Support Me on SociaBuzz

Support Me on SociaBuzz
Dukung Blog Ini

Review Buku Tanda Mata dari Belanda ; Membongkar Kenangan, Mengurai Jejak Hidup

 


Sudah lama juga tidak membaca buku at one sitting. Dan malam ini, saya berhasil melakukannya. Untuk sebuah buku karya Lukman Tanjung,yang berjudul Tanda Mata dari Belanda.

 

Buku setebal 144 halaman ini memuat kisah hidup penulis saat menempuh pendidikan S2 di Belanda. Sebuah buku bergenre true story yang dikemas dalam catatan ringan, terbagi atas 3 (tiga) bagian dan 24 Bab. Bercerita secara runut mulai dari pertama kali penulis menginjakkan kaki di Belanda hingga pulang ke tanah air setelah pendidikannya selesai.

Masing-masing bab mewakili 1 (satu) pengalaman penulis selama berada di sana. Saya yakin, 4 (empat) musim menyelesaikan pendidikan di negeri kincir angin ini, menyimpan banyak kisah untuk diurai. Jadi, saya menduga, kisah yang terangkum dalam buku ini belumlah mewakili semua kisah, melainkan baru sekelumit pengalaman yang paling berkesan bagi penulis dan beliau bongkar dari simpanan memori demi menghasilkan buku ini.

Beberapa pengalaman nggak jauh berbeda dengan yang pernah saya alami saat keluar negeri. (saya main dekat-dekat saja, belum yang jauh seperti bang Lukman). Seperti fakta tentang nggak ada air di toilet, tentang orang asing yang nggak suka “berutang budi” alias menerima pemberian dan pasti ingin membalas, tentang basa basi yang nggak laku di negeri orang, dan sebagainya.

Saat membaca bagian-bagian awal buku ini, feel dari tulisan bang Lukman terasa masih tersendat dan seakan menyimpan keraguan. Barulah setelah melewati 5-6 bab, tulisan mulai mengalir dan seakan ada beban yang lepas satu per satu. Membuat kisah demi kisah dalam buku ini perlahan-lahan semakin asyik untuk dinikmati.

Untuk sebuah buku perdana yang merangkum sebagian kecil perjalanan hidup bang Lukman, saya pikir, it’s quite good lah, hehe. Tulisannya ringan dan easy reading sehingga seperti melihat orangnya sedang menuturkan secara lisan. Hanya saja masih terdapat beberapa typo, seperti penulisan nama negara Belanda yang berkali-kali ditulis dengan awalan huruf kecil.

Pada setiap awal bab, saya menemukan tulisan dalam bahasa Belanda yang ditulis terbalik alias dari kanan. Sebenarnya ingin bertanya langsung, apakah bahasa Belanda memang ditulis demikian atau disengaja. Tetapi karena malas bertanya, saya tulis sajalah di sini, hehe. Semoga penulisnya nggak keberatan menjawab.

Setelah menutup buku ini, entah kenapa tiba-tiba keinginan saya bangkit lagi untuk menulis, setelah berbulan-bulan saya vakum menulis buku. Khususnya menulis tentang perjalanan singkat saat pergi keluar negeri. Selama ini, saya lebih suka menulis dalam bentuk novel. Tetapi kali ini, rasanya saya juga ingin menulis true story, sebagai kenang-kenangan buat anak-anak saya dan merekam jejak pengalaman di luar negeri yang belum tentu terulang lagi.

So, I think I have to thanks a bunch to bang Lukman for writing this book. Terkadang, ada hal-hal yang nggak terduga, misalnya saja, tentang ide dan keinginan yang justru muncul dari sesuatu yang sederhana. Saya berharap setelah ini masih ada tanda-tanda mata berikutnya dari bang Lukman, berupa rekam jejak perjalanan bang Lukman dari kunjungannya ke banyak negara. Minimal, bisa jadi referensi buat orang-orang Indonesia yang belum pernah keluar negeri, ingin keluar negeri, atau akan belajar di luar negeri. Semoga tetap semangat menulis ya.

 

Judul                     :  Tanda Mata dari Belanda

Penulis                 : Lukman Tanjung

Penerbit              : Komunitas Gemulun Indonesia

Terbit                    : 2021

Tebal                     : 144 hal

 

 

 

No comments