Riawani Elyta: Resensi Novel One Amazing Thing : Yes, It's Amazing :)

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 19 August 2014

Resensi Novel One Amazing Thing : Yes, It's Amazing :)


 
Sudah cukup lama ternyata, saya nggak mampir untuk meng-update isi blog ini, dan kali ini saya kembali dengan resensi novel dari Chitra Banerjee Divakaruni (CBD) berjudul One Amazing Thing. Cerita ini berkisah tentang sembilan orang yang terjebak dalam sebuah kantor permohonan visa saat terjadi gempa dahsyat. Hampir 12 jam berlalu, pertolongan tak kunjung datang, Salah seorang dari mereka – Uma – kemudian mengusulkan agar mereka saling bercerita sebagai pengalih perhatian dari rasa takut. Cerita yang menjadi momen penting dalam hidup mereka.

Maka, kesembilan orang ini : nenek Jiang, Lily, Cameron, Mr dan Mrs. Pritchett, Thariq, Malathi, Mangalam dan Uma sendiri, saling berbagi cerita, disela-sela perubahan menegangkan yang terus terjadi pasca gempa : listrik padam, langit-langit mulai runtuh, air merambat naik, mayat-mayat yang mengambang, juga usaha mereka sendiri untuk tetap bertahan.

Setelah kumcer Arrange Marriage, sekali lagi saya dibuat terpukau dan terpesona dengan karya CBD. Biasanya, saya selalu menganggap berlebihan deretan endorsement yang selalu menyertai buku terjemahan, tetapi tidak untuk yang satu ini. Saya tidak memiliki fanatisme terhadap genre dan tema tertentu, tetapi dalam hati saya berkata, beginilah seharusnya yang dilakukan seorang penulis dalam menghasilkan karya. One Amazing Thing menampilkan permainan diksi yang indah, dalam, deskripsi yang detil, juga membawa perenungan yang dalam serta cerdas.

Kesembilan kisah yang mengalir dari orang-orang yang terperangkap dibawah reruntuhan pasca gempa, bukanlah kisah yang bisa diringkas dalam satu kalimat singkat. Masing-masing kisah mewakili berbagai elemen penting kehidupan : cinta, trauma, dendam, pengorbanan, pandangan terhadap orang lain, benturan kultur, dan seberapa besar efek kisah itu terhadap kehidupan mereka selanjutnya.

Tentu, bukan hal mudah untuk mengemas unsur-unsur yang juga bernuansa filosofis ini dalam sembilan kisah berbeda, dan memadukannya dengan realita mencekam yaitu detik-detik pasca terjadinya gempa. Apalagi, kesembilan orang ini juga mewakili berbagai etnis, negara dan agama : Hindi, China, Muslim dan Italia. Namun di tangan CBD, hal ini tersaji dengan begitu apik, indah, bukan jenis tulisan yang bisa dibaca sepintas kilas untuk memahami esensinya, tetapi juga (bagi saya) adalah jenis tulisan yang tak bosan untuk dibaca ulang.

Bukan berarti novel ini luput dari kejanggalan. Terlepas dari deskripsi situasi sebelum, saat kejadian dan pasca gempa yang begitu detail, tetap saja sulit bagi saya untuk membayangkan, sebuah tempat di bawah reruntuhan akibat gempa, masih memberi ruang bagi orang-orang yang terperangkap di dalamnya untuk berjalan,bercerita, keluar masuk kamar mandi, termasuk mencari-cari peralatan dan makanan untuk mereka dapat bertahan.

Saya juga sempat terkecoh, saat membaca secara skip pertama kali, dan mungkin terdapat beberapa lembar yang terlewat dari fokus, membuat saya sempat mengira kalau Cameron adalah sosok perempuan! Saat membaca lebih saksama, Cameron ternyata adalah seorang lelaki kulit hitam dengan sebelah anting di telinga! Dan entah kenapa, detail tentang Cameron ini terkesan sedikit feminin bagi saya. Mungkin karena penulis terlalu banyak mengupas sisi psikisnya, apa yang dirasakan sosok ini, opininya terhadap tokoh lain, sehingga untuk sisi-sisi maskulinnya, saya justru lebih merasakannya pada sosok Thariq. Satu-satunya pria muslim dalam cerita ini.

Dan meski cerita ini tidak memberikan ending yang memuaskan, tetapi kesembilan kisah hidup para tokohnya, dan bagaimana indahnya CBD memaparkannya, membuat saya pada akhirnya tetap berdecak kagum dan berkomentar spontan : (This Is) One (More) Amazing Thing from CBD! Tak sabar untuk menikmati karya-karyanya yang lain.

Judul           :    One Amazing Thing
Penulis        :    Chitra banerjee Divakaruni
Penerbit      :    Qanita
Terbit          :    Juni 2011
Halaman     :    422 hal






2 comments:

  1. Awww....akhirnya terbaca 'spoiler' siapa Cameron, jadi gak bikin penasaran lagi kalo suatu saat ketemu dan baca bukunya :D
    Btw, covernya beda kali dengan covers asli ya mbak. Sama-sama ada bunga sih, cuma versi Indonesia nambahin paspor, hehehe...
    Another nice review mbak lyta

    ReplyDelete
  2. Wah, ide ceritanya menarik sekali. Meski ada beberapa kekurangan aku tetap tertarik baca ;)

    ReplyDelete