Cara Tepat Mengenali Keterlambatan Bicara Pada Anak

Menjadi orangtua adalah dambaan dan kebahagiaan bagi setiap pasangan suami istri. Mengikuti pertumbuhan dan perkembangan si kecil pun terasa menyenangkan. Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang normal sesuai usia, tanpa menemui masalah berarti seperti keterlambatan bicara.


Secara umum, pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala. Sedangkan perkembangan meliputi kemampuan si kecil seperti kemampuan untuk mengangkat kepala, tengkurap, berguling, merangkak, lalu berjalan hingga berbicara.

Perkembangan ini acapkali berbeda pada masing – masing anak. Hanya saja, tetap ada standar yang bisa kita jadikan acuan. Jika si kecil mengalami masalah, akan cepat diketahui dengan mengacu kepada standar tersebut. Misalnya saja, si kecil belum juga tumbuh gigi saat usianya mencapai 1 tahun, belum bisa berjalan di usia 1,5 tahun ataupun belum mampu berbicara di usia 2 tahun.

Beberapa tahun lalu, salah seorang teman saya bertandang ke rumah bersama anaknya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan anaknya. Pertumbuhannya baik bahkan cenderung lebih bongsor dari anak seusianya. Tetapi, dari cerita teman saya, anaknya ini didiagnosa mengalami global delay. Yang artinya keterlambatan perkembangan di semua sektor. Masalah bermula dari demam panas yang dialaminya pada usia 2 tahun. Dilanjutkan dengan kesalahan diagnosa, pemberian obat yang salah hingga anak ini mengalami ketulian. Di kemudian hari, anak ini juga diketahui mengalami autis ringan.

Saya memerhatikan kalau anak tersebut sangat gampang marah, uring – uringan dan tidak nyaman berada di lingkungan yang asing baginya. Saya menyaksikan bagaimana sulitnya teman saya menangani anak semata wayangnya tersebut. Saya memahami bagaimana frustasinya sang anak, karena ia tak mampu mendengar suara di sekitarnya dan tak mampu menyampaikan keinginannya.

Kisah lain berasal dari adik saya sendiri. Ketika putra pertamanya berusia dua tahun, kosa kata yang dimilikinya tak lebih dari 20 kata, padahal menurut standar, anak usia 2 tahun paling tidak memiliki 25 kosa kata. Khawatir sang putra mengalami speech delay yang  bisa berimbas ke perkembangannya, adik saya membawa anaknya ke psikolog. Sang psikolog pun menguatkan kekhawatiran adik saya bahwa anaknya memang mengalami speech delay. Perjuangan tak berhenti sampai di situ. Adik saya kemudian memasukkan anaknya ke PAUD dengan harapan agar sang anak bersosialisasi dengan teman – temannya dan bisa berbicara. Tetapi tak jua membuahkan hasil.

Beruntung, selanjutnya adik saya membawa anaknya menemui seorang dokter anak. Dokter anak tersebut mengatakan agar tak langsung mengatakan seorang anak mengalami speech delay sebelum jelas diagnosanya. Sang dokter bercerita bahwa anaknya pun dulu sulit berbicara hingga ia mengajari anaknya berbicara di depan cermin. Adik saya kemudian mencoba mempraktekkan metode ini. Dan ternyata berhasil. Setelah beberapa bulan, anak adik saya memiliki ketrampilan berbicara seolah tak pernah mengalami keterlambatan.

Speech delay secara umum dikenal sebagai keterlambatan bicara. Penyebabnya bisa beragam. Bisa dari pendengaran yang terganggu, gangguan bahasa spesifik reseptif/ekspresif, autis atau gangguan pada organ mulut seperti gangguan artikulasi hingga gangguan otak. Keterlambatan ini jika dibiarkan akan berpengaruh besar dalam kehidupan seorang anak nantinya. Anak akan sulit bersosialisasi, kesulitan mengungkapkan ide dan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa berdampak di prestasi akademi yang buruk. 
Selain itu, kesulitan menyampaikan keinginan juga akan membuat anak menarik diri dalam pergaulan, yang dalam jangka panjang bisa mengakibatkan depresi dan masalah kejiwaan lainnya. Saya membayangkan bagaimana frustasinya anak teman saya pada cerita di atas. Dunia yang tak mampu memahami keinginannya dan ketidakmampuannya menyampaikan keinginannya. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan dalam interaksinya membutuhkan kecakapan berkomunikasi yang baik.

