Riawani Elyta: Warning! Indonesia Darurat Minat Baca Buku

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 11 April 2016

Warning! Indonesia Darurat Minat Baca Buku



Jam menunjukkan pukul 08.15 saat saya tiba di Hotel Bintan Plaza, tempat acara Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) digelar. Awalnya saya kira sudah telat, karena info dari teman, bahwa acara akan dimulai pukul delapan. Tetapi, ruang pertemuan di lantai 6 itu masih sepi. Tanya punya tanya, acara ternyata diundur, karena para pejabat Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Provinsi harus menghadiri dialog interaktif terlebih dulu.

sebelum acara dimulai, foto dulu :D

 Acara akhirnya baru dimulai pukul 09.10. Setelah seremoni yang makan waktu kira-kira setengah jam, seminar pun dibuka oleh narasumber pertama ibu Nani Suryani, Kabid Pengembangan Minat Baca dari Perpustakaan Nasional. Dalam penyajiannya, ibu Nani memaparkan visi, misi, program dan kegiatan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dalam rangka GPMB. Apa yang menarik, bahwa Perpusnas ternyata juga punya program untuk bersinergi dengan penulis muda dalam menggali budaya lokal untuk berkontribusi pada minat baca buku. Hal lain yang tak kalah menarik adalah tagline nya : Indonesia Gemar Membaca 2019."

Narsum ibu Nani Suryani
Narasumber berikutnya adalah tokoh masyarakat Bapak Huzrin Hood. Dalam penyajiannya yang berlangsung tanpa slide dan lebih banyak dibarengi banyolan itu, pak Huzrin menekankan bahwa GPMB juga bisa tetap dilaksanakan meski tanpa dukungan APBD. Antara lain melalui donasi dan infak masyarakat yang peduli pada pentingnya minat baca.

15 menit kemudian, mikrofon berpindah kepada narasumber berikutnya Bapak Ing. Iskandarsyah yang merupakan anggota DPRD Provinsi Kep. Riau. Dalam penyajiannya, Bapak Iskandarsyah menyoroti tentang perkembangan literasi di luar negeri yang sudah sangat maju dan memberi saran-saran untuk GPMB di provinsi Kep. Riau.

Mas Awam Prakoso lagi mendongeng, eh lagi kasih materi :D
Sessi materi ini ditutup oleh mas Awam Prakoso yang juga seorang pendongeng nasional. Gaya penyampaiannya yang khas pendongeng bikin sessi penutup ini berlangsung meriah dan disambut gelak tawa oleh para peserta khususnya yang pelajar.

Tibalah sessi tanya jawab. Sessi yang nggak saya sia-siakan dengan langsung mengacungkan tangan. Dan saat mikrofon diserahkan kepada saya, inilah hal-hal yang saya sampaikan : 


  • Saya terlebih dulu memperkenalkan diri saya  sebagai penulis serta jumlah buku yang udah  saya tulis. Kenapa saya merasa perlu menyampaikan ini? Karena publik kota kelahiran saya, apalagi para pejabat publiknya, bisa dihitung jari yang mengenal saya sebagai penulis dan buku apa aja yang udah saya tulis.
  • Saya bertanya kepada ibu Nani, apa bentuk program nyata sinergitas antara Perpusnas dengan penulis muda? Karena belum lama ini, Bapak Menteri Anies Baswedan juga mengemukakan tentang program di masa datang berupa beasiswa untuk penulis. Harapan saya sih, program ini bisa terealisasi dan program dari Perpusnas sendiri seyogyanya berbeda dengan program dari Kementerian Pendidikan.
    Untuk pertanyaan saya ini, Ibu Nani menjawab bahwa program tersebut adalah dalam bentuk apresiasi kepada para penulis dan ke depan mereka akan lebih berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan.
  •   Saya memberi usulan agar program GPMB hendaknya disejalankan juga dengan program mendukung penulis tanah air. Karena penulislah sesungguhnya ujung tombak  produksi buku. Penerbit memang bertanggung jawab untuk memilih, menyunting, mencetak dan mendistribusikan. Tetapi, muatan sebuah buku, tentu saja berasal dari pemikiran para penulis. 
Saya mengutip data dari buku The Glory of The Past karya ing. Iskandarsyah (salah satu narsum) bahwa saat ini setiap tahunnya buku yang diproduksi di Indonesia baru mencapai 18.000 judul. Jauh di bawah Jepang (40rb judul/tahun), India (60rb/tahun) dan China (140rb judul/tahun).

