Riawani Elyta: #LoveStory5 : Seikat Janji

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 20 January 2016

#LoveStory5 : Seikat Janji

“Papa lagi istirahat. Kalau lagi istirahat, biasanya beliau nggak mau diganggu.”

“Oh ya? Tapi, kamu ‘kan belum ketemu papamu? Darimana kamu tahu kalau dia lagi istirahat?”

Astaga, cowok ini .......kenapa ngotot bener sih?

“Biasanya jam segini papaku lagi nonton teve. Atau lagi makan malam.” Jawabku. Berharap cowok ini akhirnya akan menyerah. Bukannya apa-apa, kalau nanti papa bertanya siapa cowok ini, bagaimana aku harus menjelaskannya? Cowok yang beberapa kali kutemui secara kebetulan? Dan setiap pertemuan kami terjadi dalam rentang waktu dua tahun? Hey....apa itu sebuah cerita yang layak dipercaya?

“Oke deh kalau begitu. Aku pulang dulu ya. Sampaikan saja salamku pada orang tuamu. Tapi....malam Minggu nanti, aku boleh datang ya?”

Apa? Aku tercengang. Meski firasatku mengatakan bahwa pada akhirnya dia akan mengajukan permintaan itu, tetap saja aku merasa sedikit kaget. 

Aku menjawab pelan.” Boleh aja sih. Tapi, nggak ada yang  marah apa?”

“Memangnya, siapa yang marah?”

“Pacar kamu mungkin?” Aku bertanya tanpa menatap wajahnya.

“Aku nggak punya pacar. Berarti boleh ya aku datang?”

Aku mendongak. Nyaris tak percaya melihat ekspresinya yang begitu penuh percaya diri. “Kamu nggak nanya aku punya pacar apa enggak?”

Dia menggeleng. “Nggak. Kamu nggak punya pacar. Aku yakin itu. Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa malam Minggu nanti.”

Dia tersenyum dan membalikkan tubuhnya. Meninggalkanku yang masih terbengong di teras. Darimana dia tahu kalau aku nggak punya pacar? Dan bagaimana dia bisa seyakin itu?

****
Malam Minggu akhirnya tiba. Dan sejak sore, aku sudah gelisah. Inilah pertama kalinya seorang pria akan datang padaku di malam Minggu. Seumur hidupku, tidak pernah kurasakan yang namanya apel di malam Minggu. Aku tidak pernah punya pacar. Dan belum pernah ada seorang cowok pun yang berani menembakku untuk menjadi pacarnya.

Arlojiku menunjukkan pukul delapan tiga puluh saat dia datang. Aku membuka pintu dan mempersilakannya masuk. Seperti kemarin, dia memang masih terlihat penuh percaya diri. Tetapi malam ini, aku melihat sekilas sinar muram di kedua matanya.

“May, aku mau ngomong sesuatu.”

“Apa?” Aku bertanya dengan debaran halus mulai merayapi dadaku.

“Saat pertama kali kita bertemu, aku yakin kalau kita masih akan bertemu kembali. Dan keyakinanku ternyata terbukti. Pada pertemuan kita yang kedua kalinya, keyakinanku bertambah kuat. Bahwa Tuhan mempertemukan kita bukan sekadar kebetulan atau tanpa alasan. Itu sebabnya, kemarin aku memberanikan diri untuk mengajakmu bertemu keluargaku. Setelah aku mengantarmu pulang, aku minta pendapat mereka.....tentang kamu.”

“Lalu?” Aku bertanya pelan.

“Mereka menyerahkan semua keputusan kepadaku. Mereka tidak berkeberatan jika aku bermaksud.....menjalin hubungan yang serius denganmu meski kita belum benar-benar saling kenal. Karena bagi mereka, keseriusan hubungan itu hanya ada dalam ikatan pernikahan.”

“Jadi.....maksud kamu?” Aku terperangah.

“Aku bermaksud melamarmu. Tetapi, ceritaku belum selesai, May. Sebelum datang kemari, aku baru saja mendapat kabar kalau pengajuan beasiswa pasca sarjanaku ke London University diterima. Dan aku sudah berjanji pada papi untuk mempersembahkan gelar magisterku padanya. Belakangan, kesehatan papi terus memburuk. Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya sebelum aku berhasil menunaikan janjiku. Jadi, bersediakah kamu melakukan sesuatu untukku, May?”

Wajahku terasa memanas. “Melakukan apa?”

