Riawani Elyta: Buku xxx di Perpustakaan Umum, Layakkah?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 10 October 2014

Buku xxx di Perpustakaan Umum, Layakkah?

Beberapa waktu lalu, saat menjadi juri lomba resensi yang diadakan Kantor Perpustakaan dan Arsip pemda setempat, , saya memanfaatkan waktu dengan berkeliling di perpustakaan daerah - tempat lomba tersebut diadakan - sebelum lomba digelar. Di satu sudut, pada dua buah rak yang disusun berbentuk L berlabel "novel", saya menemukan novel-novel "hot" karya Moammar Emka. Nggak tanggung-tanggung, jumlahnya ada 5 (lima) judul, dan untuk beberapa judul, stoknya sampe 10 eksemplar!

Novel-novel karya Moammar Emka di rak perpustakaan
Saya lalu mengambil 1 judul dari masing-masing stok, saya foto, saya laporkan ke pegawai perpus, termasuk ke kepala kantor.

Penjelasan mereka, semua buku-buku itu adalah pengadaan dari perpustakaan pusat. Saya ingin bertanya, kenapa tidak diseleksi dulu sebelum diberi nomor dan dipajang? Tapi mereka sudah lebih dulu curhat kalau pegawai perpus jumlahnya sangat sedikit, dan sampai sekarang, belum ada tenaga pustakawan. 

Di hari yang sama, beberapa orang dari perpusnas datang berkunjung. Dengan waktu yang sangat sempit, saya menyempatkan diri nyamperin salah satu dari mereka, untuk melaporkan hal yang sama. Jawabannya, bahwa semua buku pengadaan untuk di daerah sudah terlebih dulu diseleksi, tapi kalau ada yang sejenis itu bisa lolos, mungkin dari pihak ketiga-nya, yang mengganti judul buku yang kosong di dalam daftar, dengan judul lain.

Tapi, kalaupun menggantikan, kenapa sampai sekian judul dan jumlahnya pun sekian eksemplar? batin saya.

Rasa penasaran saya nggak terjawab tuntas, tim tersebut sudah buru-buru pergi karena ada keperluan lain.

Jauh sebelum itu, pertama kali saya mengenal novel-novel sastra lendir, (atau disebut juga sastra wangi), sebut saja novel-novel karya ayu utami, djenar mahesa ayu, juga sebuah novel metropop  yang mengeksplor adegan masturbasi dan ML, juga dari perpustakaan daerah (bukan perpustakaan di awal cerita).

Sementara, suatu ketika dulu, novel karya mbak Jazimah al Muhyi berjudul Ada Duka di Wibeng, sempat memantik heboh, karena novel tersebut yang di dalamnya terdapat pembicaraan seputar kontrasepsi ditemukan di perpustakaan SD. Peristiwa yang membuat penulisnya (jelas-jelas) shock, dan langsung menarik diri sepenuhnya dari media sosial di dumay, dan saya juga nggak tahu apakah mbak jazim yang sebelumnya adalah penulis produktif, masih menulis atau tidak. Padahal, konten buku tersebut sama sekali tidak bermuatan porno, dan karena salah distribusi, justru penulis jadi korbannya. (kisah tentang kasus ini, bisa disimak di catatan Afifah Afra disini).

