Riawani Elyta: 8 Mitos, Fakta dan Solusi Hidrasi di Bulan Puasa

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 10 July 2015

8 Mitos, Fakta dan Solusi Hidrasi di Bulan Puasa






Bulan puasa, selain menjadi momen yang tepat untuk meningkatkan amal ibadah dan ketakwaan, juga adalah masa paling tepat untuk meningkatkan derajat kesehatan. Ini disebabkan pada bulan puasa, tubuh memiliki waktu istirahat yang panjang dari menerima asupan makanan dan minuman. Hal ini memungkinkan proses pembuangan sampah sisa metabolisme di dalam tubuh pun bisa berlangsung optimal. Atau dengan kata lain, puasa sangat bermanfaat untuk membantu proses detoksifikasi di dalam tubuh kita.


Namun, proses ini tidak akan berlangsung efektif jika kita tidak mencukupi asupan cairan selama bulan puasa. Mengapa? Karena cairan berfungsi penting bagi kelangsungan seluruh proses di dalam tubuh. Diantara fungsi cairan adalah sebagai pelarut, sebagai media transportasi dan juga sebagai media eliminasi toksin dan sisa metabolisme. Tanpa asupan cairan yang cukup, proses metabolisme dan detoksifikasi tidak akan berlangsung optimal. Jika asupan cairan berada di bawah standar kecukupan per hari dan berlangsung dalam jangka panjang maka dapat menyebabkan dehidrasi. Pada tingkat dehidrasi yang parah, seseorang dapat mengalami kejang, berhalusinasi, kegagalan ginjal hingga penurunan volume dan tekanan darah.

Oleh sebab itu, pemenuhan kecukupan cairan tubuh selama bulan puasa menjadi hal yang mutlak. Apalagi selama bulan puasa, kesempatan untuk makan dan minum hanya terbatas mulai dari berbuka hingga terbit fajar. Jika kita lalai memenuhi kebutuhan cairan pada waktu yang terbatas ini, maka kita bisa saja mengalami dehidrasi yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.

Hal lain yang perlu kita perhatikan terkait pemenuhan kebutuhan cairan ini, adalah seputar mitos dan fakta tentang hidrasi selama bulan puasa. Karena pada kenyataannya, tak sedikit informasi yang kita dapatkan selama ini hanyalah mitos belaka. Lebih disayangkan lagi, justru mitos itulah yang telanjur kita percayai dan kita terapkan setiap kali bulan puasa tiba. Oleh karenanya, pada artikel ini penulis telah merangkum 8 (delapan) mitos, fakta, dan solusi tentang hidrasi selama bulan puasa, sebagai berikut :

Mitos 1 : kebutuhan cairan tubuh lebih sedikit pada bulan puasa

Fakta : Air merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. Pada pria dewasa, 55% - 60% berat tubuh adalah air, dan pada wanita dewasa kadarnya adalah 50% - 60%. Dengan demikian, secara kuantitas, kebutuhan cairan yang diperlukan tubuh pada bulan puasa sama dengan kebutuhan cairan di hari biasa atau ketika sedang tidak berpuasa. Yang berbeda hanyalah waktu pemenuhannya. Jika di hari biasa kita bisa minum kapan saja untuk mencukupi cairan tubuh, maka pada bulan puasa, kita hanya bisa minum sejak matahari terbenam hingga terbit fajar.

Solusi : untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh pada waktu yang terbatas selama bulan puasa, kita dapat menerapkan pola minum 2+4+2, yaitu minum 2 gelas air putih pada saat berbuka (1 gelas mengawali berbuka dan 1 gelas sebagai penutup berbuka), 4 gelas di malam hari (1 gelas sebelum makan malam, 1 – 2 gelas setelah makan malam, 1 gelas sebelum tidur)  dan 2 gelas pada waktu sahur. Pola ini akan mencukupi kebutuhan cairan rata-rata manusia dewasa yaitu 8 gelas atau 2 liter per hari.

Mitos 2 : minum cukup kita lakukan saat terasa haus

Fakta : Air memerlukan waktu untuk berpindah dari lambung menuju otot-otot tubuh selama proses metabolisme berlangsung. Karena itu, sebaiknya kita tidak hanya minum pada saat tubuh merasa haus. Selain kecukupan cairan menjadi sulit terpenuhi jika kita baru minum saat haus, kita juga akan cenderung minum dalam jumlah besar saat haus sehingga setelahnya lambung akan merasa kurang nyaman. Hal penting lainnya yang perlu kita ketahui, bahwa jika rasa haus cukup kuat, maka itu adalah pertanda bahwa tubuh kita telah mengalami kehilangan 1-2% cairan tubuh. Jika tidak segera dipenuhi, maka persentase kehilangan cairan ini bisa saja meningkat dan memunculkan gejala-gejala lain yang lebih parah.