Bersama ing. Iskandarsyah
Jumlah produksi buku kita hampir sama dengan Vietnam dan Malaysia. Masalahnya, penduduk Indonesia jumlahnya 8x lipat dari penduduk kedua negara tersebut. Jadi, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 235 juta jiwa, jumlah produksi buku yang baru 18.000/tahun itu belumlah memadai.

Kenapa produksi buku kita rendah? Tentu saja karena permintaan pasar rendah. Supply depends on demand. Dengan kata lain, minat beli buku masyarakat kita juga rendah. Apakah itu berarti daya beli masyarakat kita juga rendah? Belum tentu. Karena rata-rata orang kita membelanjakan (jauh lebih banyak) uang untuk beli pulsa, rokok, pakaian dll ketimbang buat beli buku. Bahkan dalam banyak keluarga, perbandingan ini bisa mencapai 500 : 0 per bulan. Lima ratus ribu rupiah mengucur deras dari kocek buat beli pulsa, rokok atau tas dan pakaian baru per bulan sementara pengeluaran untuk beli buku nol rupiah alias nggak pernah beli buku.

Hasil penelitian lain juga menunjukkan kalau dalam hal pendidikan, Indonesia berada di urutan 12 dari 12 negara di Asia, dan kemampuan membaca siswa kelas VI SD di Indonesia berada di urutan paling akhir setelah Filipina, Thailand, Singapura dan Hongkong.

Masih pingin lihat data lain? Menurut data UNESCO, kawasan Asean merupakan kawasan paling rendah minat bacanya di muka bumi. Dan Indonesia, tercatat sebagai negara dengan minat baca buku terendah di Asean, dengan indeks minat baca baru mencapai 0,001 (2010). Itu artinya, diantara 1000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang benar-benar berminat baca buku. Bandingkan dengan Singapura yang memiliki indeks 0,45. Atau dalam 1000 penduduk, ada 450 orang dengan minat baca tinggi.

Jadi, berdasarkan data ini, rasanya tidak berlebihan, bukan? Kalau saya katakan Indonesia mengalami darurat minat baca buku?

Tak lupa, saya memaparkan fakta perbandingan antara nasib miris sastrawan besar alm. Kori Layun Rampan yang telah menulis lebih dari 300 judul buku namun akhir hidupnya justru dilalui dalam kemiskinan. Bandingkan dengan sastrawan negeri tetangga yang mendapat tunjangan tetap setiap bulan. Memang, saya tidak berharap banyak bahwa pemerintah kita akan melakukan hal yang sama, tetapi, setidaknya ada perhatian ekstra kepada para penulis.

  •  Saya memaparkan fakta lain terkait apa yang disampaikan Bapak Huzrin Hood, bahwa mendukung GPMB tanpa APBD bukanlah hal yang mustahil, selama ada pihak yang mau menggerakkannya. Di sini saya mencontohkan Achmad Ashoka dari Jawa Timur, yang menjalankan perpustakaan keliling pribadi dengan membawa rak berisi buku di atas motornya lalu berhenti di beberapa tempat dan mempersilakan orang-orang untuk membaca. Darimana buku-bukunya? Tentu saja dari donasi masyarakat yang peduli pada minat baca dan peduli pada apa yang dilakukan Ashoka.

Sebenarnya, masih banyak yang ingin saya sampaikan. Tentang perlunya penyeleksian yang lebih ketat terhadap distribusi buku dari perpusnas ke perpusda agar tidak kecolongan (baca : buku xxx di perpustakaan umum, layakkah?) Juga tentang kekhawatiran saya akan generasi pelapis untuk profesi penulis. Jika untuk masa sekarang saja kesejahteraan penulis  banyak yang senin-kamis, ditambah minat baca anak-anak kian tergerus oleh gadget, berapa persen gerangan anak-anak yang berminat (dan siap) menjadi penulis buku di masa depan untuk menggantikan para penulis yang ada sekarang?

Jujur saja, menulis buku itu luar biasa capeknya. Jadi, bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi jika apresiasi terhadap penulis (buku) tetap saja minim dan minat baca termasuk minat beli buku tak kunjung membaik.

