Riawani Elyta: Eco Heritage, Konsep Pelestarian Cagar Budaya Indonesia Candi Muara Jambi

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Wednesday, 20 November 2019

Eco Heritage, Konsep Pelestarian Cagar Budaya Indonesia Candi Muara Jambi

Terik matahari terasa membakar wajah. Waktu setempat menunjukkan pukul sepuluh pagi saat kami tiba di kompleks percandian. Perjalanan lancar, kondisi jalan pun cukup baik, hanya saat mendekati lokasi, jalanan mulai sedikit menyempit.
 
sumber : dok. pribadi

Candi Muara Jambi. Jujur, meski berayah seorang asli Jambi, inilah kali pertama saya datang kemari, seiring mudik Lebaran beberapa bulan lalu. Di sisi tempat parkir, tepatnya di samping jalan menuju ke kompleks candi, berderet kios-kios yang menjual beraneka topi dan souvenir untuk oleh-oleh. 

Saya dan kakak saya singgah sebentar membeli topi. Sebelum memasuki lokasi, saya terlebih dahulu menyewa sepeda untuk anak – anak saya. Sewanya Rp.10 ribu per orang. Sementara untuk kami yang dewasa (saya, suami, kakak dan tante), kami menyewa becak motor (bentor) dengan harga yang sama. Satu becak ditumpangi dua orang. Dan untuk tiket masuk, harganya Rp.5 ribu/orang. 

Sesampai di dalam, lahan luas dengan bangunan-bangunan candi yang tersebar langsung tertangkap oleh mata. Dikelilingi hutan karet dan pohon-pohon besar. Pantas saja ada penyewaan sepeda dan bentor. Karena jika berjalan kaki, sudah pasti gempor. (kendaraan tidak diperbolehkan masuk lokasi). 
anak-anak saya bersepeda mengelilingi lokasi (sumber : dok. pribadi)
sumber : dok. pribadi
 
istirahat sejenak dibawah pohon besar (sumber : dok. pribadi)
Bayangkan saja. Kompleks Candi Muara Jambi ini, luas keseluruhannya mencapai 3.981 hektar, delapan kali lebih luas dari kompleks Candi Borobudur (sebagian sumber menyebut 12 kali lebih luas), bahkan merupakan kompleks  percandian terbesar di Indonesia! Lokasinya tersebar di dua kecamatan dan delapan desa. Area yang terdapat di Kecamatan Marosebo meliputi Desa Danaulamo, Muarojambi, dan Desa Baru sedangkan area yang terletak di Kecamatan Tamanrajo meliputi Desa Tebatpatah, Kemingkingdalam, Dusunmudo, Telukjambu, dan Desa Kemingkingluar. Kami pun meminta bentor berhenti di depan Candi yang terletak di tengah-tengah lokasi.
 
sumber : dok. pribadi

Sejarah Candi Muara Jambi
Dalam catatan sejarahnya, Candi Muara Jambi ini diperkirakan dibangun pada abad 9 hingga 12 Masehi. Dan ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia melalui SK Menteri No. 259/M/2013 dan SK Menteri No.045/M/2000.
 
Berdasarkan UU No.11 tahun 2010,  Cagar Budaya adalah "warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan." Maka, dari definisi ini, hanya warisan kebendaan yang memiliki nilai-nilai penting, yang dapat diakui sebagai Cagar Budaya setelah melewati proses penetapan.

Lantas, se”penting” apakah nilai cagar budaya yang satu ini?
Candi Muara Jambi memang tidak sepopuler Candi Borobudur dan Prambanan. Namun, fakta sejarah dan tinjauan terhadap eksistensinya menunjukkan, bahwa candi ini memiliki 4 (empat)  nilai penting yang membuatnya layak ditetapkan sebagai Cagar Budaya : 


Pertama, nilai sejarah : Kompleks Candi Muara Jambi, merupakan situs purbakala peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu Kuno. Pada saat itu, pengaruh Kerajaan Melayu dan Sriwijaya tidak hanya meliputi Nusantara tetapi juga mencapai daratan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand.

