Riawani Elyta: Resensi Buku Seberapa Berani Anda Membela Islam ; Membangun karakter pemberani untuk Menegakkan Kemurnian Islam

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 30 November 2016

Resensi Buku Seberapa Berani Anda Membela Islam ; Membangun karakter pemberani untuk Menegakkan Kemurnian Islam

Mari jujur mengakui, bahwa beragam masalah yang dihadapi umat muslim saat ini, tidak hanya berasal dari ancaman dan gempuran pihak-pihak luar yang ingin melemahkan atau menghancurkan Islam, tetapi juga berakar dari krisis umat Islam itu sendiri. Dan salah satu krisis terbesar yang melanda umat Islam masa kini, adalah krisis keberanian. Keberanian untuk menegakkan kebenaran yang berlandaskan ajaran Islam, keberanian untuk membela Islam sebagai satu-satunya agama rahmatal lil alamin di muka bumi, dan keberanian untuk melawan segala bentuk penistaan dan pelemahan terhadap Islam.


Lantas, seperti apa bentuk keberanian yang seharusnya dimiliki oleh semua umat Islam? Bagaimana cara mengupayakannya? Dan bagaimana pengejawantahan sikap berani yang dicontohkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW serta para sahabat?

Semuanya akan anda temukan dalam buku berjudul Seberapa Berani Anda Membela Islam karya Na’im Yusuf ini.

Buku setebal 288 halaman ini dibuka dengan Bab Muqaddimah yang menerangkan tentang Esensi Sikap Berani. Dari berbagai sumber disebutkan, bahwa sikap berani tidak hanya identik dengan kaum pria saja, tetapi juga kaum wanita bahkan anak-anak. Sikap berani tidak selamanya berbanding lurus dengan kekuatan fisik, harta, jabatan atau gelar, melainkan sikap yang lahir dari kekuatan jiwa.

Ikhtisar esensi dari sikap pemberani ini dapat kita simak melalui jawaban Dr. Yusuf Qardhawi pada halaman 7 berikut ini :



Selanjutnya, buku ini membeberkan 13 jenis karakter pemberani yang seyogyanya melebur dalam diri dan jiwa setiap umat Islam, yaitu : 1) Mencintai Masjid, 2) Menyeru ke Jalan Allah, 3) Bersungguh-sungguh dan Tanggap,  4) Bersikap Aktif dan Bertanggung Jawab,  5) Bercita-cita yang tinggi,  6) Mulia dan Terhormat,  7) Berani di atas Kebenaran,  8) Berani,  9) Berjihad dan Berkorban,  10) Teguh diatas kebenaran,  11) Sabar dan Membiasakan Diri,  12) Memenuhi Janji dan Jujur pada Allah,  13) Tidak Mudah Putus Asa dan Pesimis.

Pada masing-masing karakter, kita akan menemukan pembahasan lengkap yang meliputi pengertian karakter tersebut, alasan mengapa setiap muslim wajib memilikinya, dalil-dalil yang mendasarinya, upaya yang harus kita lakukan untuk memenuhi standar dari masing-masing karakter, kisah-kisah teladan Rasulullah SAW dan para sahabat terkait implementasi karakter tersebut dalam jihad menegakkan kebenaran Islam, juga dilengkapi syair-syair indah yang semakin memperkaya muatan buku ini.

Saya kutip ikhtisar dari beberapa karakter pemberani tersebut, sebagai berikut :
      1)      Mencintai Masjid
Masjid merupakan tempat pembentukan lelaki yang sebenarnya. Di tempat inilah mereka  mensucikan diri, bersujud, berzikir dan shalat. Perdagangan, jual beli dan berbagai tontonan duniawi tidak mampu melalaikan mereka dari mengingat Allah SWT dan mengerjakan  shalat. Karena itu mereka berhak mendapat nikmat berupa perlindungan Arsy ar rahman pada hari dimana tidak ada perlindungan kecuali perlindunganNya. (hal. 24).

      2)      Menyeru ke Jalan Allah
Seorang lelaki pemberani adalah yang berani menyampaikan ajaran Tuhannya, mengatakan yang benar, dan tidak takut pada cercaan yang menyakitkan. Sebab, sebaik-baik jihad adalah mengatakan yang benar di depan penguasa yang zalim (hal. 26).

