Riawani Elyta: Resensi Buku Berhala itu Bernama Budaya Pop : Saat Hidup Modern Terkepung oleh Produk Budaya Pop

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 30 October 2014

Resensi Buku Berhala itu Bernama Budaya Pop : Saat Hidup Modern Terkepung oleh Produk Budaya Pop

Tanpa disadari, kehidupan modern saat ini telah terkepung oleh produk-produk buatan manusia sendiri. Produk yang membuat manusia mengalami ketergantungan, bahkan kecanduan, hingga rasanya ada yang kurang jika sehari, atau bahkan sejam saja berpisah dengannya. Ataupun jika hidup tanpa melibatkan kehadiran produk tersebut di dalamnya. Sebut saja diantaranya gadget, internet, televisi, game, termasuk produk-produk kecantikan bagi wanita.

Inilah yang kemudian membentuk budaya pop. Atau budaya komersil, atau juga dalam istilah lain disebut budaya massa. Sebagaimana dikutip dari Pikiran Rakyat, menurut Idi Subandi Ibrahim, budaya pop merupakan kebudayaan massa yang populer dan ditopang oleh industri kebudayaan serta mengonstruksi masyarakat tak sekadar berbasis konsumsi, tapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri. (hal. 3).

Dalam buku bersampul kuning ini, penulis dengan gamblang dan lugas membeberkan fenomena dan dampak negatif dari pengaruh budaya pop ini terhadap masyarakat.

Pada bab 1 yang berjudul Berhala itu Bernama Budaya Pop, yang sekaligus menjadi judul buku ini, penulis terlebih dulu memberikan pengertian untuk istilah-istilah yang erat hubungannya dengan fenomena budaya pop itu sendiri, diantaranya mencakup pengertian budaya, budaya pop, masyarakat modern, komersialisasi, rasionalisasi, dan monetisasi.

Pada bab 2 yang berjudul Mazhab Kritis sebagai Alat Baca, penulis menjelaskan tentang makna kritis baik secara harfiah maupun historis, mengapa sikap kritis diperlukan dan tanda-tanda dari sikap dan pikiran kritis. Adapun maksud penulis menghadirkan pembahasan tentang ini, adalah agar pembaca dapat menyikapi budaya pop dengan sepenuh kesadaran dan bukannya terlena oleh gemerlapnya budaya tersebut.

Penulis menggunakan bab-bab selanjutnya untuk menguraikan efek negatif dari elemen-elemen budaya pop. Diantaranya efek bermain games yang dapat menyebabkan kecanduan, siaran televisi yang tidak bermutu dan dapat memberi pengaruh buruk pada anak-anak, ketergantungan pada gadget dan internet, mall dan cafe sebagai pembentuk budaya hedonis dan mematikan ekonomi masyarakat kecil, juga bagaimana kaum wanita sangat mendewa-dewakan fashion dan kecantikan.

Tidak semuanya berfokus pada efek negatif budaya pop, pada beberapa bagian, penulis mengulasnya dalam kapasitas sebuah fenomena, dimana penulis sendiri mengaku ia pun pernah terjebak didalamnya. Sebut saja tentang bagaimana pengguna internet begitu “menuhankan” google hingga setiap kali ingin mengetahui sesuatu, cukup melakukannya dengan mengetik di kolom pencarian google. Dan tentu saja, fenomena media sosial seperti facebook yang bisa bikin penggunanya kadang tertawa-tawa sendiri seperti orang gila saat asyik mengaksesnya.

Buku ini disajikan dengan penuturan campuran, ada dalam bahasa serius saat penulis menguraikan tentang pengertian, makna etimologi dan histori. Dan lebih banyak yang dituturkan dalam bahasa gaul, dilengkapi ilustrasi-ilustrasi kartun sebagai pemisah antar bab, serta istilah-istilah guyon dalam versi penulis sendiri, seperti tampangisme, wajahisme, zaman goblogisasi dan gombalisasi. Pada beberapa lembarnya, “celetukan” penulis cukup memberi kesan tertohok dan tertampar. Misalnya saja saat penulis menguraikan tentang fenomena jilbab dewasa ini, dimana jilbab lebih menonjolkan sisi modis dan gaya ketimbang memenuhi aturan. Para jilbaber dewasa ini, banyak yang tak bisa menghindar dari serangan virus “aku bergaya, maka aku ada”, yang merupakan saduran dari pernyataan Rene Descartes, filsuf Prancis yang berbunyi “aku berpikir, maka aku ada,” juga yang lumayan tajam, saat penulis menganalogikan eksistensi internet saat ini tak ubahnya sebuah “agama”, yang membuat penggunanya asyik masyuk dengan dunianya sendiri, dan menganggap internet selayaknya orbit kehidupan.

Buku ini memang tidak secara nyata memaparkan langkah-langkah solusi untuk mengantisipasi efek negatif budaya pop. Penulis sepertinya memang sebatas menggiring pembaca pada kesadaran dan perenungan untuk kemudian memutuskan sendiri sikap yang tepat terhadap gerak laju budaya pop yang telah kian jauh merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat dewasa ini.


  Judul        :            Berhala itu Bernama Budaya Pop
  Penulis     :            Ridho “Bukan” Rhoma
  Penerbit   :            Leutika
  Tebal       :            91 hal
  Jenis       :            Non Fiksi
  Terbit      :            Juni 2009


No comments:

Post a Comment