Support Me on SociaBuzz

Support Me on SociaBuzz
Dukung Blog Ini

Salah Memperkirakan Tanggal, Takbir Ramadhan Berkumandang di Bandara


Tradisi mudik merupakan salah satu tradisi turun – temurun di negara kita saat menjelang lebaran. Momen berkumpul bersama handai taulan menjadi hal yang sangat dinantikan setelah berbulan bahkan bertahun lamanya merantau ke kota atau negara lain demi pekerjaan atau menempuh pendidikan. 

Biasanya, para pemudik jauh – jauh hari telah memesan tiket agar perjalanan tidak terkendala tiket yang habis atau permasalahan lainnya. Patokan Ramadhan pertama atau dua bulan sebelum lebaran tiba biasanya dipakai untuk menentukan tanggal mudik.

Tak terkecuali dengan kami. Beberapa tahun yang lalu, ketika kami masih bekerja di kota Cilegon, sementara orangtua berada di kota Jambi, tradisi mudik adalah kewajiban tahunan yang tak boleh dilewatkan. Biasanya kami akan memesan tiket mudik di hari pertama Ramadhan dengan mematok hari lebaran berdasarkan kalender. Menjelang mudik lebaran, sejumlah persiapan pun dilakukan termasuk belanja oleh – oleh untuk sanak saudara.

Kami merencanakan perjalanan mudik tepat dua hari menjelang Ramadhan berakhir di tahun tersebut karena suami masih harus bekerja hingga hari tersebut. Hari mudik pun tiba. Karena pesawat terbang yang kami pesan direncanakan akan berangkat pagi hari, maka kami merencanakan akan pergi ke bandara pada sore hari, satu hari sebelum keberangkatan. Apalagi, sepengetahuan kami, tidak ada bus yang berangkat tengah malam dari Cilegon ke Jakarta. 

Ternyata suami pulang lebih awal di hari tersebut. Dengan alasan menghindari macet, jadilah kami berangkat lebih awal, yakni pukul dua siang. Ternyata perkiraan kami meleset. Jalanan lumayan lancar dan pukul 4 sore kami sudah tiba di bandara. Seandainya kami memesan tiket hari itu, kami bahkan bisa pulang sore itu juga. Tetapi berhubung jadwal tiketnya untuk penerbangan esok harinya, jadilah kami menginap di bandara Soekarno Hatta malam tersebut.

Menginap di bandara, terminal dan stasiun memang biasa dilakukan oleh para pemudik yang tak mau mengambil risiko ketinggalan keberangkatan. Menunggu keberangkatan pesawat, mendorong troli kesana – kesini, menyaksikan orang lalu lalang dan kesibukan di bandara, tidur di kursi tunggu bandara sambil terjaga setiap jamnya adalah aktifitas yang dilakukan untuk membunuh waktu.


Qadarullah, perkiraan kami kembali meleset, lebaran ternyata datang lebih cepat karena hilal bulan Syawal sudah telah terlihat jelas. Alhasil, kami pun berangkat di hari pertama lebaran, diiringi senandung takbir yang bersenandung di seantero bandara Soekarno Hatta.  
Jadi, bagi teman-teman yang berencana ingin mudik, jika memungkinkan, sebaiknya memesan tiket untuk jadwal keberangkatan beberapa hari sebelum Lebaran, untuk mengantisipasi kedatangan Lebaran yang lebih cepat dari perkiraan.
(disarikan dari kisah nyata adik saya Risa Mutia).

No comments