Kedua, nilai pendidikan : candi Muara Jambi merupakan tempat pengajaran agama Budha terluas di Asia Tenggara (diperkirakan sekitar seribu tahun lalu). Ini diperkuat catatan I-Tsing, seorang biksu Buddha Tionghoa ketika beliau tinggal di Fo-Shih (Sriwijaya) yang mengatakan bahwa  Di kawasan berpagar tembok di Fo-Shih, tinggal ribuan bhikshu yang tekun belajar dan beribadah.

Ketiga, nilai agama dan / atau kebudayaan : candi Muara Jambi, atau masyarakat setempat menyebutnya Muaro Jambi,  pernah menjadi pusat peribadatan agama Budha terluas di Nusantara, yaitu pada sekitar abad ke tujuh hingga tiga belas. Dan berdasarkan simpulan para arkeolog, candi Muara Jambi dulunya merupakan tempat pertemuan berbagai budaya. Ini terlihat dari ditemukannya manik-manik yang berasal dari Persia, China dan India.

Keempat, nilai ilmu pengetahuan : candi Muara Jambi dapat menjadi objek penelitian yang berharga karena memiliki aspek-aspek berikut :

1.         Memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan kawasan atau situ lainnya.
Ciri-ciri ini tercermin dari tinggalan budaya materinya serta lingkungan alam Kawasan Muara Jambi, yang berbeda dengan situs purbakala dan percandian lainnya di negeri ini.

2.         Memiliki aspek arsitektur, kronologi, dan fungsi.
Dari sisi arsitektur, berdasarkan tinggalan candi yang sudah dilakukan pengupasan dan pemugaran, terdapat berbagai macam bentuk, ukuran, ragam hias dan gaya bangunan candi. Selain itu, masing-masing kompleks juga memiliki bentuk, ukuran, dan penataan bangunan yang berbeda-beda.

Dalam kaitannya dengan kronologi, Kawasan Muara Jambi terdapat di kawasan yang sangat luas dan memiliki karakteristik yang khas. Sebagian dari bangunan-bangunan bata tersebut mengelompok di suatu tempat yang dikelilingi tembok pagar keliling, misalnya Candi Teluk, KembarbatuGedongGumpung, Tinggi, Kotomahligai, dan Kedaton. Sebagian lagi merupakan suatu bangunan tersendiri yang letaknya terpisah-pisah, misalnya Candi Astano, Manapo Melayu, dan beberapa manapo (bukit kecil) lainnya.
 
sumber : jurnal v-tech
Di Candi Gumpung pernah ditemukan arca tanpa kepala dan kedua lengan. Dari jenis kelamin dan sikap tangannya (mudra), arca ini diduga sebagai arca Prajnaparamita (Dewi Pengetahuan dalam sistem pantheon Buddha). Arca ini mirip dengan arca serupa yang ditemukan di Jawa yang bergaya Singhasari berasal dari sekitar abad ke-13 Masehi. Di candi ini juga pernah ditemukan kertas emas.
sumber : dok. pribadi Lukman Tanjung

Berdasarkan bentuk aksara pada kertas emas diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-9–10 Masehi. Sementara itu, di sekitar kawasan percandian ini banyak pula ditemukan pecahan keramik Cina yang berasal dari masa Dinasti Song-Yuan (abad ke-11–14 Masehi), dan Dinasti T’ang (abad ke-8–9 Masehi).

Sementara itu, dalam kaitannya dengan fungsi, terdapat beberapa indikator menarik. Sebagai contoh, pada waktu dilakukan pembongkaran bagian dasar bangunan Candi Gumpung, di bagian tengahnya ditemukan 13 lubang yang berdenah bujursangkar berisi barang-barang berupa kertas emas. batu mulia, kertas emas bertulisan dengan aksara Jawa Kuna, dan cepuk emas. Konstelasi lubang-lubang ini menuruti delapan penjuru mata angin. Pertulisan pada kertas emas tersebut menyebutkan mantra-mantra agama Buddha sesuai dengan penempatan pada arah mata-angin.

