Riawani Elyta: Mengatasi Utang Dengan Cara Cerdas

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Monday, 21 January 2019

Mengatasi Utang Dengan Cara Cerdas


             
[FINANCE]   Mendengar kata utang atau terlibat di dalamnya tentu bukan hal yang menyenangkan. Saat utang belum lunas, wajar saja kalau kita merasa cemas. Hidup tidak tenang seakan ada yang menghantui. Walaupun, nyatanya ada juga yang menganggap sepi arti utang.  


Tidak ditagih, nggak punya inisiatif untuk mengembalikan. Pas diingatkan, jawabannya nanti-nanti melulu. Bahkan ada yang lebih parah, utang digunakan untuk berfoya-foya dan giliran ditagih malah marah.  Pernah ‘kan, ketemu tipe begini?

Baiklah. Mari sejenak kita tinggalkan kasus orang yang berutang. Mari kembali pada topik utama, yaitu tentang bagaimana mengatasi utang. Memang, sangat tidak menyenangkan ketika kita harus bersentuhan dengan urusan utang – piutang. Jangankan utang konsumtif untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, utang produktif yang notabene masih menghasilkan saja sudah membuat kita kelimpungan.

                Utang pun tak selalu berupa uang. Utang juga bisa berupa janji dan kewajiban yang harus dipenuhi. Mungkin, diantara kalian saat ini ada yang masih terlibat dengan utang. Nah, tips berikut ini bisa kalian coba agar hidup tetap nyaman walaupun masih memiliki utang dan janji yang harus dipenuhi, dan utang tersebut dapat segera dilunasi :

1.       Klasifikasi utang

Secara umum, utang bisa dibagi menjadi utang konsumtif dan produktif. Utang konsumtif adalah utang yang digunakan untuk membeli barang – barang konsumtif, biasanya identik dengan barang yang nilainya akan terus turun seperti peralatan elektronik dan kendaraan bermotor.

Sementara utang produktif adalah hutang yang diharapkan memberi pendapatan di kemudian hari, misalnya pembiayaan bisnis, membeli aset seperti tanah dan rumah yang cenderung mengalami kenaikan harga.

Buatlah daftar semua utang dan evaluasi. Jika ternyata kita terlalu banyak berutang untuk kebutuhan konsumtif, maka yang perlu kita lakukan adalah mengubah gaya hidup dan pola pandang. Kebutuhan dan keinginan adalah hal yang berbeda. Kita tak perlu berutang jika ternyata hanya untuk memenuhi keinginan semata.

Buatlah daftar utang berdasarkan prioritas pelunasan jika ternyata kita memiliki beberapa jenis utang. Pengklasifikasian utang hampir sama dengan pengklasifikasian masalah. Ini akan membuat kita lebih mudah memilah mana yang harus diselesaikan terlebih dulu dan menimbulkan semangat baru bahwa – at least – kita telah memulai langkah untuk menyelesaikan semua masalah dalam hidup termasuk utang.

2.       Bersahabat dengan pemilik piutang

Jangan pernah menghindari pemilik piutang apalagi bersikap defensif kepadanya. Karena itu hanya akan menimbulkan rasa bersalah dan memperburuk hubungan. Bersahabatlah dengan mereka, buat kesepakatan bagaimana utang tersebut dilunasi dengan target yang realistis. Tepati janji dan jangan mengumbar janji. Percayalah, saat kita membina hubungan baik dengan mereka, mereka juga tidak akan keberatan untuk memperpanjang masa pelunasan.

Sejenak, rasakanlah bagaimana seandainya kita berada di posisi mereka yang harus bersabar dengan cicilan kita sementara mereka memberikan utang kepada kita secara langsung bahkan mungkin saja dalam jumlah yang besar.

Tidak semua pemilik piutang hidup berkecukupan. Mungkin saja hidup mereka juga pas-pasan. Namun karena rasa simpati yang besar, ataupun atas nama persahabatan, persaudaraan dan sebagainya, mereka tak merasa berat saat meminjami kita uang.
Nah, kita tentu enggak tega, bukan, membebani orang yang sudah menolong kita dalam kesusahan dengan menunda-nunda mengembalikan uang mereka?
Satu hal yang perlu dicatat, jangan pernah berutang pada rentenir. Ini hanya akan menimbulkan masalah baru disamping masalah utang itu sendiri.

3.       Membuat rincian pemasukan dan pengeluaran, target dan rencana pelunasan

Selanjutnya, yang perlu kita lakukan adalah menghitung setiap detil pemasukan, kebutuhan bulanan, lalu merencanakan berapa yang bisa kita sisihkan untuk membayar utang. Jika kita mendapatkan penghasilan bulanan, misalnya gaji, akan lebih baik jika disisihkan untuk utang terlebih dahulu sebelum mengatur untuk pos-pos yang lain. Pangkas pos pengeluaran yang tidak penting misalnya makan di restoran, membeli baju baru hingga jalan – jalan ke mall. Singkirkan ego dan keinginan pribadi agar tak terjebak dengan godaan untuk berutang dan utang yang terus menumpuk.

