Riawani Elyta: Resensi Novel My Wedding Dress : Novel WeddingLit bernuansa Travelling

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 22 April 2016

Resensi Novel My Wedding Dress : Novel WeddingLit bernuansa Travelling



Sinopsis :

Kebayang nggak situasi seperti ini : saat-saat menjelang momen pernikahan, dengan tubuhmu yang sudah berbalut gaun pengantin, para tamu undangan dan keluarga sudah berkumpul, tinggal selangkah lagi kamu dan dia akan mengikat janji suci pernikahan, tiba-tiba saja kamu mendapat kabar kalau calon suamimu tidak akan datang dan pernikahan kalian dipastikan batal?

Duh, pasti deh, semua jenis perasaan negatif yang kamu kenal, bercampur menjadi satu : sakit, terluka, kecewa, malu, geram, marah, patah hati, trauma, apapunlah namanya.

Hal ini jugalah yang dialami Abigail Kenan Larasati, atau Abby, saat ditinggal calon suaminya Andre Danadyaksa atau Andre, pada menit-menit menjelang pernikahan mereka diikrarkan.  Peristiwa tak terduga itu membuat Abby memutar haluan hidupnya 180 derajat. Ia melepas karirnya yang sedang menanjak di salah satu konsultan arsitektur terbaik di Asia Tenggara dan banting setir menekuni bisnis online. Yaitu bisnis mendesain kartu ucapan dan sketsa (hal. 15).

Namun kesibukan barunya itu tak lantas membuat Abby dapat melupakan kenangan buruknya itu dengan mudah. Setahun sudah ia lalui, tetap saja Abby masih berkubang dalam kenangan. Akhirnya, sebuah buku travelling yang ia baca menginspirasinya untuk melakukan hal gila : travelling dengan mengenakan gaun pengantin! Dan Penang, menjadi kota destinasinya.

Di kota ini, Abby bertemu dengan Wira, seorang passionate traveller dan juga penulis buku travelling. Sebuah kebetulan yang mengejutkan, karena Wira ternyata adalah penulis buku travelling berjudul Quirky Traveler yang sudah menginspirasi Abby untuk melakukan travelling. Bersama Wira, Abby menjalani pengalaman barunya sebagai traveller di Penang lalu berlanjut ke Singapura. Kebersamaan itu ternyata memberi warna baru pada kehidupan Abby serta memantik cukup banyak perubahan dalam dirinya. Hanya satu yang sulit berubah : keputusan Abby untuk melepas gaun pengantinnya selama melakukan perjalanan.

Memangnya, apa sih yang bikin Abby keukeuh memakai gaun pengantin selama travelling? Dan kenapa pula Andre tega meninggalkannya pada menit-menit menjelang pernikahan? Apakah perjalanan itu berhasil menghapus luka hati Abby? 
Kalian harus temukan sendiri jawabannya di novel terbaru Dy Lunaly ini ya.

Ups, segitu doang? Ya enggak lah, masa’ saya tega bikin kalian penasaran dengan kasih sinopsisnya aja? :D Jadi, yuk ikuti ulasan lengkap saya untuk novel berstempel Wedding Lit terbitan Bentang Pustaka ini :

Kita mulai dari tema. Karena tema adalah dasar cerita atau gagasan utama dari sebuah novel. Dari sinopsis di atas, jelas terlihat kalau tema novel ini tergolong konvensional, alias sudah umum diketahui. Atau dalam istilah teoritisnya disebut tema tradisional. Yaitu tentang seorang wanita yang ditinggal menikah, dampak psikis yang dialaminya pasca kegagalan, dan bagaimana langkah yang ia tempuh untuk mengobati lukanya itu. Namun, satu hal yang unik di sini, adalah keputusan si tokoh utama (Abby) untuk mengenakan gaun pengantin saat melakukan travelling.

Buat kamu yang udah pernah bersanding di pelaminan, pasti deh tahu persis kaya’ apa rasanya mengenakan gaun pengantin, bahkan gaun pengantin yang paling simpel sekalipun. Tetep aja rasanya sepuluh kali lebih ribet dan nggak nyaman dibanding pake t-shirt! 