Penelitian tentang keberadaan candi ini dimulai sejak tahun 1820. Kala itu, nama Muarajambi muncul dalam laporan seorang perwira angkatan laut Kerajaan Inggris bernama S.C. Crooke. Crooke melaporkan bahwa ia melihat reruntuhan bangunan dan menemukan satu arca yang menggambarkan arca Budha. Keterangan Crooke dilengkapi pula oleh T. Adam yang datang ke Jambi pada tahun 1921. Tiga belas tahun kemudian, F.M.Schnitger mengunjungi Jambi. Ia menambahkan beberapa informasi tentang nama-nama candi baru, yaitu Gumpung, Tinggi, Gunung Perak, Gudang Garem, Gedong I, dan Gedong II. 

Schnitger sempat melakukan ekskavasi pada bagian dalam sejumlah candi (Mundardjito, 1995, 1996; SPSP Jambi, 1999, 2000). Schnitger juga merupakan peneliti pertama yang menghubungkan Kawasan Muarajambi dengan kerajaan Melayu (Mo-lo-yeu) yang disebut dalam naskah Cina abad ke-7. Ia menggunakan sungai kecil bernama Melayu di sebelah barat Desa Muarajambi sebagai dasar pemikirannya. Selain itu, informasi tentang daerah Jambi juga ditemukan pada Naskah Berita Dinasti Tang (618-906 M) yang menyebutkan kedatangan utusan Kerajaan Mo-lo-yeu ke Cina pada 644 M dan 645 M.

Apa saja yang terdapat di dalam kompleks Candi Muaro Jambi?
Selaras dengan keluasan areanya, letak antar candi terpaut jarak cukup jauh. Tersebar hingga ke pemukiman dan kawasan pabrik. Diperkirakan, didalam kompleks ini terdapat 82 reruntuhan bangunan kuno (menapo), 11 diantaranya sudah mengalami ekskavasi dan pemugaran, yaitu Candi Kembar Batu, Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Astano, Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Telagorajo. Selain itu, terdapat pula kanal-kanal kuno penanggulangan banjir musiman, yang juga digunakan sebagai batas antara kawasan hunian dengan lingkungan sekitarnya. Ada pula tinggalan lain berupa gundukan tanah berisi bata kuno dan parit-parit melingkar sebagai bekas lokasi pembangunan.
 
sumber : dok. pribadi Lukman Tanjung
sumber : dok. pribadi Lukman Tanjung
sumber : dok. pribadi Lukman Tanjung
Lokasi candi yang berada di tepian Sungai Batang Hari ini juga ditandai oleh adanya rawa dan tanggul alam purba. Temuan-temuan purbakala yang berada di atas tanggul alam purba, baik di sisi selatan maupun sisi utara dari Sungai Batanghari, menandakan bahwa pada masa lalu, pemukiman kuno yang telah berlangsung sejak abad kedelapan ini sudah menempati kedua sisi tanggul alam. Ini dibuktikan dengan ditemukannya sisa-sisa kegiatan manusia kuno di kedua sisi sungai, misalnya benda-benda keramik, arca batu, peralatan kehidupan sehari-hari, dan perhiasan yang berasal dari masa berbeda. Di lokasi ini juga ditemukan sisa – sisa industri manik – manik, tembikar dan sisa rumah tinggal.

Rawat atau Musnah
Keberadaan candi yang telah masuk daftar tentatif UNESCO sebagai Warisan Dunia sejak tahun 2009 ini, tak dapat dipungkiri, usianya telah mencapai ratusan tahun, memiliki sifat rapuh, tidak dapat diperbaharui dan terbatas. Oleh karenanya, perawatan mutlak dilakukan demi menjaga eksistensinya dari terancam musnah. 

