Riawani Elyta: The Unforgettable Moment in Bandung : Makna akan Sebuah Kerja Keras

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 29 February 2016

The Unforgettable Moment in Bandung : Makna akan Sebuah Kerja Keras

the unforgettable moment in Bandung
Bicara tentang Bandung, berarti bicara tentang unforgettable moment, yang pernah saya alami dan hanya pernah saya alami di kota ini. Iya benar. Dan momen itu nggak hanya satu, melainkan tiga. Uniknya, ketiga momen itu menjadi momen pertama buat saya yang belum pernah ada edisi ulang tayangnya lagi sampai sekarang, dan uniknya lagi, ketiga momen tersebut juga terjadi pada waktu yang nyaris bersamaan.

Ahai, sudahkah ada yang penasaran? Saya langsung cerita aja ya :

Pertama, launching novel perdana.
Iyup. 6 Juni 2013, menjadi momen “penting” yang akan selalu mengingatkan saya dengan kota ini. Betapa tidak. Ini adalah pertama kalinya novel perdana saya di-launching, sejak novel itu terbit pertama kalinya pada akhir tahun 2009.

Jujur aja, sampai sekarang pun saya masih bisa mengingat getar-getar bahagia bercampur haru ketika itu. Mengingat launching perdana novel saya, justru digelar di kota yang berjarak ribuan mil dari tempat saya tinggal, nun di kepulauan sana.

Bahkan sampai hari ini, saya belum pernah mengalami yang namanya even launching buku di kota kelahiran saya sendiri. Kalau boleh curhat sedikit, sampai hari inipun, saya belum dianggap bagian dari para penulis yang ada di kota saya sendiri. Hiks.

Kembali ke momen peluncuran novel. Momen ini digelar di toko buku Togamas Bandung yang beralamat di Jalan Buah Batu, ketika itu. Awalnya saya sempat deg-degan, dalam hati juga bertanya-tanya : siapalah yang berkenan datang ke even ini? Siapalah saya - yang notabene penulis dari pulau ini – di mata publik Bandung? 

TB Togamas Bandung [www.annida-online.com]
 Rasa deg-degan saya kian bertambah saat melihat jarum jam sudah bergeser setengah jam dari jadwal, namun kursi belum lagi terisi. Memang sih, saat itu Bandung tengah diguyur hujan, jadi kemungkinan besar, orang-orang pada males keluar rumah.

Untunglah, tak lama kemudian, teman-teman Be A Writer dari Jakarta datang rame-rame , dan ini membuat rasa deg-degan saya langsung berkurang. Membayangkan mereka sampe bela-belain naik mobil dari Jakarta ke Bandung, itu udah bikin hati saya bahagiaa banget.
 
teman-teman Be A Writer. [dok. pribadi]
Alhamdulillah, kursi yang disediakan panitia mulai terisi. Acara pun segera dimulai dengan menghadirkan moderator mas Ali Muakhir, penulis cerita anak yang belakangan juga merambah ke dunia blogger.

Dan, apa yang bikin saya nggak bisa lupa sampai sekarang, sambutan publik Bandung yang hadir pada even tersebut dan rata-rata mahasiswa itu, masya Allah, sangat luar biasa untuk ukuran saya.

saya lagi jawab pertanyaan pengunjung [dok. pribadi]


bersama pemenang dari pengunjung [dok. pribadi]
Waktu dua jam yang tersedia, nyaris tak cukup untuk menjawab gelombang pertanyaan seputar proses kreatif penulisan yang berlangsung dengan sangat antusias. Masih terbayang sampe sekarang, bagaimana mereka saling mengacungkan tangan saat kesempatan bertanya diberikan,  dan nggak sedikit pula yang nggak kebagian kesempatan bertanya karena waktunya terbatas. Kursi-kursi yang disediakan panitia pun tak lagi cukup, karena semakin petang, pengunjung yang hadir semakin ramai. Dan meski pihak toko telah menambah kursi ekstra, orang-orang yang datang terlambat terpaksa berdiri karena stok kursi sudah nggak ada lagi.

foto bersama setelah acara usai [dok. pribadi]
Oh ya, Kisah selengkapnya tentang even ini sudah saya tulis di sini dan part-2 nya di sini. Jadi, saya nggak  perlu menuliskannya panjang lebar lagi di sini deh ya. Satu yang pasti, antusias dan respon warga Bandung yang menghadiri acara launching novel saya ketika itu, benar-benar meninggalkan kesan positif di hati saya yang ketika itu merasa nggak lebih dari seorang penulis kampung.

