Riawani Elyta: Menjadi Dewasa dan Bahagia di Usia Cantik

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 22 November 2016

Menjadi Dewasa dan Bahagia di Usia Cantik

Menjadi Dewasa dan Bahagia di Usia Cantik
I’am 38 yesterday.
Not young anymore.
But I feel more stable and comfort at this age.
Thanks for all best wishes.
Hope the goodness becomes yours too....

Tulisan ini saya goreskan di akun instagram saya, tepat sehari setelah usia saya menapak angka 38, pada 13 November lalu. Angka yang sudah lumayan banyak. Dan secara usia, yes, I'm not young anymore.

Meski demikian, inilah kali pertama dalam sejarah pengulangan hari lahir saya di usia yang sudah memasuki kepala tiga ini, saya merasa sangat bahagia.

Kenapa?

Karena saat ini, saya merasa jauh lebih nyaman, lebih percaya diri, stabil, dan hidup terasa lebih indah dibandingkan tahun-tahun yang sudah saya lewati. In the other words, now is the best moment of my life at this age. 

Tentu, bukan tanpa alasan jika hal ini baru saya rasakan di usia yang sekarang. Bukan pula saya tak bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan Allah sejak hari pertama saya menatap dunia. Tetapi, karena dalam setiap masa, kebahagiaan muncul dari sebab yang berbeda-beda dan memberi kesan yang berbeda-beda pula. Dengan kata lain, setiap fase dalam kehidupan kita memiliki jenis kebahagiaannya masing-masing. Contohnya saja, saat saya masih berusia 17, kebahagiaan terbesar saya adalah saat bisa berkumpul bersama sahabat-sahabat dekat dan tertawa lepas, juga saat diam-diam bisa melihat wajah cowok idola sepuasnya....upps!

Lantas, apa yang membuat saya merasakan bahwa usia ini adalah momen terbaik saya saat ini? Usia yang juga disebut sebagai #usiacantik bagi  kaum wanita ini? Yuk, ikuti cerita saya ini yuk :

Merajut kebahagiaan bersama keluarga

“Sebahagian dari kesempurnaan kebahagiaan di dunia,
adalah memiliki keluarga yang bahagia.”


Inilah yang saya rasakan sekarang. Tanpa terasa, perjalanan waktu telah mengantarkan saya pada tahun ke-14 pernikahan, di tahun ini. Telah banyak  warna hidup saya lalui bersama keluarga – suami dan anak-anak. Pahit, getir, manis, suka, duka. Telah beragam cara pula, pernah saya tempuh  untuk mengatasi berbagai masalah dalam keluarga. Tak semua cara yang saya lakukan itu benar. Tak semua masalah berakhir dengan happy ending. Tetapi, satu yang pasti : semua itu menjelma serangkaian proses yang mendewasakan saya. Jiwa dan pikiran. Sikap dan perbuatan. 

Tak saya pungkiri, bahwa kedewasaan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, berbanding lurus dengan cara kita memandang arti bahagia dan besarnya porsi kebahagiaan yang kita rasakan. 

Semakin dewasa sikap dan pikiran kita, maka semakin mudah bagi kita untuk menemukan kebahagiaan meski di dalam ceruk terkecil sekalipun. Dan kedewasaan inilah, yang sangat membantu saya dalam berpikir, bersikap dan bertindak saat menghadapi masalah dalam keluarga. Kedewasaan juga membuat saya menyadari, bahwa kebahagiaan keluarga adalah prioritas. Saya tak merasa bahagia jika belum berhasil membuat keluarga saya bahagia. Sebaliknya, saat kita berhasil membuat keluarga bahagia, kita pun akan merasa bahagia. Oleh karenanya, inilah momen ketika kedewasaan diri membuat saya dapat berbuat lebih maksimal untuk membahagiakan keluarga, dan kebahagiaan keluarga menjadi penyempurna kebahagiaan hidup saya.

Kebahagiaan menjalani profesi
Menjadi abdi negara sejak 17 tahun lalu, bukanlah sebuah fase yang singkat. Berbagai macam pengalaman sudah saya lalui. Memulai pekerjaan dari nol dan mengerjakan segala pekerjaan selayaknya seorang bawahan di “kasta” terendah. Menyapu dan mengepel ruang kantor, membuatkan minum untuk atasan, mencuci gelas dan piring, membuat amplop, dan sebagainya. Lalu perlahan mulai mengerjakan tugas-tugas administrasi, hingga beranjak pada tugas-tugas dengan porsi tanggung jawab serta tingkat kesulitan yang terus bertambah.