Tetapi, tentu saja sampai hari ini saya belum ingin mundur. Di sela-sela kesibukan, saya tetap melakukan apa yang mampu saya lakukan untuk mendukung GPMB ini. Saya tetap menulis buku, membaca dan meresensi buku lalu menulisnya di blog agar banyak orang tahu buku-buku lokal yang recommended, bekerjasama dengan penerbit menggelar campaign Aku Cinta Buku, dan juga.....melatih para penulis pemula untuk menulis buku.

Sebuah pepatah China mengatakan : “When planning for a year, plant corn. When planning for a decade, plant trees. When planning for life, train and educate people”.

Saya tidak mungkin jadi penulis buku untuk selamanya. Saya tidak pernah tahu kapan saya tidak lagi mampu untuk menulis buku. Jadi, jika saya menginginkan buku-buku tetap ada, penulis-penulis baru terus bermunculan, dan minat baca tetap lestari, salah satu upaya kecil yang bisa saya lakukan, ya dengan melatih orang untuk menulis. Dan sejauh ini, saya dan partner saya Leyla Hana telah menggelar kursus menulis novel online yang Alhamdulillah telah masuk angkatan keempat (silakan mampir di  blog menulis kami www.smartnulis.blogspot.co.id ).

Bersama mas Awam Prakoso
Back to the topic. Acara akhirnya selesai pada pukul 12.30. Mas Awam ditodong untuk kembali mendongeng di depan para pelajar. Secara keseluruhan, acara ini cukup sukses meski agak telat dimulai. Namun dari segi outcome.....hmmm. Kalau boleh saya memberi masukan, kegiatan GPMB ini akan lebih efektif jika dilakukan dalam bentuk turun langsung ke sekolah-sekolah, memberi donasi buku-buku, dan melakukan strategi nyata di lapangan secara konsisten.

Ada beberapa contoh strategi yang bisa dilakukan. Berikut diantaranya :

  • Mendorong keluarga untuk menggerakkan minat baca di rumah. Yakin deh, kalo ortu atau keluarga di rumah nggak suka baca buku, gimana mau menyemangati anak-anak untuk baca buku? Bentuk dorongan ini bisa dengan memberi apresiasi kepada keluarga yang di rumahnya terdapat pojok buku atau perpustakaan pribadi yang didalamnya terdapat buku untuk konsumsi anak-anaknya, juga keluarga yang menerapkan kebiasaan rutin membaca bersama.
  • Menjadikan aktivitas membaca sebagai kegiatan “wajib” para pelajar. Misalnya : mewajibkan para pelajar untuk membaca minimal 1 buku setiap minggu di perpustakaan sekolah lalu membuat ringkasannya, memberi apresiasi kepada pelajar yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan, mewajibkan pelajar membaca buku selama 10 – 15 menit sebelum mulai belajar, dll.
  • Menggandeng para entrepreneur. Misalnya, setiap pengusaha restoran atau cafe atau tempat makan indoors, harus menyediakan pojok buku yang representatif di tempat usahanya.
  •  Memberi dukungan kepada para individu dan komunitas yang peduli pada minat baca. Dukungan bisa dalam bentuk donasi buku ataupun bantuan materi untuk fasilitas rumah baca.
 Lewat tulisan ini, saya juga sekaligus ingin menghimbau pihak-pihak yang berkompeten dalam GPMB ini agar ke depannya benar-benar merancang program dan kegiatan yang tepat sasaran dan hasilnya lebih nyata. Kalau perlu didahului dengan survei di lapangan agar tahu persis apa masalah dan hambatan yang dialami dalam menyukseskan GPMB ini. Tentu, menggelar acara seminar dan sosialisasi di hotel-hotel tetap bisa dilakukan, tetapi, sebaiknya alokasinya tidak melebihi alokasi anggaran untuk kegiatan-kegiatan strategis yang langsung menyentuh objek sasaran.

Buat kalian yang saat ini baca blog ini, saya juga ada beberapa request nih terkait upaya kita bersama untuk menggerakkan minat baca buku agar negara kita tercinta nggak lagi mengalami krisis minat baca buku :
1.      Jika kamu seorang yang hobi baca buku, teruskanlah hobi itu, dan jangan lupa tularkan juga kepada orang-orang di sekitarmu. Antara lain, kamu bisa memberi hadiah buku kepada teman atau kerabat disesuaikan dengan usia atau momen khusus yang dialami temanmu. Misalnya aja nih, kamu punya keponakan abege, kamu bisa kasih hadiah buku I Will Survive buat jadi sahabat mereka dalam mecahin masalah. Buat temen yang mau married, kamu bisa kadoin sepaket Buku Sayap-sayap Sakinah dan Sayap-sayap Mawaddah. *aissh, ada iklan lewat* :D Kamu juga bisa bawa buku kemanapun dan baca di waktu senggang atau di tempat-tempat umum. 

