Riawani Elyta: Review Campaign dan Giveaway #Book3 "Bapangku Bapunkku"

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 4 November 2017

Review Campaign dan Giveaway #Book3 "Bapangku Bapunkku"

Ini kisah tentang seorang ayah yang tak mau dipanggil ayah, tetapi maunya dipanggil Bapang. Dan tabiat sang Bapang pun tak kalah eksentrik. Segala tindak tanduk, prinsip dan pemikirannya boleh dibilang antimainstream. Tak hanya berlawanan arus dengan kebiasaan tetapi juga tak jarang melabrak aturan. Bapang pun kerap memprotes hal-hal yang tak sejalan dengan prinsipnya. Seperti membangun masjid dengan bermegah-megah, keputusan dokter agar sang istri melahirkan sesar, kurikulum pendidikan yang dianggapnya tidak memihak pada bakat dan keunggulan anak, dan sebagainya.


Untungnya, istri Bapang seorang yang punya karakter kebalikan dengan Bapang : lemah lembut, sabar dan tidak neko-neko. Tetapi, kesabaran sang istri dalam menghadapi kekeraskepalaan Bapang ada batasnya jua. Saat Bapang melarang anak-anaknya sekolah, pertengkaran dengan sang istri pun tak terhindarkan, bahkan rumah tangga mereka yang telah dikaruniai 4 (empat) orang anak pun terancam kandas.

Berhasilkah Bapang menyelamatkan biduk rumah tangganya? Akankah Bapang terus bertahan dengan prinsip dan pola pikirnya yang ekstrem ataupun mengalah kepada roda kehidupan dan kelumrahan? Lalu, bagaimana dengan keempat anaknya? Apakah dibesarkan dengan pola pikir sang Bapang membuat mereka menjadi orang sukses di masa depan ataukah sebaliknya? Jawabannya hanya bisa kamu temukan di dalam novel karya Pago Hardian ini.

Novel ini dituturkan dari kacamata salah seorang anak Bapang bernama Alap. Saat pertama membaca sinopsis novel ini dan lembar-lembar pertamanya, yang muncul dalam bayangan saya adalah, bahwa novel ini adalah novel yang sarat dengan kritik sosial, tetapi dituturkan dengan cara guyon.

Dan saat melanjutkan membacanya, persepsi saya tidak jauh meleset sih. Bahkan agak sedikit di luar ekspektasi dalam sudut pandang yang positif.
Membaca novel ini, buat saya bisa dianalogikan dengan saat menyantap nasi Padang. Terasa padat dan mengenyangkan dalam setiap suapannya, tetapi rasanya tetap saja tak ingin berhenti. Dan saat sudah kekenyangan pun, dalam hati sudah terbit keinginan untuk makan nasi Padang lagi di lain kesempatan. Hanya bedanya, kalau nasi Padang dan lauk pauk pelengkapnya kaya akan lemak dan kolesterol, novel ini justru sarat dengan hal-hal yang “menyehatkan” hati dan pikiran.

Ya. Muatan filosofis dan pesan-pesan moral novel ini sangat padat dan informatif. Pola pikir dan prinsip Bapang mewakili keresahan segelintir masyarakat kita yang memahami benar akan ketidakberesan yang terus berlanjut di negeri ini dan entah darimana mau mengurainya. Dan pada awalnya, saya merasakan kalau muatan itu tak sekadar padat, tetapi juga lumayan berjejal. Mungkin, karena belum terbiasa saja membaca novel-novel tipe ini. Namun, semakin dibaca, ya samalah dengan saat menyantap nasi Padang, malah susah berhenti.

Kekonyolan dan nuansa humor yang mewarnai novel ini memang belum berhasil membuat saya tertawa ngakak atau tersenyum lebar. Tetapi, juga nggak terlalu lebay berlebihan sih. Sadang elok lah kalo bahasa minangnya. Hanya saja, kalau boleh kasih masukan, akan lebih memukau jika novel ini bisa mempertajam setting waktu dengan kekhasan-kekhasan yang ada di jaman yang jadi latar cerita ini. Sesuatu yang buat saya agak terasa samar. Kalau dibilang ini settingnya masa lalu, kok ya istilah dan bahasanya banyak yang kekinian? Mau dibilang masa sekarang, tapi kok nggak ada kisah-kisah tentang kehidupan jaman now yang identik dengan dunia maya dan eksploitasi perangkat digital?