Jujur saja, dalam hal pekerjaan ini, saya pernah mengalami titik terendah. Saya pernah merasa jenuh saat berhadapan dengan rutinitas yang monoton selama bertahun-tahun, dan selama bertahun-tahun pula, saya mengalami pertentangan batin antara pekerjaan dengan hati nurani, hingga amarah yang mengendap terhadap ketidakadilan. Dan terhadap semua itu, saya hanya punya dua pilihan : go on, or left.

Dan sampai hari ini, .......saya masih memilih yang pertama. 


Saya tak ingin menyerah sebagai pecundang. Saya ingin keluar sebagai pemenang atas semua problema yang saya hadapi di kantor. Karena buat saya, menjadi (lebih) dewasa juga berarti siap untuk berjuang dan memenangkan masalah.

Alhamdulillah, di usia saya yang sekarang, satu per satu masalah pekerjaan telah saya lewati. Bukan berarti saat ini saya telah terbebas sepenuhnya dari masalah, bahkan permasalahan yang datang justru kian kompleks dan beragam. Namun, pengalaman yang diberikan oleh perjuangan tahun demi tahun saat mengatasi satu demi satu masalah, telah membangun pondasi kedewasaan saya selapis demi selapis untuk menghadapi persoalan yang lebih besar lagi. 
Dan satu per satu pula, hal-hal yang pernah saya cita-citakan dan saya pikir tak akan pernah kesampaian, menjelma kenyataan. Izinkan saya  bercerita sejenak.

Sejak jaman sekolah dulu, saya sering ditunjuk menjadi pembawa acara. Hingga pernah terbetik cita-cita untuk menjadi seorang presenter dan menekuni dunia broadcasting. Tetapi, roda hidup kemudian menggiring saya ke putaran yang berbeda. Siapa menyangka, keinginan itu justru terkabul saat saya telah menjadi seorang pegawai.

Menjadi MC di sebuah acara pemerintah
Sampai hari ini, Alhamdulillah, telah puluhan kali saya dipercaya menjadi pembawa acara pada acara-acara formil dan seremoni di kantor. Juga acara-acara peringatan agama. Saya juga pernah meraih juara lomba MC antar dinas dan organisasi wanita se-kabupaten. Saya juga pernah mengisi narasi dalam bahasa Inggris untuk video promosi daerah. Terakhir, saya dipercaya untuk menjadi MC berbahasa Inggris dalam acara investment forum yang menghadirkan tak kurang dari puluhan investor asing.

Oh ya, bicara soal bahasa Inggris, setelah lulus SMA, saya sempat mengenyam pendidikan bahasa Inggris di Singapore. Sayang, ilmu yang saya dapat harus luntur pelan-pelan saat memasuki dunia kerja yang nyaris tak bersentuhan dengan bahasa Inggris. 

Namun, sekali lagi Allah menunjukkan kasih sayangNya kepada saya. Tahun 2014, saya dimutasi ke dinas yang menangani promosi dan investasi. Tahun berikutnya, saya juga menjadi anggota lembaga yang menangani hal serupa. Menjadi bagian dari kedua lembaga pemerintah yang mengelola investasi ini, termasuk investasi luar negeri, membuat pelajaran Bahasa Inggris yang pernah saya peroleh dan sudah mengendap sekian lama akhirnya terpakai juga. Saya kembali memperoleh kesempatan mengaplikasikan bahasa Inggris untuk tugas presentasi, terjemahan, pengerjaan brosur dan narasi.

Selain bahasa Inggris, saya juga dipercaya menjadi penulis konten untuk web lembaga tersebut. Dan ini sesuatu yang klik dengan passion saya sejak 8 tahun silam, yaitu menulis. Akan saya ceritakan di poin selanjutnya ya tentang passion ini.

Sebuah penelitian mengungkapkan, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan dalam bekerja, diantaranya  adalah gaji, prestise, pekerjaan yang memberi manfaat, dan kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin.

Alhamdulillah, semua faktor ini, telah pun saya peroleh. Saat ini, saya telah memiliki gaji yang cukup untuk menopang hidup keluarga, pekerjaan yang saya kerjakan memiliki nilai prestise dan manfaat, dan saya juga dipercaya menjadi pemimpin meski masih di level bawah. Ditambah dengan semua pencapaian yang saya ceritakan diatas, satu yang ingin saya katakan, bahwa di usia ini, proses pendewasaan diri untuk mengupayakan hadirnya kebahagiaan dalam menjalani profesi, merupakan pencapaian yang sangat saya syukuri setelah belasan tahun menjalaninya dari nol.