2.      Jika kamu nggak suka baca buku, coba deh dipaksain baca biar terasa di mana asyiknya. Jika udah dipaksain tetep aja nggak suka, substitusi ketidaksukaanmu itu dengan mendonasi minimal 1 buku per bulan. Donasinya ke siapa? Tentu aja ke orang terdekat yang suka baca buku (terutama yang suka baca tapi kondisi ekonominya lemah), ke rumah baca terdekat, ke komunitas baca, panti asuhan, dll. Setidaknya, meski kamu nggak berminat, kamu tetep punya kepedulian terhadap GPMB.

3.      Buat kamu yang udah berkeluarga dan punya anak, coba deh sediain rak buku dan buku-buku untuk konsumsi anak di rumah. Karena menanamkan minat baca pada anak harus dimulai dari rumah.

4.      Buat yang pinter nulis resensi, ayo tulis resensi dari buku-buku yang udah kamu baca, kirim ke media cetak atau tulis aja di blog pribadimu dan bagikan di medsos biar banyak teman-temanmu tahu info buku-buku bagus.

5.      Rajin-rajin memeriahkan acara giveaway berhadiah buku, untuk menunjukkan kalo kamu sangat antusias terhadap buku dan mudah-mudahan bisa menularkan antusiasme massal ini ke teman-teman kamu. Salah satunya, kamu bisa ikutan Campaign Aku Cinta Buku di blog ini yang menggelar 15 kali giveaway berhadiah 15 judul buku. Silakan cek infonya di sini ya.

Kamu punya usul lain untuk meningkatkan Minat Baca Masyarakat dalam rangka mendukung GPMB? Yuk ikutan berbagi di kolom komentar. Sertakan juga nama FB / twittermu ya. Ada pulsa @20ribu untuk 2 orang dengan jawaban paling menarik. Jawaban ditunggu selambatnya tanggal 12 April pukul 24.00 wib.

Mudah-mudahan saja, menjadikan bangsa ini bangsa yang berbudaya baca buku kelak  sesuai tagline "Indonesia Gemar Membaca 2019" enggak lagi sekadar mimpi dan wacana yang tak kunjung terealisasi.



19 comments:

  1. bener banget nih, kita di plosk butuh orang-orang kayak mba Riawan dan kawan-kawan ntuk memakmurkan budaya gemar membaca. maju terus mba

    ReplyDelete
  2. Yang kubisa saat ini baru bagi-bagi buku aja sebagai hadiah giveaway dan disalurkan ke perpustakaan terdekat. Pengennya bikin perpustakaan sendiri tp masih lama kali ya. Sebaiknya memang sih pemda membuat perpustakaan yg nyaman dan bisa jadi tempat kumpul2 sambil baca buku. Gak kalah dgn mall-mall. Trus, penulis2 dikasih kesempatan utk launching bukunya di toko-toko buku. Miris melihat buku2 obral pun tak tersentuh karena orang malas baca buku.

    ReplyDelete
  3. Miris banget membaca bagian ini..

    "Menurut data UNESCO, kawasan Asean merupakan kawasan paling rendah minat bacanya di muka bumi. Dan Indonesia, tercatat sebagai negara dengan minat baca buku terendah di Asean, dengan indeks minat baca baru mencapai 0,001 (2010). Itu artinya, diantara 1000 orang Indonesia, hanya ada 1 orang yang benar-benar berminat baca buku"

    Saya pernah lihat balita yg asik duduk buka2 buku di toko buku gramedia. sempat tanya2 juga sama ibunya apa tipsnya supaya anak rajin baca. dia bilang bawa anak ke toko buku minimal seminggu sekali. sering2 bacakan dongeng untuknya. lama2 ia akan tertarik dengan cerita tersebut dan mulai berinisiatif untuk membaca sendiri..

    Semoga Indonesia bisa tumbuh drastis minat bacanya. Keren gagasannya Mba Ria. Inspiratif!

