Riawani Elyta: Resensi Buku Bahagia Ketika Ikhlas : Setiap Ibu Berhak untuk Bahagia

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 15 December 2014

Resensi Buku Bahagia Ketika Ikhlas : Setiap Ibu Berhak untuk Bahagia



Pada tahun 2006 silam, negeri ini dikejutkan oleh berita menggemparkan dari kota kembang, Bandung, tentang Ibu Anik Koriah yang tega menghabisi nyawa ketiga anak kandungnya. Padahal, menilik latar belakang, ibu Anik adalah seorang yang cerdas, berprestasi, alumni ITB dengan nilai IPK kelulusan 3,2, aktivis dakwah, taat beribadah, menutup auratnya dengan rapi, memiliki suami yang sholeh dan berpendidikan tinggi, juga orang tua yang cerdas dan taat beragama (sumber : http://psycho-moslem.blogspot.com.


Saat ditanyakan kepadanya alasan dibalik perbuatan sadisnya, dia mengatakan bahwa dia merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya, sehingga khawatir akan masa depan anak-anaknya kalau ketiganya dibiarkan tetap hidup (hal. 11). Dari hasil penyelidikan dan analisa psikis, diyakini bahwa ibu Anik mengalami paranoid dan depresi akut hingga mengalami puncaknya dengan kenekatannya membunuh anak-anaknya.

Apa yang dilakukan Ibu Anik Koriah bukan satu-satunya kasus terkait depresi yang dialami oleh kaum ibu. Tidak sedikit kaum wanita – khususnya para ibu – mengalami kondisi psikis yang negatif mulai dari merasa tertekan, terintimidasi, stres, lelah jiwa dan pikiran, hingga mengalami depresi akut seperti yang terjadi pada Ibu Anik.

Fakta ini menunjukkan bahwa menjalani   “profesi” sebagai ibu bukanlah hal yang mudah. Seperti juga yang diutarakan penulis sebagai kalimat pembuka bukunya, bahwa banyaknya buku dan artikel yang menulis tema seputar menjadi ibu bahagia, menunjukkan betapa untuk menjadi ibu yang bahagia ternyata tidaklah mudah, sehingga konsep ibu bahagia selalu menjadi tema menarik yang tidak pernah bosan untuk dibahas dan dipelajari. (hal.1).

Lantas, bagaimana konsep ibu bahagia yang ditawarkan oleh penulis?

Saat membaca judul dan tagline, terlihat bahwa konsep tersebut merujuk pada relevansi antara bahagia dan keikhlasan. Penulis mengawali pemaparannya dengan menghadirkan teori kebutuhan dasar manusia versi Maslow, dimana berdasarkan teori tersebut, kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri yang berakar pada konsep diri.  Jika dihubungkan dengan kaum ibu yang menjadi subjek bahasan sentral  dalam buku ini, kebutuhan akan aktualisasi diri ini kerap memunculkan dilema saat sang ibu gagal membentuk konsep dirinya berasaskan kejujuran. Kejujuran untuk mengenali kelebihan dan kekurangan, juga mengetahui secara tepat hal-hal yang membuatnya bahagia. (hal. 5)

Pada  bab selanjutnya, penulis memaparkan penyebab stres pada kaum ibu yang dipicu oleh faktor hormonal. Disebutkan bahwa wanita mengalami perubahan hormon yang sangat besar pada masa kehamilan dan dapat memicu stres. Rasa takut yang berlebihan juga terkadang menyerang wanita pada masa menjelang melahirkan. Tak cukup sampai di situ, wanita juga masih dihantui kondisi psikis baby blues syndrome dan postpartum depression pasca melahirkan. Di sini, penulis tak hanya menyajikan beragam penyebab dan gejala stres yang dialami sekian persen ibu pada masa-masa krusial ini, tetapi juga disertai langkah-langkah aplikatif untuk mengatasi stres tersebut dan problema psikis lainnya yang kerap terjadi pada masa kehamilan hingga menyusui.