      3)      Bersungguh-sungguh dan Tanggap
Sifat sungguh-sungguh harus ada dalam kehidupan laki-laki dan para da’i. Sebab hanya dengan kesungguhan, kewajiban dan tanggung jawab dapat dilaksanakan, risalah ketuhanan dapat disampaikan, dakwah dapat disebarluaskan, dan semua penderitaan serta kesulitan dapat dikalahkan.

      4)      Bercita-cita yang tinggi
Al-Quran mendorong umatnya untuk bercita-cita tinggi. Maksud dari bercita-cita tinggi di sini adalah menganggap kecil sesuatu jika belum sampai puncaknya. Yaitu puncak  kesempurnaan dalam ilmu dan amal (hal. 80).
Adapun sarana-sarana yang dapat membantu umat Islam untuk mempertinggi cita-cita, diantaranya : ilmu, dzikir, doa, bersahabat dengan orang-orang yang bercita-cita tinggi, selalu mengingat hari akhir, dan lain-lain. 

Pertanyaannya, mengapa karakter pemberani ini wajib dimiliki setiap umat Islam, khususnya umat Islam masa kini? 


Jawaban yang dikemukakan pada bab penutup buku ini, layak untuk kita renungkan :
“Badai yang menyerang kapal Islam sangat besar dan ganas. Usaha besar-besaran yang dimunculkan musuh-musuh yang keras dan sangat membenci Islam, mengharuskan kaum Muslim sadar kembali dengan petunjuk mereka dan menguatkan hubungan mereka dengan Allah, hingga kemuliaan dan kehormatan kembali pada agama Islam.” (hal. 268).
Inilah kenyataan yang kita hadapi saat ini. Ditambah lagi kenyataan akan degradasi keberanian umat Islam itu sendiri dalam membela dan menegakkan kemurnian Islam. Bahkan jauh sebelum hari ini, Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya sebagaimana diriwayatkan oleh Tsauban, “Suatu masa nanti, kalian akan diserbu oleh musuh-musuh kalian dari berbagai penjuru seperti hidangan yang diserbu orang-orang yang kelaparan dan ingin memakannya.” 

Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kita yang sedikit ketika itu, wahai Rasulullah?”
 Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, bahkan pada hari itu jumlah kalian sangat banyak, namun seperti buih di lautan. Allah cabut rasa cinta kasih dari hati – hati kalian dan ketika itu kalian dijangkiti penyakit al-wahn.” 

Para sahabat bertanya lagi, “Apa itu al-wahn?” 
Rasulullah SAW bersabda, “Cinta dunia dan takut pada kematian.” 
(hal. 173).
  
Oleh karenanya, tak ada jalan lain, umat Islam masa kini harus bersungguh-sungguh dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam, memperkuat ukhuwah dan merapatkan barisan, bersatu padu dan memiliki tujuan yang sama, yaitu menegakkan kebenaran dan menebarkan kebajikan yang bersumber (hanya) dari ajaran Islam. Karena Islam adalah satu-satunya agama yang membawa rahmat bagi seisi alam. Membawa keselamatan bagi pemeluknya dunia dan akhirat. Tentu saja, sepanjang umatnya melaksanakan segala perintah Allah SWT dan membela kebenaran Islam hingga titik darah penghabisan. Rela mengorbankan jiwa dan harta demi dakwah dan meninggikan kalimat Allah swt.

Dan sungguh ...... ini merupakan perjuangan maha berat. Perjuangan yang membutuhkan keberanian sebagai syarat mutlaknya. Yaitu keberanian yang  lahir dari kekuatan hati dan ketetapan jiwa untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Keberanian yang mengejawantah dalam ibadah, amal, istiqamah, dakwah, dan jihad fisabilillah.

