga adalah masyarakat sendiri yang ingin membuka lahan. Meski begitu, perusahaan tetap menunjukkan tanggungjawabnya dengan membantu proses pemadaman. Pihak perusahaan  juga sudah melaporkan ke aparat. Dari sisi regulasi dan standard of procedure, semua upaya yang ditempuh perusahaan sudah benar. Yang kami persoalkan sekarang, mengapa izin mereka malah dibekukan?” Pertanyaan pria itu terucap lantang.
“Apa perusahaan tidak melarang masyarakat untuk membakar hutan, Pak? Bukankah lahan itu tetap masuk kawasan perusahaan meski secara hak masih milik masyarakat?” Seorang jurnalis sigap bertanya.
“Perusahaan bisa saja melakukannya, tetapi dalam prakteknya tak semudah yang anda bayangkan. Apalagi, regulasi juga memperbolehkan masyarakat membakar hutan kok. Tetapi dengan batas-batas tertentu. Silakan anda baca Undang -Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup jika anda tidak percaya.”
Saya mengabaikan nada tegas pria ini dengan ikut bertanya, “Boleh saya tahu wilayah mana saja yang termasuk dalam tuntutan APSI, Pak?”
Dia menoleh pada saya, lalu mengerutkan dahinya, tampak serius mengingat-ingat. “Yang terbanyak di Kecamatan Tampan, lalu Kecamatan Bukit Raya, terakhir Payung Sekaki.”
Saya mencatatnya baik-baik. Pertanyaan demi pertanyaan masih susul menyusul di sekeliling saya, namun pikiran saya sudah terbang jauh. Nama-nama yang baru disebutkan itu, dalam sekejap sontak mengingatkan saya pada sesuatu.