Nah, kebayang nggak, gimana rasanya pake gaun pengantin selama travelling? Apa nggak merepotkan? Tapi......meski ini hanya fiksi, ada satu message yang bisa kita ambil : wanita bisa nekad melakukan hal-hal paling absurd di dunia saat hati mereka udah luar biasa tersakiti dan kecewa. Jadi, kalo ada orang terdekatmu – entah kakak, adik, sahabat atau kerabat – yang baru aja melewati peristiwa tragis dalam hidupnya dan itu bikin dia down banget, sebaiknya jangan pernah meninggalkannya, berilah dia dukungan dan perhatian agar jangan sampai melintas di pikirannya untuk melakukan sesuatu yang absurd apalagi yang sampai membahayakan dirinya.

Oh ya, cover novel ini juga udah pas banget deh untuk merepresentasikan tema ini. Selain ada gambar wedding dress-nya, juga ada gambar benda-benda yang selalu menyertai seorang wanita saat melakukan travelling, seperti topi, kamera, dan tas tangan.

Kita lanjut ke plot. Novel ini sesungguhnya menggunakan pola plot progresif atau kronologis, di mana rangkaian peristiwa disajikan secara runtut mulai dari tahap awal (situasi, pengenalan tokoh dan akar pemunculan konflik), tahap pertengahan (mulai terjadi konflik diikuti klimaks), dan tahap akhir (penyelesaian). Namun di sini, penulis mengombinasikannya dengan beberapa kali flashback peristiwa yang dilalui oleh tokoh utamanya (Abby). Dan untuk kejadian di masa lampau, tulisannya dicetak miring sehingga kita bisa langsung tahu, mana peristiwa yang sedang terjadi, dan mana yang merupakan rewind dari memori Abby.

Unsur lain yang tentu saja nggak boleh kita lewatkan adalah penokohan. Ada 2 (dua) tokoh utama dalam novel ini : Abby dan Wira. Selain itu, ada tokoh tambahan seperti Gigi (adik Abby), ortu Abby, Noura (sahabat Wira) dan Jiyad suaminya serta Cacha anaknya,  Adhia (sahabat yang pernah dicintai Wira) dan Kalyan (pria yang dinikahi Adhia). Tidak terlalu banyak, memang. Dan kehadiran para tokoh tambahan ini juga porsinya tidak terlalu besar. Jadi, jalan cerita ini memang lebih banyak digerakkan  oleh kedua tokoh utamanya Abby dan Wira. Otomatis, pembaca bisa dengan mudah mengenali watak kedua tokoh utama ini. Apalagi, penulis juga nggak pelit dalam mendeskripsikan tokoh-tokohnya.

Si Abby digambarkan sebagai gadis yang cantik, mungil, takut sama ketinggian, awalnya nggak suka travelling, punya skill di bidang desain  dan sketsa, serta sifatnya sedikit childish. Sedangkan Wira, hmm, ini bener-bener representasi karakter Gary Sue banget deh, alias Mr. Perfect. Cakep, cool, sweet, romantis, selalu nolongin Abby pula. Oh ya, si Wira ini punya passion di dunia travelling dan rajin  menulis pengalaman travellingnya di blog, dari situlah dia sering dapet job sebagai kontributor travelling untuk majalah, mengulas tempat-tempat yang dikunjunginya atas permintaan brand tertentu dan juga membantu web tourism board lokal (hal. 54). Sepertinya, apa yang dilakukan Wira ini merupakan incaran para travel blogger deh. Bisa jalan-jalan dan liburan ke berbagai tempat dan dibayar pula!

Yuk kita lanjutkan pada unsur berikutnya yaitu latar. Nah, menurut saya, unsur latar dalam novel ini nih juaranya. Karena cara penulis mendeskripsikan latar tempat dan pengalaman kedua tokohnya saat jalan-jalan, sukses bikin saya mupeng ke Penang dan ke Singapura (lagi).