Persentase kehilangan cairan tubuh berikut tanda-tandanya dapat kita simak pada Tabel di bawah ini :

% kehilangan berat badan karena air
Tanda-tandanya
1 – 2
Rasa haus yang kuat, kehilangan citarasa, perasaan tidak nyaman
3 – 5
Mulut kering, pengeluaran urine berkurang, bekerja dan konsentrasi lebih sulit, kulit merasa panas, gemetar berlebihan, tidak sabar, mengantuk, muntah, ketidakstabilan emosi
6 – 8
Peningkatan suhu tubuh, peningkatan denyut jantung dan pernapasan, pusing, sesak napas, bicara tak lancar, otot lemah, bibir membiru
9 – 11
Kejang, berhalusinasi, lidah bengkak, keseimbangan dan sirkulasi lemah, kegagalan ginjal, menurunnya volume dan tekanan darah
Sumber : Thomson Janice, Manore Melinda, Vaughan Linda

Solusi : minumlah air putih dengan pola 2+4+2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas di malam hari, 2 gelas di waktu sahur) selama bulan puasa untuk mencukupi kebutuhan cairan tanpa harus menunggu haus. Pola minum yang teratur ini juga membuat lambung kita akan tetap terasa nyaman dan frekuensi berkemih juga akan lebih teratur. Jika pada siang harinya kita banyak berkeringat karena ekstra aktivitas fisik, kita bisa menambahkan 1-2 gelas air putih lagi di malam hari.

gambar dari sini

Mitos 3 : sebaiknya mengawali berbuka dengan minum teh atau kopi agar tubuh terasa segar

Fakta : kopi dan teh mengandung kafein sehingga jika dikonsumsi dalam keadaan perut kosong dapat memicu penyakit maag.

Solusi : lebih baik mengawali berbuka dengan segelas air putih pada suhu ruang bersama beberapa butir kurma atau beberapa potong buah segar. Air putih dapat membantu proses pencernaan dan mendorong pelaksanaan fungsi tubuh lebih baik. Selain itu, air putih juga adalah jenis cairan yang paling aman dan paling mudah diterima oleh tubuh setelah tidak makan dan minum selama lebih kurang 14 jam. Selanjutnya anda dapat mengonsumsi beberapa butir kurma atau beberapa potong buah segar yang dapat membantu memulihkan energi dalam waktu cepat tanpa menimbulkan gangguan pencernaan.

Jika tetap ingin minum air teh atau kopi, anda dapat melakukannya 1-2 jam setelah makan malam agar tidak menimbulkan gangguan pada lambung. Itu pun sebaiknya tidak berlebihan karena teh dan kopi bersifat diuretik sehingga dapat meningkatkan pengeluaran urine tubuh.

gambar dari sini

Mitos 4 : banyak minum minuman manis pada saat berbuka baik untuk mengembalikan energi

Fakta : minuman manis adalah karbohidrat sederhana yang mampu meningkatkan kadar gula darah. Jika dikonsumsi secara berlebihan, hal ini akan mengakibatkan lonjakan gula darah yang memicu rasa lapar. Akibatnya, kita akan makan dalam porsi besar usai berbuka puasa. Selain itu, kelebihan asupan gula juga dapat dengan mudah disimpan tubuh sebagai glikogen dan lemak. Jika hal ini terus berlangsung, maka kenaikan berat badan setelah bulan puasa akan sulit dihindarkan.

Solusi : air putih adalah pilihan ideal untuk mengawali menu berbuka puasa. Untuk mengembalikan energi secara cepat dan aman, lebih baik mengonsumsi buah-buahan segar atau 1-2 butir kurma. Kalaupun ingin minum minuman manis, sebaiknya tidak mengonsumsinya secara berlebihan agar tidak terjadi lonjakan gula darah.

Mitos 5 : berolahraga pada bulan puasa dapat menyebabkan tubuh lemas dan mengalami dehidrasi

Fakta : kenyataannya, berolahraga secara teratur di bulan puasa dapat menjaga kebugaran tubuh dan mencegah timbulnya rasa lemas saat berpuasa. Hanya saja, kita sebaiknya melakukannya pada waktu menjelang berbuka. Sebaliknya pula, jika kita bermalas-malasan atau membatasi aktivitas fisik di siang hari bulan puasa, maka kadar gula darah akan lebih cepat turun dan oksigen tidak masuk ke dalam sel-sel tubuh. Hal inilah yang kemudian menyebabkan tubuh terasa lemas, loyo dan tidak bertenaga.

Solusi : agar kebugaran tubuh tetap terjaga, lakukan olahraga dalam intensitas ringan atau sedang kira-kira 1 - 2 jam menjelang waktu berbuka puasa. Jangan melakukan olahraga di siang hari apalagi di bawah terik sinar matahari karena kehilangan cairan tubuh yang tidak cepat tergantikan dapat menyebabkan dehidrasi. Selanjutnya, minumlah air putih secara teratur sejak berbuka hingga sahur dengan pola 2+4+2 agar kebutuhan cairan tubuh terpenuhi.

