Riawani Elyta: 5 (lima) pengalaman asyik saat Lebaran

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Sunday, 31 July 2016

5 (lima) pengalaman asyik saat Lebaran

pengalaman Lebaran


Kamu punya cerita Lebaran yang asyik? Saya punya! Lebih dari sekadar mengasyikkan, tetapi juga banyak hal yang menjadikan Lebaran tahun ini terasa sangat spesial buat kami sekeluarga.

Sekilas flashback, untuk Lebaran tahun ini, saya dan keluarga berencana pergi ke Pekanbaru sebelum mengunjungi kampung halaman orang tua saya di Jambi. Oh ya, saya dan keluarga tinggal di Tanjungpinang, provinsi Kepulauan Riau. Yang belum tahu kota kecil ini, silakan browsing aja ya, hehe.

Alhamdulillah, Allah Yang Maha Baik meridhoi rencana ini, dan masih ditambah pula “bonus” dariNya berupa serangkaian pengalaman yang mengasyikkan. Pingin tahu apa aja pengalaman mengasyikkan yang udah kami lalui pada Lebaran tahun ini? :) Yuk ikuti cerita saya ini :

1.      Dapet penginapan harga kaki lima fasilitas bintang lima
Hehe. Jargon rumah makan ini mah. Nggak pa-pa deh ya pinjem sebentar. Jadi, jauh-jauh hari sebelum berangkat, saya udah cari-cari informasi tentang penginapan yang murmer (murah meriah) di Pekanbaru. Dari beberapa info yang saya peroleh, info yang menurut saya paling mencerahkan adalah dari teman saya Oci YM yang memang sudah lama berdomisili di Pekanbaru.

Oci merekomendasikan penginapan syariah Hasanah Guest House yang terletak di Jalan Paus. Setelah cek harga dan melihat-lihat gambar fasilitas melalui webnya, akhirnya.....Bismillah, seminggu sebelum berangkat, saya book penginapan ini melalui webnya.

Sesampai di sana, rekomendasi Oci ternyata benar, sodara-sodara. Penginapan ini memiliki fasilitas yang setara hotel, namun dengan harga terjangkau. Sebagai gambaran, kami memesan dua kamar. Yang satu standard room dengan rate Rp.195.000/malam, satu lagi Family Room dengan rate Rp.385/malam.

Meskipun harganya irit, masing-masing kamar dilengkapi dengan fasilitas setara hotel lho : AC, teve, kamar mandi, bathroom kit, tempat tidur, lemari pakaian, free wifi dan air mineral gratis. Untuk Family Room, selain ukuran kamarnya lebih besar, juga terdapat dua tempat tidur di sini. Tempat tidur besar ukuran king size yang cukup untuk 2 orang dewasa, ditambah 1 single bed tunggal. Jadi buat kamu yang bawa rombongan 3 orang, family room ini pas banget deh kapasitasnya.

Sebelum saya lanjutkan, sepertinya perlu saya beritahukan dulu nih, bahwa cerita di poin 1 ini 100% bebas pesan sponsor. Saya menceritakan ini, karena buat saya dan keluarga, mendapat penginapan murah meriah dengan fasilitas yang nyaman, adalah salah satu hal penting yang membuat acara libur Lebaran jadi lebih mengasyikkan. Kenapa? Karena dalam perjalanan Lebaran ini, saya juga membawa ketiga anak saya dari range usia balita hingga pra remaja, serta seorang kerabat yang sudah lansia. Kebayang ‘kan, apa yang terjadi kalau rombongan dengan varian usia “sensitif” ini mendapat fasilitas penginapan yang mengecewakan?

Penasaran sama penginapan yang saya ceritakan? Ini nih ada beberapa foto-fotonya.

family room

mushola

Restoran

Lobi

Tips : Mendapat penginapan dengan harga bersahabat di musim libur Lebaran tergolong hal yang langka. Oleh karenanya, jika kamu berencana menginap di hotel atau penginapan saat liburan tanpa menggunakan jasa paket perjalanan wisata, sebaiknya carilah info pada orang-orang yang tahu persis situasi kota yang bakal kamu kunjungi atau yang pernah berkunjung kesana. Lakukan booking kamar jauh-jauh hari jika akan membawa keluarga dalam jumlah besar, sebagai antisipasi terhadap kamar yang udah full-booked atau harga yang lebih tinggi dari hari biasa. 

