Riawani Elyta: Launching A Cup of Tarapuccino dan Jasmine, Togamas Bandung 6 Juni 2013 (part-2)

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 12 June 2013

Launching A Cup of Tarapuccino dan Jasmine, Togamas Bandung 6 Juni 2013 (part-2)

Pada bagian ini, saya akan memposting sessi tanya jawab peserta, termasuk pertanyaan yang dilontarkan di luar acara oleh peserta yang nggak kebagian bertanya mengingat keterbatasan waktu, serta jawaban saya juga mas Ali Muakhir dan jawaban yang baru terpikirkan sekarang :) untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut :

1. Bagaimana mengolah ide agar tidak 'canggung'?

Saya mencoba memaknai 'canggung' dalam pertanyaan ini sebagai ide yang kaku atau monoton. Maka untuk menghasilkan ide yang 'luwes', seorang calon penulis harus : pertama - banyak membaca, membaca berbagai jenis tulisan dari berbagai bidang, termasuk status-status yang melintas di socmed pun sangat berpotensi untuk diolah sebagai ide tulisan. kedua - tingkatkan kepekaan, untuk bisa menangkap calon ide yang menarik, kita sebaiknya mengoptimalkan segenap panca indera dan kepekaan terhadap sebuah berita atau peristiwa. ketiga - banyak menulis, karena menulis adalah sarana terbaik untuk melatih kemampuan mengolah ide

2. Masih tentang ide, bagaimana menghasilkan ide yang 'wow' tanpa terkesan aneh?

Menurut saya, tingkat ke'wow'an sebuah ide tergantung juga pada genre tulisan. Untuk genre fanfic, justru semakin 'wow' imajinasi kita, biasanya hasilnya pun akan semakin baik, tentu saja dalam standar sebuah karya fanfic. Tetapi, jika genrenya adalah romance misalnya, atau pun fiksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, atau pun yang diangkat dari realita, maka pengolahan idenya pun harus 'real', tidak sinetronistik. Gunakan kesesuaian logika saat merangkai alur dan plot. Saya termasuk penulis yang lebih suka menulis kisah yang nuansanya lebih 'real' daripada yang terlalu dramatis dan punya konflik yang menukik tajam. Karena bagi saya, pembaca pun butuh 'sahabat' saat membaca sebuah fiksi, dan sahabat itu, adalah cerita yang dekat dengan gambaran kehidupan sehari-hari.


3. Bagaimana mengatasi writer's block?

Menurut saya, ilmu menulis adalah ilmu yang paling tidak saklek. Setiap orang bisa menulis dengan cara apapun yang dia sukai dan membuatnya nyaman. Tetapi untuk saya, langkah-langkah yang saya tempuh untuk meminimalisir writer's block adalah sbb :
a. saya mengibaratkan menulis seperti membangun sebuah rumah. Maka harus disiapkan terlebih dulu pondasinya (premis, sinopsis, outline) dan materialnya (riset, referensi) sebelum mulai menulis. Ibarat rumah tanpa pondasi, jangankan rumahnya, tiang-tiangnya pun tak akan tegak.
Pada tahap pondasi, setidaknya kita sudah bisa memiliki gambaran singkat cerita kita dalam rumus 5W + 1H : what (premis cerita), who (tokoh utama dan karakternya), when (setting waktu), where (setting tempat), why (latar belakang cerita), dan how (alur dan plot)
b. Disiplin dan komitmen, untuk itu dibutuhkan target, misalnya naskah harus selesai dalam 3 bulan, maka kita bisa mengatur berapa lembar yang harus kita tulis per hari, dan komitmenlah dengan jumlah itu. Naskah yang terlalu lama menganggur akibat nggak kunjung dilanjutkan juga bisa bikin semangat kendor.
c. Lengkapi diri dengan hal-hal yang bisa memperlancar proses menulis, sesuaikan dengan tingkat kenyamanan, ada yang baru lancar menulisnya saat dibarengi membaca novel sejenis, mendengar musik, nonton teve, atau justru mengisolasi diri dari segala gangguan. Lakukan yang paling sesuai denganmu dan fokuslah saat menulis.

4. Kapan menulis?

Saya komitmen untuk tidak menulis saat bersama anak-anak saya, jadi kalau di rumah, saya baru menulis setelah semua mereka tidur. Selebihnya, saya menulis pada jam istirahat kantor.

5.  Mana yang lebih mudah, menulis cerita dari awal atau merevisi naskah yang sudah jadi?

Tidak ada yang lebih mudah, tetapi kata kuncinya adalah kita harus menyukai cerita yang kita tulis, maka apapun prosesnya, apakah menulis baru atau merevisi yang sudah ada, kita akan tetap enjoy menjalani prosesnya.

6. Bagaimana membangun rasa percaya diri untuk menulis dan mengirim karya?

Banyak berlatih menulis, dan terus membaca karya-karya orang lain yang sudah terbit. Jangan sungkan minta pendapat pada teman tentang tulisan kita. Beranikan diri untuk mengirim karya, tetapi tentu saja kenali dulu segmentasi media atau penerbit yang kita tuju.

Mas Ali Muakhir juga menambahkan tentang pentingnya membangun personal branding oleh penulis. Salah satunya dengan mengoptimalkan penggunaan socmed dan konsisten dengan branding yang sudah kita bangun.

Akhirnya, saya mengambil satu tagline dari acara kali ini yaitu "Motivation, Action, and Target", jadi dalam proses menulis, terutama menulis naskah panjang, bangunlah motivasi sekuat mungkin, karena motivasi inilah yang akan menjadi spirit dan energi kita untuk terus menulis, lalu wujudkan dalam aksi (menulis) itu sendiri dengan tetap memegang disiplin dan komitmen, 'ikat' motivasi dan aksi ini dengan target, setidak-tidaknya, target paling sederhana adalah saat kita sudah memulai, maka kita tidak akan berhenti sebelum selesai.


4 comments:

  1. "Motivation, Action, and Target"

    Ikutan pakai tagline ini

    ReplyDelete
  2. mbak, berkunjung juga ke blog saya dong, hehehe...
    saya suka sekali postingan tips menulisnya..jd semangat nulis lagi

    blog saya:
    http://opini18.blogspot.com/

    ReplyDelete
  3. adin ; udah kemaren, pas baca yg resensi coffee memory :)

    ReplyDelete