Terlepas dari beberapa hal diatas juga beberapa typo dalam novel ini, sepertinya nggak keliru deh kalau novel ini terpilih sebagai salah satu jawara lomba novel Indiva.
Novel yang memang muatan dan pengemasannya pas banget dengan karakter Indiva. Singkatnya, Indiva banget deh. Kritik sosial yang disampaikan pun dikemas dengan cara yang meski lugas tetapi tetap sopan dan cerdas. Dan untuk novel-novel di genre ini, Bapangku Bapunkku bolehlah dibilang lumayan antimainstream dan enggak pasaran, seperti juga sosok sang Bapang.

Diantara inovasi pemikiran sang Bapang yang berkesan buat saya, adalah tentang sistem pendidikan. Saya membayangkan, jika sekolah yang digagas Bapang dalam novel ini beneran terwujud, sekian puluh tahun ke depan, negeri ini mungkin akan kembali mengulang kejayaannya dulu sebagai negeri gudangnya manusia-manusia bertalenta dan berprestasi tingkat dunia di berbagai bidang : olahraga, seni, literasi, dan sebagainya.

Seperti apa sih gagasan Bapang tentang pendidikan? Terlalu panjang rasanya kalau diulas di sini. Sebaiknya memang harus baca langsung novel ini agar prinsip dan action si Bapang bisa menggugah kita untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan inovatif sekaligus membuka mata akan makna lain dari kebahagiaan dan kesuksesan.

Judul : Bapangku Bapunkku
Penulis : Pago Hardian
Tebal : 232 hal
Tahun : 2015
Penerbit : Indiva Media Kreasi

Saatnya giveaway!
Simak ketentuan dan pertanyaannya ya :

  1.  Pastikan kamu udah memenuhi syarat-syarat mengikuti Campaign Giveaway #AkuCintaBuku2 #KekuatanKata ya (klik sini untuk infonya) 
  2.  Tuliskan pada kolom komentar di bawah postingan ini : 1 (satu) ide atau keinginanmu yang kamu harapkan bisa terwujud dalam dunia pendidikan di tanah air. Ide nggak perlu yang muluk-muluk. Yang sederhana juga tidak apa-apa asalkan mengandung makna perubahan yang positif.
 Contoh  :
Saya ingin sistem belajar di sekolah negeri ini komposisinya 50 : 50. 50 untuk teori dan 50 praktek di lapangan. Jadi anak-anak nggak bosan belajar monoton di kelas, dan ke depannya nanti generasi ini bakal jadi pengemban amanah yang nggak hanya pinter secara teori tetapi juga piawai dalam implementasinya.

3.    Sertakan juga nama akun sosial mediamu di kolom komentar
4.    Bagikan link postingan ini di akun socmedmu dengan tagar #Book3 #AkuCintaBuku2 #KekuatanKata, mention akun saya dan Penerbit Indiva :
Fanpage FB :
Indiva Media Kreasi
Riawani Elyta
Twitter :
@penerbitindiva
@RiawaniElyta
Instagram :
@penerbitindiva
@riawani_elyta
(pilih dan mention di salah satu akun saja sesuai yang kamu punya, tapi kalo mau share di  semua akun juga boleh :D)

5.    Jawaban ditunggu sampai 11 November 2017 pukul 23.59 wib
6.    Akan dipilih 1 (satu) orang pemenang yang akan mendapatkan novel Bapangku Bapunkku. Buku dikirim ke alamat di Indonesia.

Ditunggu partisipasimu yaa.

Salam,
Riawani Elyta

 P.S.
Ingin lihat buku-buku koleksi terbaru Indiva Media Kreasi? Klik sini aja ya

12 comments:

  1. Meniadakan sistem peringkat (peringkat 1, 2, 3, dan sebagainya) untuk sekolah swasta.
    Karena agar tidak timbul kesenjangan di antara peserta didik. Agar tidak ada lagi diskrimanasi antara siswa yang pintar dan yang kurang pintar.

    FB : Siti Maslacha
    IG : @claupherin
    Twitter : @shitiearushi

    ReplyDelete
  2. Saya ingin pelajaran itu tuntas di sekolah. Misalnya seperti matematika, kalau di sekolah anak nggak bisa, lalu disuruh ngerjakan di rumah ortu nggak bisa, dan balik ke sekolah nggak bisa lagi, saya mikir untuk apa sekolah.

    Pada akhirnya anak2 les untuk menaklukkan pelajaran di sekolah.

    Kalau pelajaran tuntas di jam sekolah, di luar jam itu anak2 bisa mengembangkan bakat yang lain.

