Riawani Elyta: Tips Manajemen Waktu (ala Riawani Elyta)

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Tuesday, 5 March 2019

Tips Manajemen Waktu (ala Riawani Elyta)


[LIFESTYLE] Jadi, kemaren itu saya bikin status FB yang bunyinya begini :

"Saya selalu salut dengan ibu2 yang punya manajemen waktu yang baik, yang organised, yang scheduled.....coz I'm not 😄


Jadiii....maafkeun untuk janji yang belum terpenuhi, atas entah berapa kali pertanyaan tentang bagaimana saya memenej waktu yang sedianya mau saya bagikan di blog.
Nyatanya saya juga bingung mau nulis apa 😄 karena saya memang tidak pernah memenej waktu dengan baik. Jadi....pas weekend misalnya, pada jam yang sama aktivitas saya bisa beda2 setiap minggunya. Kadang jogging, kadang muter mesin cuci, tapi lebih sering masih leyeh2 di kamar 😄.
  Trus...kapan nulisnya? Well....saya juga bukan orang yang tertib untuk yang satu ini. Lagi rajin, ya nulis, lagi enggak...ya beginilah, nulis juga sih. 

Kesimpulannya....saya percaya produktivitas dan hasil itu banding lurus dengan usaha, hanya saja dalam praktiknya, ada yang produktif dengan perencanaan dan manajemen yang baik, ada yang ngandelin intuitif belaka. Dan saya kayanya typikal yang kedua 😄.  
Jadi...kalo kalian emang tipe yang terencana, lanjutin aja. Udah bener itu. Kalo enggak, ya wis dah nggak usah cemas2 banget. Tetep bisa produktif kok ......asalkan ada kemauan dan doa nggak pernah surut 😊. Happy weekend all 😊."

Ternyata ya...ada juga beberapa temen FB yang meragukan status saya, hehe. Mungkin, rada nggak percaya kalo saya nggak punya manajemen waktu di tengah aktivitas yang lumayan tinggi.

Hal yang sama juga kerap ditanyakan audiens saat saya menjadi narasumber seminar menulis. Tentang bagaimana saya mengatur waktu. Nah, kalo didepan peserta sih, nggak mungkin dong saya kasih jawaban seperti di status FB itu. Tetep jawabannya yang normatif dan inspiratif, ahay. Tentang bagaimana kita menyusun target lalu mencicil usaha untuk mencapai target itu, tentang bagaimana kita memaksa diri untuk menulis setiap hari, dan seterusnya.
saat jadi narsum pelatihan menulis kreatif
 Tetapi, saya nggak berbohong kok, yang saya sampaikan itu tetep saya lakuin, tetapi bukan berarti menjadi sebuah rutinitas. Saya termasuk tipe yang spontan dan intuitif. Bukan tipe yang merencanakan sesuatu dengan matang sejak jauh-jauh hari. Jadi, hasilnya ya seperti yang kalian lihat inilah. Random. Haha. Selain nulis buku, saya juga nulis blog, web pemerintah, kadang nulis resensi, kadang jadi buzzer, kadang jadi influencer. Mumpung masih hidup, dan saya juga seneng ngelakuin semua itu, ya kenapa nggak? Toh saya melakukannya tanpa paksaan. 

Balik lagi nih tentang manajemen waktu. Dari yang pernah saya baca itu ya, orang dengan kepribadian plegmatis (seperti saya) sebenarnya bukan tipe yang inisiatif, tetapi jika diberi perintah, atau berada dalam kondisi yang mengharuskannya menyelesaikan sesuatu, maka dia akan berupaya to the max. Terkadang, suami saya menyebut saya tipe last minute. Baru bergegas di menit-menit terakhir, dan itu benar adanya. 

Tetapi.....masa’ sih mbak nggak ada manajemen waktunya sama sekali? Masa’ sih segalanya berlangsung hanya berdasarkan intuisi, perintah dan kondisi?

Hehe. Baiklah. Saya coba deh menulis tips manajemen waktu ala saya. Yang mungkin hanya cocok dengan orang-orang dengan tipe seperti saya, tetapi enggak salah juga untuk dicoba oleh yang enggak setipe ...siapa tahu worth it :

  • Less wasting time
Apa saya nggak buka-buka socmed? Sering kok. Nggak punya WAG? Banyak. Nggak punya kerjaan kantor? banyak juga. Meski nggak sebanyak kerjaan bank. Nggak jalan-jalan? Tiap hari malah. Perjalanan rutin ke kantor PP sekitar 40 menit ditambah nemenin suami antar jemput anak, hehe. Terus?

Aktivitas saya sesungguhnya enggak jauh beda dengan kebanyakan orang, tetapi saya SKIP hal-hal yang berpotensi merenggut banyak waktu saya dengan hal-hal unfaedah.  Saya mengikuti perkembangan berita yang lagi viral, mulai dari yang berbau politik hingga gosip inces, tetapi saya membatasi diri cukup sekadar tahu, tidak berminat mengulik lebih dalam apalagi melibatkan diri dalam debat kusir yang useless.



Kecuali, jika berita tersebut agak-agak berbau konspirasi, atau strategi politik yang berpotensi membawa mudharat, barulah saya mengikuti dengan cukup serius, agar nggak mudah percaya dengan “permukaan”. Karena yang muncul di permukaan bisa saja hanya mewakili sekian persen kedalaman, atau justru yang lebih buruk, hanya sekadar hoax.

Dalam keseharian, saya juga mengurangi hal-hal yang wasting time. Saya jarang nonton tivi (karena emang nggak suka), saya jarang ngobrol lama-lama (karena aslinya saya emang agak kalem, ciee), kalo jalan-jalan pun saya milih yang bareng keluarga. Yang sama temen-temen udah jarang. 