2.      Bertemu sanak saudara di Pekanbaru setelah 15 tahun nggak bertemu
Appaa? 15 tahun? Serius?? Ya iya lah. Kalian boleh cek data pengunjung kota Pekanbaru, kapan terakhir nama saya tercatat pernah mengunjungi kota bertuah ini. (siapa juga yang mau ngecek ya, hihihi).

Singkat cerita, terakhir kali saya datang ke kota Pekanbaru, adalah pada tahun 2001. Setelah itu, saya tidak pernah lagi menjejakkan kaki kesana hinggalah momen Lebaran tempo hari.
Jadi, bisa kebayang ‘kan, seperti apa suasana pertemuan dengan sanak saudara dan kaum kerabat yang terakhir kali bertemu, adalah 15 tahun lalu?

Bersama sanak saudara di Pekanbaru
Tentu saja, kedatangan kami disambut dengan suasana penuh haru. Saya pun nyaris menitikkan air mata saat berpelukan dengan tante Semah, adik almarhum papa angkat saya, yang sejak dulu sangat menyayangi saya dan seringkali bertanya kapan saya akan datang lagi ke Pekanbaru.

Namun, suasana haru ini segera berganti kehangatan dan keceriaan saat saling mengobrol dan berbagi cerita. Tahu-tahu saja, waktu berlalu begitu cepat namun obrolan kami belum juga berakhir. 15 tahun, bukanlah masa yang singkat untuk mengurai semua cerita. Belum pula semua kerabat dan saudara sempat kami kunjungi, meskipun kami sudah berusaha menggunakan waktu 3 hari berada di Pekanbaru seefektif mungkin.

“Sebentar betul kalian di sini, belum sempat kami pelawe (ajak) makan nasi lagi di sini.”  Demikian, rajuk tante Semah tempo hari via ponsel.

Andai tante tahu, kami sekeluarga pun belum merasa puas bersilaturahim dengan semua sanak keluarga di Pekanbaru. Namun, saya yakin, bahwa silaturahim ini, lebih dari sekadar mengasyikkan, tetapi juga insya Allah akan memperpanjang usia dan rejeki. Jadi, saya juga yakin, dengan izin Allah, suatu saat saya dan keluarga akan kembali datang ke Pekanbaru.
Doakan kami panjang umur murah rejeki ya, Tante, agar tahun depan bisa kembali kesana! 

3.      Kopdar dengan teman duet menulis
Selain menulis buku solo, saya juga menulis beberapa buku secara duet. Dan salah satu rekan duet saya, adalah Oci YM yang tinggal di Pekanbaru. Bersama Oci, saya sudah menulis dua buku nonfiksi remaja di tahun 2013 dan 2016 ini. Namun, belum  pernah sekalipun kami bertemu muka. Selama ini, komunikasi kami hanya dilakukan via ponsel dan sosial media.

Jadi, kesempatan berlibur ke Pekanbaru, nggak saya sia-siakan dengan mengunjungi Oci. Saat pertama bertemu Oci, perasaan saya benar-benar buncah, sampai nggak tahu mau ngomong apa. Oci pun demikian, sampai Oci bilang, “Ini kaya’ mimpi ya, mbak.”

Yup. Oci benar. Rasanya seperti mimpi, bisa ketemu teman duet nulis buku yang selama ini hanya “bertemu” di facebook, SMS, dan juga surel.

Bersama Oci dan buku kami

Nggak hanya sekadar menerima kedatangan saya dan keluarga, Oci juga menjamu kami dengan makan malam yang enaak banget : sate dan tongseng. Saya sampe malu sendiri, saat hidangan Oci – terutama sate – langsung ludes begitu disantap sama anak-anak saya yang emang jago makan. Huhuuu, maafken ya Ci. Asli deh, saya rasanya pingin ngumpetin muka di bawah karpet, lihat piring sate ludes des sampe kuahnya pun tandas!