Kedua, anak sulung saya meraih prestasi Olympiade Sains Nasional (OSN)
Tahun 2013, Bandung menjadi tuan rumah penyelenggaraan OSN tingkat SD. Jadi, ketika itu kedatangan saya ke Bandung, selain untuk launching novel, juga untuk mendampingi putra sulung saya yang mengikuti OSN tingkat nasional. Berhubung kami para orang tua nggak boleh menginap di hotel yang sama dengan para peserta OSN, maka saya dan suami kemudian menginap di sebuah hotel melati di kawasan Buah Batu, nggak jauh dari toko buku Togamas. Sementara anak saya bersama para peserta olympiade dan official, menginap di Hotel Grand Pasundan.

hotel Grand Pasundan [www.hikarivoucher.com]
Pada kompetisi OSN tersebut, Alhamdulillah, anak sulung saya meraih medali perunggu untuk bidang studi Matematika. Jangan ditanya gimana debar jantung saya pada malam pengumuman. Membayangkan kompetisi yang diikuti puluhan peserta dari seluruh tanah air, juga saat membayangkan betapa berat perjuangan yang telah dilalui si sulung untuk sampai ke tingkat nasional yang menempuh waktu hingga berbulan-bulan, sungguh, momen keberhasilan si sulung tersebut, buat saya menjadi sebuah pelajaran berharga akan arti kerja keras, kesabaran dan juga rahmat Allah.

putra sulung saya dan pialanya
Momen ini nggak hanya menjadi sesuatu yang unforgettable buat saya, tetapi juga terutama buat anak saya. Bahkan saat ditanya, kalo kuliah nanti mau di kota mana, dia tak ragu menjawab, pingin kuliah di Bandung, kota yang telah memberinya memori berharga akan sebuah prestasi.

Ketiga, menulis novel di perjalanan.

Suer, perjalanan ke Bandung waktu itu, adalah momen pertama saya menulis novel di luar kota. Biasanya, saya nulis novel itu hanya di kamar tidur atau di kantor. Belum pernah sekalipun saya melakukannya di luar kedua tempat itu, meski hanya sekadar sambil duduk nongkrong di cafe atau resto seperti yang banyak dilakukan oleh penulis lain.

Jadi, pada saat ke Bandung itulah, untuk pertama kalinya saya ngerasain yang namanya nulis novel di perjalanan, lebih tepatnya di kamar hotel, di sela-sela waktu mengunjungi si sulung untuk memberinya dukungan. Dan Alhamdulillah, novel yang saya tulis selama berada di Bandung itu udah terbit dengan judul Dear Bodyguard. Jadinya, setiap kali melihat cover novel ini, saya jadi teringat malam-malam yang dingin di kota Bandung yang saya lalui dengan menulis novel ini. *tsah*


Seperti yang udah saya tuliskan di awal, bahwa ketiga momen ini, sampe sekarang belum pernah terulang lagi dalam hidup saya. Memang sih, beberapa kali pernah digelar even-even seperti bedah buku saya, meet with author dan sebagainya, tetapi belum ada yang sesemarak saat launching di Bandung. Putra sulung saya udah SMP dan belum lagi mengikuti kompetisi sekelas OSN. Dan sampai hari inipun, saya belum pernah lagi ngerasain nulis novel dalam perjalanan seperti saat berada di Bandung.

Itulah sebabnya, kota bercuaca adem dan orangnya pun ramah- ramah ini, nggak akan bisa lepas dari ingatan saya sampai kapan pun. Saya yakin, bukan sebuah kebetulan belaka, kalau ketiga momen tersebut terjadi di waktu yang bersamaan dan memiliki benang merah yang sama : prestasi, pengalaman intelektual, dan juga....arti kerja keras. Iya benar. Kerja keras yang udah dilalui putra saya untuk sampai ke kompetisi tingkat nasional, juga kerja keras saya sepanjang proses kreatif menulis novel, yang salah satunya bermuara pada launching perdananya di kota Bandung.

Khusus untuk momen pertama dan ketiga, akan selalu saya jadikan cambuk untuk tetap semangat menulis buku meski kondisi industri perbukuan saat ini tengah kurang menggembirakan. Karena saya yakin, nggak ada hasil yang mengkhianati usaha dan juga doa. Jika kita selalu bekerja keras dan terus berdoa, insya Allah suatu saat akan berbuah hasil yang membahagiakan. Dan momen di kota Bandung pada tahun 2013 itu, telah mengajarkan saya akan pentingnya makna sebuah kerja keras.

Tentu saja, jika Allah masih memberi saya usia dan kesempatan, saya pingin banget datang ke Bandung lagi, karena waktu itu, saya belum puas jalan-jalan. Saya pingin cuci mata dan cuci dompet di factory-factory outletnya yang produknya keren-keren itu, pingin ngerasain petualangan di Trans Studio, pingin lihat seperti apa kota Bandung sekarang hasil kerja keras walikotanya Pak Ridwan Kamil beserta segenap jajarannya dan juga warganya, dan tentu aja, pingin nyobain makanan khas Bandung terutama Martabak Tropica yang paling enak di Bandung itu. Hehehe.

Nah, itulah cerita saya tentang unforgettable moment in Bandung. How about you, friend? Do you have an unforgettable moment too in Bandung? :D

"Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung"

4 comments:

  1. Wah putra sulungnya membanggakan :) kerja keraass.. Penulis buku mah jenius deh pasti :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha belum pernah ngetest iq aku mak....kayanya standar aja deh hehe

      Delete
  2. Wah wah, bukunya udah banyak ya? ^^ Keren uyyy.

    Pemiat buku di Bandung emang beda dengan kota lain ya? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo jumlah konkrit saya juga gak tau mak. cuma ini pas acara itu emang nggak nyangka banyak yang dateng

      Delete