Grafis berikut ini menunjukkan data cagar budaya yang tidak terawat dan terancam punah, dari 200 kabupaten/kota di Indonesia, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Tentu, kita tidak ingin Candi Muara Jambi menambah panjang list cagar budaya yang tidak terawat atau bahkan punah. Salah satu upaya revitalisasi Candi Muara Jambi, adalah dengan pemugaran yang telah dilakukan sejak satu dekade terakhir. Pemugaran ini, diakui dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena jika tidak, dapat merusak nilai sejarah dari bangunan – bangunan yang ada dan arkeologi, seperti hancurnya batu yang memiliki gambar relief sehingga bisa menghilangkan makna.
pemugaran candi (sumber : beritagar.id)
 
bata yang berukir relief (sumber : dok. pribadi Lukman Tanjung)
Hingga hari ini pemugaran masih terus dilakukan. Selain untuk tujuan pelestarian, pemugaran ini juga dilakukan agar Candi Muara Jambi bisa masuk sebagai salah satu warisan dunia. Seperti diketahui, ada enam syarat suatu budaya atau alam dapat menjadi warisan dunia yaitu :
-          menunjukkan masterpiece mahakarya kejeniusan manusia,
-      menampilkan sebuah pertukaran penting, nilai – nilai kemanusiaan dalam jangka waktu yang cukup lama,
-          kebudayaan yang unik,
-          contoh luar biasa dalam arsitektur,
-          contoh luar biasa dari pemukiman tradisional masa lalu dan
-          secara langsung, berhubungan langsung dengan tradisi yang masih hidup hingga saat ini.

Dari keenam syarat ini, candi Muara Jambi memenuhi nomor dua hingga empat. Selain nilai-nilai penting yang dimiliki oleh Candi Muaro Jambi sebagaimana telah diuraikan diatas, candi ini turut memberi dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi, dan berkontribusi terhadap sektor pariwisata provinsi Jambi sebagai salah satu destinasi wisata sejarah. Sebagai peninggalan agama Budha, hingga hari ini, di kompleks percandian ini telah beberapa kali diadakan upacara keagamaan Budha pada saat hari besar misalnya Waisak. 
 
sumber : dok. pribadi

Dari pengamatan saya selama berkunjung ke candi, masih terdapat beberapa permasalahan yang perlu dibenahi dalam menjaga kelestarian kawasan Cagar Budaya ini, antara lain :
1.      Masih kurangnya kesadaran masyarakat tentang nilai pentingnya keberadaan kawasan percandian ini.
2.      Masih minimnya pemandu yang bisa menjelaskan dengan detil nilai historis dari Cagar Budaya ini.
3.      Minimnya informasi terkait nilai-nilai penting cagar budaya ini di kawasan percandian.
4.      Sebagian area percandian dimanfaatkan sebagai daerah hunian, kebun rakyat, perkebunan kelapa sawit, pembudidayaan ikan, dan tempat penimbunan batu bara (stockpile).
5.      Sarana prasarana penunjang yang belum terlalu baik
Seperti ketersediaan kamar mandi dengan air yang baik, tempat ibadah dan tempat peristirahatan serta rumah makan yang baik.
6.      Akses menuju lokasi yang belum terlalu memadai
Terdapat dua pilihan akses jalan menuju lokasi. Melalui perjalanan darat dan air. Sayangnya melalui perjalanan air, dibutuhkan biaya yang cukup besar. Dan dengan biaya yang cukup besar ini, pengunjung masih menemui dermaga yang terkesan seadanya dan cenderung kurang terawat.
7.      Terdapat komersialisasi area lahan di sekitar percandian yang bisa mengancam keberadaan kompleks percandian.

Untuk mengatasi permasalahan diatas, tentu membutuhkan peranan pemerintah. Namun, masyarakat juga sesungguhnya dapat ikut berpartisipasi. Karena masyarakatlah sesungguhnya “pewaris” cagar budaya dan yang paling merasakan dampak positif dari eksistensi cagar budaya.