Kebahagiaan dalam berkarya

“Follow your passion, and you will never work a day in your life.”

Seperti yang sudah saya sebutkan, bahwa sejak tahun 2008, saya memiliki passion di bidang menulis. Kemunculan passion yang menurut saya hadirnya agak terlambat. Karena saat itu saya sudah memasuki usia kepala tiga. Untungnya, kesadaran ini ternyata cukup efektif mendorong saya berusaha lebih keras agar “telat start” tak membuat saya ketinggalan dari yang sudah memulainya lebih awal.

Alhamdulillah, kasih sayang Allah terus membersamai saya dalam proses ini. Tanpa terasa, sampai saat ini saya sudah menerbitkan 16 novel, 4 buku nonfiksi duet dan puluhan antologi. Beberapa penghargaan menulis tingkat nasional juga pernah saya raih. Setahun terakhir, bersama Leyla Hana, saya juga membuka sekolah menulis online Smart Writer yang fokus pada pelatihan menulis buku.

Diantara buku saya yang sudah terbit
 
Salah satu penghargaan lomba menulis novel

Saat menjadi pemateri workshop penulisan

Dan proses ini – saya akui – memerlukan kesabaran tingkat dewa, latihan prima dan mental baja. Tak jarang, saya mengalami lelah, sakit, kecewa, saat dalam proses tersebut saya gagal meraih apa yang saya harapkan. Saya juga kerap tergoda untuk mencoba berbagai jenis aktivitas menulis sehingga saya sempat mengalami hilang fokus untuk menekuni satu bidang dengan maksimal. Saya juga pernah mengalami ketersesatan ambisi untuk bisa mencapai segala yang berhasil digapai orang lain.

Namun, semua painful ini sangat berkontribusi dalam menempa kedewasaan saya. Tak hanya dalam proses menulis itu sendiri, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Kedewasaan dari hasil tempaan itulah yang membuat saya kini lebih fokus pada pencapaian kebahagiaan, memelihara rasa syukur dan tak gampang tergoda dengan pencapaian orang lain. Saya tak lagi ngoyo ingin menjajal segala jenis aktivitas menulis. Saya lebih memprioritaskan pilihan pada aktivitas yang membahagiakan saya. Karena setinggi apapun prestasi yang kita capai, sebanyak apapun karya yang kita torehkan, semuanya tak akan berarti apa-apa selama kita gagal bersyukur dan tak jua menemukan dimana sesungguhnya kebahagiaan berada.

Selain menulis buku dan menjadi mentor, belakangan, saya juga mulai menekuni dunia blogger. Dunia yang satu ini, kian melengkapi kebahagiaan saya dalam menulis, karena didalamnya saya memperoleh lebih banyak ilmu, teman, peluang menambah penghasilan dan juga membuat tulisan saya lebih terakses oleh masyarakat luas.

Kebahagiaan oleh mature beauty

Di usia yang sekarang, cukup banyak perubahan fisik saya alami, diantaranya adalah kemunculan flek dan kerut-kerut halus di wajah. Tetapi, Alhamdulillah, saya tidak mengalami rasa cemas yang berlebihan. Bahkan, di luar dugaan saya, di usia ini, justru semakin banyak orang yang menyebut saya ......cantik. (Ehm). Awet muda (Uhuk!) Dan lebih sering tersenyum (ehm lagi).

  

Saya yang sekarang, lebih sering tersenyum di foto

Saat reuni SMA. Am I looked younger? Iyain aja deh, hehe
Saya juga tidak tahu kenapa. Mungkin, karena kecantikan di usia ini tidak lagi didominasi oleh apa yang terpancar di wajah seperti halnya saat masih remaja dan berusia muda, tetapi terpancar dari hati yang bahagia dan aura kedewasaan yang sudah menyatu dalam diri. Dan diantara semua pujian yang ditujukan kepada saya, inilah kalimat pujian yang paling membuat saya berbunga-bunga :
“Mama sekarang tambah cantik. Papa kayanya ngalamin puber kedua deh. Jadi tambah cinta sama mama.”

Oalaah, siapa orangnya yang nggak bahagia, saat mendengar kalimat ini terucap dari bibir sang kekasih hati dengan mata berbinar penuh cinta?

Buat saya, sudah menjadi kewajiban istri untuk turut melindungi pandangan suami dari “pemandangan-pemandangan indah” di luar sana. Salah satunya, adalah dengan merawat kecantikan agar suami betah memandang dan membuatnya jatuh cinta lagi (ehm). Sehingga saat suami, unexpectedly mengalami puber kedua, pubernya juga dengan istri sendiri, jatuh cinta (lagi)nya pun dengan istri sendiri.