“Setelah aku pulang nanti, tolong pertimbangkan maksud baikku ini. Jika kamu tidak bersedia, cepatlah kabari aku. Tetapi jika kamu bersedia, maukah kamu menungguku dua tahun lagi sampai kuliahku selesai?”

Aku memandangnya dengan mulut ternganga. “Kenapa kamu begitu yakin?”

“Yakin apa?”

“Yakin untuk melamarku?”

“Aku sudah cerita padamu. Dan aku nggak akan mengulanginya lagi. Sekarang, semua keputusan ada di tanganmu.”

Kalimatnya masih terus terngiang dalam benakku meski dia telah berpamitan dua jam lalu.
Haruskah aku mempertimbangkan lamarannya? Atau langsung kuputuskan saja bahwa aku tidak bersedia? Toh aku belum mengenalnya lebih dalam? Bagaimana kalau ternyata dia seorang penipu atau.....

Aku membuang jauh-jauh semua retorika pertanyaan yang kian lama terasa semakin membingungkan. Kuputuskan untuk melakukan cara terbaik. Aku segera berwudhu. Siap menunaikan sholat istikharah dan memohon pilihan terbaik itu hanya kepadaNya.

*******

Dua tahun kemudian,
Suasana di pemakaman ini terasa begitu pilu. Hanya isak tangis yang terdengar saat jenazah pria itu diturunkan ke liang lahat  dan semua prosesi pemakaman selesai dijalani.

Satu demi satu anggota keluarga dan para pelayat meninggalkan gundukan tanah merah. Namun aku masih bergeming. Menatap gundukan itu dengan mata berkabut hingga sebuah tepukan halus mendarat dibahuku.

 “Kamu masih ingin di sini?” Suara itu berbisik lirih ditelingaku.

Aku mengangguk.

“Kenapa?”

“Aku belum sempat berterimakasih padanya.”

“Terima kasih? Untuk apa?”

Aku memutar tubuhku. Lelaki didepanku menatapku dengan mata yang masih berkaca-kaca.

“Untuk semua yang dia lakukan untukmu. Juga untuk restunya pada kita.”

Lelaki ini menatapku sungguh-sungguh. “Terima kasih juga untuk penantianmu, May."

Kami lalu berjalan bersisian. Semilir angin senja mengiringi langkah kami. Mengiringi seikat janji yang usai dilunasi. Janji pria disisiku ini untuk mempersembahkan kelulusannya pada sang papi sebelum pria yang sangat disayanginya itu pergi. Juga janjiku untuk setia menantinya meski dua tahun harus kami lewati. Ya. Tuhan telah mengirimkan namanya dalam doa yang kupanjatkan dua tahun lalu. Dan aku yakin, pilihanNya pastilah yang terbaik. Kami resmi mengikat janji suci itu tadi pagi, hanya selang beberapa menit sebelum sang papi dipanggil pulang keharibaanNya.

Kupejamkan mataku saat dia kembali berbisik seraya menggenggam tanganku, “May, entah cerita apa yang akan menanti kita dua tahun lagi ya. Tetapi, apapun itu, aku siap menghadapinya, selama kita tetap bersama.” 

Aku mengangguk. Membalas genggamannya lebih erat. Dia, H. Lelaki yang kini menjadi belahan jiwaku.

"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Kisah Cinta Bunda 3F - #LoveStory"


9 comments:

  1. Akhirnya H bisa bersatu dengan May. Meski harus menghadapi kenyataann jika papanya H harus meninggal.. :3

    ReplyDelete
  2. sepertinya dalam hubungan Maya dan H ini waktu 2 tahun itu istimewa banget yah Mbak :D

    ReplyDelete
  3. serasa baca hati memilih deh mba :)

    ReplyDelete
  4. Eh... kenapa aku malah ngarep endingnya si H yang meninggal ya? Xixixixi..lebih ngetwist dan bikin shock kayaknya kalo itu terjadi

    ReplyDelete
  5. so sweet....love story selalu bikin kenangan melayang saat masih muda...hihihi

    ReplyDelete
  6. Ooohh so sweet Mbak.. walau harus ada warna gelap di bagian akhirnya..

    ReplyDelete
  7. Makasih yaa udah ikutan GA saya yaa

    ReplyDelete
  8. ini fiksi atau kisah nyata mbak?

    wah kalau kisah nyata ... so sweet BGT deh

    hihihi

    ReplyDelete
  9. baru pertama kali ngerasain malam minggu terus dilamar
    wih hebat
    adegan nerima cintanya kok g da y?

    ReplyDelete