Support Me on SociaBuzz

Support Me on SociaBuzz
Dukung Blog Ini

Mengemas Cliffhanger dan Story Question yang Brilian dalam Novel Remaja



 Apa rasanya harus berpisah dengan sesuatu yang dicintai? Bagaimana pula rasanya menjalani hidup di tempat yang baru hanya berdua dengan sang ayah? Kedua masalah ini membuka kisah Iska, sang tokoh utama cerita saat harus mengikuti ayahnya yang dipindahtugaskan dari ibukota.

Kepindahan itu membuat Iska juga harus rela meninggalkan hobinya bermain tenis. Di tempat yang baru, Iska berkenalan dan berteman dengan Mimi dan Ganesh. Orang tua Mimi ternyata memiliki sebuah lapangan tenis. Kenyataan ini membuat semangat Iska kembali menggelora. Akhirnya, dia punya kesempatan untuk kembali bermain tenis.

Namun, pada hari pertama mengunjungi lapangan tenis tersebut, kehadiran seorang perempuan misterius yang tengah bermain tenis membuat Iska tercekam. Perempuan itu menatapnya dengan tajam, bahkan selalu muncul dimana pun, seakan-akan memang sengaja membuntuti dan meneror Iska. Tidak cukup sampai di situ, keinginan Iska untuk bermain tenis juga terancam gagal, saat ada pihak yang memaksa ayah Mimi untuk menjual lapangan tenis.

Sementara itu, kedatangan seorang dokter hewan sekaligus selebgram bernama drh. Norman Jupiter ke kota tersebut, membuat Iska senang bukan kepalang. Iska sudah sejak lama mengagumi drh. Norman dan menginspirasinya untuk bercita-cita menjadi dokter hewan. Bersama Ganesh, dia berencana untuk menghadiri seminar drh. Norman. Namun, di luar dugaan Iska, ayahnya melarang dia untuk menjumpai drh. Norman tanpa memberitahu apa sebabnya.

Keanehan itu kian bertambah saat Iska dan teman-temannya melihat drh. Norman bersama Tante Rina, sang perempuan misterius di lapangan tenis, namun Tante Rina bersikap seolah-olah tidak mengenal mereka.

Siapa sesungguhnya Tante Rina? Mengapa ayah Iska melarang Iska untuk bertemu drh. Norman? Berhasilkah Iska kembali bermain tenis seperti yang diinginkannya?

 ---------

Pertama kalinya membaca novel karya Nicco Machi ini, saya langsung tersedot pada lembar demi lembarnya, hingga tak sadar, novel ini langsung tuntas dalam semalam. Alurnya yang mengalir lancar, dialog-dialognya yang segar, dan kepiawaian penulisnya dalam menghadirkan cliffhanger mampu menciptakan magnet bagi pembaca untuk terus membalik lembarannya. Kalau istilah asingnya, this novel is a kind of page turner. Sementara cliffhanger sendiri bermakna “a story of event with a strong element of suspense.”


Nah, pada resensi ini, saya cukup tertarik untuk membahas elemen yang satu ini, karena menurut saya, selaras dengan cliffhanger tersebut, penulis cukup berhasil mengemas story question di dalam novelnya. Story question adalah adegan atau bagian cerita yang membuat pembaca bertanya-tanya, dan jawabannya disodorkan pada bab-bab berikutnya.

Mengutip tulisan Jia Effendie di blognya jiaeffendie.wordpress.com, bahwa untuk membuat story question yang menarik dan sebuah novel menjadi page turner, ada beberapa cara yang bisa dicoba. Dan cara-cara ini berhasil diaplikasikan dengan baik oleh penulis sehingga unsur misterius di dalam novel remaja ini tetap terjaga. Saya mencoba menguraikannya berikut ini :

-       Wonder : Teknik membuat pembaca bertanya-tanya dan mencemaskan nasib tokohnya. Pembaca digiring untuk peduli dan berempati dengan menciptakan kedekatan pada sang tokoh meski pun karakternya tidak sempurna.

Pada novel ini, upaya menjalin kedekatan itu telah terbangun sejak awal. Pembaca disuguhkan dengan masalah yang dialami Iska, konflik batinnya, kecemasan-kecemasannya dan usaha Iska untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. 

Sungguh, meskipun Iska bukan siapa-siapa buat saya, saat Iska cemas, saya pun ikut merasa cemas, saat Iska terancam bahaya, saya pun ikut mengkhawatirkan nasib Iska. Padahal, Iska adalah remaja biasa yang punya sisi baik dan buruk. Justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat sosok Iska terasa dekat dan natural. Bukan sesosok imajiner yang terkesan too good to be true.

 

-       Pivotal moment : memulai cerita dengan momen penting dalam hidup sang tokoh.

Novel ini langsung dibuka dengan kisah kepindahan Iska dan ayahnya, bagaimana Iska harus meninggalkan kehidupan sebelumnya yang nyaman di ibukota dan yang terberat, dia harus meninggalkan tenis. Jadi, tanpa banyak bertele-tele, pembaca langsung diajak menyelami kehidupan Iska dan masalahnya sejak lembar pertama.

 

-       Specific details : memberi detail spesifik sehingga pembaca bisa memvisualisasikan cerita.

Terdapat dua penggambaran yang sangat detail dan spesifik dalam novel ini, yaitu tentang tenis dan ilmu kedokteran hewan. Saat penulis mendeskripsikan tentang keadaan di lapangan tenis, pembaca seolah-olah dapat merasakan tengah berada di tempat tersebut. Begitu juga detail spesifik tentang ilmu kedokteran hewan. Andai saya membaca novel ini saat masih SMA, mungkin saya juga akan tertarik untuk menjadi dokter hewan.