*******************
Pukul enam tiga puluh. Pagi masih muda. Namun langit telah terpulas warna abu-abu. Sungguh, saya mulai merindukan sinar matahari yang menerobos masuk lewat jendela kost-kostan setiap saya terbangun kesiangan. Namun tugas saya belum selesai. Dan saya telah berjanji akan melakukan yang terbaik.
Tak sanggup saya bayangkan apa akan terjadi di masa depan, jika di masa sekarang saja, dampak pembakaran hutan ini sudah menjadi yang terparah dalam kurun waktu delapan belas tahun. Ya. 18 tahun! Tak perlulah kau terkejut begitu. Nyatanya, pengrusakan ini memang sudah terjadi sejak saya mulai diajarkan untuk mencintai lingkungan, di bangku sekolah dasar dulu. Tuhan memang sangat pemurah, mengulur waktu begitu panjangnya agar hambaNya menyadari bencana besar apa yang bakal mereka tuai.
Saya kembali membasahi masker dengan air mineral. Entah sudah berapa lusin masker saya habiskan dalam sebulan terakhir. Dan ini entah pagi yang keberapa ummi menelpon, menyuruh saya untuk segera kembali ke Jakarta. Mengingatkan saya pada janji bahwa ini adalah tugas terakhir saya di Pekanbaru.
“Retni, kamu di sana baik-baik saja ‘kan? Bagaimana peliputanmu? Jangan tunggu paru-parumu menghitam dulu ye baru kamu pulang. Bulan depan itu proses lamaran kamu. Nggak lucu ‘kan kalau pertunangan kalian harus ditunda sampai tahun depan karena calon mempelai wanitanya kena ISPA?”
Saya tertawa. Kalimat ummi terdengar lucu meski saya yakin dia benar-benar cemas.
“Alhamdulillah, saya masih bernapas kok, Mi. Sudah hampir selesai. Insya Allah, awal bulan depan saya pulang.”
“Kamu masak sendiri ‘kan? Nggak jajan di luar mulu?”
“Iya, Ummi.” Saya tidak berbohong. Saya memang jarang makan di luar. Namun apa yang biasa saya masak di dapur kost-kostan tak lebih dari mi instan dan telur ceplok. 
“Kamu masih inget cerita kepiting didandanin ‘kan, Ret?”
“Masih, Ummi.” Saya menjawab pelan. Saya sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Dulu, ummi sering bercerita tentang mertua yang membawakan kepiting untuk menantu perempuannya. Sang mertua berkata, tolong ini kepiting didandanin. Dan sang menantu yang sama sekali tak bisa memasak, ternyata benar-benar mendandani kepiting itu dengan membedaki, memberinya gincu dan juga pita.
Ini adalah dongeng orang-orang tua Betawi untuk mengingatkan anak gadisnya, bahwa saat berumah tangga, tidak boleh tidak, mereka harus pintar memasak. Meski tulisan saya tersebar di puluhan edisi Mercusuar dan beberapa media lainnya, di mata ummi, semua itu tak ada artinya jika mengulek sambal pun saya tidak becus. 
“Arul pernah menelpon kagak?”
“Pernah, Mi. Dua kali. Tetapi, dia tidak terlalu cemas kok.” Saya menjawab dengan senyum. Saya dan Arul – calon suami saya itu -dijodohkan dengan cara ngedelengin3). Waktu itu, Encing Noni datang ke rumah dan mengenalkan sosok Arul secara tertulis pada saya, Ummi dan juga Abah. Encing Noni yang juga sepupu ummi, datang bersama dua lembar kertas HVS berisi biodata Arul berikut selembar fotonya yang tengah berpose di depan menara Eiffel. Encing lalu meminta pada ummi dan abah agar saya melakukan hal yang sama. Ummi dan abah tak keberatan. Meski sehari saja berpisah dari gadget membuat mereka seakan kehilangan dompet beserta seluruh isinya, di lain sisi, ummi  dan abah tetaplah orang Betawi tempo doeloe yang setia pada tradisi. Termasuk tradisi yang buat saya sudah ketinggalan jaman seperti ngedelengin sekalipun.
Demi menghormati Encing, saya melakukan juga apa yang dia inginkan. Saya janjian bertemu Arul dua minggu kemudian. Bukan di bioskop ataupun restoran romantis. Melainkan pada acara penyerahan penghargaan blogger traveller terbaik di mana Arul menjadi salah satu pemenangnya. Arul seorang penulis dan blogger traveller papan atas dengan tarif per artikelnya sudah mencapai angka enam digit.
Tetapi, sungguh, bukan enam digit itu yang membuat saya tertarik. Pertama, karena secara fisik, Arul lumayan tampan dan menarik. Wajahnya seperti aktor-aktor drama Turki yang setiap malam wara-wiri di salah satu teve swasta. Kedua, karena kami punya passion yang sama.  Saya membayangkan, setelah menikah nanti, saya dan Arul akan pergi mengunjungi tempat-tempat indah di berbagai belahan dunia, menulis kisah perjalanan kami dan mendokumentasikan semua kenangan yang terjejak. Dan ketiga, karena saya baru patah hati. Alasan terakhir inilah, sepertinya yang paling kuat mendorong saya untuk menerima Arul meski bilangan pertemuan saya dengannya masih minim.
Patah hati juga sepertinya bukan istilah yang tepat. Toh antara saya dan dia tidak pernah menjalin hubungan yang spesial. Tetapi saya dan dia juga sama-sama menyadari kalau perasaan kami saling terikat. Dan saat ikatan itu harus terburai, tiba-tiba saja saya merasa seperti ada lubang besar di dalam jiwa saya.
Entahlah. Saya juga tidak tahu apakah keputusan ini benar-benar dapat menyembuhkan luka. Satu yang pasti, saya benci lelaki yang tidak bisa meyakinkan saya bahwa hubungan kami pada akhirnya akan menuju satu titik. Saya benci lelaki yang diam-diam bertunangan tanpa pernah mengabari saya kenapa dia akhirnya sampai pada keputusan mendadak itu.
Saya menyalakan laptop dan mengetik ulang semua catatan dari konferensi pers singkat bersama Yudi Atmadja, nama pengacara yang dibayar oleh asosiasi pengusaha itu. Saya juga membuka kembali folder berisi file-file kasus ganti rugi lahan oleh perusahaan sawit. Masyarakat menghendaki ganti rugi yang sesuai harga tanah. Namun perusahaan bersikukuh hanya mengganti sepersepuluh dari harga itu. Disertai janji manis untuk memprioritaskan masyarakat setempat dalam perekrutan karyawan dan setiap tahunnya akan memperoleh bantuan CSR. Persoalan itu akhirnya selesai dengan kemenangan pada pihak perusahaan.
Sesaat, kening saya berkerut. Bagaimana mungkin Yudi Atmadja bersikukuh kalau lahan pembakaran itu adalah milik masyarakat sedangkan semua bukti jelas-jelas menunjukkan kalau lahan telah dikuasai oleh perusahaan?
Saya meraih ponsel, mengetik pesan dan mengirimkannya pada Bim Bim. Besok kita ke Tampan. Ada kejanggalan dari pembebasan lahan oleh perusahaan X. Kita akan bertemu seseorang di sana.

