Riawani Elyta: Saat Sesal Hadirkan Pedih (day 23)

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Wednesday, 12 December 2018

Saat Sesal Hadirkan Pedih (day 23)


Sebenarnya, ini bukan tema yang saya sukai. Karena saya percaya bahwa segala yang terjadi dalam hidup kita, ditentukan olehNya melalui takdir. 
Allah memang tidak akan mengubah nasib kita jika kita tidak berusaha mengubahnya. Tetapi, berubah atau tidak, berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya, berhasil atau gagal, hanya Allah yang kuasa menentukannya. Wilayah manusia hanya pada tataran usaha, doa, dan amal kebaikan yang sekiranya mampu mengetuk pintu kehendakNya untuk memberkahi upaya kita.

Maka, ketika sesuatu terjadi di luar kuasa kita untuk mencegahnya, mungkin akan terbit rasa sesal. Tetapi, berkubang dalam penyesalan bisa menggelincirkan kita dari rasa syukur dan percaya kepada takdir.

Selain itu, menuliskan kembali hal-hal yang pernah saya sesali, menimbulkan efek berbeda dibanding menuliskan hal yang lain. Hati justru terasa tambah pedih (ups!). 

Tetapi, berhubung saya  lagi enggak punya ide untuk menulis tema pengganti, inilah beberapa hal yang pernah (dan masih) saya sesali :

1. Enggak belajar mobil sungguh-sungguh
Dulu pernah belajar sih, waktu belum nikah. Tapi gara-gara pernah nabrak angkot, saya jadi kapok. Sayang, kapoknya kelamaan. Jadi, saat sekarang belajar mobil lagi, aduuh... lemot kali rasanya. Tetep aja saya nggak berani bawa di jalan padat. Dan kagok kalo mundur. Lha nggak mungkin 'kan ...bawa mobil hanya di jalan sepi dan nggak pake mundur?

2. Terlalu cepat kerja
Lepas SMA dulu, saya akui, saya memang pingin cepat-cepat kerja. Dan Allah kabulkan keinginan saya itu. Umur 20 saya udah kerja. Tetapi sekarang, kalo aja enggak ingat keinginan masa muda dulu yang Dia perkenankan, jujur, saya rada nyesal.

Andai waktu bisa diputar mundur, saya ingin menghabiskan masa-masa awal kehidupan berumah tangga dengan sepenuhnya mengasuh dan mendidik anak. Selain itu....saat ini saya juga mulai merasa jenuh dan capek dengan pekerjaan. Tetapi, mau berhenti juga belum berani. Jadi, saya jalani dululah tahun-tahun kedepan ini sambil menimbang-nimbang apa yang sebaiknya saya lakukan.

Apa lagi ya?
Sepertinya cukup deh. Karena, kembali ke paragraf awal tadi, semakin kesini, saya semakin sadar bahwa takdir punya peran besar dalam perjalanan hidup kita.

 Sesuatu yang kita inginkan tetapi tidak tercapai, sesuatu yang kita lewatkan di masa lalu namun baru mendatangkan kerugian di masa sekarang, sesuatu yang tak pernah ada dalam dorongan hati kita dulu hingga kita mengabaikannya namun saat ini justru menerbitkan sesal, selalu....ada takdirNya yang bekerja didalamnya. Agar kita menarik pelajaran darinya dan mengakui kekuasaanNya yang Maha Menentukan.

Sesal memang tidak berguna. Namun, setidaknya ia meninggalkan pelajaran berharga untuk menjadi nasehat kepada generasi kita di masa depan.


6 comments:

  1. Berpikir sebelum bertindak itu bener-bener penting ya berarti, soalnya bisa ngaruh ke kehidupan kita kelak

    ReplyDelete
  2. Setiap keputuan yang kita buat dan pilihan yang kita putuskan ada saja plus dan minusnya...walaupun plusnya jauh lebih besar dari minus...

    ReplyDelete