Mitos 6 : saat terjadi gejala dehidrasi, kita bebas mengonsumsi cairan jenis apapun, yang penting kebutuhan cairan tubuh segera terpenuhi

Fakta : minuman terbaik untuk mengatasi gejala dehidrasi adalah air putih. Ini dikarenakan air putih mudah diterima oleh tubuh dan dapat memperlancar sistem di dalam tubuh. Sebaliknya, mengonsumsi minuman yang mengandung pemanis apalagi pemanis buatan justru dapat menambah beban racun dalam tubuh. Kopi dan teh juga bukan pilihan yang baik untuk mengatasi dehidrasi. Perpaduan gula dan kopi menciptakan lingkungan asam dalam tubuh sehingga membebani kerja ginjal karena ginjal harus membersihkan tubuh dari kelebihan asam. Selain itu, minuman mengandung kafein seperti teh hitam dan kopi yang bersifat diuretik juga dapat menguras cairan tubuh.

Solusi : minumlah air putih secara teratur dengan pola 2+4+2 sejak berbuka hingga sahur selama bulan puasa agar tidak terjadi gejala dehidrasi. Hindari melakukan aktivitas fisik secara berlebihan di siang hari apalagi di bawah terik matahari karena akan membuat tubuh banyak berkeringat dan kehilangan cairan tubuh tersebut tidak dapat cepat tergantikan saat kita berpuasa.

Mitos 7 : minuman bervitamin atau minuman berenergi baik dikonsumsi saat berbuka untuk mengembalikan stamina  dan mencukupi kebutuhan vitamin tubuh

Fakta : minuman dalam kemasan yang sudah ditambahi vitamin, sama halnya dengan suplemen, memerlukan waktu untuk bisa diserap oleh tubuh sehingga pemulihan energi pun tidak akan berlangsung secara instan. Selain itu, pada umumnya minuman bervitamin atau minuman berenergi juga mengandung kadar gula yang cukup tinggi sehingga kurang baik jika dikonsumsi berlebihan.

Solusi : minuman bervitamin atau berenergi boleh dikonsumsi dalam bulan puasa sepanjang tidak berlebihan. Namun sebaiknya kita meneliti terlebih dulu kandungannya untuk menghindari gangguan kesehatan yang tidak diinginkan. Contohnya, minuman dengan kandungan vitamin C tinggi kurang baik dikonsumsi secara terus menerus oleh penderita penyakit maag. Teliti juga kandungan pemanis buatan dan komposisinya di dalam minuman. Kadar pemanis buatan yang tinggi tidak dianjurkan karena dapat menambah toksin dalam tubuh. Lebih baik minum air putih dengan pola 2+4+2 untuk mencukupi cairan tubuh selama berpuasa karena air putih mudah diterima tubuh tanpa menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan.

Mitos 8 : minum kopi atau teh di waktu sahur dapat membuat stamina meningkat di siang hari dan terhindar dari rasa kantuk

Fakta : seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa kopi dan teh bersifat diuretik sehingga justru akan menguras stok cairan tubuh. Gula di dalam teh atau kopi juga akan membuat kadar gula darah naik seketika namun turun dengan cepat hingga tubuh justru lebih cepat merasa lemas.

Hal ini sempat dialami penulis beberapa tahun lalu saat terbiasa minum teh di waktu sahur. Akibatnya justru tubuh terasa lemas dan cepat merasa haus pada siang hari bulan puasa.

Solusi : jika ingin minum teh atau kopi sebaiknya dikonsumsi di malam hari usai makan malam dan porsinya cukup secangkir saja. Untuk menjaga stamina di siang hari bulan puasa, kita sebaiknya mencukupi cairan tubuh dengan pola 2+4+2, mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang serta istirahat yang cukup agar terhindar dari rasa mengantuk yang berlebihan di siang hari.

gambar dari sini
 
Agar kesehatan tetap prima selama bulan puasa, pastikan juga bahwa air yang kita konsumsi adalah air dengan kualitas terbaik. Dalam hal ini air mineral AQUA sebagai produk yang telah teruji kualitasnya dan telah menjadi sahabat keluarga Indonesia selama puluhan tahun, adalah pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan hidrasi selama bulan puasa dengan menerapkan pola 2+4+2. AQUA adalah air mineral yang berasal dari sumber mata air terlindungi, telah melalu seleksi yang ketat berstandar internasional dan telah meraih berbagai penghargaan sebagai produk air kemasan terbaik.

Bersama AQUA, mari kita penuhi kebutuhan cairan tubuh selama bulan puasa dengan pola 2+4+2 disertai pengamalan pola hidup sehat dan seimbang. Semoga upaya ini akan meningkatkan derajat kesehatan kita selama bulan puasa seiring dengan meningkatnya derajat keimanan dan ketakwaan kita. Amin.

Referensi :

  • www.m.detikcom
  • www.republika.co.id
  • www.portalsatu.com
  • www.aqua242.com
  • Fakta Minuman di Bulan Puasa


No comments:

Post a Comment