Riawani Elyta: Kiat Mengatasi Hambatan Bekerja (dengan menulis) dari Rumah

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Sunday, 18 October 2015

Kiat Mengatasi Hambatan Bekerja (dengan menulis) dari Rumah



gambar dari sini


Tulisan ini adalah lanjutan artikel saya sebelumnya : Meraih Penghasilan dari rumah dengan menulis. Dari beragam komentar yang masuk, ternyata nih ya, meraih penghasilan dari rumah dengan menulis itu tidak semudah teorinya, dan dari hambatan-hambatan yang pernah dirasakan para komentator, saya coba rangkum solusinya pada artikel ini. Mudah-mudahan, beberapa poin dalam tulisan ini bisa menjadi masukan untuk teman-teman yang ingin serius bekerja dengan menulis dari rumah.

Ada lima elemen yang setidaknya harus kita miliki saat sudah memancang tekad ingin bekerja dan meraih penghasilan dari rumah (dengan menulis), yaitu :

  1.  Meluruskan niat

Setiap amal perbuatan tergantung niat. Jadi, sukses tidaknya a.k.a tercapai tidaknya target pekerjaan kita juga erat hubungannya dengan niat. Kita boleh-boleh saja punya tujuan dan target tertentu, selama itu positif. Misalnya ingin menambah penghasilan, ingin eksis, ingin bermanfaat untuk orang banyak, dan sebagainya. Namun satu hal yang perlu kita ingat, bahwa semua niat itu harus bermuara kepada Sang Maha Pencipta.

Jadi, ketika kita ingin bekerja untuk menambah penghasilan, ya harus diiringi niat bahwa kita ingin mencari rejeki yang halal karena Allah. Saat kita bertujuan untuk eksis, barengi dengan niat bahwa eksistensi kita adalah untuk mempermudah  dalam menyampaikan kebaikan yang bersumber dari Allah.

Maklum sajalah, kita hidup di lingkungan yang sangat peduli eksistensi. Jadi, ketika Pak Mario Teguh membagikan satu kalimat inspiratif, yang membaca dan membagikan bisa sampai jutaan orang. Tetapi kalau kalimat inspiratif itu saya yang nulis, ada yang tertarik untuk baca aja udah bagus, hehehe. Syukur-syukur dari jumlah yang sedikit itu ada yang terinspirasi dan tergugah untuk berubah, buat saya itu udah sangat berharga meski “harga” kalimat-kalimat saya masih jauh dari “harga” kalimatnya pak Mario. Ini harga dalam makna real lho, silahkan tanya aja sumber terpercaya berapa “harga” Pak Mario sekali mentas, *ups, abaikan, just kidding* :D .


2.      Prioritas

Niat insya Allah berbanding lurus dengan prioritas. Ketika kita udah meluruskan niat, prioritas juga bakal mengikuti. Jika prioritas kita adalah keluarga, maka kita juga akan lebih mengutamakan keluarga dari pekerjaan dan juga uang, begitu pula sebaliknya. Jadi, kalau nggak mau pusing nentuin prioritas, baiknya kita lurusin niat dulu, agar pikiran kita bisa lebih terbuka untuk membagi-bagi urusan dan kewajiban, mana yang harus didahulukan dan dikemudiankan.

Kenapa prioritas penting? Tujuannya supaya kita nggak keteteran, dan bisa membagi perhatian sesuai porsinya.


3.      Waktu

Ini masalah yang cukup rumit. Karena meski berada di rumah, aktivitas orang “rumahan” itu justru seringkali lebih sibuk dari orang kantoran. Kalau ibu-ibu yang ngantor itu kerja di kantornya paling banter sampe terbenam matahari, tetapi kalo ibu-ibu yang di rumah, aktivitasnya baru benar-benar berhenti sampai terbenam mata suami. Betul nggak?:D

Apalagi kalau punya bayi, hwaa, jam istirahat bisa menyusut jauh. Tapi gak apa-apa kok, karena masa-masa bahagia bersama anak saat masih bayi itu nggak bakal terulang, dan perputarannya juga cepeet banget. Eh tahu-tahu aja dedek udah tengkurep, belajar jalan, masuk TK, eh nggak kerasa udah abege, eh bentar lagi bakal married.