Bab berikutnya mengajak pembaca mengenali penyebab eksternal terhadap stres yang dialami kaum ibu. Penyebab eksternal ini umumnya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara peran-peran yang harus dijalani dengan kemampuan sang ibu dalam menjalaninya. Pada bab ini pembaca akan diajak menelusuri peran-peran tersebut dan bagaimana tips menjalaninya secara optimal dan tepat porsi. Tak lupa pula, penulis mengajak pembaca, khususnya kaum ibu, untuk mengenali emosi negatif dan cara menyingkirkannya.

Membangun konsep aktualisasi diri seorang ibu menjadi topik bahasan pada bab 4 yang bertajuk Being Me – Menjadi Ibu yang Apa Adanya. Menurut penulis, adalah penting bagi seorang ibu untuk jujur pada diri sendiri akan pilihan hidupnya, termasuk pilihan untuk bahagia dalam versi masing-masing dan tak lupa mengomunikasikannya pada keluarga, serta melakukan hal-hal yang dapat menjaga keseimbangan hidup seperti menekuni hobi, rutin berolahraga, tetap menambah ilmu dan memperluas pergaulan.

Bab 5 adalah bab yang memuat topik utama, yaitu bagaimana meraih bahagia dengan membangun keikhlasan. Di sini, penulis memaparkan secara lengkap segala hal terkait keikhlasan mulai dari pemahaman konsep ikhlas yang benar, mengapa harus ikhlas, definisi ikhlas, bagaimana tips dan trik membangun ikhlas, serta manfaat ikhlas untuk meraih kebahagiaan. Terkait dengan manajemen keikhlasan, penulis menyandarkan pembahasannya pada teori Quantum Ikhlas versi Erbe Sentanu dengan mengadaptasinya sesuai peran dan aktivitas para ibu, disertai pengalaman nyata penulis juga kisah hidup inspiratif Nick Vujicic, seorang motivator andal dunia yang ditakdirkan terlahir tanpa tangan dan kaki.

Penulis menjadikan bab 6 – Meraih Sukses dengan Hati Bahagia sebagai bab pamungkas, dengan mencoba meluruskan paradigma bahagia vs sukses, mengutip kisah nyata Putri Herlina yang terlahir tanpa tangan namun memiliki sikap syukur dan optimis yang luar biasa, serta mengajak kaum ibu mengenali kekurangan dan kelebihan sesuai typenya masing-masing - yang oleh penulis dibagi menjadi tiga kategori : working mom, full time mom, dan working at home mom - agar memudahkan jalan menuju keikhlasan.

Sedikit mengutip kalimat di awal resensi, bahwa diantara banyaknya buku yang menulis tema seputar menjadi ibu bahagia, buku karya ibu yang kini bermukim di Malaysia ini memiliki beberapa keunggulan yang layak dipertimbangkan untuk dipilih dan dimiliki, yaitu : 

1.  Bersegmentasi luas. Pilihan kosakata dan penuturan penulis tergolong mudah dipahami, lancar, akrab dan komunikatif sehingga dapat menjangkau segmentasi pembaca dari berbagai kalangan, latar pendidikan, profesi, bahkan gender. Meskipun subjek sentral buku ini adalah kaum ibu, buku ini juga bisa dibaca oleh kaum bapak sebagai penambah referensi dan wawasan tentang dunia ibu yang sesungguhnya.

2.   Lengkap dan aplikatif. Buku ini mengupas secara lengkap fase-fase dalam kehidupan seorang ibu juga berbagai peran ibu yang rentan mengalami gangguan psikis, disertai tips-tips aplikatif untuk mengatasinya. Dalam pemaparannya, penulis menggabungkan referensi teori dari para ahli, beberapa rujukan Al-Quran dan hadits, pengalaman pribadi dan juga sedikit cuplikan kisah nyata yang melebur secara harmonis sehingga tidak terkesan menggurui. Adanya bagan dan gambar sebagai pendukung teori juga mempermudah pemahaman visual pembaca.