Nah, kalau ditanyakan kepada saya, bagaimana cara merawat kecantikan wajah di usia yang sebentar lagi bakal memasuki kepala empat ini? Yang menjadi prioritas saya adalah (hanya) mengenakan produk perawatan kulit yang tepat.  Perubahan kulit pada usia 30an umumnya ditandai dengan munculnya kerut, baik kerut statis maupun dinamis, menurunnya kelembapan kulit dan munculnya masalah kulit seperti flek, hiperpigmentasi dan jerawat.

Jadi, produk perawatan yang tepat tentunya adalah yang mampu meregenerasi sel kulit wajah, membuat kulit terasa lebih lembap dan halus serta menyamarkan kerutan.

Alhamdulillah, sejak sebulan lalu, saya menemukan “sahabat” perawatan kecantikan yang mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan kulit saya. Terbukti, sejak hari pertama pemakaian, kulit saya terasa lebih lembap, kenyal dan halus merata. Kerut-kerut dinamis juga mulai berkurang.

Pingin tahu sahabat baru saya itu?

Ini dia : Revitalift Night Cream.

Produk ini memiliki 8 (delapan) kandungan natural Lifter atau perawat kekencangan alami yaitu Collagen I, III, VI. Juga mengandung Fibrilin dan Elastin yang dapat membantu menjaga kekencangan kulit. Chondritin S yang akan mengembalikan elastisitas kulit dari dalam. Collagen IV, Perlecan dan Integrins untuk memastikan lapisan berbeda dalam kulit tetap menyatu. Formula Pro Retinol A untuk menyamarkan kerutan. Dan Centella Asiatica untuk berfungsi mencegah munculnya kerutan dari dalam serta memperbaiki kerutan dari luar.

Semua kandungan ini sangat efektif untuk menyamarkan kerutan yang mulai muncul pada wanita di usia > 30an khususnya pada 8 (delapan) titik kerutan : dahi, kelopak mata, sekitar mata, antara mata, kantung mata, pipi, area di atas bibir dan juga leher. Itu sebabnya, dengan berbagai kandungan yang istimewa ini, efek perubahannya pada kulit wajah bisa saya rasakan dalam waktu yang instan. Ke depan, insya Allah saya akan tetap bersahabat dengan produk yang satu ini juga melengkapi series-nya dengan produk perawatan yang lain.


 Demikianlah kisah saya tentang menjadi dewasa dan bahagia di #usiacantik, di angka yang juga nggak kalah cantik ini : 38. Bukan berarti hidup saya saat ini melulu diisi oleh kebahagiaan semata, namun perjalanan hidup dan kedewasaan yang terus bertumbuh, telah membentuk saya menjadi pribadi yang berusaha untuk selalu bahagia, bersyukur atas pemberianNya, memandang hidup dengan pikiran positif dan membahagiakan orang-orang yang saya cintai. Karena kebahagiaan, sejatinya akan memancarkan aura kecantikan kita dari dalam. Kebahagiaan akan membuat hidup terasa semakin indah meski usia terus bertambah. Dan kebahagiaan jugalah .....yang membuat kita tetap percaya diri untuk menapaki sisa usia dengan menjadikan hidup ini lebih bermakna.



“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”










13 comments:

  1. 38 ??? bener lah kata orang..masih cantik dan awet muda...

    ReplyDelete
  2. Wuaaah lengkap artikel. Iya, semakin bahagia dan dewasa, kecantikan makin terpancar.

    ReplyDelete
  3. kapan novelnya terbit lagi mbak? :)

    ReplyDelete
  4. ketampol baca quote nya winners never quite, and quitters never win. Jadi semangat untuk terus menulis disaat lagi down nulis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun sering up n down mbak...selalu butuh suntikan semangat baru

      Delete
  5. Salut sama mbak Lyta. Banyak bgt bakat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih...gak terlalu berbakat sih..cuma slalu penasaran ingin nyoba macem2

      Delete
  6. Masya Allah pengalamannya luar biasa ya Mbk, semoga makin bahagia. Suka lihat foto Mbk yang tersenyum :) makin cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin....hehe..udh move on dr foto jutek 😊

      Delete
  7. Waaah, salut loh sama perjuangan kak Ria, dimulai dari nol, dari titik terendah sampai di posisi sekarang. Diundang dan menjadi MC berbagai acara, trus aktif menulis, udah nerbitin novel dan buku pula.

    Makin cantik di usia menjelang kepala 4, sukses terus ya kak, dalam karir dan keluarga ^-^.

    ReplyDelete