Kehadiran buku ini, sangat tepat kiranya di tengah krisis keberanian yang tengah melanda umat Islam masa kini dan gempuran berbagai pihak yang ingin melemahkan Islam, karena :

 1.        Buku ini akan membawa kita menyusuri jejak-jejak keteladanan para nabi dan Rasul, terutama Rasulullah SAW dan para sahabat Nabi dalam hal keberanian mereka berdakwah dan jihad fisabilillah. Di sini, kita akan menemukan serangkaian kisah-kisah heroik nan menggugah, dari para sahabat pejuang Islam seperti Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, Thalhah bin Ubaidillah, dan seterusnya yang rela mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk menegakkan kemurnian Islam dan kalimat Allah SWT. Keteladanan mereka, mungkin terasa mustahil untuk diikuti masyarakat awam seperti kita, namun sudah selayaknya menjadi standar kita dalam membangun karakter keberanian untuk menegakkan kemurnian ajaran Islam.

2.   Buku ini menguraikan secara detil dan komprehensif tentang karakter-karakter pemberani sesuai tuntunan Islam, dalil-dalil yang mendasarinya, bagaimana cara mengupayakannya, dan bagaimana pula cara untuk tetap mempertahankan keteguhan karakter ini di tengah berbagai fitnah dan cobaan.

3.        Buku yang akan menggugah semangat kita untuk ikut ambil bagian dalam barisan pejuang Islam, meski bentuk kontribusi yang mampu kita berikan masih terlalu kecil dibandingkan apa yang pernah dilakukan para Rasul dan sahabat, juga generasi as-Salaf ash-Shalih.

4.       Buku yang akan membuka mata hati kita akan pentingnya memiliki sifat pemberani, dan mengetuk kesadaran kita tentang keutamaan dan ganjaran yang dijanjikan  Allah untuk hambaNya yang berani berjihad menegakkan ajaran Islam dan membela kebenaran.

Bersanding dengan berbagai kelebihan yang dimiliki buku ini, bukan berarti tak ada kekurangan didalamnya. Berikut diantaranya : 

1.   Letak judul untuk masing-masing karakter yang langsung bercampur dengan pembahasan membuat fokus pembaca sedikit tereduksi, hingga terkadang tak menyadari pembahasan satu karakter telah bergerak pada karakter berikutnya.

Tata letak judul karakter yang berbaur dengan pembahasan
 2.       Standar karakter keberanian yang diusung buku ini tergolong tinggi untuk golongan muslim awam, yaitu mereka yang menjalankan ajaran Islam sebatas kadar kemampuan atau bahkan sekadar menggugurkan kewajiban. Oleh karenanya, bagi golongan ini, proses membaca dan memahami isi buku ini memerlukan pendampingan dan arahan dari guru ataupun menelaahnya bersama-sama didalam majelis ilmu, agar muatannya benar-benar dapat menggugah semangat keberanian untuk membela Islam dan bukan sebaliknya, memunculkan rasa pesimis untuk bisa memenuhi standar pemberani sebagaimana yang diuraikan didalam buku ini.

Terlepas dari kedua poin diatas, buku ini sangat direkomendasikan bagi semua umat Islam masa kini, tak hanya untuk membangkitkan dan menguatkan semangat keberanian dari dalam diri untuk ikut berjuang membela Islam dan menjadi pedoman menggali karakter positif yang menjadi ciri umat pemberani, tetapi juga sebagai bekal membentuk karakter-karakter pemberani generasi Islam masa depan. 

Jadi....seberapa berani anda membela Islam?  

Tunda dulu jawaban anda sampai anda membaca dan menuntaskan isi buku yang “berani” ini.

Sebagai penutup, firman Allah swt dalam surat An-Nisa ayat 95 ini, semoga dapat menjadi penggugah kesadaran kita akan keutamaan umat Islam yang berani dalam berjihad fisabilillah :

“Tidaklah sama antara beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (yang tidak turut berperang). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.”


Judul            : Seberapa Berani Anda Membela Islam?
Penulis        : Na’im Yusuf
Penerbit     : Maghfirah Pustaka
Tebal            : 288 hal
Terbit           : Mei 2016

4 comments:

  1. Bagus bukunya mba rasanya merinding baru baca sedikit ulasannya :) buku ini sesuai dengan kondisi kekinian y mba..
    Btw gudluck Mba as always tulisannya bagus semoga menang ^^

    ReplyDelete
  2. Selamat ya Mbak... Juara pertama ini resensinya :)

    ReplyDelete