3.  Reliable. Adanya pemaparan teori Quantum Ikhlas disertai aplikasinya dalam kehidupan penulis dan bukti-bukti akan hasilnya, menjadikan teori tersebut tak hanya sekadar populer, tetapi juga layak dipercaya dan diandalkan dalam pelaksanaan manajemen keikhlasan. Ditambah dengan upaya penulis mengadaptasi teori tersebut dengan aktivitas keseharian kaum ibu, menjadikan teori ini pun dapat diaplikasikan secara nyata oleh kaum ibu.

4.  Proporsional. Meskipun penulis adalah seorang full time mom, penulis mengupas kelebihan, kekurangan dan tips-tips solutif untuk setiap kategori kaum ibu - working mom, full time mom, dan working at home mom – secara proporsional dan tidak hanya memihak pada salah satu kategori. Buat saya pribadi dengan aktivitas harian yang mencakup ketiga kategori ini (40% working mom, 50% full time mom, dan 10% working at home mom), proporsi ini sangat melegakan. Jujur saja, saya terkadang merasa sedih saat membaca buku nonfiksi yang diperuntukkan bagi kaum ibu namun hanya memihak dan membela kaum ibu dari kategori tertentu saja.

5. Inovatif. Penulis tak hanya sekadar mengupas teori Quantum Ikhlas, tetapi juga berani menabrakkannya dengan teori lain yang tak kalah popular, yaitu positive thinking. Menurut penulis, sikap ikhlas sejati berbeda dengan positive thinking, karena dalam konsep positive thinking, rasa kecewa seolah sedang ditekan dan tubuh dipaksa merasa bahagia. Sedangkan dalam konsep ikhlas, rasa kecewa dan bahagia justru harus diterima utuh oleh tubuh, dan dari situlah tubuh menjadi lebih rileks (hal. 109).

6.    Easy-pick-a-note. Lay-out bagian dalam buku yang memberi font warna merah muda dan kolom khusus untuk kalimat-kalimat motivasi, membuat pembaca mudah memindainya ke dalam catatan pribadi sebagai pengingat kapan pun dibutuhkan.

Beberapa catatan yang kiranya dapat menjadi koreksi jika kelak buku ini kembali dicetak ulang :
-      Pembetulan penulisan kata “desperate” yang berkali-kali ditulis dengan “desprete
-     Buku seri Why “Puberty” yang dijadikan contoh oleh penulis sebagai buku pendamping remaja (hal. 54), ada baiknya diganti buku lain mengingat buku tersebut telah ditarik dari peredaran.

Menikmati lembar-lembar buku ini, para pembaca khususnya kaum ibu seakan tengah melihat cerminan diri dalam berbagai dimensi, dan paparannya dapat menggugah kesadaran akan hakikat kebahagiaan sejati, juga bagaimana mengupayakan keikhlasan yang paripurna dalam mencapai kebahagiaan tersebut. Sungguh sebuah ilmu yang sangat rugi jika diabaikan. Buku ini juga memiliki pesan yang kuat bahwa setiap ibu berhak untuk bahagia. Kebahagiaan tak melulu harus dicapai dengan cara merevolusi diri menjadi seorang ibu yang sempurna, melainkan dengan menerima secara utuh segala kekurangan yang dimiliki dan menjadikan (kesempurnaan) Allah sebagai sumber penolong terbesar untuk meraih semua cita-cita hidup termasuk kebahagiaan.

Sebagai penutup, saya sertakan beberapa kutipan kalimat inspiratif dari buku ini, yang mudah-mudahan dapat memantapkan niat anda untuk menjadikan buku ini  sebagai pilihan yang bermanfaat :

“Ketika seorang ibu mampu mengenali kelebihan dan kekurangan diri, dan mampu mengetahui apa-apa yang membuatnya bahagia dengan pilihannya, maka di situlah tercapai kebutuhan akan aktualisasi diri.” (hal. 5).