Sebelum kita menggali lebih jauh tentang peran serta masyarakat, mari kita lihat terlebih dahulu program dan kegiatan dalam rangka pelestarian cagar budaya yang telah dilakukan pemerintah Provinsi Jambi dalam 10 tahun terakhir :
a.       Program pelestarian sejarah dan purbakala
b.      Program konservasi dan perlindungan percandian Muaro Jambi
c.       Program revitalisasi dan pemugaran candi, menapo dan struktur bangunan lainnya
d.      Kegiatan kepemanduan wisata (melibatkan pemuda dan masyarakat setempat)
e.       Pemagaran candi
f.        Museum sebagai upaya penyelamatan benda cagar budaya
g.       Perawatan berkala
h.      Menempatkan juru pelihara

Program dan kegiatan tersebut, dilakukan pemerintah sebagai implementasi  upaya perlindungan sesuai UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, yaitu upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran atau kemusnahan dengan cara penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan dan pemugaran cagar budaya. Meskipun belum sepenuhnya menuntaskan permasalahan, keseriusan pemerintah dalam hal ini tentu layak diapresiasi.

Eco Heritage, Pelestarian Cagar Alam berbasis lingkungan

Mungkin, dibandingkan eco heritage, anda lebih familier dengan istilah eco-tourism, eco-living, dan seterusnya. Jujur saja, konsep ini baru terbetik di benak saya saat mem-flashback 2 (dua) fakta tentang candi Muaro Jambi berikut ini :

-          Suasana kompleks percandian dengan bentangan rerumputan, terdapat kanal dan dikelilingi pohon-pohon besar. Sungguh, ini karunia Tuhan yang luarbiasa, ketika sebuah cagar budaya terletak di kawasan yang asri. Dan sungguh (lagi), alangkah sayangnya, jika anugerah ini tidak dipelihara dengan baik.
sumber : dok. pribadi
-          Di sisi lain, terdapat kondisi yang cukup kontradiktif. Meskipun dikelilingi pepohonan, cuaca di lokasi percandian terasa sangat panas dan kering. Mungkin, ini disebabkan luas tutupan hutan di Jambi yang semakin merosot. Bahkan, dari data tahun 2018, luas tutupan hutan tinggal 18% dari total luas provinsi Jambi, dan ini sudah berada di bawah syarat minimum keseimbangan ekosistem.

Untuk konsep eco heritage tersebut, saya merujuk pada 2 (dua) definisi :
Pertama, dari konsep eco museum yang dikemukakan Ohara (1998), saya mencoba mengonversikannya dengan cagar budaya sebagai objeknya sehingga menghasilkan definisi sebagai berikut :
-          Pelestarian warisan budaya
-          Partisipasi masyarakat dalam pelestarian demi masa depan
-          Aktivitas dasar di cagar budaya

Kedua, definisi eco heritage menurut National Geographic, yaitu upaya untuk mendukung dan meningkatkan karakteristik total dari suatu (tempat), meliputi unsur lingkungan, budaya, warisan budaya, estetika, dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Jadi, berdasarkan kedua definisi tersebut, eco heritage memiliki makna luas, yang didalamnya terdapat upaya pelestarian warisan budaya dan partisipasi masyarakat. Maka, untuk merealisasikan konsep eco heritage, inilah bentuk partisipasi yang dapat dilakukan masyarakat, tidak hanya masyarakat di sekitar kawasan candi Muara Jambi, tetapi juga masyarakat secara luas terhadap cagar budaya yang ada di negeri ini, sebagai berikut :

a.         Menjaga dan merawat cagar budaya beserta fasilitas pendukungnya
Ini kita lakukan dengan mematuhi aturan yang berlaku di lokasi cagar budaya, jangan merusak, mencoret-coret, mengambil aset cagar budaya, dan sebagainya. Termasuk juga memelihara semua fasilitas yang ada seperti toilet, musola, tempat makan, hingga pepohonan dan tumbuhan

