Riawani Elyta: Tragedi Berdarah di Mushola

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 30 June 2016

Tragedi Berdarah di Mushola




Mushola Ar-Raudah, 12 September 1984
“Allahu akbar!”
Takbir pertama berkumandang. Lirih diikuti para jamaah Isya’ yang bershaf di belakang imam. Tak terlihat makmum perempuan. Tabir hijau yang biasanya menjadi pembatas, hari ini dibiarkan tersampir begitu saja.
Sejak beberapa bulan terakhir, mushola itu memang hanya terlihat ramai saat ada pengajian rutin. Jadi, sememangnya tak ada yang terlihat ganjil malam ini. Para jamaah itu juga bukanlah siapa-siapa. Hanya sekelompok pria yang masih terpanggil untuk menunaikan shalat berjamaah. Para pria  yang tak ingin mengotori pikiran dengan prasangka apapun. Termasuk prasangka atas peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu di mushola.

Cetek! Lampu mushola mendadak padam. Tiba-tiba saja ....
Dor! Dor! Dor!
Runtut bunyi tembakan memecah gulita. Suara sang imam lenyap, berganti rintih. Lalu terdengar suara mengaduh, menyebut nama Tuhan. Dalam kegelapan, tak seorang pun tahu apa yang baru saja terjadi. Sebagian berusaha merangkak keluar, mencari pertolongan. Sebagian memilih untuk bertahan. Membasahi bibir dengan dzikir lirih “Allah, Allah.”
Tak seorang pun tahu, bahwa ini bukan akhir.
Ini hanyalah segelintir, dari serentetan peristiwa tragis yang kelak akan membangkitkan kenangan getir.
Juga tak seorang pun tahu, bahwa dalam beberapa jam ke depan, situasi di tempat ini telah kembali normal. Tidak ada jejak kematian. Tidak ada selongsong peluru. Tidak ada korban tertinggal.
       Juga tak pernah ada ... keadilan.



*************************************************

Keterangan :
Kisah fiksi di atas merupakan cuplikan dari novel terbaru saya The Secret of Room 403. Peristiwa yang digambarkan pada adegan fiksi tersebut diinspirasi oleh kisah nyata tentang tragedi Priok pada tahun 1984, di mana ketika itu, sekelompok jamaah di dalam mushola diberondong peluru setelah lampu mushola dimatikan. Melalui sepenggal adegan ini, saya ingin menyampaikan, bahwa rumah ibadah umat Islam nan suci ini juga pernah menyimpan jejak kelam dan tragedi berdarah, karena dipicu kesombongan penguasa dan juga fitnah. Mudah-mudahan menjadi pelajaran bagi generasi masa kini dan ke depan nanti, agar tragedi serupa tak pernah terulang kembali.

1 comment:

  1. Saya sudah datang ke sini dan membaca tulisan ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut meramaikan Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid di blog saya
    Semoga sukses.

    Salam saya

    ReplyDelete