Riawani Elyta: #3 CURHAT SESSION : Untuk apa kau rayakan ulang tahunmu?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 24 November 2015

#3 CURHAT SESSION : Untuk apa kau rayakan ulang tahunmu?



13 November 2015. Pada hari itu, dinding akun saya dipenuhi ucapan selamat hari lahir dari teman-teman facebook, baik yang kenal dekat, kurang dekat, juga yang hanya sesekali berinteraksi. Tak hanya ucapan selamat, tetapi juga diiringi doa-doa kebaikan. Inilah salah satu sisi plus sosial media. Sepuluh tahun lalu, hanya orang-orang terdekat yang tahu kapan hari kelahiran kita dan mengucapkan selamat serta doa. Tetapi sekarang, ada puluhan, bahkan ratusan juga ribuan orang yang menyampaikannya melalui sosial media.

Memang, tak semua orang menganggap penting arti hari kelahiran. Tak sedikit pula yang mengatakan, kebiasaan mengucapkan selamat hari lahir dan merayakannya tak pernah ada dalam ajaran Islam. Jadi, tak perlulah menjadikannya kebiasaan hanya karena kelaziman dan ikut-ikutan.
Tetapi, saya tak ingin memperdebatkan hal itu. Saya hanya ingin membincang apa yang saya lakukan pada hari pengulangan tanggal kelahiran itu, sebelas hari yang lalu.

Tidak. Saya tidak merayakannya. Tidak dalam bentuk perayaan kecil sekalipun. Tetapi saya menjadikannya sebagai momentum. Momentum untuk bermuhasabah, bersyukur dan mendoakan.

Ya. Pada hari itu, saya melonggarkan sedikit waktu untuk mengingat kembali apa yang sudah saya lakukan pada tahun-tahun yang terlewati. Meriung pertanyaan memenuhi benak saya  : Sudahkah tahun demi tahun yang terlewati, saya isi dengan hal-hal bermanfaat? Sudahkah kualitas iman dan ibadah saya bertambah? Sudahkah saya beranjak dewasa, dewasa dalam pengendalian diri dan emosi, akhlak dan perilaku juga dalam pengambilan keputusan? Sudahkah saya mampu menyusun skala prioritas dengan benar atau masih kebingungan menentukan arah? Sudahkah niat saya lurus? Sudahkah saya ikhlas? Dan seterusnya.

Nyatanya, masih terlalu banyak yang perlu saya benahi. Masih banyak kelemahan diri yang menuntut introspeksi. Juga harapan-harapan dan mimpi-mimpi yang belum terpenuhi.

Pada hari itu, saya meluangkan waktu untuk bersyukur. Mensyukuri semua anugerah dan karunia yang Allah berikan sejak tangis pertama saya berkumandang di dunia hingga usia saya tak bisa lagi disebut muda. Dan pada titik ini, air mata saya tak kuasa saya bendung.

Nyatanya, terlalu banyak yang Dia berikan, dan masih terlalu minim, pengabdian yang bisa saya persembahkan untukNya. Masih banyak perbuatan yang tak semata-mata saya niatkan hanya karenaNya, melainkan masih bercampur-campur dengan hasrat keinginan akan eksistensi, materi dan juga ambisi.

Pada hari itu juga, saya mengaminkan semua doa kebaikan yang diucapkan banyak orang, tanpa saya peduli apakah doa itu memang tulus atau sekadar formalitas. Saya bermohon kepadaNya agar semua doa itu kembali memantul pada mereka yang mengucapkan. Andai keberkahan yang mereka doakan, maka keberkahan itu jugalah saya pintakan agar terwujud pada mereka yang mendoakan.

Memang, tak dianjurkan dalam Islam untuk merayakan hari kelahiran. Tetapi, Islam juga menganjurkan umatnya untuk selalu bermuhasabah dan introspeksi. Maka, saya pikir tak ada salahnya, pengulangan hari kelahiran menjadi momentum yang tepat untuk itu. Dengan begitu, mudah-mudahan saja, saat usia kita beranjak kian dewasa, kita tak hanya sekadar dewasa secara biologis, tetapi juga dewasa dalam sikap, dewasa dalam mental dan juga dewasa dalam ketaatan kita kepadaNya.

Menutup catatan ini, saya kutip isi selembar surat dari sahabat saya Afifah Afra di hari pengulangan kelahiran saya :

Membincang soal usia, pasti akan menyadarkan
Bahwa kita sudah tak lagi muda
Kita telah beranjak kian dewasa
Dengan beban-beban kehidupan yang mungkin kian berat
Resah, gundah, gelisah pun mungkin akan kian kuat membebat
Namun begitu, selagi kita selalu setia
Meniti jalan yang selaras dengan kehendakNya
Langkah berat pun akan terasa lebih ringan

Selamat hari lahir....
Ini bukan tentang sebuah angka yang terlewati
Begitu saja....
Atau tawa bahagia yang hadir saat hari bahagia ini
Dipenuhi perhatian orang-orang yang menyayangi

Ini adalah tentang sebuah muhasabah
Yang kemudian mendorong kita untuk menghitung-hitung
Apa yang telah kita lakukan
Dan apa yang belum kita lakukan
Bahkan juga tak direncanakan

Barakallah fii umurik...

Tanjungpinang, 24 November 2015
Riawani Elyta

12 comments:

  1. saya sih cuma berdoa lebih baik, berdoa untuk kesuksesan dan keselamatan untuk orang yang melewati hari istimewanya, betewei met ultah ya mba,,sukses selalu untukmu :)
    NB : keren mbak, follower mbak segitu banyaknya (@cputriarty)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih ya :) hehe, belum banyak atuh :D

      Delete
  2. Subhanallah... ucapan saya diposting di sini :-)
    Seperti tengah membaca tulisan orang lain yang sedang menasihati saya.
    Mari terus bermuhasabah...

    www.afifahafra.net

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya, yg di atas kertas bisa hilang kalo lupa nyimpen, jadi di'abadi'kan di sini :) yuk tetep bermuhasabah :D

      Delete
  3. Surat dari Mbak Yeni ditulis tangan ya, Mbak? Pengin dunk lihat tulisan Mbak Yeni. #salahfokus
    Eh iya... Setujuuu... Ulang tahun saat bermuhasabah :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ssst jangan, ntar Yanti ngiri lihat tulisan tanganku yang rapi :-p

      Delete
    2. Ho oh..tulisannya rapi. Gak kaya tulisanku yg awut2

      Delete
  4. Semoga Mbak Ria sehat selalu dan menghasilkan karya bagus terus *doa pembaca :-)

    ReplyDelete
  5. Semoga Mbak Ria sehat selalu dan menghasilkan karya bagus terus *doa pembaca :-)

    ReplyDelete
  6. barakallah ya mba, semoga sukses selalu, semoga bertambahnya usia semakin lebih baik lagi :)

    ReplyDelete