Riawani Elyta: Bahagia yang Sederhana, Hanya dengan Satu Cara (day-27)

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Sunday, 16 December 2018

Bahagia yang Sederhana, Hanya dengan Satu Cara (day-27)


Bahagia itu sederhana. Kalimat yang entah sudah berapa ratus kali saya baca dan dengar sepanjang hidup saya. Namun untuk sampai pada pemahaman bahagia yang sederhana, nyatanya saya menempuh perjalanan spiritual yang cukup panjang.

Tidak. Saya tidak melakukan perjalanan jauh dalam arti yang harfiah. Tetapi saya bermonolog didalam hati ketika satu demi satu peristiwa saya alami. Sebuah monolog yang bisa terurai menjadi lembaran-lembaran panjang.

Saat melihat teman-teman yang bepergian, jalan-jalan sampai ke luar negeri, shopping barang-barang mahal, jujur, sempat terbersit rasa iri. 
Tetapi, ketika saya berada di situasi yang sama, saat saya ke luar negeri, saat saya membeli barang yang relatif mahal untuk ukuran saya, memang, ada rasa senang. Tetapi, rasa itu tak bertahan lama. Dan tak mampu menyentuh kedalaman jiwa saya lalu membungkusnya dengan bahagia yang sesungguhnya.

 Bahkan, terkadang harus dibarengi rasa yang mereduksi kesenangan. Terutama dalam perjalanan, hilang selembar pass masuk saja sudah menggelisahkan. Berbeda pendapat dengan travelmate pun bisa bikin mood jadi runyam.

Saat berhasil melewati satu hari tanpa mengalami hal-hal yang bikin emosi dan mengeruhkan suasana hati, inipun membuat bahagia. Tetapi, kita tak pernah tahu apa yang terjadi kemudian. Bahkan, diluar kuasa kita, saat satu sebab saja mampu mengisruhkan gejolak jiwa, syaitan dengan mudahnya membuat kita lupa akan bahagia yang baru saja kita lewati. Satu sebab saja terkadang cukup untuk memerangkap kita dalam emosi yang buruk dan hati yang larut dalam sedih.

Saat melihat mereka yang tampil di panggung, menjadi pusat perhatian karena skill dan talenta yang mereka punya, saya pun sempat merasa pingin. Menganggap bahwa itu adalah salah satu cara hebat untuk bahagia. 

Tetapi, saat diri sendiri mengalaminya, meski hanya tampil didepan audiens yang terbatas, meski semua perhatian tertuju pada saya, meski setelahnya saya diperlakukan bak seleb dengan mereka yang antri minta tanda tangan dan foto bersama, jauh didasar hati, saya merasa ingin cepat menjauh dari keramaian dan merasa tak pantas untuk jadi pusat perhatian.





Jadi....dimana sesungguhnya bahagia yang sederhana itu berada?

Ah...sudah saya tuliskan sebelumnya, bahwa proses pencarian bahagia versi saya bisa menghabiskan lembar-lembar nan panjang. Jadi, saya skip saja bagian yang banyak itu, dan langsung mengabarkan padamu tentang endingnya : bahwa kunci kebahagiaan itu ada pada sholat yang khusyu, dan hati serta ingatan yang selalu berorientasi kepadaNya.

Mungkin, pernah kalian dengar dan baca, bahwa ketika kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, maka hubungan kita dengan manusia pun akan beres. Segala urusan pun akan menjadi lebih mudah.

Ini benar adanya. Memang, ketika kita memperbaiki hubungan kita kepadaNya, hidup kita tidak serta merta berubah menjadi seperti yang kita inginkan. Namun, percayalah, Dia akan memudahkan kita untuk ikhlas menerima dan membukakan mata hati akan hikmah.

Ketika kita meminta pertolongan kepadaNya, menjadikannya sandaran utama, mendekatkan hati kepadaNya dalam sholat dan ibadah kita, disanalah kita akan menemukan bahagia yang sederhana. Bahagia yang cukup 'bermodalkan' air wudhu, perlengkapan sholat dan ibadah lainnya (Al Quran, tasbih, dll) serta hati yang tawaddu'. 

Bahagia yang mampu melampaui segala bahagia yang kita beli dari kenikmatan duniawi : jalan-jalan, punya barang mahal, nonton konser, makan di cafe, tidur di hotel berbintang, dsb.

Jadi....maafkan saya jika tak mampu menuliskan 5 bahagia yang sederhana dalam versi saya. Karena, andai saya menulis puluhan jenis bahagia sekalipun, semua itu tidak akan menjelmakan rasa bahagia tatkala hati saya jauh dariNya. 

Sebaliknya, ketika hati terpaut denganNya, segala hal yang kita lewati bahkan perkara kecil sekalipun, peristiwa yang nggak ada manis-manisnya pun, dengan izinNya akan menghadirkan rasa yang kelak mentransformasikan bahagia dalam hidup kita.



5 comments:

  1. Bahagia itu kalau kita bisa dekat denganNya. Rasa damai, tenang itu tidak bisa dinilai dengan materi.

    ReplyDelete
  2. Saya merasa bahagia kalau saya bisa ketawa terbahak2 nonton komedi...:D

    ReplyDelete
  3. Mbak Lita, itu di atas kopi O ya...?? Pantainya indah, membawa ingatan saya ke, ke mana ya??? O ya ke Mana Mana Beach Lagoi...
    Jujur, sudah lama saya tidak tertawa walau selucu apa pun sebuah komedi.., tapi foto secangkir kopi O telah membuat saya tersenyum, barangkali ini adalah sebuah "bahagia" mengenang saat tinggal di Bintan Lodge, kita sering ke restoran Kopi O... terkadang kita nikmati kopi O dan gonggong di akau, teh obeng juga OK... Alhamdulillah...(=bahagia)

    ReplyDelete
    Replies
    1. owh pernah di Bintan tho? iya itu hal2 yg nostalgic banget ttg bintan

      Delete