    Fb: Shabrina Ws
    IG: @shabrina_ws
    Twitter: Shabrinaws_

    ReplyDelete
  3. Oh, obrolin dunia pendidikan selalu membuat hati kesemutan. Tidak terlalu muluk, untuk sistem pendidikan di Indonesia, saya berharap sangat untuk:

    Tidak terlalu sering dan cepat mengganti kurikulum pendidikan. Biar terlaksana dulu lah programnya sesuai waktu. Tidak tiap menteri ganti, ikutan langsung ganti jg. Lelaah. Terus misal sekiranya blm bisa diterapkan ya tak usah maksa. Sebab yang merasakan berat adalah pendidik dan peserta didik yg nyata mengalami di lapangan. Sedang penggagas kurikulum hanya mengira, menerka dan menerawang. Akhirnya belajar kejar target hasil semata, padahal berproses adalah suatu keniscayaan.


    FB: Dinu Chan
    Twitter: @chan_dinu
    Instagram: @dinu_chan

    ReplyDelete
  4. Inginnya para guru bisa benar2 mengerti bakat, minat dan kemampuan siswanya. Selama ini saya merasa guru hanya mengemban tugasnya murni sebagai pengajar sehingga hanya membahas isi buku pelajaran siswa saja. Jarang sekali ada yang mau mengerti di mana kesulitan siswanya, kecuali bila mau les di rumahnya. Sepengamatan saya masih banyak yang menyepelekan mau siswa mengerti penjelasannya atau tidak, serta sekedar memberi tugas hanya untuk mengisi kegiatan. Saya harap para guru bisa lebih sabar dan telaten memahami keingintahuan siswanya sehingga proses belajar mengajar jadi lebih menyenangkan dan tidak kaku. Pun guru bisa jadi panutan para siswanya, dari tutur kata dan tingkah laku. Sehingga akronim guru yang berarti digugu dann ditiru bukan sekedar pelafalan.

    Twitter @artha_amalia

    ReplyDelete
  5. Tugas dan materi yang diberikan untuk siswa harus disesuaikan dengan kelasnya. Bila tugas terlalu berat dan materi yang kurang dikuasai, membuat siswa mencari jalan pintas yang akhirnya indikator dan tujuan dari materi pembelajaran nggak sampai. Dan kalau bisa kata-kata dalam teks buku itu mudah dimengerti. Segala macam istilah ilmiah sebaiknya digunakan saat SMP dan SMA.

    Twitter : @fitt_rilaily
    IG : @fitt_rilaily

    ReplyDelete
  6. Saya ingin di sekolah-sekolah di Indonesia menerapkan kebiasaan membaca buku karya sastra. Bisa dijadikan tugas rutin para siswa misalnya satu buku satu minggu, sekolah menentukan buku apa yang harus dibaca. Kemudian setelah itu mereka dapat mendiskusikan isi buku yang dibaca di kelas tentunya dengan bimbingan guru. Dengan begitu semoga minat baca anak-anak Indonesia akan berkembang dan pastinya menjadikan pemuda Indoensia lebih berkualitas dengan kegiatan membaca.


    Fb: Nia Hanie Zen
    Twitter & instagram: @nia_hnie

    ReplyDelete
  7. Sekolah tanpa PR, siswa dihadapkan dengan kebosanan akut bernama belajar. Di sekolah belajar, di rumah belajar, lalu kapan anak bermain? Kapan anak bersosialisasi? Akhirnya hiburan hanya TV dan game, padahal zaman dulu permainan seperti petak umpet, karet gelang lebih seru dan greget.
    Kembali ke topik utama, tiadakan PR. Cara mengukur kemampuan siswa adalah ulangam dadakan, jadi sejauh mana anak menyerap pelajaran, secara personal akan terlihat, dan tugas guru untuk memeratakan tingkat pemahaman siswa. Jika sistem PR masih diterapkan, tak jarang budaya mencontek milik teman, atau tidak mengerjakan sendiri akan terus berlangsung.
    Saya speechless dengan salah satu sekolah di tempat saya. Iya, mereka menerapkan tiada PR, parameter hanya ujian dadakan itu tadi, tapi hasilnya luar biasa. Anak-anak paham semua, pulang sekolah mereka fokus untuk menghafal Al Qur'an. Generasi emas bangsa seperti inilah yang kita nanti.

    Fb : El Eyra
    IG : el_eyra

    ReplyDelete
  8. Saya berharap para guru tidak hanya menyampaikan materi, memberi tugas kepada murid kemudian menilainya. Namun seyognya setiap guru mengenal dengan baik setiap siswanya. Mengetaui batas kemampuan dan bagaimana cara belajar siswa. Karena setiap murid pasti memiliki kerakter dan gaya pemahaman berbeda. Saya harap guru bisa meranggkul semua, sehingga anak menikmati masa-masa sekolah, tanpa terbenani karena terlalu banyak tugas. Selain itu guru juga harus bisa menghandle kelas dengan baik, agar tercipta suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Dengan suasana seperti itu sekolah pasti akan lebih menyenangkan.