Semoga nggak kapok menerima saya dan anak-anak ya, Ci. Semoga suatu hari nanti kita bisa ketemu lagi. Dan semoga duet kita terus berlanjut ke buku-buku keren selanjutnya!

Dari kota Pekanbaru, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan ke kampung halaman orang tua saya di Jambi. Perjalanan dengan mobil rental milik penginapan itu menempuh waktu kurang lebih 10 jam. Sesuai penginapannya yang syariah, suasana dalam mobil rentalnya juga “syariah”. Sepanjang jalan, kami terus diperdengarkan dengan ceramah-ceramah agama dan murottal Quran. Dan ini ternyata cukup ampuh lho, menjaga mood anak-anak tetap tenang, hehe.

Sedikit tips saya untuk teman-teman yang ingin melakukan perjalanan panjang bersama anak-anak, jangan lupa siapkan 3 “alat tempur” ini :
  •  Makanan ringan dan air mineral, mengingat anak-anak suka ngemil, dan nggak selalu cocok dengan menu di rumah makan yang disinggahi. Perut yang selalu terisi juga bikin anak-anak nggak gampang mengeluh atau mual.
  • Obat-obatan ringan, seperti obat sakit perut, obat sakit kepala, termasuk minyak angin dan obat gosok (balsem), buat jaga-jaga kalau di perjalanan ada yang mendadak pusing, sakit perut, keseleo atau digigit binatang.
  • Baju ganti, terutama kalau membawa bayi dan balita. Segera ganti baju mereka saat basah atau ketumpahan air. Karena selain tidak nyaman, mengenakan baju basah juga bikin bayi dan balita gampang masuk angin.
Buat rekan-rekan yang hijabers dan ingin tetap tampil fresh meski menempuh perjalanan panjang, ini nih tipsnya :
a)   Kenakan pakaian dan jilbab yang nyaman, menyerap keringat, longgar dan nggak gampang kusut.
b)     Kenakan sendal atau sepatu dengan hak rendah agar kaki tidak lelah
c)   Bawa mukena, sebagai persiapan untuk sholat di kendaraan kalau situasi tidak memungkinkan untuk singgah di mesjid
d)     Sempatkan untuk tidur agar kondisi tubuh tetap fresh
e)     Hindari makanan yang dapat memicu sakit perut
f)       Rutin minum air putih untuk menjaga kulit tetap lembap dan tidak dehidrasi
g)    Siapkan tissue basah dan kosmetik di dalam tas tangan, untuk bikin wajah tetap terlihat fresh dan ceria di perjalanan
biar jauh, tetep harus fresh dan ceria 'kan? :D

Now, let’s go to Jambi! 

4.      Berwisata ke Gentala Arasy, ikon kota Jambi
Kalo udah sampe sini, belum sah kalo belum mengunjungi ikonnya kota Jambi. Apa itu? Apalagi kalo bukan Gentala Arasy! Jembatan dan museum budaya yang pembangunannya dimulai pada tahun 2012 dan diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla pada tahun 2014.

Saat mudik tahun lalu, kami berkunjung kesini baru sebatas sampai depan jembatan saja. Mengingat ketika itu sudah malam dan banyak anak-anak yang ikut. Sementara untuk bisa sampai di museum budaya Gentala Arasy yang terletak di seberang jembatan, kita harus terlebih dulu melewati jembatan yang panjangnya 503m dengan berjalan kaki!

jembatan dan menara Gentala Arasy
Iya benar. Jembatan ini adalah jembatan pedestrian, hanya diperbolehkan untuk para pejalan kaki. Tidak untuk kendaraan bahkan sepeda sekalipun. Jadi kalau ngajak anak-anak yang masih balita, kasihan juga kalo mereka sampe mengeluh kelelahan.

Maka kali ini, saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi Gentala Arasy. Sekitar pukul tujuh pagi, di saat anak-anak masih tidur, dalam kondisi belum mandi dan udah dandan rapi, saya bersama suami dan kakak sudah ngacir kesini. Kami pun berjalan kaki melintasi jembatan sambil tak lupa memotret panorama menarik di sekitar kami.