4.       Mencari penghasilan tambahan

Jika dirasa penghasilan sekarang tak mencukupi semua kebutuhan plus untuk membayar cicilan, maka saatnya untuk kreatif dengan mencari alternatif tambahan penghasilan.

5.       Tak mudah terjebak rayuan utang baru

Selagi masih memiliki hutang, jangan terjebak untuk memiliki utang yang lain. Misalnya ada tawaran kartu kredit tanpa bunga, memiliki barang dengan 0% DP dan sebagainya. Tekan semua keinginan yang berpotensi mengacaukan rencana pelunasan utangmu.

6.       Hindari melunasi utang dengan utang yang lain

Jangan menggunakan skema tutup lubang gali lubang. Karena ini hanya akan menambah daftar keruwetan hidup. Selesaikan utang satu – persatu selayaknya kita mengerjakan dan membagi tugas secara sistematis. 

7.       Berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta

Dan yang paling penting adalah memiliki keyakinan bahwa kita mampu dan wajib melunasi semua utang. Dekatkan diri dengan Allah Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Berdoalah dan lakukan ibadah tambahan di luar kewajiban utama agar Allah mempermudah langkah kita dalam melunasi utang. Jangan pernah berputus asa dalam setiap usaha melunasi utang, karena selama kita bersandar kepada-Nya, sebesar apapun utang kita, tidak ada kata tidak mungkin bahwa itu kelak akan terbayarkan dengan tuntas.

Di sini, kami memang sengaja tidak  menyinggung-nyinggung soal utang bank. Karena sesuai ajaran Islam yang kami anut, utang bank mengandung riba. Jadi tidak adalagi perdebatan tentangnya selain hanya satu kata : meninggalkan.  Bagi teman-teman yang saat ini masih memiliki utang bank, yang bisa kami sarankan adalah berusaha untuk segera melunasinya (silakan coba tips-tips diatas, semoga dengan izin Allah dapat membantu), dan jangan lagi membuka utang bank yang baru. 

Memiliki rencana yang jelas terhadap penanganan utang,  membuat kita secara tidak langsung telah memegang kembali kendali atas hidup kita. Dan ini juga membuat kita menjadi lebih bertanggung jawab, memiliki keberanian baru dan mengubah cara berpikir tentang betapa tak mengenakkannya hidup dalam gelimangan utang. Tetapi, lari dari utang justru membuat hidup bertambah runyam. 

Maka, hadapilah utang tersebut, bersahabatlah dengan ketidaknyamanan selama proses pelunasan tersebut berlangsung dan ambillah hikmah dan pelajaran darinya. Bahwasanya hidup dengan hutang itu bukanlah pilihan bijak. Manakala kita masih mampu mengusahakan untuk memenuhi kebutuhan tanpa berutang, itulah pilihan hidup yang harus kita ambil.  [Lyta & Risa]

9 comments:

  1. setujuuu sekali. dulu aku sempet memakai CC dan tiap bulan gaji kayaknya abis kesana. akhirnya mulai mikirin pas tau tabungan kenapa ga banyak2. lgs aku ngerubah mindset utk melunasi tagihan dgn uang bonus. CC yg aku pake ada yg aku close setelah lunas, tp ada jg yg ttp aku pertahanin, hanya saja bukan utk nambah hutang. hanya utk pembayaran seperti tiket pesawat, hotel, yg mana lbh mudah kalo pakai CC. dan itupun lgs aku byr lunas. udh ga kepengin lg berhutang, trmasuk hutang kpr. alhamdulillah rumah ada walo kecil dan pemberian ortu. aku ga tertarik utk beli lg tp dgn cara kredit. ga tenang hidup dgn punya hutang. tp aku jg mnghindari memberi pinjaman. bukannya kenapa2.. tp ga mah aja malah merusak pertemanan ato sodara kalo sampe yg meminjam ga bisa bayar. mnding jgn dikasih sekalian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah satu2 langkah solutif diambil ya mbak

      Delete
  2. Pas lihat judulnya, langsung klik. Karena memang saya dan suami terjebak utang bank konsumtif, huhuhu. Tapi kami berteka d melunasinya lebih cepat. Dari tips di atas ada poin yang sudah dilakukan, ada yang belum. Doakan ya mbak semoga segera selesai. Nggak mau rasanya mati meninggalkan utang.

    ReplyDelete
  3. Saya masih punya utang cicilan rumah dan kendaraan, Mba. Memang sih selama ini masih bisa terjangkau bayar tiap bulan. Tapi tetep aja pengen segera terbebas dari utang.

    ReplyDelete
  4. Hutang memang membuat kita susah tidur...sepertinya kita harus hati2 kalau berhutang, biar nyenyak tidur. Mendingan ngak usah hutang kalau sulit membayarnya. :)

    ReplyDelete
  5. Bersahabat dengan pemilik piutang ini menurut saya bikin deg-degan... Begitu juga sebaliknya....hahahaha.... Kalau terlalu dekat, ntar jadi sungkat nagih utangnya. Dan, kalau terlalu dekat dengan si pemberi utang, jadi sungkan kalau tidak tepat waktu... hahahaha serba salah deh...

    ReplyDelete