    Dan alangkah baiknya, pendidikan tidak dinilai dari nilai akademik yang tinggi saja, namun juga etika dan kesopanan yang dimiliki siswa. Pendidikan moral harus diajarkan sedini mungkin sebagai bekal anak ketika sudah terjun dalam lingkungan.


    IG : @kazuhana_el_ratna
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Fb : Ratna Hana Matsura.

    ReplyDelete
  9. Inginnya sistem pendidikan di Indonesia itu:
    1. Tidak terlalu banyak muatan pelajaran. Saya merasakan sendiri mengajar di SD yang jumlah mapelnya bejibun. Pemerintah maunya semua-mua dipelajari berharap anak bisa. Yang terjadi malah sebaliknya, nggak ada yang nyangkut karena kebanyakan muatan. Kalauapun ada yang dikuasai kurang maksimal. kurikulum pelajaran seperti tidak memperhatikan perkembangan usia dan psikologi anak. Sudah mapelnya banyak, materinya juga terbilang berat. Sebagai contoh di kelas 4 SD, anak sudah diberi materi pemerintahan (tatanegara) yang sarat dengan hafalan. Materi itu bagi kami guru SD masih terlalu berat dan jauh untuk anak-anak. Baru sedikit sekolah di Indonesia yang mengedepankan pengembangan bakat dan minat anak (kebanyakan sekolah swasta) sebab sistem dari pemerintah kurang memperhatikan hal ini.
    2. Untuk anak kelas bawah lebih ditekankan pada karakter sebelum diberi materi yang berat , materi hafalan. Di kelas 2 SD, materi berhitung anak sudah sulit tingkatannya. Kelas 1 dan 2 idealnya ditekankan pada budi pekerti dan budaya baca tulis dulu. Bagaimana menekankan kecintaan anak pada membaca dan menguasai menulis awal.
    3. Untuk guru, beban administrasi di sekolah saat ini terasa berat. Terlalu banyak administrasi yang harus dikerjakan. Sering guru mengeluh, bagaimana mau membuat siswa pintar sementara guru dituntut untuk mengerjakan administrasi yang bejibun. Kapan mengajar kapan mengerjakan administrasi guru sering keteteran. Waktu 24 jam seperti tidak cukup. Waktu mengajar jadi kurang maksimal. harapannya, sistem pendidikan di Indonesia tidak terlalu memberi beban administrasi kepada guru namun justru memberi keluasaan guru untuk berkreasi mengembangkan bakat dan minat anak.



    FB Sayekti Ardiyani
    twitter @sayektiardiyani
    Ig @sayektiardiyani

    ReplyDelete
  10. Saya ingin sistem pendidikan di sekolah dikembangkan sesuai passion siswa. Sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan. Misal, kelas matematika dikombinasikan dengan musik, materi kimia dihubungkan dengan fashion, atau pelajaran sejarah disandingkan dengan fotografi. Wah, sekolah pasti akan menyenangkan sekali!

    FB : Rindang Yuliani
    IG : @rindangyuliani
    Twitter : @Ryu_keren

    ReplyDelete
  11. harapan aku untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik adalah upgrade kualitas guru, suka dengan konsep gurunya manusia oleh pak munif chatib. Jadi, memunculkan jiwa 'tidak sekadar jadi guru'


    FB: Nurul Fauziah
    IG : @nufaze3e
    Twitter : @nufazee
    IG

    ReplyDelete
  12. Inginnya sih ada kurikulum yang bisa membantu guru maupun orangtua melejitkan potensi yang sudah dimiliki oleh anak, tanpa memaksanya mengejar bidang yang tidak begitu perlu. Ini bisa saja sih dirancang oleh orangtua sendiri, tapi kalau kompak dan ada pedomannya (walaupun tidak harus seragam)kan lebih mudah diterapkan, gitu. Nggak semua orangtua telaten bikin kurikulum sendiri, kan? Sekaligus menunjukkan approval pemerintah supaya sejalan juga dengan penjenjangan pendidikan formal, untuk urusan administratif. Bekal life skill juga perlu diberikan. Lagi-lagi, ini bisa saja diajarkan oleh orangtua, dan memang seharusnya orangtualah yang bertanggung jawab. Namun kalau masuk ke sistem resmi, semoga makin banyak orangtua yang makin paham akan tugasnya, dan anak-anak juga biasanya lebih semangat belajar bersama-sama teman-temannya (ini kembali ke karakter anaknya juga, sih). Semoga juga kian banyak guru yang bersemangat dan bisa membuat proses belajar mengajar menyenangkan, dengan apresiasi yang sesuai pula bagi kerja keras mereka.

    Akun fb: Leila Rizki Niwanda
    IG: @leila_niwanda
    twitter: @LNiwanda

    ReplyDelete