Sepagi ini, sungai Batang Hari sudah menunjukkan denyut aktivitasnya. Sebelum jembatan ini dibangun, penduduk Jambi seberang biasa menyewa perahu sebagai angkutan untuk menuju kota Jambi. Setelah jembatan berdiri, aktivitas tersebut masih berlangsung, namun jumlahnya sudah jauh menurun.

Sungai Batang Hari
Setelah melewati jembatan yang berkelok-kelok seperti huruf S itu, kami pun tiba di menara Gentala Arasy yang sekaligus berfungsi sebagai museum budaya. Setiap orang dikenai karcis masuk ke museum ini sebesar Rp.3.000,-.

Museum ini berisi rekam jejak kota Jambi sejak awal berdiri. Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa Jambi di masa lalu sangat lekat dengan nuansa religius. Ini dibuktikan dengan banyaknya ulama asal Jambi yang giat mengajar ilmu agama ketika itu.

dokumentasi tertulis tentang kiprah ulama Jambi
Di museum ini juga kita bisa melihat kitab-kitab yang ditulis para ulama tersebut, jubah yang mereka pakai pada masa itu, biografi masing-masing ulama, dan tentu saja perkembangan Kota Jambi dari masa ke masa termasuk kronologis pembangunan Gentala Arasy.

Salah satu kitab karya ulama Jambi

kronologis pembangunan Gentala Arasy
Mengunjungi tempat tujuan wisata seperti Gentala Arasy ini, merupakan pengalaman wisata yang sangat mengasyikkan. Kita nggak hanya dimanjakan dengan panorama alam Sungai Batang Hari yang indah, melihat kehidupan masyarakat bercorak tradisional seperti menggunakan perahu, mandi dan mencuci baju di tepi sungai, tetapi kita juga dapat menelusuri historis kota di masa lalu melalui dokumentasi dan benda-benda sejarah yang tersimpan di museum.

Relief historis di Gentala Arasy

 Gentala Arasy.....semoga saat mudik yang akan datang, saya bisa mengunjungimu lagi!


Tips : jika kamu ingin mengunjungi objek wisata ini, sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum pukul sembilan ataupun di sore hari sesudah pukul lima. Waktu ketika sinar matahari tengah bersahabat. Mengingat kamu harus berjalan kaki melintasi jembatan yang panjangnya ratusan meter, sehingga cukup melelahkan dan nggak nyaman untuk foto-foto jika dilakukan di bawah terik matahari. 

5.      One day Visit in Bambam Bakery
Bambam bakery? Nama yang unik ya? :D Ini adalah home bakery milik kakak saya, dan Alhamdulillah, pada mudik kali ini saya dan puteri kecil saya bisa ikut melihat dan terlibat dalam proses pembuatan roti di Bambam bakery. Dan ini merupakan kesempatan langka lho. Karena biasanya, pasca Lebaran, Bambam bakery ini belum beroperasi sampai anak-anak sekolah mulai beraktivitas kembali.

Meski kategorinya masih home bakery, dari segi peralatan dan fasilitas, bakery ini nggak kalah lho dengan bakery profesional. Produksinya juga udah mencapai diatas 1000 pcs roti per produksi.

Di bakery yang proses operasionalnya berlangsung di dalam ruko ini, saya dan puteri kecil saya berkesempatan melihat dan ikut serta mengadon roti dengan mesin berkapasitas 800 gram, menimbang, mencetak hingga memasaknya di oven raksasa yang mampu menampung 120 pcs roti dalam sekali bakar.

puteri kecil saya belajar menggunakan mesin

mesin pengadon roti berkapasitas 800 gram
Meskipun cukup sering bikin roti sendiri, membuat roti langsung di bakery dan menggunakan peralatan khas bakery itu, sensasinya jauh berbeda. Dan tentu saja....mengasyikkan! Karena di sini, dikelilingi oleh mesin-mesin pembuat roti dan mencium aroma roti matang yang baru keluar dari oven, kita merasa seperti jadi baker betulan!

