Riawani Elyta: Resensi Enrique's Journey : More Than Just an Ordinary True Story

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 24 October 2014

Resensi Enrique's Journey : More Than Just an Ordinary True Story

Setiap tahun, 48,000 anak seperti Enrique melakukan perjalanan ribuan kilometer ke Amerika Serikat dengan menumpang di atap kereta api yang mereka sebut Al Train de la Muerte atau Kereta Api Maut. Sepanjang perjalanan mereka dihantui oleh ancaman pemerasan, pemukulan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan oleh para bandit.

Beberapa dari imigran gelap itu melakukan perjalanan berhari-hari tanpa makan. Jika kereta berhenti, mereka akan merunduk di dekat rel dan meminum beberapa sesap air dari genangan yang telah tercemar minyak mesin. Mereka tidur di atas pohon atau diantara rumput-rumput yang tinggi. Dan, anak-anak ini berani menantang perjalanan maut "hanya" untuk bertemu ibu mereka yang bekerja sebagai pekerja ilegal di Amerika Serikat. Kerinduan pada ibulah yang sanggup mengobarkan keberanian mereka.


Kisah nyata ini ditulis oleh seorang jurnalis bernama Sonia Nazario. Kisah yang sebelumnya dipublikasi dalam bentuk artikel bersambung di Los Angeles Times. Sonia membuka kisah ini dari sudut pandangnya sebagai penulis, latarbelakang penulisannya, bagaimana proses risetnya dan kontemplasinya  saat menuliskan kisah ini. Dan, diantara semua itu, proses riset Sonia, bolehlah menjadi bagian yang layak diacungi dua jempol. 

Betapa tidak? Sonia tidak hanya "sekadar" mewawancarai pelakunya dan pihak-pihak yang terkait dengan kisah ini, tetapi juga ikut melakukan perjalanan migrasi berbahaya selama lebih dari enam bulan bersama anak-anak migran gelap Amerika Latin, termasuk ikut merasakan ancaman bahaya yang kerap mengintainya sepanjang perjalanan, diantaranya, Sonia juga pernah nyaris terbunuh dan diperkosa.

Pada hal. 26, kisah ini pun dimulai. Sonia mengubah sudut pandang (pov) menjadi pov segala tahu untuk memotret secara detail perjalanan Enrique, seorang bocah Honduras berusia 17 tahun dalam upayanya menemui sang ibu, Lourdes, yang telah lebih dulu menjadi imigran legal di Amerika Serikat. Maka, sepanjang tiga perempat isi buku, kita akan disuguhkan dengan rangkaian kisah yang menegangkan, membikin jeri, juga mengharukan. Kita juga sangat mungkin dibuat ternganga dengan lika-liku perjalanan Enrique yang dihantui ancaman bahaya maut dan keteguhan niatnya menghadapi kerasnya hidup dan cobaan demi cobaan untuk dapat menemui ibunya. Pada bagian-bagian akhir kisah ini, kita juga akan disuguhkan kisah tentang Lourdes, perjuangannya sebagai migran ilegal, apa yang ia rasakan saat harus meninggalkan keluarga dan tanah airnya, dan apa yang ia peroleh dari perjuangan hidupnya tersebut.

Boleh jadi, inilah kisah nyata pertama yang saya baca, yang mampu mengombinasikan pemaparan yang detail dengan penjiwaan yang begitu kuat. Tak diragukan lagi, data dan fakta yang disuguhkan Sonia adalah poin plus yang membuat bobot kisah nyata ini lebih dari sekadar kisah nyata biasa, ditambah dengan keseriusan Sonia dalam risetnya hingga sanggup menjalankan peran sebagai seorang migran legal, dan pengalaman Sonia sebagai jurnalis, membuat lembar-lembar buku ini menjelma a-page-turning-true-story. Satu hal yang tak kalah unik, pada bagian penutup buku ini, Sonia juga menceritakan sumber-sumber riset yang valid terhadap peristiwa-peristiwa yang ia ceritakan di dalam buku ini. 

Tak heran, jika buku yang ditulis Sonia dalam kurun waktu lima tahun ini, diganjar penghargaan Pulitzer pada tahun 2003, telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa, dan versi artikelnya sendiri memenangkan lebih dari 20 penghargaan jurnalisme.

Sebuah kisah nyata yang akan memperkaya wawasan kita sekaligus mengentakkan emosi, akan pahit getir pengalaman para migran cilik Amerika Latin.

Judul         :   Enrique's Journey
Penulis      :   Sonia Nazario
Penerbit    :  Bentang Pustaka
Terbit        :  April 2008 (cetakan ke-2)
Hal           :  396 hal

2 comments:

  1. wah, saya baru tahu ceita ini, cerita tentang anak-anak dan orang-orang Amerika latin yang menjadi imigan gelap di Amerika Serikat. Taunya dulu, imigran gelap Asia (khusunya Tiongkok dan negara-negara berkonflik di Asia) yang datag ke USA.

    ReplyDelete
  2. Iya mbak, banyak migran gelap amerika latin di usa, rata2 negara America latin juga bukan negara kaya

    ReplyDelete