“Bukan zamannya lagi membandingkan siapa yang paling baik, working mom, full time mom, dan working at home mom, semua pilihan punya konsekuensi, dan punya peluang bahagia di dalamnya, asal kita berani jujur pada nurani dan juga konsisten dengan pilihan kita itu.” (hal. 6)

Supermom tak berarti sanggup melakukan semuanya tanpa henti, tetapi menjadi ibu yang supermom justru ketika kita mampu menelusuri prioritas mana yang didahulukan dan mana yang bisa ditinggalkan.” (hal. 77)

“Konsep aktualisasi diri tidak melulu harus dihargai orang lain dan menjadi berarti di mata orang banyak, aktualisasi diri yang sejati sesungguhnya adalah ketika kita sudah mampu paripurna menghargai diri kita.” (hal. 111)

“Jalan bahagia dapat kita wujudkan tanpa harus menjadi supermom tanpa cela, melainkan cukuplah menjadi original mom lengkap dengan segala kekurangannya namun kita percaya dengan kekuatan super milik Allah, maka keluarga bahagia yang sukses dapat kita wujudkan.” (hal. 182)

Judul             : Bahagia Ketika Ikhlas
Penulis          : Rena Puspa
Penerbit        : Elex Media
Jenis              : Non fiksi      
Hal                : 186 hal
Tahun           : 2014
ISBN            : 978-602-02-4557-7


13 comments:

  1. resensi yang super lengkap...salam kenal mba ...

    ReplyDelete
  2. Suhanallah ya jadi wanita itu...hiks, hamil dan melahirkan ada pengaruh hormon, mau datang bulan hormon lagi, kontrasepsi hormon juga, kalau bisa dengan baik menjaga emosinya Allah subhanallah bgt pokoknya...

    ReplyDelete
  3. iya Kania, wanita memang makhluk yg kompleks ya

    ReplyDelete
  4. Dunia para ibu adalah dunia banyak warna dan cerita. Tak habis-hais dibahas oleh pakar :D

    ReplyDelete
  5. betul mbak eky, dunia yg selalu menginspirasi :)

    ReplyDelete
  6. resensi Mbak Riawani selalu maknyus dan keren :))
    top bgt (y)

    ReplyDelete
  7. Lucu membaca kata "desprete" itu.
    Berdasarkan banyak kasus yg terjadi, semua ibu yg stress dan depresi berlebihan itu adalah ibu rumah tangga alias yg sehari2nya di rumah. Agaknya karena tidak adanya saluran utk mengaktualisasikan diri, ditambah penghasilan suami yg kurang dan si ibu tidak bisa membantu suami dalam mencari nafkah. Ditambah tidak ada dukungan dari suami. Aku udah pernah nulis ttg ini juga dan dishare banyak ibu2.

    ReplyDelete
  8. leyla : di buku mbak rena ini juga ada disebutin bbrp hasil penelitian ttg itu

    ReplyDelete
  9. Seperti biasanya, reviewnya lengkap ya, Mbak (^_^)
    Bisa jadi bekal yang baik nih untuk saya yang masih single..he..he..
    Hm..masuk wishlist 2015, ah. Mudah2an nanti bisa memiliki meski sudah mencanangkan "puasa belanja buku".
    InsyaAllah kalo rezeki nggak kemana.

    ReplyDelete
  10. iya Atria, insya Allah pintu rezeki selalu terbuka dari arah yang tak disangka2 ya :)

    ReplyDelete
  11. assalamu'alaikum kakak .. aku masih 18tahun ... tapi aku suka baca baca buku begini .. terutama bukanya ustadz felix xiau "Udah Putusin Ajah" subhannAlloh ...... aku belum ngerasain jadi ibu .. tapi dr buku ini bikin kita tau sedikit tentang apa yg buat ibu aku bahagia. .. makasihh ... assalamualaikum....

    ReplyDelete
  12. komplit mbak. saya baru bingung ditawari dua buku, salah satunya ini. mantap pilih buku ini deh.

    tfs mbak.

    ReplyDelete