Riawani Elyta: Resensi Buku Kami Tetap Menyayangimu, Kelinci Kecil

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 29 October 2015

Resensi Buku Kami Tetap Menyayangimu, Kelinci Kecil



Sebelum menulis resensi ini, saya sempat melempar pertanyaan di grup WA teman-teman penulis : Apa pendapat kalian jika ada buku anak yang bercerita tentang perceraian?

Jawabannya bermacam-macam. Ada yang merespon dengan baik mengingat anak-anak sekarang sudah lebih kritis, dan tak sungkan bertanya-tanya tentang perceraian sementara orang tua masih kebingungan bagaimana menjelaskan dengan bahasa yang mereka mengerti. Ada juga yang berpendapat kalau buku anak sebaiknya bercerita tentang hal-hal yang ceria saja sesuai dunianya dan tidak mengangkat hal-hal yang "kelam" seperti perceraian.

Yang jelas, tak ada pasangan yang berharap pernikahan mereka akan berakhir dengan perceraian. Tetapi kenyataan menunjukkan hal yang ironis. Berdasarkan data tahun 2013 yang dirilis BKKBN, tingkat perceraian di Indonesia berada pada urutan tertinggi se-Asia Pasifik, rata-rata 40 kasus perceraian terjadi tiap jam, dan kebanyakan adalah pernikahan yang usianya di bawah sepuluh tahun.

Itu artinya, anak-anak hasil pernikahan tersebut masih dalam rentang usia dini. Usia yang sangat membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya dan kalaupun hal itu sampai terjadi (baca : perceraian orang tuanya), sangat penting bagi mereka untuk mendapatkan penjelasan yang baik dan mudah dipahami agar tidak mereduksi kesehatan perkembangan jiwanya.

Berangkat dari persoalan inilah, Denia Putri Prameswari menulis sebuah buku anak yang sekaligus merupakan tugas akhir tesisnya untuk meraih gelar Magister Terapan psikologi anak Usia Dini dari Universitas Indonesia.

Dikisahkan tentang kelinci kecil bernama Kelik yang semula hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, namun kemudian orang tuanya bercerai. Orang tua Kelik menjelaskan arti perceraian dalam bahasa yang sederhana kepada Kelik. Awalnya, Kelik juga mengalami rasa sedih, bingung, malu, dan sebagainya. Namun kedua orang tua Kelik menunjukkan kalau mereka tetap menyayangi Kelik meski tak lagi hidup bersama.

Lewat buku ini, penulis mencoba menyampaikan tentang perceraian dalam bahasa dan ilustrasi yang ringan sehingga mudah dipahami anak-anak dan juga memudahkan orang tua untuk menyampaikan maksud buku tersebut kepada anak. Buku ini dapat menjadi alat bantu bagi orang tua yang pernikahannya kandas untuk menerangkan tentang perceraian kepada anak-anaknya. Karena, tanpa penjelasan yang memadai, boleh jadi sang anak mendapatkan definisi perceraian dari sumber yang kurang tepat, misalnya dari televisi, obrolan orang dewasa ataupun internet.

Seperti tagline yang disertakan pada sampul belakang buku, bahwa buku ini adalah buku kecil yang menjelaskan permasalahan besar kepada anak, maka dari segi segmentasi pembaca memang lebih tepat ditujukan untuk keluarga yang mengalami perceraian. Sementara untuk keluarga  yang tidak mengalami perceraian, orang tua sebaiknya tetap mendampingi sang buah hati saat membacanya dan tetap menjelaskan pada anak bahwa perceraian, bagaimanapun adalah sesuatu yang sebaiknya tidak terjadi dan tidak diinginkan siapapun. Sejak dini anak-anak kita perlu memahami bahwa keutuhan dan keharmonisan keluarga adalah sesuatu yang penting untuk dijaga.

Upaya yang dilakukan penulis lewat buku ini layak diapresiasi, mengingat belum banyak buku anak yang menjelaskan masalah perceraian dengan pengemasan dan penyampaian yang mudah dipahami anak-anak. Namun ini mungkin masih akan menyisakan pekerjaan berikutnya, bahwa cerita keluarga Kelik memaparkan sebuah perceraian yang diikuti dengan kondisi yang baik-baik saja. Kedua orang tua Kelik tetap menyayangi Kelik dan Kelik tetap dapat hidup normal seperti biasa.

Lalu, bagaimana gerangan terhadap kasus perceraian dengan kondisi sebaliknya? Di mana kedua pasangan saling membenci, dan salah satu darinya tidak mau  sering-sering mengunjungi anaknya? Atau jika mengunjungi, dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan mantan pasangannya? Yang lebih buruk lagi, salah satu darinya bahkan menjelek-jelekkan mantan pasangannya di depan anaknya? Jika kepada anak dengan kasus demikian diberikan buku ini, bagaimana orang tuanya akan menjawab, jika sang anak bertanya kenapa orang tuanya tidak rukun dan berbuat seperti orang tua Kelik?

Karena bagaimanapun, apa yang sampai ke hati anak dan terekam dalam memorinya adalah kasih sayang yang dibuktikan dengan perbuatan, tidak sekadar yang disampaikan lewat kata-kata dan cerita. Mudah-mudahan saja, kasus perceraian turut menjadi perhatian besar para psikolog anak di negeri ini, sehingga dapat memberi solusi terhadap perkembangan kesehatan jiwa anak-anak dari orang tua yang bercerai, seperti upaya yang dilakukan oleh penulis. Dan semoga saja, semua pihak saling bersinergi untuk mewujudkan keluarga-keluarga Indonesia yang utuh dan harmonis sebagai pilar penting keutuhan bangsa dan negara.

Judul               : Kami Tetap Menyayangimu, Kelinci Kecil
Penulis             : Denia Putri Prameswari
Penerbit           : Arkea Books
Tahun              : 2015




16 comments:

  1. Jadi penasaran Mbak, sama bukunya. Itu berupa picture book ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak pict book. Tadi mau upload foto bagian dalamnya dari hape lemot bener, jadi covernya aja

      Delete
  2. Cakep resensinya, Mbak Lyta.
    Yang masih saya belum paham mengapa tokohnya kelinci? Ga langsung manusia aja? Ah... Suka2 penulisnya ya. Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin lebih gampang diterima anak2 kalo tokohnya hewan kali ya...mungkin :D

      Delete
  3. idem sama mbak hai..haha.. resensinya cakep dan bingung juga kenapa kelinci.hehe

    tapi semoga buku ini bisa menjadi solusi ya..

    ReplyDelete
  4. eh gimana dialog2nya? kan penasaran hehehe terus bapak ibu kelincinya nikah lagi enggak? Kepo deh resensinya cakep...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada dialog. Narasinya pun singkat2. Waah emang artis cepet nikah lagi? Wkwkwk

      Delete
  5. Menarik resensinya.
    Saya nggak bertanya kenapa tokohnya kelinci 🐰
    Maksudnya bisa nerima kalau tokohnya hewan.
    Jadi ingat film tokoh kelinci tentang Ruby and Max.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Eni juga pernah nulis yg tokohnya kelinci ya :) sepertinya ini jenis hewan yang paling mudah diterima anak2 ketimbang marmut atau tupai gitu ya :)

      Delete
  6. wah..saya belajar dari tulisan ini. belajar untuk me-review sebuah buku, hehe, maklum masih belum jago. makasih mbaaa..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga masih belajar koq :) sama2 :)

      Delete
  7. suka banget aku koleksi buku anak bergambar

    ReplyDelete