Buat kalian yang belum pernah mengunjungi kedua kota ini, yuk intip beberapa tempat yang dikunjungi Abby dan Wira :

Restoran Hameed. 
Sumber : www.supermengmalay.blogspot.co.id

Garden by The Bay. Sumber : doc. pribadi

Garden by The Bay di waktu malam. Sumber : doc. pribadi
Esplanade. Sumber : doc. pribadi
Jadi, menurut saya lagi nih, novel ini sepertinya lebih cocok dikasih stempel TravelLit ketimbang WeddingLit. Karena nuansa travelling-nya benar-benar kental, sementara kisah tentang wedding (yang gagal) hanya menonjol di awal cerita. Walaupun diceritakan bahwa tokohnya terus-terusan mengenakan gaun pengantin selama travelling, “ruh” dari cerita bernuansa wedding tidak terlalu kuat. Ini mungkin disebabkan deskripsi dari respon orang-orang terhadap Abby yang mengenakan gaun pengantin di saat travelling terasa minim. Sepertinya, kesan dari wedding dress ini akan lebih menonjol jika disertakan juga pengalaman-pengalaman seru Abby terkait gaunnya itu selama perjalanan.

Misalnya aja nih, dia kesulitan melangkah, terinjak ujung gaun lalu jatuh guling-guling, bajunya kena lumpur tebal yang sulit dibersihkan sementara Abby sudah bertekad mau memakai gaun itu terus, Abby dilarang masuk ke tempat-tempat tertentu karena dikira sakit jiwa, atau kalo mau yang agak heboh, saat Abby jalan sendirian di Penang dan tersesat (hal. 33), dia ketemu pria yang sakit jiwa beneran dan mengira Abby itu pengantinnya yang berusaha kabur. Tapi yang Abby temui saat tersesat itu justru......si Mr. Perfect alias Wira. Enak banget deh si Abby. Lagi kesusahan malah ketemu pangeran ganteng yang penolong :p.

*kenapa pula saya jadi ngiri sama Abby?* Let’s back to the topic.

Saya lanjutkan dengan sudut pandang. Novel ini menggunakan sudut pandang persona pertama : Aku, yang diceritakan dari tokoh utamanya Abby.  Jadi sudah pasti, semua cerita yang mengalir, adalah berdasarkan sudut pandang Abby. Pikirannya, perasaannya, responnya, pengamatannya, dan sebagainya.

Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya pop-komunikatif yang memang jadi ciri novel populer pada umumnya dan ciri si penulis sendiri. Kebetulan, ini adalah novel kedua Dy Lunaly yang saya baca (yang pertama judulnya NY Overheel). Dan gaya bahasa di kedua novel ini jelas menunjukkan ciri khas seorang Dy. Lincah, ngepop, komunikatif, mengalir, kadang diselipi humor. Sekilas mengingatkan saya pada gaya penuturan Sophie Kinsella tapi dalam versi yang lebih muda.

Terakhir, amanat atau pesan. Selain membawa pesan tentang pentingnya menjaga perasaan wanita seperti yang udah saya sebutkan di atas, dari novel ini juga kita bisa menarik pelajaran bahwa melakukan perjalanan itu dapat mengantarkan kita pada hal-hal yang tak terduga. Mulai dari mendapatkan pengalaman dan wawasan baru, mengubah cara pandang, pikiran dan perasaan kita bahkan sampai mempengaruhi keputusan penting dalam hidup kita, juga bukan hal mustahil, kita bisa berinteraksi dengan orang-orang baru yang akan memberi warna baru pula dalam kehidupan kita. Pesan lain yang tak kalah penting adalah, bahwa kita bisa bahagia jika kita sendirilah yang memilih untuk bahagia. 
 
Selain pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan Abby dan Wira, hal positif tentang travelling ini juga disampaikan secara eksplisit sejak awal lewat tokoh Gigi. Ini nih yang dikatakan Gigi pada Abby sebelum Abby melakukan travelling (saya ringkas saja ya) :

“Ini aku kasih sepuluh alasan kenapa kamu harus travelling. Satu, biar kamu bisa move on. Dua, biar kamu sadar bahwa kebahagiaan itu bergantung sama diri kamu sendiri. Tiga, buat ngingetin kamu kalau hidup itu cantik banget. Empat, travelling ngajarin kamu ngelihat dari perspektif yang baru. Lima, biar kamu bisa kembali fokus.  Enam, untuk ciptain kenangan baru. Tujuh, kesempatan nyari inspirasi desain baru. Delapan, biar kamu sadar betapa beruntungnya hidup kamu. Sembilan, untuk jatuh cinta lagi sama hidup. Dan sepuluh, bisa bikin kamu menemukan diri kamu.” (hal. 26-27).

