Riawani Elyta: Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan, tidak hanya sekadar mengkhatamkan

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 5 June 2017

Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan, tidak hanya sekadar mengkhatamkan

Di bulan Ramadhan, ada salah satu ibadah yang benar-benar dirasakan peningkatannya, dilakukan oleh sebagian besar umat muslim, yaitu tadarrus alias membaca Al—Quran. Setiap malam, boleh dibilang hampir semua masjid akan memperdengarkan bacaan Al-Quran dari para jemaah yang melakukan tadarrus. Malam-malam Ramadhan pun menjadi kian syahdu dengan lantunan ayat suci yang sambung-menyambung.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa semangat atau ghirah membaca Al-Quran di bulan Ramadhan pada umumnya meningkat?

Ada beberapa faktor pendorongnya. Diantaranya yang paling masyhur adalah, bahwa amal ibadah di bulan Ramadhan insya Allah akan dibalas dengan pahala berkali lipat. Memang, terdapat beberapa hadist dhaif tentang “kalkulasi” atas pahala yang berlipat ganda ini, namun satu hal pasti, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Maka segala amal ibadah yang dilakukan di bulan inipun memiliki nilai kemuliaan yang lebih tinggi dibandingkan amal ibadah di bulan lainnya.

Salah satu hadits yang menyebutkan akan kemuliaan Ramadhan dapat kita lihat dalam sabda Rasulullah saw di bawah ini yang artinya :
Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan”. (At Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah).

Hadits diatas menyuruh umat Islam yang mengharapkan kebaikan agar bersegera kepada ketaatan, atau dengan kata lain, melakukan amal ibadah yang dapat meningkatkan ketaatan kita kepada Allah swt. Dan salah satu amal ibadah tersebut, adalah dengan membaca Al-Quran.

Jadi, tentu saja sangat dianjurkan untuk kita umat muslim mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan. Bahkan banyak umat muslim yang memasang target untuk khatam Al-Quran di bulan Ramadhan satu kali, dua kali atau bahkan tiga kali.

Dan, tanpa bermaksud riya, sejak kecil saya sudah menjadikannya sebagai rutinitas, tertanam di dalam benak dan hati saya untuk bisa mengkhatamkan Al-Quran setiap Ramadhan tiba. Saya bersyukur punya orang tua yang mampu menanamkan kesadaran ini dengan begitu teguhnya dan membekas pada diri saya hingga sekarang.

Tetapi, jujur saja, kesadaran yang sama belum mampu saya tanamkan pada anak-anak saya. Entahlah. Mungkin karena pengaruh karakter, perbedaan zaman, atau mungkin saya belum menemukan cara yang tepat untuk bisa membangkitkan kesadaran itu dengan baik. Sehingga, meskipun setiap hari saya mengingatkan anak-anak untuk mengaji, tetap saja mereka lebih sering mengabaikannya ketimbang melakukannya (buat ibu-ibu yang membaca blog ini dan punya tips mendorong anak untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan, ditunggu sangat sharingnya ya).

Kembali ke topik tentang membaca Al-Quran, bahwa selain meningkatkan kuantitasnya di bulan Ramadhan ini, satu hal yang menurut saya tak kalah pentingnya, adalah meningkatkan kualitas dan pemahaman tentangnya.
Sebagaimana Allah swt berfirman yang artinya :
dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4)

Tartil artinya membaca dengan pelan untuk membantu proses pemahaman dan mentadabburi isi Al-Quran.  Jadi, sangat dianjurkan untuk membaca Al-Quran beserta tafsirnya. Sehingga kita akan memahami kandungan isi Al-Quran sebagai pedoman hidup kita. 

Dengan demikian, jika terjadi kisruh-kisruh yang memperdebatkan akan makna Al-Quran, kita tahu bagaimana harus bersikap dan kebenaran mana yang harus kita pegang dengan teguh. Jika berada dalam situasi terombang-ambing, kita tidak perlu ragu lagi untuk mencari solusinya, karena solusi itu ada didalam Al-Quran. Dan jika hati kita dilanda gelisah, enggak perlu jauh-jauh cari obat penawar, karena penawar yang paling ampuh juga adalah dengan membaca Al-Quran.

Tulisan saya tentang Al-Quran ini memang sedikit random, ya. Maklum sajalah. Saya memang bukan da’i atau ahli agama. Saya hanya menyampaikan apa yang menjadi pemahaman dan keinginan saya, dengan tetap menyesuaikannya pada ajaran agama yang saya pedomani. Dan bukan sebaliknya, mendengarkan apa kata logika dengan mengesampingkan suara-suara kebenaran yang dihembuskan oleh firmanNya, karena siapapun tahu, logika manusia adalah terbatas adanya. Dan kebenaran yang bersumber dari manusia itu sendiri bukanlah kebenaran hakiki yang tak terbantahkan.

Semoga tulisan random ini bermanfaat meski hanya sebesar butiran pasir. Masih ada 19 / 20 hari tersisa di bulan mulia ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap istiqomah di bulan mulia ini, termasuk istiqomah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas membaca Al-Quran. Aamin.










4 comments:

  1. Setuju nih mbak. Sebagian dr kita ((KITA)) *saya maksudnya :)* sayangnya masih bergelut dg sekedar baca Al Quran, tp masih jauh dr pemahaman. Tfs mbak, reminder banget ini.

    ReplyDelete
  2. Postingan yang menyejukkan. Penuh pencerahan :)

    ReplyDelete
  3. Warottilil qurana tartila.
    Bacalah Qur'an secara pelan dan tartil.

    Kita menyimak pun dpt pahala. Apalagi bacaannya bagus sehingga sangat enak utk dinikmati.

    Trims telah berbagi.

    ReplyDelete
  4. Semoga di Sosa Ramadan ini tetap bisa melanjutkan niat mengkhatamkan Alquran... Amin...

    ReplyDelete