Resensi Novel Oliver Twist : Kisah Klasik Anak (yang bukan) Untuk Anak

Sinopsis :
Seandainya bisa, siapapun tidak akan memilih terlahir tanpa keluarga dan terlunta-lunta. Termasuk Oliver Twist. Ia tidak pernah tahu siapa keluarganya dan tiba-tiba saja hidup di rumah penampungan untuk kaum papa. Informasi yang sampai ditelinganya hanyalah kisah memilukan tentang ibunya yang meninggal setelah melahirkan dirinya.

Meski memiliki masa lalu yang tidak jelas, Oliver Twist begitu menginginkan masa depan yang bahagia. Maka dari itu, bocah kurus, berwajah pucat dan selalu merasa lapar itu menurut saja ketika pak Sowerberry, si pembuat peti mati, datang dan membelinya dari rumah penampungan.

Senyatanya, hidup Oliver tak kunjung berubah. Tetap merasa lapar, miskin dan dibenci. Bahkan, ketika sudah bersusah payah melarikan diri ke kota London pun, takdir tak kunjung berbaik hati. Beberapa orang yang dianggapnya sahabat ternyata juga menjerumuskannya pada kehidupan yang lebih kejam....

--------------------------------

Apa kesan pertama kalian saat membaca sinopsis diatas? Sebuah kisah yang suram, gelap, dan penuh nestapa, bukan?
Ya. Isi ceritanya bahkan lebih gelap ketimbang sinopsisnya. Apalagi, saat kalian tahu siapa Oliver sebenarnya. Rasanya sungguh tidak adil, nasib buruk menimpa seorang anak yang sesungguhnya punya peluang untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Novel ini selesai saya baca dalam 2 (dua) hari. Saya tertarik membelinya saat libur imlek kemarin, karena :

Pertama, karena novel ini termasuk yang disebut sebagai "bacaan anak yang bermutu" oleh sayembara cerita anak "bergengsi" tahun lalu. Sayembara yang sempat menghebohkan jagat penulisan novel anak ketika itu karena tersisip ‘pernyataan’ bahwa selama ini, anak-anak lebih banyak dijejali dengan buku-buku yang ditulis ‘bukan’ oleh penulis buku anak.

Kedua, karena harganya lumayan murah, 34 ribu saja.
Ketiga, karena saya memang belum pernah membaca karya penulis fenomenal Charles Dickens.

Novel Oliver Twist yang saya baca ini, adalah versi terbitan Narasi. Terjemahannya lumayan baik. Mudah dipahami. Kalimatnya efektif. Bahkan "rasa" suram dari cerita ini benar-benar merasuk ke dalam hati.

Untuk ukuran sebuah novel yang mengangkat kritik sosial dan humanisme, terbit pertama kalinya di tahun 1800an, dan terus diterjemahkan hingga kini, harus diakui, Oliver Twist memang sebuah karya yang jenius.  Dickens begitu piawai menyelipkan kritik sosialnya terhadap bobroknya realita rumah penampungan anak-anak telantar dan lika-liku kehidupan jalanan di Inggris, kala itu.

Namun, untuk menyebutnya sebagai 'bacaan anak' yang bermutu, sepertinya saya masih harus menimbang-nimbang, walau sudah tahu endingnya : saya tidak sepakat.
Sedangkan orang dewasa seperti saya sudah merasakan cekaman kesuraman dan kepedihan cerita ini, bagaimana pula halnya dengan pembaca anak-anak?

Kalaulah kisah-kisah seperti ini yang menjadi acuan bacaan anak yang bermutu, sebagaimana dinyatakan oleh panitia sayembara tersebut, sepertinya saya memilih untuk tidak ambil pusing, apalagi sampai memaksakan indikator yang sama kepada anak-anak saya. Biarlah mereka menikmati membaca buku-buku yang mereka sukai dan menentukan sendiri buku yang mereka anggap bermutu. Mungkin saja, akan ada masa untuk mereka membaca dan menyukai kisah2 serupa Oliver.

Yang jelas, saya setia menanti karya-karya penulis lokal yang juga menyuarakan kritik sosial tanpa harus bertele- tele dan mampu meninggalkan kesan yang bertahan lama. Oliver Twist adalah contoh yang baik untuk itu.  214 halaman, tidak kurang tidak lebih, namun mampu menghadirkan kepedihan yang nyata, senyata sosok Oliver Twist yang sampai hari ini masih “hidup” dalam benak saya. Sesuatu yang hanya sedikit penulis, mampu melakukannya.