Back to the topic, jadi, agar bisa bekerja dari rumah, tentu saja kita harus mengatur waktu dengan efektif. Jika selama ini kita butuh waktu 1 – 2 jam untuk memasak misalnya, coba deh kita siasati gimana caranya supaya waktu untuk memasak ini bisa lebih pendek. Bikin bumbu dasar yang tinggal diambil pas mau masak misalnya, atau bahan-bahannya udah kita siapkan pada malam harinya. Jika selama ini biasanya nyuci dan setrika sendiri, coba bandingkan jika menggunakan jasa laundry, kira-kira lebih hemat mana dari segi biaya, listrik, air dan juga tenaga?

Setelah itu barulah kita cari waktu khusus untuk bekerja (menulis) yang tidak sampai mengganggu prioritas utama. Misalnya saja pas anak-anak berangkat sekolah. Waktu diantara sholat tahajud dan sholat shubuh, atau sisihkan barang sejam sebelum tidur.

Tips lainnya supaya waktu untuk menulis bisa digunakan dengan efektif, saat tengah bergelut dalam rutinitas, lalu tiba-tiba muncul ide tulisan, segera catet ide itu dalam ponsel, atau di selembar kertas, atau cukup di dalam memori kita. Jika sempat, tulis juga garis besar outline atau kerangkanya. Nah, begitu punya waktu lapang untuk menulis, segera eksekusikan ide itu menjadi naskah. Biasanya nih ya, kalo ide itu masih fresh, proses menulisnya juga bisa lebih lancar.


4.      Fokus dan Komitmen

Ini juga nggak kalah berat. Tetapi bisa dibuat jadi lebih ringan kok. Syaratnya harus disiplin. Kita sebaiknya kenal dulu sama kemampuan dan bidang menulis yang paling sesuai dengan passion kita. Bagi mereka yang bisa nulis apa aja pada rentang waktu yang pendek, misalnya habis nulis artikel, jarak dua jam udah nulis cerpen, sejam kemudian nulis resensi buku, mungkin nggak terlalu masalah dengan fokus. Tetapi buat sebagian orang yang hanya bisa fokus pada satu bidang, dan hanya mampu pada bidang yang disukai, disinilah fokus berperan penting. Pilihlah yang memang sesuai dengan passion kita dan kerahkan kemampuan maksimal kita di situ.

Saya termasuk yang mengalami kesulitan saat harus membagi fokus. Sebelum kenal lebih jauh tentang dunia blog dan web konten, Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan satu novel rata-rata dalam waktu 2-3 bulan. Tetapi sekarang, untuk menyelesaikan satu paragraph saja saya kerap mengalami tulis-hapus-tulis-hapus, seperti saat pertama-tama menulis novel. Ini karena fokus saya saat ini sudah terpecah-pecah dan jujur saja, menulis novel itu (buat saya) butuh perhatian, konsentrasi, keterlibatan diri dan hati jauh lebih dalam ketimbang nulis yang lain. Saya harus berbekal riset dan persiapan yang cukup serta “masuk” ke dalam diri tokoh utamanya (at least sampai saya bisa merasakan masalahnya sebagai masalah saya juga), barulah saya bisa menulis sebuah novel.

Sementara sekarang ini, saya mengharuskan diri meng-update personal blog saya dan blog kelas menulis novel saya minimal sekali seminggu, serta mengisi web Sayap Sakinah dua kali seminggu. Itu sebabnya, saat ini saya udah tutup mata sama lomba-lomba blog yang berseliweran (kecuali jika benar-benar punya waktu lapang), karena saya ingin kembali fokus menulis novel tanpa meninggalkan rutinitas saya mengisi blog dan web.