Orangtua sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak adalah orang yang paling memahami bagaimana tumbuh kembang si kecil. Ada beberapa hal yang bisa menjadi panduan orangtua dalam tahapan perkembangan bahasa si kecil menurut Milestone, yakni :
  1.  Pada usia 0 – 6 bulan, si kecil sudah mampu memberikan respon reseptif seperti melirik atau melihat jika ada suara, lalu bisa bersuara mulai dari tertawa, cooing (suara yang tidak beraturan) hingga mengeluarkan kata seperti aahhh atau uuhh.
  2.  Pada usia 9 bulan, cooing menjadi babbling (pengulamgan suku kata yang sama) seperti dadada, mamama, papapa walaupun belum jelas dan mulai dapat melambai.
  3.  Pada usia 12 bulan, si kecil dapat mengikuti 1 perintah seperti “sini” atau “lihat” dan mulai mampu menirukan suara atau intonasi suara hingga dapat mengucapkan 1 suku kata.
  4. Pada usia 15 bulan, pengucapan 1 suku kata meningkat menjadi 3 kata.
  5. Pada usia 18 bulan, si kecil sudah bisa menunjuk minimal satu anggota tubuhnya, pengucapan kata meningkat menjadi 6 kata.
  6. Usia 2 tahun, si kecil sudah bisa menunjuk gambar, mengikuti lebih dari 2 perintah, dapat merangkai kata dan dapat menyebutkan gambar.
  7. Usia 2,5 tahun, si kecil bisa menunjuk 6 anggota tubuhnya, dapat melakukan dua tindakan, setengah dari pembicaraannya bisa dimengerti.
  8. Usia 3 tahun, si kecil dapat mengetahui 2 kata sifat, mengenali 4 gambar, mengenal 1 warna dan seluruh pembicaraannya bisa dimengerti.
  9. Pada usia 4 tahun, si kecil sudah bisa memahami 4 kata, mengenal 4 warna dan seluruh pembicaraannya bisa dimengerti.
   Sedangkan tanda – tanda bahaya yang harus diperhatikan orangtua dalam perkembangan bahasa seorang anak meliputi :
  1. Pada usia 12 bulan,  si kecil tidak mampu mengucapkan kata – kata babbling, tidak menunjuk atau mengikuti gerak – gerik orang yang mengasuhnya.
  2. Usia 15 bulan, si kecil tidak melihat atau menunjuk 5 dari 10 objek atau orang yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 3 kata.
  3. Usia 18 bulan, si kecil tidak mampu mengkuti 1 instruksi dan tidak mampu mengatakan mama, papa, dada.
  4. Usia 2 tahun, si kecil tidak menunjuk gambar atau anggota tubuh yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 25 kata.
  5. Usia 2,5 tahun, si kecil tidak merespon secara verbal, mengangguk atau menggelengkan kepala pada sebuah pertanyaan dan tidak bisa mengkombinasikan 2 kata.
  6. Usia 3 tahun, si kecil tidak memahami dan mengikuti perintah, tidak mengucapkan minimal 200 kata dan tidak dapat menyebutkan keinginannya dan mengulang kalimat sebagai respon dari pertanyaan.

Tentunya untuk mencapai tahapan perkembangan bahasa anak, kita sebagai orangtua bisa melakukan stimulasi yang tepat seperti yang dilakukan adik saya terhadap putra pertamanya. 

Stimulasi ini bisa berupa :
  •       Usia 0 – 6 bulan :
·   Berbicara dengan si kecil dengan penuh perhatian dan disampaikan dengan cara yang menarik
·   Berkomunikasi misalnya bermain cilukba atau bernyanyi saat melakukan aktivitas bersama seperti pada waktu makan, mandi atau ganti popok.
·      Usahakan pula untuk mengucapkan kata – kata dengan jelas.
  •        Usia  6 – 12 bulan :
·      Memberikan respon pada ocehan si kecil
·      Menggunakan kalimat pendek dengan tempo lamban dan jelas serta 1 bahasa
  •        Usia 12 bulan : menjelaskan setiap tindakan, misalnya “lihat mama sedang masak”.
  •        Usia 18 bulan :
·      Memberikan kata – kata yang diulang
·      Memberikan pujian
·      Menjelaskan apa yang dilihat si kecil
  •         Usia 24 bulan :
·      Menggunakan kata – kata baru
·      Menjelaskan arti suatu kata dengan menggunakan bahasa tubuh dan intonasi
·      Menggunakan percakapan sederhana
·      Merangsang anak dengan pertanyaan sederhana lalu tunggu respon anak selama 10 detik
·      Membaca buku dengan kalimat sederhana dan berulang – ulang
·      Mengajak si kecil bermain dengan instruksi seperti “pegang kepala”.
  •     Usia 30 bulan : Membaca cerita dan menjawab pertanyaan sederhana
  •      Usia 3 tahun :
·      Mulai menggunakan kalimat yang terdiri dari 3 hingga 4 kata
·      Membicarakan kegiatan sehari – hari
·      Bermain dengan teman sebaya
  •      Usia 4 tahun :
·      Membacakan cerita yang lebih panjang
·      Mengunjungi taman bermain, kebun binatang atau menyaksikan sebuah pertunjukan.
  •       Usia 5 tahun :
·      Mendengarkan apa yang dikatakan anak dengan baik
·      Memberi kesempatan kepada anak untuk mengutarakan perasaannya