Dari tulisan diatas, hasil penelusuran di lapangan juga pendapat teman-teman saat foto buku-buku tersebut saya bagikan di facebook, saya mencoba merangkum asumsi, kronologis, dan juga harapan saya, sebagai berikut :
  1. Mengingat pengadaan perpusnas yang didalamnya terdapat buku-buku bermuatan xxx adalah untuk perpustakaan umum, jadi kemungkinan buku-buku tersebut bisa lolos dalam pengadaan, bisa saja terjadi. Namun dari data yang ada dan keterangan dari petugas perpusda, bahwa 90% pengunjung perpustakaan mereka adalah kalangan pelajar (SD, SMP, SMA), maka keberadaan buku-buku tersebut bukan tak mungkin, bisa saja terbaca oleh pengunjung dari kalangan pelajar.
  2. Terbatasnya jumlah pegawai perpusda, dan ketiadaan tenaga pustakawan, juga menyebabkan mereka tidak sempat menyortir buku-buku yang sudah didistribusikan, apalagi, mengingat ini udah pengadaan dari "induk"nya, sangat mungkin mereka juga sudah yakin bahwa buku-buku tersebut telah melalui proses seleksi yang ketat.
  3. Perpusda tersebut telah membagi ruangnya menjadi dua, lantai satu untuk bacaan anak-anak dan lantai dua untuk umum. Dan menurut pegawainya, sejauh ini sepertinya buku-buku tersebut yang terletak di lantai dua belum terjamah oleh pembaca pelajar. Mereka juga sudah berjanji akan segera menurunkan buku-buku tersebut dari rak. Saya berharap mereka tidak lupa dengan janji tersebut, karena meskipun perpusda adalah perpustakaan umum, dan ruang buku telah dibagi, dengan keterbatasan jumlah pegawai, sulit rasanya mengontrol pembaca pelajar yang mampir di rak buku umum, apalagi kalau mereka ingin mencari buku referensi untuk tugas sekolah yang umumnya terdapat di ruang buku umum.
  4. Meskipun novel-novel "hot" tersebut diperuntukkan bagi pembaca dewasa, namun keberadaannya di perpustakaan umum, menurut saya bukanlah sebuah tindakan tepat, mengingat perpustakaan umum terbuka untuk pembaca dari semua kalangan. Kira-kira pada miris nggak, kalau sekelompok pelajar berkumpul lalu berbisik-bisik, "Eh, kalian mau baca buku yang ada 'itu-itu'nya nggak?"  Temannya lalu menjawab, "mau, mau! Dimana?"  "Di perpustakaan!"   (atau dengan kata lain, pingin baca buku porno, nggak perlu beli di tobuk, atau sewa di tempat persewaan komik cabul, cukup ke perpus aja, gratis lagi!)
  5. Tanggung jawab mendidik dan mengawasi anak-anak, memang berada di pundak para orang tua. Tetapi alangkah baiknya, kalau dalam melaksanakan tanggung jawab ini juga didukung oleh segenap  masyarakat, pemerintah, termasuk pebisnis. Orang mungkin berkilah bahwa jika di rumah anak-anak telah diajarkan pendidikan yang baik, maka sebesar apapun pengaruh negatif di luar sana, tak akan mampu memberi pengaruh buruk pada anak-anak. Tetapi, pertanyaannya, seberapa besar "kekuatan" orang tua membangun benteng untuk melindungi anak-anaknya, sementara pornografi saja bisa dengan mudah masuk ke rumah-rumah melalui media elektronik, cetak, internet dan sebagainya?
  6. Saya berharap pemerintah juga memberi perhatian yang lebih terhadap misi perpustakaan yaitu "mencerdaskan bangsa dengan membaca". Seperti yang dikatakan Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip di daerah saya, bahwa misi ini tak semudah membangun jembatan yang bisa langsung dipergunakan masyarakat. Meski perpustakaan telah dibangun, buku-buku telah disediakan, masyarakat tidak serta merta datang berbondong-bondong untuk membaca. Jadi perlu adanya upaya yang komprehensif untuk mendorong minat baca, termasuk juga di dalamnya penyediaan buku-buku bermutu dan pendistribusian yang tepat. 
  7. Semoga kasus yang menimpa Jazimah, jangan sampai terulang lagi. Karena kesalahan distribusi, seorang penulis idealis seperti beliau harus "terbunuh", sementara diluar sana, para penulis buku-buku bermuatan xxx bisa bebas menulis, didukung dan dipuja-puja, bahkan buku-bukunya bisa dengan mudah didapat dan dibaca di tempat-tempat yang "difasilitasi" pemerintah.

9 comments:

  1. Ya Allah, kenapa jadi banyak kasus begini ya di Indonesia :'(
    Miris banget. Dan aku udah lama punya unek-unek terkait sastra wangi itu Mbak, apakah buku-buku itu memang sebuah kewajaran atau setiap buku memang tak punya penyaring layaknya tayangan di televisi yang masih ada KPI?

    ReplyDelete
  2. Dan yang lebih sedihnya adalah (hampir) di semua perpustakaan tidak pernah melibatkan pustakawan dalam pengadaan buku. Sebab buku dianggap 'proyek' bagi orang-orang besar, pustakawan cuma ngolah buku :') #curcol

    ReplyDelete
  3. Terus, pada kemana ya, para sarjana jurusan perpustakaan? jadi pegawai bank?

    ReplyDelete
  4. Share tulisan ini. Gerakkan kekuatan media sosial sebagai pembangkit dari keterlenaan

    ReplyDelete
  5. Ade : oleh para 'pendukung'nya malah buku2 itu dikategorikan 'sastra'. Agak sulit sepertinya kalo untuk buku diberlakukan sensor. Toh saat sudah beredar di tobuk, meski sudah dilabeli novel dewasa, kalo pembelinya abege, toko juga gak bakal nolak

    ReplyDelete
  6. Luckty : jadi selain minim jumlah, tenaga pustakawan yang ada juga kurang diberdayakan fungsi dan kompetensinya secara maksimal ya

    ReplyDelete
  7. mbak Linda : mungkin jumlahnya gak sebanding dgn perpus yg ada
    mbak Anik : silahkan mbak :)

    ReplyDelete
  8. Tambah lagi... warga masyarakat yg menemukan kasus2 semacam itu harus bereaksi dan bergerak cepat, seperti apa yg dilakukan Lyta.

    Kontrol masyarakat jauh lebih efektif ketimbang kritik akademis sekalipun. Apalagi, pemerintah di sistem demokrasi kan lebih takut berhadapan dg opini publik ketimbang apapun--bahkan kadang ketimbang hukum Tuhan :-(

    ReplyDelete