    ReplyDelete
  4. Kalau menurut saya upaya dalam meningkatkan minat baca masyarakat itu mulai dengan pengadaan perpustakaan keliling saat ini sudah ada namun hanya spot-spot tertentu, pemikiran mereka bahwa buku itu mahal mending buat beli sayuran nah paradigma ini bisa di ubah kalau buku bisa dipinjam dengan harga murce lewat perpustakaan keliling. lewat perpustakaan keliling ini juga bisa mensosialisasikan gerakan gemar membaca.
    Dan salah satu yang bikin motivasi bagi individu adalah adanya reward, mungkin bisa kasih reward sebagai apresiasi kepada masyarakat yang gemar baca. Saya aza gencar ikut GA saking pengen dapet buku gratis hahaha.
    Mungkin itu saran dari saya mba semoga bisa dapet pulsa hehehe :)).

    ReplyDelete
  5. Wah mba riawan saya juga ada nih tulisan tentang membaca buku.
    MENUMBUHKAN KEMBALI MINAT MEMBACA ANAK DI ERA GADGET. http://asihtraveling.blogspot.com/2016/04/menumbuhkan-kembali-minat-membaca-anak.html
    Singgah juga ya.

    Dulu waktu saya kecil ada iklan tuh di tv yang mengatakan BUKU ADALAH JENDELA DUNIA. Saya bingung apa maksudnya, dan saya coba rajin membaca, tapi majalah. Dan yernyata banya ilmu dan pengetahuan.

    Menurut saya, dinas pendidikan juga buat iklan mengajak anak-anak untuk rajin membaca buku.itu sih yang bisa saya bagikan, karena pengalaman masa kecil.

    ReplyDelete
  6. Hhhhmmmmmm..... Terkadang aku juga malas baca sih. -_____-" *pecut dirisendiri*

    ReplyDelete
  7. jangankan pelosok, Karawang yang sudah kota saja minat bacanya masih mengkhawatirkan

    ReplyDelete
  8. Miris banget ya ama minat baca masyarakat kita...
    Jangankan baca buku yang isinya ratusan halaman, baca informasi atau berita yang isinya cuma beberapa paragraf aja males kok. Kebanyakan cuma baca judulnya trus langsung ambil kesimpulan... :(

    Untuk saat ini aku baru nyoba ke anak-anak aja sih mbak.. Membiasakan mereka untuk suka baca buku dari kecil. Sering-sering beliin buku, ngajak mereka ke toko buku untuk pilih sendiri buku yang disuka...

    ReplyDelete
  9. memang minta baca indonesia rendah..patut disayangkan y mbak....aku suka pepatah china nya itu kece banget

    ReplyDelete
  10. jangankan di daerah, ini ya di kota Bogor, yang mana cuman 2 jam doang ke jakarta. perpustakaannya gak diperhatikan sama sekali. gedungnya kusam, ruangannya pengap. sabtu minggu tutup.
    padahal kan week end waktu yang tepat orang tua bawa anak jalan jalan ke perpustakaan. gemes kalo inget itu. Mall aja dibanyakin, perpustakaan gak ditowel towel ...

    ReplyDelete
  11. Menurut saya.. pemerintah setempatnya hrus turut aktif mensosialisasikan GPMB dgn cara perpustakaan keliling atau bazar buku murah.. saya termasuk suka membaca tp sayangnya ditempat tinggal saya jarang sekali buku2 yg berkualitas dijual disini.

    ReplyDelete
  12. Menurut saya.. pemerintah setempatnya hrus turut aktif mensosialisasikan GPMB dgn cara perpustakaan keliling atau bazar buku murah.. saya termasuk suka membaca tp sayangnya ditempat tinggal saya jarang sekali buku2 yg berkualitas dijual disini.