Saat kita mengetahui terdapat masalah dalam perkembangan bahasa anak, jangan terburu – buru menyangka anak mengalami keterlambatan bicara. Dibutuhkan diagnosa lebih lanjut untuk menemukan masalah hingga melakukan penanganan yang tepat. Orangtua bisa melakukan pemeriksaan dengan membawa anak ke dokter THT, ahli terapis bicara, psikolog, psikiater atau dokter anak.

Nah, jika masih bingung untuk menentukan apakah buah hati kita mengalami keterlambatan bicara atau tidak, kita bisa mencari tahu terlebih dulu berbagai informasi yang berkaitan dengan speech delay di internet. Tentunya dari sumber informasi yang akurat dan terpercaya serta dikelola oleh para ahli di bidangnya. 

Anda juga bisa menonton video dibawah ini untuk mendapatkan informasi terkait tumbuh kembang anak termasuk untuk mengenali keterlambatan bicara: 





10 comments

  1. Adanya media sosial kadang malah bikin orangtua cepat mengambil kesimpulan hanya karena membaca status facebook orang lain tentang anaknya. Harusnya seperti adiknya itu ya, mendatangi psikolog dan dokter.

    ReplyDelete
  2. Makasih sharingnya mba. Menambah pengetahuan untuk saya yg punya balita dan insyaallah akan melahirkan anak kedua. Selama ini saya cerewet sama anak pertama dan sering membacakan buku. Jadinya alhamdulillah ia cepat bicara. Meski gt tetep degdegan untuk anak kedua ini hehe

    ReplyDelete
  3. Anak 0-24 bulan itu tumbuh kembangnya benar-benar harus dipantau ya. Sehingga bila ada keterlambatan bicara misalnya, segera cepat dicarikan solusinya. Dan diagnosa kalau bisa lebih dari satu dokter.
    Makasih infonya mba, bermanfaat banget untuk para Bunda ini.

    ReplyDelete
  4. Qmemang sedih ya kalau anak alami keterlambatan bicara tapi kita bisa segera mengatasinya dan jangan sampai terlambat

    ReplyDelete
  5. TFS mba.. bagus banget materi post ini, bisa sebagai acuan perkembangan Balita kita..

    ReplyDelete
  6. Banyak emang orang tua yang sudah duluan nyetempel anaknya speech delay, padahal belum tentu ya. Perbanyak informasi aja, jgn mudah nyerah. Thanks sharenya ya mba 😊

    ReplyDelete
  7. kebnayakan orangtua menyadari anaknya mengalami speechdelay pas usia 2 ketiga 3 tahun, padahal kalau tau clue nya bisa dideteksi lebih awal dan bisa distimulasi oleh orangtua ya mba.

    ReplyDelete
  8. Sedih banget deh kalau anak kena speech delay, makanya waktu hamil aku selalu bawel dan ajak ngomong calon debay biar sedikit banyak memberi stimulus

    ReplyDelete
  9. Senang banget bacanya, jadi banyak hal yang aku dapat tetnang speech delay. Dulu aku ngajar sekolah minggu, ada anak yang speech delay. mamanya kerja, dan dititipin ke neneknya. Tapi neneknya kurang bawel dan lebih sering nonton TV. jadi hanya komunikasi satu arah aja :(

    ReplyDelete
  10. Perkembangan bicara anak memang penting jadi perhatian orang tuanya, atau penghasuhnya juga. Mereka yang sehari-hari bersamanya, kalo kurang memperhatikan, bakal terlambat juga penanganannya misalnya si anak alami speech delay ya. Apalagi sekarang ada banyak tenaga ahli yang bisa membantu seerpti Dini.id ini

    ReplyDelete