 

-       Hold The Info : Ini adalah teknik andalan para penulis fiksi misteri.

Yaitu dengan tidak membuka semua informasi di awal, melainkan menyebarkannya di sekujur cerita berupa clue (petunjuk samar). Teknik ini pun berhasil diaplikasikan dengan baik oleh penulis, sehingga pertanyaan dan rasa penasaran terus silih berganti mengisi benak kita sepanjang membaca kisah ini.

 

-       Protagonist goal : menyampaikan tujuan utama tokohnya sejak awal cerita.

Pada novel ini, penulis langsung menjabarkan apa yang diinginkan Iska sejak bab pertama, yaitu ingin kembali bermain tenis. Keinginan inilah yang kemudian menggiring Iska pada pertemuan demi pertemuan dengan misteri-misteri selanjutnya dalam kisah ini. Penulis juga berhasil membangkitkan empati pembaca terhadap tujuan hidup Iska sehingga diam-diam berharap Iska berhasil mencapainya. 

 


Membaca novel ini, cukup berhasil mengobati kerinduan pada novel favorit saya saat remaja dulu : Serial Trio Detektif. Meski pun konfliknya tidak serumit pada serial tersebut, konsistensi penulis menjaga unsur suspense sampai mendekati akhir cerita layak diacungi jempol.

Selain itu, kehadiran tokoh yang berjiwa psikopat dalam novel ini, membuat saya jadi teringat beberapa drama Korea yang didalamnya juga terdapat tokoh psikopat, seperti Flower The Evil, LUCA The Beginning dan Mouse.

Memang, dalam novel ini tokoh tersebut berikut karakter psikopatnya baru dimunculkan setelah dua per tiga cerita, namun tindakan kejahatan yang dilakukannya cukup menghadirkan cekaman dan element of surprise. Sungguh tidak menyangka, sosok yang awalnya digambarkan begitu menyenangkan, cerdas dan populer ternyata memiliki sisi pribadi yang gelap.

Novel ini juga memiliki segudang amanat positif, antara lain tentang kewajiban muslimah untuk berhijab, tentang pentingnya bersikap hati-hati dan mematuhi orang tua, juga tentang keteguhan terhadap passion. Semua amanat ini mengalir dengan soft and smooth di dalam cerita, juga melalui interaksi dan dialog para tokohnya, sehingga pembaca tidak akan merasa tengah digurui atau diceramahi.

 “Sebenarnya aku pingin pakai hijab. Sudah lama pengin......tapi, ada bagian diriku yang masih ragu.”

“Itu bisikan setan yang berusaha menghalangi kamu menjalankan perintahNya, Mi. Abaikan.” (hal. 66)

 

“Jangan jadikan aku sebagai standar. Semua orang punya standar masing-masing,” ujarnya. “Kamu bisa berprestasi di bidang yang kamu suka.” (hal. 67)

 

Jika menyebut kekurangan, barangkali ini lebih karena faktor selera dan persepsi saja. Menurut saya, jawaban atas misteri dalam novel ini terkesan menumpuk karena semuanya diuraikan sekaligus di satu bab. Mungkin, akan terasa lebih seru jika flashback kisah yang menjadi jawaban tersebut ditulis sebagai “sebuah cerita”, bukan sebagai “cerita yang diceritakan”.

Dan, maaf kalau saya kurang memahami kemampuan memori anak kecil. Hanya agak aneh rasanya saat Iska sama sekali tidak kenal atau merasakan sesuatu ketika melihat Tante Rina. Karena seingat saya, saat TK dulu, saya masih bisa mengingat beberapa wajah ketika bertemu mereka kembali bertahun-tahun kemudian. Tetapi, ini mungkin sifatnya kausasif ya. Beda anak, beda pula daya ingatnya.

Setelah membaca novel ini, saya jadi ingin sekali membaca novel-novel selanjutnya dari penulis. Di mata saya, Nicco Machi adalah penulis muda yang hebat dan bertalenta. Dalam tulisannya, saya merasakan letupan semangat, ketekunan, keseriusan, kecerdasan mengolah ide dan passion yang menyenangkan terhadap menulis. Bravo buat Nicco, semoga terus produktif menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

 


Judul  : Perempuan Misterius

Penulis : Nicco Machi

Tahun : 2020

Tebal : 239 hal

Harga : Rp. 65.000,-

Penerbit : Indiva Media Kreasi

 

 

 

2 comments

  1. Mimpi apa saya, novel saya diresensi oleh seorang Mbak Riawani Elyta. T_T

    Terima kasih banyak Mbak, sudah menyempatkan diri membaca dan menulis resensi untuk Perempuan Misterius. Senang sekali baca resensinya, dikupas sedetail itu menggunakan teori. Sampai speechless saya bacanya, asli. :') Foto bukunya juga cantik sekali.

    Terima kasih juga untuk kritiknya, akan saya jadikan masukan untuk bisa menulis lebih baik lagi ke depannya. Saya juga kurang puas sih di bagian revelation yang tell banget itu (yang terpaksa seperti itu karena keterbatasan waktu). Semoga di novel selanjutnya bisa menghindari itu. Sementara untuk memori Iska, ceritanya kejadian benturan yang dia alami memang mempengaruhi ingatannya sedikit, makanya dia nggak ingat hehe.

    Sekali lagi terima kasih banyak ya Mbak. Resensi Mbak ini sangat memotivasi saya untuk menulis lebih banyak karya yang bermanfaat. Semoga bisa terwujud. Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Jadi siapa sebenarnya perempuan misterius itu? Informatif banget nih Mbak resensinya, baru tahu mengenai page turner..

    ReplyDelete