    ReplyDelete
  13. kita sangat butuh orang kayak mba Riawan dan kawan-kawan ntuk memakmurkan budaya gemar membaca. maju terus mba, jasa mbak sangat berguna bagi kami

    ReplyDelete
  14. @Eyiaz_AB / Umminya Umar
    Assalamu’alaikum Mbak Riawani,, semoga sehat dan produktif selalu menulisnya ^_^
    Senang membaca karya-karya Mbak...
    Benar sekali apa yang Mbak sampaikan bahwa minat baca masyarakat kita masih sangat rendah. Bahkan di NTB ini, minat baca masyarakatnya sangatlah rendah dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Forum-forum kepenulisan pun (disini ada FLP Mataram), gerak dan gaungnya tak selincah FLP-FLP lainnya. Sangat jarang menemukan anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang memegang atau membaca buku selain ketika mengerjakan PR atau ketika berada di sekolah. Keberadaan toko buku pun amat jarang disini selain di kota provinsi. Miris.
    Sejak kecil, ehem curhat dikit, hehe, saya sangat senang membaca buku cerita. Memasuki usia remaja, kesenangan saya terhadap membaca ditambah dengan kesukaan membaca novel dan sastra lama karya penulis tanah air. Seiring hobi dan kecintaan tersebut, saya pun bercita-cita mendirikan perpustakaan umum berkonsep modern, misalnya perpustakaan yang digandeng dengan kafe murah meriah dan ramah untuk kantong pelajar sehingga membaca menjadi lebih asyik ditemani dengan cemilan atau minuman ringan. Meski jauh dari realita, saya tetap berusaha misalnya memulai membuat pojok pustaka di kos-kosan saya (masa-masa kuliah) atau di kontrakan (setelah berkeluarga) sehingga teman-teman yang datang atau tamu yang berkunjung bisa ikut membaca, melihat-lihat koleksi buku dan berharap mereka semangat juga seperti saya dalam mengumpulkan buku-buku bacaan.
    Menurut saya, pemerintah daerah harus aktif bersinergi dengan tokoh masyarakat, sekolah-sekolah, perpustakaan, juga para penulis yang ada di daerah tersebut (jika ada) untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Menurut saya, hal ini harusnya menjadi agenda pokok atau khusus dalam proker pemda masing-masing dan direalisasikan secara kontinyu misalnya mendatangi sekolah-sekolah, mengkampanyekan program cinta membaca kepada para pelajarnya dan program bagi-bagi buku gratis untuk perpustakaan sekolah. Untuk masing-masing desa sebaiknya dibuatkan program rumah baca atau taman baca yang juga ramah terhadap anak-anak dan balita sehingga anak-anak dapat mengenal buku sejak usia dini. Ibu-ibu dan ortu mereka dapat mendampingi sehingga ibu-ibunya pun gemar membaca.
    Adanya perpustakaan kelilling yang mengunjungi desa-desa atau perkampungan juga dapat dijadikan sarana agar masyarakat akrab dengan buku. Di perkampungan sana (di kampung saya nun di salah satu kecamatan di Sumbawa, NTB), buku-buku cerita adalah benda “istimewa.” Jarang ada. Toko buku pun hanya ada satu di kabupaten, Buku-buku di perpus sekolah adalah warisan zaman dulu yang kebanyakan kusam dan lapuk, cerita-cerita lama. Itulah mengapa saya sangat berharap adanya perpustakaan disana dengan buku-buku memadai. Semoga Allah limpahkan rezekinya kepada saya berupa buku-buku agar dapat berbagi dengan anak-anak disana.

    Aamiiin...

    ReplyDelete
  15. semua berawal dari rumah. Sejak dini memperkenalkan buku pada anak dan mneyediakan buku bacaan pada anak dapat merangsang minat baca. tapi boro2 deh. di kota saja, orang tua lbih milih beli gadget atau barang konsumtif lainnya daripada menyediakan bacaan yang baik untuk anak

    ReplyDelete
  16. anak-anak kita sekarang terlalu di sibukkan dengan Pr yang menumpuk(setiap mata pelajaran ada pr), tugas sekolah, buat makalah, meringkas dll. belum les ini itu. Dan sayangnya cari referensi untuk tugas dan PR guru menganjurkan di internet...jd minat baca untuk buku 'umumnya' sangat kurang.

    ReplyDelete
  17. Iya sedih, masa tadi di berita TV katanya minat baca rakyat Indonesia peringkat keduadi dunia (tapi dari bawah) T.T

    ReplyDelete
  18. Perayaan hari buku nasional gak bisa dilepaskan dari minat baca. Banyak cara dilakukan untuk meningkatkan minat baca, seperti yang dilakukan oleh best western kemayoran yang membagi-bagikan buku gratis.

    ReplyDelete
  19. Sebagian besar masyarakat Indonesia berpikir membaca adl kegiatan tidak berguna.

    ReplyDelete