Secara umum, novel yang bersih dari typo ini tergolong menghibur dan menyenangkan. Terutama buat kamu yang ngefans dengan gaya penceritaan model Dy Lunaly ini - lincah, segar, ringan, mengalir, komunikatif. Oh ya, di dalam novel ini juga bertabur ilustrasi sketsa karya penulisnya sendiri lho. Ini nih contohnya :


Khusus untuk sosok Andre, saya ingin memberikan komentar khusus. Mulai dari kemunculannya yang tiba-tiba saat Abby nonton di Esplanade setelah setahun sosok ini raib, juga alasannya meninggalkan Abby yang bikin saya langsung ngomong sendiri dengan tanda seru : omaigot, kenapa diantara sejuta alasan, harus alasan itu yang menjadi sebab dia meninggalkan Abby?!

Buat saya, cowok seperti Andre ini sangat tidak pantas berkeliaran bebas dan damai di muka bumi, apalagi setelah dengan semena-mena mencampakkan seorang gadis cantik di altar pernikahan dan saat bertemu kembali, si gadis hanya bisa terdiam menyaksikannya pergi bergandengan dengan *teeeet, alarm spoiler berbunyi*.

Baiklah, sepertinya, komentar saya untuk Andre sekaligus jadi penanda kalau ulasan saya sudah selesai. Untuk itu, sebelum pamit saya mau menyampaikan ucapan closing : kepada Dy Lunaly, tetap produktif berkarya ya, karena kamu punya potensi untuk jadi Sophie Kinsella-nya Indonesia. Kepada kalian yang udah baca ulasan ini dan penasaran mau baca novel ini, ayo segera cari di toko. Buat kalian yang lagi patah hati dan pingin menghibur diri dengan baca novel ini, sebaiknya segera antisipasi dengan cari-cari info destinasi travelling yang menarik,  karena bisa jadi kalian langsung mupeng travelling setelah baca novel ini :)

Oh ya, seperti biasa, saya selalu mengakhiri ulasan dengan kutipan-kutipan favorit dari buku yang saya baca. Dari novel My Wedding Dress ini, berikut adalah kalimat-kalimat favorit saya :

Life is more than series of moments. We can always make choices. And that what makes us who we are. 

Bahagia bukan tentang apa yang kamu punya, apa yang udah kamu lakuin, bahagia itu tentang mensyukuri hidup dan menikmatinya sebaik mungkin (hal. 131). 


Kalau lagi patah hati, kamu cukup ingat ini. If it’s good, it’s wonderful, if it’s bad, it’s experience. Intinya, kita nggak perlu menyesali apa yang terjadi, baik atau buruk. Kalau udah bisa ngelakuin itu, berarti kita udah bisa berdamai dengannya. (hal. 234).


Nggak ada hidup yang sempurna. Hidupku jauh dari sempurna. But yes, I’m happy. Karena aku memilih untuk bahagia. Aku memilih untuk berhenti mengeluh dan mensyukuri hidupku, apapun kondisinya (hal. 235).

---------------------------------------------

Judul               : My Wedding Dress
Penulis            : Dy Lunaly
Penerbit         : Bentang Pustaka
Tahun             : 2015
Tebal              : 270 hal

6 comments:

  1. Mba Elyta, reviewnya cakeeep banget. Aku yakin dirimu pasti menang. Aku yang udah baca #MyWeddingDress aja jadi kepingin baca ulang hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. trima kasih intan udah mampir....Amiin.

      Delete
  2. semoga menang mba.. reviewnya cakep and apik tenan

    ReplyDelete
  3. woow hebat bis agunakan hasil karya sendiri

    ReplyDelete