Di banyak WAG, saya lebih banyak jadi silent reader. Karena.....dari WAG yang banyak itu, hanya sekian persen aja yang isinya emang padat dan “perlu”. Lebih banyak yang isinya hanya didominasi bergurau canda dan tempat sharing berita atau tips. Bukannya saya nggak demen joking, tetapi kalo sampe ngabisin waktu  berjam-jam hanya untuk berbalas joking di WAG, kan buang waktu juga (nurut saya sih).

Nggak tahu kenapa, di usia sekarang, saya merasa sayang banget kalo waktu yang ada habis direnggut sesuatu yang nggak terlalu berguna. Bersantai sih boleh-boleh aja, tetapi jangan pulak waktu bersantainya lebih dominan ketimbang yang lain. Toh kita udah dikasih Allah malam hari untuk beristirahat, jadi ya, kita manfaatkan waktu tidur kita sebaik-baiknya untuk beneran beristirahat.

  • I’m not good at managing time, but I afford to manage people
Seperti bunyi status saya diatas, saya memang tidak memiliki manajemen waktu yang teratur dan terjadwal, tetapi, dalam banyak pekerjaan, saya selalu percaya dengan manajemen delegasi. Alhamdulillah, untuk pekerjaan rumah tangga, saya punya kerabat keluarga yang membantu. Begitupun di kantor. Alhamdulillah, di posisi yang sekarang, saya punya Kasi dan staf untuk menerima delegasi pekerjaan. Untuk aktivitas menulis juga, belakangan saya dibantu adik saya. Jadi, untuk postingan blog yang dibawahnya ada nama kami berdua, berarti itu memang saya tulis bersama adik saya.

Mungkin, ada yang bertanya, atau bahkan protes, mbak sih enak kalo gitu, pekerjaannya bisa didelegasikan. Kalo saya yang nggak punya ART, yang harus kelimpahan pekerjaan kantor, gimana coba?

Saya percaya setiap orang punya daya adaptasi yang hebat. Ketika dia dihadapkan dengan situasi yang sulit, dia akan berupaya mencari solusinya. Soal nggak sempat, dan sebagainya itu, sebenarnya lebih pada urusan PRIORITAS. Bagi yang memasukkan aktivitas menulis sebagai salah satu prioritasnya, sesibuk apapun, pasti akan tetap menyisihkan waktu untuk menulis. Enggak bisa di laptop, ya di hape. Enggak bisa di rumah, ya sambil jalan. Dst. 

Juga erat hubungannya dengan karakter diri. Bagi mereka yang perfeksionis, mungkin akan sulit untuk melakukan banyak jenis pekerjaan, karena tuntutannya terlalu tinggi. Nah, untuk yang tipe begini, kalau belum bisa menurunkan standar perfect-nya, ya memang sebaiknya jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan. Yang tidak terlalu penting atau masih bisa menunggu, ya dikemudiankan aja.

  • Collect the energy and make it in one kick
Ini sebenarnya erat kaitannya dengan karakter sih. Tipenya saya, saya butuh sesuatu yang kuat untuk mendorong saya untuk bisa bekerja maksimal. Contohnya nih, kompetisi.  Ketika ada lomba menulis misalnya, dan saya udah bertekad untuk ikut, maka saya akan memfokuskan energi dan upaya untuk itu.  Jika tidak ada booster-nya, saya juga males-malesan. Nah, kalo ada target begini, biasanya secara alamiah saya akan mengatur rencana sendiri untuk sampai ke target itu. Dateline lomba 3 bulan lagi misalnya. Maka saya mencicilnya misalnya dengan mengumpulkan referensi, menyusun outline pada seminggu pertama, 2,5 bulan untuk menulis, dan sisanya untuk penyuntingan naskah dan revisi. 


Karena anak-anak juga udah besar dan mengerti tentang kegiatan sampingan ibunya, maka ketika dibilangin kalo saya lagi fokus dengan dateline, mereka juga nggak bakal ganggu.

Masih ada yang penasaran mungkin, bagaimana ceritanya (Alhamdulillah) saya udah menulis 26 buku sampe sekarang dan tiap tahun Alhamdulillah ada buku yang terbit? Selain tetep update blog tentunya dan nulis konten untuk web pemerintah?

Jumlah yang 26 itu, untuk sebagian penulis mungkin belum banyak. Tetapi buat saya sih, udah Alhamdulillah banget, hehe. Entar aja deh ya dilanjutin. Mau lanjut baca buku dulu, hehe.

Kamu punya manajemen waktu? Boleh dong bagiin juga, lumayan kan buat daku bercermin dan belajar. 😊

6 comments:

  1. Sama, saya juga sekarang jadi lebih menyayangkan kalau waktu sia-sia hanya sekedar senda gurau belaka. FB malah sudah jarang aktif kecuali untuk job dan sponsorship :D

    ReplyDelete
  2. 26 itu mah banyaak mba. proud of you lah. ditunggu next tipsnya ☺

    ReplyDelete
  3. Saya coba tipsny mb
    Sebenerny sy tuh juga lebih banyak jd silent reader cuma kelemahanny perfeksionis tp d sisi lain banyak mauny alias g bisa fokus
    Tobat tobat
    Tengss tipsny mbaa

    ReplyDelete
  4. Keren sekali. dengan segitu padatnya aktifitas tiap tahun bisa nerbitin buku. Mantul mba..

    ReplyDelete
  5. The real multitasking. Makasih tipsnya mba :)

    ReplyDelete
  6. Barokallah sehat terus ya Bund
    Selalu bangga padamu. Semoga saya bisa terus berkarya seperti mu

    ReplyDelete