b.        Menjaga kebersihan lingkungan
Dengan membuang sampah pada tempatnya, tidak meludah sembarangan, tidak mengotori bangunan dan lokasi 

c.         Meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang cagar budaya
Tak kenal maka tak sayang. Seringkali, ketidakpedulian hadir karena ketidaktahuan. Maka, untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap pelestarian cagar budaya, kita perlu meningkatkan pengetahuan dan wawasan terhadap cagar budaya, terutama tentang nilai historisnya dan sumbangsihnya terhadap peradaban, serta manfaat pelestarian lingkungan cagar budaya

d.        Ikut serta dalam upaya mempromosikan cagar budaya dan pelestarian cagar budaya
Pengetahuan dan wawasan akan menumbuhkan rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap cagar budaya, serta kesadaran akan nilai-nilai pentingnya. Maka, sudah sepantasnya kita ikut mempromosikan cagar budaya termasuk upaya-upaya pelestariannya. Keberadaan teknologi informasi yang berkembang pesat, melalui blog dan socmed misalnya, bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan Cagar Budaya serta nilai pentingnya bagi peradaban bangsa ini kepada masyarakat luas 

e.         Menciptakan lingkungan hijau di lokasi cagar budaya
Tidak harus menunggu program pemerintah, kita pun dapat menciptakan lingkungan hijau di lokasi cagar budaya, baik secara individu maupun bersama komunitas, misalnya dengan penanaman pohon.  Hal ini pernah dilakukan oleh IKA SKMA Jambi sempena Hari Bakti Rimbawan pada 16 Maret lalu, dengan menanam 500 bibit pohon buah di sekitar kompleks Candi Muaro Jambi, bekerjasama dengan pemuda peduli lingkungan.
 
IKA SKMA menanam bibit pohon buah di lokasi candi (sumber : jambi.tribunnews.com)
Kepada pemerintah, saya juga ingin memberikan beberapa usul dan saran terkait implementasi konsep eco heritage di kawasan cagar budaya, sebagai berikut :
-      Mempertegas aturan untuk masyarakat dan pengunjung terkait penjagaan aset dan kebersihan di lokasi cagar budaya
-   Menyediakan tempat pembuangan sampah di banyak titik lokasi, dengan memisahkan tempat sampah organik dan non organik
-       Mengembangkan kawasan hijau sekurang-kurangnya 30% dari keseluruhan total area cagar budaya
-         Meningkatkan jumlah juru pelihara dan frekuensi pemeliharaan
-     Untuk area Candi Muara Jambi, saya berharap pemerintah tetap mempertahankan aturan tentang pelarangan kendaraan bermotor dan tetap menyediakan fasilitas sepeda di area cagar budaya untuk mengurangi polusi
-      Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendukung (jalan menuju lokasi, ketersediaan air bersih, sarana ibadah, dan lain-lain)
-      Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat dan peran serta masyarakat dalam pelestarian cagar budaya
-          Meningkatkan edukasi cagar budaya kepada siswa di sekolah

Dengan penerapan konsep eco heritage ini, tidak hanya dapat memperkuat upaya pelestarian cagar budaya, tetapi juga sangat berkontribusi terhadap pemeliharaan lingkungan yang berkelanjutan.  Kedepannya nanti, sinergitas ini semoga dapat memberi multiplier effect terhadap peningkatan kualitas lingkungan termasuk kualitas kesehatan masyarakat, pengembangan pariwisata, pertumbuhan ekonomi lokal, kesadaran untuk menjaga warisan budaya dan antisipasi terhadap dampak negatif akibat kurangnya pengelolaan cagar budaya. 

Tentu, kepedulian, peran serta dan kerjasama semua pihak menjadi kunci utama. Rawat atau Musnah bukan hanya slogan. Tetapi menjadi tanggung jawab moral kita semua terhadap eksistensi peradaban bangsa ini sebagai bangsa yang besar dengan menghargai sejarah, budaya dan lingkungan sekitar kita.