Lalu, setelah menemukan bidang mana yang mau ditekuni dan berjanji untuk fokus, ya sebaiknya diikuti oleh komitmen untuk menjalaninya dengan serius, konsisten, tidak setengah-setengah, tidak gampang tergoda untuk berpindah-pindah, dan seterusnya. Ibaratnya nih ya, kalau keahlian kita bikin masakan western itu baru setengah, ya harus ditekuni sampe level expert atau mendekati expert. Minimal punya jam terbang cukuplah. Tetapi kalo baru separuh jalan udah nyoba masakan Timur Tengah misalnya, dan hal yang serupa berulang terus, ya bakalan susah untuk mencapai level expert dalam satu bidang yang sama. Tingkat keahlian dan jam terbang ini juga menentukan bargaining position lho. Misalnya aja ada  yang lagi nyari jasa penerjemah, tentu saja dia bakal pilih penerjemah yang memang udah pro dan dapet rekom banyak orang kalau hasil terjemahannya emang bagus.


5.      Doa

Doa harus senantiasa mengiringi perbuatan baik. Setuju ya? Karena sekadar ikhtiar tanpa doa, sama aja menunjukkan sisi kesombongan kita. Seakan-akan semua pencapaian kita adalah semata-mata berdasarkan ikhtiar belaka. Doa ini nggak hanya kita pintakan saat pekerjaan telah selesai, tetapi juga harus dipanjatkan sebelum memulai, selama melakukan, dan hingga pekerjaan itu usai. Mudah-mudahan saja, dengan selalu mengiringi perbuatan dan pekerjaan kita dengan doa, hasil yang kita capai sesuai dengan yang kita harapkan serta memperoleh berkah dari Allah.


Tips-tips lainnya untuk mendorong produktivitas bisa teman-teman baca pada tulisan saya Tips Menjadi Wanita Produktif part 1 dan part 2
Semoga bermanfaat dan semoga berhasil meraih penghasilan (dengan menulis) dari rumah :)


Tanjungpinang, 18 Oktober 2015

Kontributor web Sayap Sakinah

11 comments:

  1. Terimakasih sharingnya mba. Saya masih harus disiplin dalam time management.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama2 mbak....makasih ya udah berkunjung :)

      Delete
  2. Boleh nanya mbak Elyta?
    1. Mbak menulis begitu banyak buku, konsisten menulis uda berapa tahun? Maksud saya mbak berkarir di dunia tulis menulis dan aktif sejak usia berapa?

    2. Mbak baca sebulan berapa buku?
    Ya itu saja deh mbah, oh FB Mbak Elyta sudah full, saya tidak bisa berteman :'(
    Salam kenal mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Mulai belajar nulis tahun 2006. Mulai konsisten nulis buku sejak 2011. Kalo umur mah udah tuirr hehe

      2. Sekarang agak kendor nih baca bukunya...agak kedodoran juga ngatur waktu...like Fan page saya aja, or add akun 1 lagi yang pp nya cover buku sayap2 mawaddah. Salam kenal juga :)

      Delete
  3. bener mak.. doa juga paling penting..karena segala usaha ...harus diiringi doa, karena takkan sukses sesuatu tanpa ijin dari Nya..

    sukses...deh..buat buku2nya..

    ReplyDelete
  4. makasoh ilmunya ya mbk, daku sepertinya harus menguatkan niat dlu kayaknya nih mbk,
    yoyoyow semangaaaattt

    ReplyDelete
  5. Naah, nomor 4 itu aku banget. Masalah di fokus dan komitmen. Harus ada landasan suka dan cinta dulu, baru semua berjalan aman ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Fokus n komitmen. 2 hal yg mudah diucap susah direalisasiin yak. Butuh suka dan cinta emang

      Delete
  6. setuju, bekal spiritual sama penting dengan bekal yang lain seperti menejemen waktu dan finansial

    ReplyDelete