Riawani Elyta: Lebaran #LebihBaik dengan Mudik

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 21 August 2015

Lebaran #LebihBaik dengan Mudik


gambar dari sini
Momen Lebaran yang indah baru saja berlalu. Namun kesan manisnya masih terasa, karena buat saya, momen Lebaran tahun ini #LebihBaik dibandingkan momen Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya. Terasa #LebihBaik, karena ada satu momen penting pada Lebaran kali ini dan sudah bertahun-tahun tidak kami lakukan, yaitu mudik.


Bagi sebagian orang, mudik mungkin bukan hal yang sulit dan dapat dilakukan setiap kali Lebaran datang. Tetapi buat kami sekeluarga, mudik adalah sebuah momen yang “mahal”. Mengapa? Pertama, karena kami tinggal di pulau kecil yang dikelilingi oleh laut, sehingga untuk bisa pergi ke tempat lain di luar pulau, kami harus menempuh perjalanan darat, laut dan udara. Kedua, karena orang tua saya dan suami tinggal di Provinsi yang berbeda. Orang tua suami di Sumatera Barat, dan orang tua saya di Jambi. Itu sebabnya, kami harus bersabar dan menabung hingga bertahun-tahun untuk bisa mudik dan mengunjungi kedua belah pihak.

Nah, serentetan kondisi dan pengalaman berkesan mulai dari persiapan, selama dan sepulang mudik pada Lebaran tahun ini yang tidak pernah kami rasakan pada tahun-tahun sebelumnya, membuat Lebaran tahun ini menjadi momen Lebaran yang #LebihBaik.

gambar dari sini
Pertama, karena kondisi keuangan kami Alhamdulillah #LebihBaik, sehingga saya dan suami berani memutuskan untuk mudik setelah tujuh tahun lamanya kami tidak pulang ke kampung halaman. Dan untuk bisa mencukupi kebutuhan finansial ini bukanlah hal yang mudah. Selama bertahun-tahun saya dan suami sama-sama menabung agar punya dana yang cukup untuk mudik sekeluarga. 

Bisa dibayangkan, bukan? Berapa biaya yang harus disediakan untuk membiayai ongkos naik taksi, kapal dan pesawat pulang pergi bersama anggota keluarga yang berjumlah enam orang, ditambah biaya lain-lain selama mudik yang jika ditotal bisa mencapai sekian puluh juta rupiah?


Alhamdulillah, kesadaran dan kebiasaan menabung ternyata sangat mendukung realisasi atas rencana ini. Seperti yang pernah saya baca pada artikel berjudul : Mapan Secara Finansial? Gampang! di situs www.brighterlife.co.id, bahwa menabung merupakan salah satu cara bijak mengatur keuangan demi meraih kemapanan finansial. Seberapa kecil pun penghasilan yang diterima, tetap harus ada yang disisihkan untuk ditabung. Dan pada momen-momen  yang membutuhkan biaya besar seperti mudik ini, kebiasaan menabung terasa sangat bermanfaat. Bayangkan jika rencana dan kesempatan sudah di depan mata, tetapi dananya tidak tersedia. Otomatis pilihannya hanya ada dua : menunda rencana, atau berhutang. Dan kedua pilihan ini pun mengandung resiko. Menunda rencana sekarang, belum tentu akan mendapatkan peluang yang sama baiknya di masa yang akan datang. Sedangkan berhutang, akan memberi konsekuensi harus mengembalikan.

Kedua, persiapan sebelum mudik mengajarkan saya dan suami untuk melakukan perencanaan yang #LebihBaik, mulai dari pemesanan tiket, persiapan barang-barang yang akan dibawa, siapa yang akan menjaga rumah, dan tentu saja pengaturan finansial itu sendiri. Maklum saja, melakukan perjalanan panjang sangat rentan akan kemungkinan pengeluaran dana yang tidak terduga. Oleh sebab itu, sebelum berangkat, kami sama-sama mengkalkulasi dana yang diperlukan dan bagaimana agar bisa berhemat.  Sepulang mudik pun kami kembali melakukan kalkulasi terhadap dana yang sudah dikeluarkan, dan Alhamdulillah pengeluaran selama mudik tidak melebihi estimasi dana yang kami siapkan sebelum berangkat.

Ketiga, momen berkumpul bersama keluarga saat mudik membuat ikatan persaudaraan dan keakraban pun menjadi #LebihBaik. Komunikasi yang pada tahun-tahun sebelumnya hanya terjalin lewat ponsel, pada Lebaran tahun ini alhamdulillah bisa berlangsung dengan saling bicara dan bertatap muka dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Kami juga bisa memperkenalkan anak-anak pada saudara-saudara dan kaum kerabat yang selama ini belum pernah mereka temui.

berkumpul bersama keluarga di Padang

 Keempat, perjalanan mudik bersama anak-anak juga melatih tingkat kesabaran saya dan suami menjadi #LebihBaik. Bagi anda yang pernah melakukan perjalanan mudik bersama anak-anak, pasti pernah merasakan beragam jenis kerepotan. Mulai dari anak yang rewel dan mengomel karena bosan atau lapar, sakit karena kecapekan, ada barang yang tertinggal, dan sebagainya. Pengalaman adalah guru yang berharga. Dan pengalaman saat melakukan perjalanan mudik juga adalah guru yang bijak untuk membuat kita menjadi lebih sabar.

Kelima, mudik Lebaran tahun ini memberi kami kesempatan menikmati pemandangan alam yang indah  sehingga meningkatkan rasa kesyukuran kami kepada Sang Maha Pencipta. Selama ini, terkungkung oleh rutinitas dibalik sekat-sekat ruang kerja membuat kami kehilangan banyak waktu untuk melihat dan menikmati alam sekitar. Alhamdulillah, dengan mengunjungi tempat-tempat wisata alam saat mudik membuat suasana hati kami menjadi #LebihBaik, begitu juga rasa kekaguman dan syukur kami kepada Sang Maha Pencipta.

mengunjungi tempat wisata alam

Keenam, sepulang dari mudik membuat semangat dan motivasi kami pun terpompa menjadi #LebihBaik. Mudik tak hanya sekadar menjadi bagian dari momen Lebaran, tetapi  sekaligus menjadi sarana refreshing bagi jiwa dan fisik kami yang selama bertahun-tahun sebelumnya terikat oleh rutinitas yang monoton.

Dengan keenam hal berharga di atas yang tidak pernah kami dapatkan pada Lebaran di tahun-tahun terdahulu, sungguh tepat kiranya saya katakan, bahwa momen mudik Lebaran tahun ini menjadi momen Lebaran yang #LebihBaik bagi kami sekeluarga dibandingkan momen-momen Lebaran yang telah kami lewati sebelumnya. Saya berdoa, semoga Tuhan memanjangkan usia kami sekeluarga dalam kesehatan agar dapat menikmati momen Lebaran yang #LebihBaik lagi pada tahun-tahun yang akan datang.

2 comments:

  1. lebaran itu indah ya mbak.. silaturahim dengan keluarga sanak saudara itu sangat membahagiakan :)

    ReplyDelete
  2. Iya betul mak...rasanya pingin ngumpul sering2

    ReplyDelete