Kalian punya ide tentang pelestarian cagar budaya oleh masyarakat? Yuk tuangkan ide kalian dalam kompetisi "Blog Cagar Budaya Indonesia, Rawat atau Musnah!", dan jadilah bagian dari upaya bersama untuk melestarikan cagar budaya Indonesia.


Sumber referensi :
academia.edu
https://nasional.kompas.com/
https://beritagar.id/
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/
https://www.antaranews.com/
https://utiket.com/
https://jambi.tribunnews.com/














25 comments:

  1. Yup kakak, candinya memang luas banget dengan nilai historis yang luar biasa.

    ReplyDelete
  2. Setiap kita memang kudu concern dgn cagar budaya.
    Harus melestarikan, supaya ngga mudah dirusak atau dilupakan begitu aja
    Banyak kearifan lokal dari cagar budaya ini ya Mak

    ReplyDelete
  3. Wohoooo, keren nih, jujur saya hingga saat ini lebih ngeh saja sama cagar budaya yang ada di pulau Jawa, itupun nggak semuanya.
    Dengan adanya program ini, cagar budaya se Indonesia jadi terpampang semua dan jadi banyak literasi mengenai cagar budaya yang mungkin sebelumnya hanya sedikit di kenal orang.

    Keren deh programnya.
    Dan keren juga tulisannya, jadi tahu banyak tentang cagar budaya di sana :)

    ReplyDelete
  4. Banyak cagar budaya di daerah2 di Indonesia yang belum kukenal. Sekarang tambah 1 pengetahuan lagi nih, cagar budaya Muara Jambi. Luas sekali ya, hampir 4 hektar, wow! Bisa gempor memang kalau jalan kaki haha.

    ReplyDelete
  5. Waw, 8x lebih luas dari Candi Borobudur??
    Ujame pribadi baru tau nih Candi ini.
    Harusnya gak cuma wisata kekinian yang banyak di explore,
    which is harusnya Cagar Budaya seperti ini banyak promosinya soalnya kaya sejarah.
    Duh, semoga lestari...

    ReplyDelete
  6. Aku jadi penasaran dengan cagar budaya yang ada di dekat rumah nih, jangan-jangan aada tapi akunya gak tau. Padahal dengan mengeal cagar budaya bisa belajar sejarah ya

    ReplyDelete
  7. Seneng deh saya baca berbagai artikel tentang cagar budaya ini. Ternyata banyak banget di Indonesia. Semoga semuanya bisa dilestarika

    ReplyDelete
  8. wow gede banget 12x candi Borobudur, keren nih ada lomba blog cagar budaya aku jadi tahu tentang cagar budaya di daerah lain semoga upaya terus melestarikan menjadi tanggung jawab semua pihak ya mba

    ReplyDelete
  9. Cagar budaya harus dilestarikan mbk. Karena mempunyai nilai bagi daerah maupun Indonesia. Memiliki nilai sejarah yang tinggi.

    ReplyDelete
  10. Mbak komersialisasi di sekitar candi yang dimaksud menjadi ancaman itu yang bagaimana?

    Usia candi Muara Jambi ini sudah tua sekali, ya ... jadi dari tulisan di atas, bisa jadi berdiri sejak tahun 700-an atau malah 400-an, ya? Masya Allah ... luar biasa.

    Nah, satu yang saya garusbawahi itu ... bahwa kurangnya pemandu yang bisa menjelaskan tentang sejarah dengan detail ... eh kurang atau tak ada? Padahal kan sebaiknya anak-anak kita dan warga sekitar belajarnya tentang sejarah lokal lalu dari situ bisa digali berbagai hal. Sama juga di sini, yang bisa jelaskan dengan detail, kalau pemandu wisata susah dicari, nah kalau ahli sejarah lokal, ada. Sayangnya belum belajar sejarah lokal kita.

    ReplyDelete
  11. Wah luaaaaas ya komplek Candi Muara Jambi ini. Semoga tetap terawat dan tidak musnah ya...