3.5 / 5 untuk kisah klasik yang mendunia, Oliver Twist.

-------------------------------

Judul : Oliver Twist
Penulis : Charles Dickens
Terbit : 2015
Penerbit : Narasi
Tebal : 204 hal

16 comments

  1. Aku bayanginnya udah sedih mba. Jadi inget novel rembulan tenggelam di wajahmu nya tere liye. Tentang anak2 di panti juga

    ReplyDelete
  2. aku pernah nonton film nya dan sepanjang nonton itu kaya mimpi buruk banget mba, sampe sekarang aku masih merasakan rasa ngga enak kalau ingat latar di film tersebut. miris banget.

    ReplyDelete
  3. Penasaran aku sama cerita fullnya, huhuuuu ..
    Baru tau dikit aja udah ngerasain gimana gitu :(

    ReplyDelete
  4. Waahh aku juga ngikutin komentar juri pas lomba buku cerita anak2 itu Mba :))) Timeline jadi rameee. Btw, ini novelnya layak baca banget! Kalo aku traveling naik KA, perlu banget baca novel kayak gini supaya kagak mati gaya

    ReplyDelete
  5. Novel ini cukup populer, aku prnah baca beberapa tahun silam, dan sepakat memang jenius. Kepandaiannya melukiskan situasi memang luar biasa, pembaca dibuat haanyutke dalam ksah itu.

    ReplyDelete
  6. Walau tokohnya anak-anak dan ini novel terkenal ternyata harus ada pertimbangan ya apakah anak-anak cocok membaca novel ini. Khawatirnya terlalu 'suram' karena jujur aja saya juga suka kebayang-bayang kalau habis baca cerita yang nuansanya begini. Bukan nggak bagus, tapi terasa gimana gitu di hati

    ReplyDelete
  7. Ingin baca buku ini, karena saya penganggum cerita dengan nuansa humanisme dan kritik sosial

    ReplyDelete
  8. Aku gak terlalu suka cerita yang suram gitu, tapi sesekali gpp ya baca supaya ada referensi lain. PErnah denger sih kisah tentang Oliver Twist ini tapi belum pernah baca bukunyua

    ReplyDelete
  9. kok baca review sekilas dari mbak aja aku uda sedih membayangkannya. Jadi penasaran mau baca langsung novelnya :)

    ReplyDelete
  10. Kalau baca reviewnya aku mikir ini cerita tentang anak tapi untuk dewasa, kaya novel Sheila. Jadi sebagai orang dewasa kudu lebih waras dan sayang sama anak-anak

    ReplyDelete
  11. Mungkin karena ditulis oleh penulis luar dan memang anak anak diluar sana usia kematangan anak sudah lebih maju ya.. jadi bukunya untuk bisa dibaca anak anak dengan harapan mereka tidak mengalami seperti apa yang diceritakan dalam buku tersebut.. dan semoga penulis lokal nanti bermunculan untuk menulis tentang kritik sosial seperti ini ya mbak

    ReplyDelete
  12. Penasaran pengen baca tapi aku belum bisa konsisten betah baca buku lama2 mbakk..

    Penasaran baca fullnyaa.. Apa karena penulis org kuar jadi gak cocok sama anak sini ya mbak isi bukunyaa..

    ReplyDelete
  13. Udah lama sekali gak baca buku Charles Dickens :D
    Oliver Twist ini kyknya pernah difilmkan ya? Sepetinya pernah dengar judulnya soalnya
    Jadi ini aslinya ditujukan buat anak ya, tapi kyknya emang sedikit berat hehe. Mungkin buat anak SMP gtu kali ya yang cocok bacanya :D

    ReplyDelete
  14. Ya ampuun ini karya yang lahir dari tahun 1800an? Yang bahkan masa itu masih di zaman kekhalifahan Turki Usmani. Saya penasaran kehidupan di Inggris seperti apa di zaman itu. Apakah kehidupan anak-anaknya sesuram nasib Oliver Twist?

    ReplyDelete
  15. Terimakasih ya mba buat resensinya, Saya udah lama banget ga baca cerita seperti ini

    ReplyDelete
  16. udah lama banget nggak baca karyanya beliau deh, dan pengen lagi. tapi kalau resensinya agak sedih gini, aku nunggu moodku bagus dulu, soalnya suka kebawa badmood aku tuh kalau baca cerita sedih heheh

    ReplyDelete