Dan aroma roti-roti yang baru matang itu.... hmmm! Perut kenyang pun bisa mendadak lapar lagi!

roti siap dipanggang
roti baru matang.......hmmm

Boleh percaya boleh tidak, dalam tempo sepuluh menit, saya dan anak-anak udah menghabiskan satu loyang roti! Mau gimana lagi, roti yang baru matang dan langsung disantap itu, rasanya emang nikmat sekali! Apalagi, roti produksi home bakery kakak saya ini, nggak bohong deh, rasa dan aromanya nggak kalah lezat dengan bakery-bakery ternama! Kalo nggak percaya, datang aja ke Jambi, dan kunjungi home bakery-nya. Selain bisa melihat langsung proses produksinya, kamu juga bisa nyicipin roti yang fresh from the oven.

Tips : buat rekan-rekan hijabers yang ingin berbisnis dari rumah, bisnis home bakery ini layak dicoba. Ini sedikit tips yang saya peroleh dari perjalanan kakak saya membangun bisnis home bakery :
1.      Cari resep yang enak, lakukan eksperimen berkali-kali sampai ketemu resep yang pas
2.  Cari distributor lengkap penyedia bahan-bahan bakery dikotamu dan jadikan langganan (termasuk langganan ngutang)
3.      Awali dengan berinvestasi pada peralatan untuk kapasitas rumah tangga terlebih dulu
4.  Perkenalkan produk pada konsumen sasaranmu, dan secara konsisten memperluas pasar
5.      Jika pasar konsumenmu sudah kian meluas, baru deh secara bertahap tingkatkan investasi pada peralatan roti untuk kapasitas besar, dan rekrut karyawan untuk membantu produksimu

Demikianlah cerita Lebaran kami tahun ini yang begitu mengasyikkan dan menyenangkan. Sampai-sampai suami saya bilang sebelum pulang ke Tanjungpinang, “Rasanya ingin libur terus ya, Ma. Nggak usah buru-buru ngantor.” Bener banget, pa!

Oh ya, libur ini jadi tambah menyenangkan karena saat menghitung kembali semua pengeluaran selama liburan, ternyata masih di bawah ekspektasi jumlah maksimal yang udah kami persiapkan sebelum liburan.  Yeay! Alhamdulillah!

Meski libur Lebaran sudah berakhir, bukan berarti kesempatan menikmati momen yang mengasyikkan juga ikut berakhir, lho. Ini nih salah satunya, buat rekan-rekan hijabers khususnya yang tinggal di Jabodetabek, ada acara seru lagi bermanfaat digelar oleh Diari Hijaber yang sayang banget kalo dilewatkan. Andai saya tinggal di Jabodetabek, saya bakal meluncur kesini deh, hehe. Catat jadwalnya ya :

Nama acara : Hari Hijaber Nasional
Tanggal      : 7 s/d 8 Agustus 2016
Tempat      : Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat

Apa saja acara yang digelar pada even ini, dan siapa saja bintang tamunya, silakan cek infonya pada poster di bawah ini ya.



 Ayo meriahkan even hari Hijaber Nasional ini, teman, dan semoga kalian yang hadir di sana mendapat pengalaman yang nggak kalah seru dan mengasyikkan ya :D




11 comments:

  1. Wah seru sekali pengalaman lebarannya.
    Btw saya baru tau ada hari Hijaber Nasional.

    ReplyDelete
  2. wah memang seru ya kalau lebaran itu bsia bertemu dengan banyak orang bahkan banyak acara reunian menjelang lebaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak kadang lebaran juga dimanfaatkan untuk momen reuni

      Delete
  3. Waaah seru libur lebarannya. Rotinya bikin ngilerrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi pas baru keluar dari oven mbak, hehe

      Delete
  4. sangat mengharukan 15 th baru bisa ketemusanak saudara

    ReplyDelete
  5. biasanya waktu terasa sangat singkat

    ReplyDelete
  6. silaturahmi sambil mengenang nostalgia dahulu

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah... Mbak Lyta puas dengan penginapannya. Terharuuuu baca postingan inih. Moga suatu saat kita bisa jumpa lagi, siapa tahu ntar saya yang jalan-jalan ke Tanjung Pinang :)

    ReplyDelete