    ReplyDelete
  12. Yg terkenal candi borobudur, termasuk yg aku tahu selama ini yg wow, padahal di luar sana ternyata ada yg lebihh dr candi borobudur y mb
    Gak bermaksud membandingkan, tp ini jd semacam pengingat kadang yg belum terekspos bisa jadi jauh lebih wow
    Takjub bgt sm luasny padahal ngiterin borobudur aj dah gempor wkkk

    ReplyDelete
  13. Sayang sekali kalau ada Cagar Budaya yang kurang terawat ya. Semoga ke depannya masyarakat bisa semakin peduli dan mau menjaga, merawat dan melestarikan cagar budaya di daerahnya

    ReplyDelete
  14. Ternyata cagar budaya berupa Candi ini ada banyak ya bukan di daerah Jawa saja tapi di Janbi juga ada. Well saya baru tahu ada Candi Muara Jambi. Dan memang sudah menjadi tugas kita untuk ikut berperan dalam menjaga kelestarian cagar budaya agar tidak musnah.

    ReplyDelete
  15. Eco heritage emang harus banyak nih digalakkan ya mbak, jd satu konsep.sama perawatannya, ya dr pengelola maupun masyarakat, apalagi kl didukung sama Pemerintah. Semoga��

    ReplyDelete
  16. Benar banget mba. Kita ikut bertanggung jawab untuk menjaga cagar budaya kita dalam bentuk apapun. Konsep ini luar biasa sekali jika diterapkan di banyak cagar budaya

    ReplyDelete
  17. Masih sama ya permasalahan di semua situs bersejarah yang tidak terkenal. Kesadaran masyarakata yang masih rendah, dan optimasi dari pihak berwenang yang masih minim. Padahal kalo dikembangkan, pasti bisa jadi bagus dan keren. Semoga ke depannya bisa mendapat perhatian lebih. Supaya tidak punah :(

    ReplyDelete
  18. Semoga candi Muara Jambi bisa selalu terjaga dan terpeliharaaa ya mba.. aku pengeen keliling Indoneaia dan mampir di banyak tempat cagar budaya

    ReplyDelete
  19. Mba, selama ini aku lihat Candi Muara Jambi hanya via kartu pos yang dikirimkan oleh sahabat kartu posku. Senang membaca ulasannya di sini dan konsep eco heritage yang mendukung pelestarian cagar budaya untuk candi ini.

    ReplyDelete
  20. Aku baru tau mengenai candi ini, patut dilestarikan banget ya biar anak cucu kita tahu adanya eco heritage di kawasan Jambi.

    ReplyDelete
  21. Wah saya baru dengar soal candi ini dan amaze ternyata lebih luas dari Borobudur ya mbak. Permasalahan cagar budaya kyk cani di negeri ini kyk gtu yaaa. Berharap masyarakat makin menjaga cagar alam trus juga disediakan pemandu yang kredible buat menjelaskan sejarah cagar budaya yang ada, jd pengunjung juga bisa paham dan lbh menghargai sejarah.

    ReplyDelete
  22. Seneng baca reviewnya, lengkap. Jujur pengetahuanku ttg candi di luar jawa terbatas banget mbak

    ReplyDelete
  23. Oh...maksud dari eco-heritage itu membuat hijau lahan yang menjadi cagar budaya yaa..
    Keren..keren.
    Mungkin bisa dinikmati nanti oleh anak-cucu kita. Semoga cagar budaya di Indonesia tetap terawat dengan baik shingga menjadi cerita yang tak lekang oleh waktu.

    ReplyDelete
  24. Aku baru tahu lho kalau di Jambi ada candi.... Senang mengetahui berbagai macam informasi mengenai cagar budaya Indonesia

    ReplyDelete
  25. konsep ecoheritage ini bagus banget mbak, ulasan tentang masalah dan solusi cagar budayanya lengkap juga mbak. keren ^^

    ReplyDelete