************
“Cari siapo?”
Perempuan yang membuka pintu rumah sederhana itu menatap saya dan Bim Bim dengan tatapan curiga. Saya menurunkan masker, tersenyum sambil mengulurkan tangan.
“Saya Retni. Ini masih rumah Pak Amrialis ‘kan? Saya ingin bertemu beliau. Katakan saja Retni dari Mercusuar. Bapak pasti tahu.”
“Tunggu sebentar.”
Perempuan itu masuk setelah terlebih dulu menutup pintu. Bim Bim menatap saya dengan alis bertaut dan sinar mata keheranan.
“Kenapa dia melihat kita seperti itu? Apa dipikirnya kita akan merampok atau menipu?”
Saya mengedik bahu. “Kita akan tahu sebentar lagi.”
Butuh lima menit menunggu sampai pintu kayu itu berderit dan kembali terbuka. Kali ini perempuan itu tak sendirian. Seorang pria dengan kening dan sudut mata berkedut, berjalan di belakangnya dengan tubuh sedikit terbungkuk.
“Pak Amrialis?” Saya lebih dulu menyapanya. Tiga tahun berlalu, pria berusia enam puluhan tahun ini terlihat jauh lebih kurus. Hanya saja, dari caranya memandang saya, sepertinya dia mengalami gangguan penglihatan, atau mungkin juga sedikit lupa.
“Kamu Retni?” Dia mengacungkan telunjuknya seraya menajamkan matanya. Saya mengangguk dan tersenyum. “Benar, Pak. Kita dulu sama-sama makan ubi rebus di teras ini. Ubi yang baru bapak cabut dari kebun belakang.”
Pak Amrialis terbelalak. “Astagfirullah, maaf nak. Beno-beno4) lupo saya tadi. Ayo, ayo masuk. Ajak temanmu. Siapo namo?”
Bim Bim memperkenalkan dirinya. Kami lalu duduk di ruang tamu yang berisi seperangkat sofa dengan sobekan lebar menganga di sana sini hingga lapisan busa di dalamnya terlihat jelas.
“Maaf, nak. Sudah tiga tahun, rumah Bapak justru tambah jelek.” Pak Amrialis tertawa kecil. “Yang tadi itu keponakan saya. Bapaknyo tempo hari ditangkap polisi, menyusul teman-temannyo yang lain. Jadi setiap kali ada orang datang, dia sudah curiga duluan.”
“Ditangkap kenapa, Pak?”
Pak Amrialis menghela napas. “Mereka membakar hutan. Disuruh orang sawit. Awalnya mereka juga ndak mau, tetapi perusahaan janji akan membantu mereka kalau sampai tertangkap.”
“Hm. Tetap saja orang kecil yang jadi tumbal. Kenapa yang menyuruh malah tidak ditangkap?” Saya mendengus gusar. Nyatanya kegeraman saya itu tak lebih dari pertanyaan retoris belaka. Sejak dulu sampai sekarang, pihak perusahaan seakan terlindungi oleh tameng kebal hukum yang berlapis-lapis. Peluru pasal demi pasal atas tindak pengrusakan lingkungan seakan langsung memantul kembali atau jatuh ke tanah saat coba ditembakkan ke arah mereka. “Tentang lahan yang dulu itu, bagaimana kelanjutannya, Pak? Saya minta maaf, waktu itu tidak ikut mendampingi sampai selesai.” Ucap saya sedikit menyesal. [bersambung]

27 comments:

  1. Eh ada namaku hehehe. suka kali baca tulisan nya kak ria ini bagus bagus jadi pengen belajar nulis ah

    ReplyDelete
  2. Ceritanya bagus, mbak :)
    Ini ceritanya ya apa yang terjadi di sekitar..
    kutunggu lanjutannyaaaaa...

    ReplyDelete
  3. Saya suka banget baca cerpen. pasti seru nih lanjutannya.

    ReplyDelete
  4. Penulisan sudut pandang orang pertama, pake bahasa 'saya-kamu' bukan 'aku-kamu', jarang bisa nikmati karena bahasanya biasanya pasti baku. Tapi khusus yang ini lancar jaya. Luwes ae kesannya. Like it....
    Lanjuuuttt....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini pertama kali saya nyoba pake pov 'saya'. Makasih..

      Delete
  5. Nice story kak.... masalah yang diangkat lumayan berat, tapi bisa mengalir dengan lancar dan enak...

    ReplyDelete
  6. cerita yang bagus,,di tunggu selanjutnya

    ReplyDelete
  7. bagus banget mbak. aku jadi belajar nulis cerpen dan novel. ini jadi referensi aku belajar :D

    ReplyDelete
  8. Aduuuh terhanyut banget bacanya dari awal hingga akhir.. tak terasa sudah abis aja bacanya.. Lanjutannya pleaseeee kak Ria.. :))

    Komen perdana di blognya kak Ria neh and i love it. :) bakal sering2 buka blog ini neh.

    ReplyDelete
  9. Wah cerita berlatar fakta sepertinya :)

    ReplyDelete
  10. Seneng bisa baca cerpen lagi, di tunggu kelanjutannya kak

    ReplyDelete
  11. duh, saya sempat merasakan sendiri efeknya waktu masih tinggal di Pekanbaru. Baca cerbungnya kakak bikin hati ikut gremet-gremet :( ditunggu part 2nya

    ReplyDelete
  12. wahh seneng banget baca cerpennya kak ria, mengalir dan dapet info tentang msalah pekanbaru ini. btw baca cerpen kak ria ttg korban aku jadi inget almarhum ibu temenku yang jadi salah satu korban asap, kena ISPA. setidaknya aku tau bahwa bahayanya luar biasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya choty. Apalagi jika anak2 dan manula yg kena. Bisa fatal

      Delete
  13. Eaaaa bersambung... :D Lagi seru pun...

    ReplyDelete