Riawani Elyta: Resensi Kumcer Air Akar : Sebuah potret keberagaman budaya

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 14 July 2014

Resensi Kumcer Air Akar : Sebuah potret keberagaman budaya



18778633
Resensi :
Indonesia, adalah negara dengan keragaman budaya yang unik dan heterogen, juga mengandung kebijakan lokal yang tak lekang, untuk dijadikan sandaran juga teladan dalam kehidupan yang sekarang.

Dalam rangka menggali nilai-nilai budaya dan kebijakan lokal inilah, kompetisi Tulis Nusantara digelar setiap tahunnya, selain juga untuk menggali bakat-bakat baru dalam bidang penulisan.

Air Akar adalah kumpulan cerpen karya finalis Kompetisi Tulis Nusantara 2012, yang memuat sepuluh cerpen terbaik, diantara lebih dari seribu karya fiksi yang masuk dan diseleksi pada even tersebut. Air Akar juga menjadi cerita pembuka dalam kumpulan cerpen ini, berkisah tentang kepercayaan masyarakat setempat terhadap ramuan air akar untuk mengobati berbagai penyakit. Ditulis dengan diksi yang indah, aliran kisah yang runut dan sarat muatan lokal, ditutup dengan ending yang menyentak, boleh dibilang, ini adalah cerpen yang berhasil membuka buku ini dengan sebuah sajian yang menawan.

Cerpen kedua yang berjudul Untaian Salam dari Pulau Tak Berbentuk, dituturkan melalui korespondensi antara dua orang sahabat yang tinggal di daerah berbeda, dan di dalam surat-surat itu, mereka saling membagi kisah tentang kehidupan sosial yang mereka alami.

Bunga Kebun Tanjong, cerpen ketiga yang berkisah tentang seorang bapak yang berusaha membahagiakan keluarganya dengan cara berladang ganja, namun ironinya, sang istri justru berselingkuh, dan ia sendiri ditangkap oleh polisi.

Cerpen keempat berjudul Barongsai Merah-Putih, berkisah tentang perjuangan dua pemuda yang berlatih barongsai, kesenian khas warga Tionghoa. Berbeda dari cerpen-cerpen lainnya, penuturan cerpen ini sedikit mirip artikel, juga tanpa unsur kejutan pada ending yang biasanya menjadi kekhasan cerpen fiksi.

Cerpen-cerpen lainnya turut menyajikan kekhasannya dengan cara masing-masing. Contohnya pada cerpen Sepasang Kupu-kupu Hitam-Putih dengan sepasang kupu-kupu sebagai tokoh penceritanya, ataupun Protokol Karimata yang mengombinasikan unsur travelling dan science fiction.

Tentu, bukan hal mudah bagi panitia untuk memilih kesepuluh cerpen finalis ini. Dan harus diakui, kesepuluh cerita ini cukup merepresentasikan keberagaman budaya dan lokalitas tanah air yang masih belum banyak diketahui.

Mungkin, kumpulan cerpen ini akan lebih menarik jika kemasannya juga dibuat lebih baik. Mulai dari lay-out hingga cover. Sehingga bisa menggugah pembaca buku-buku populer untuk menarik buku ini ke dalam keranjang belanja dan merasakan pengalaman berbeda saat menikmati karya-karya bermuatan lokalitas. 


Judul               :           Air Akar
Penulis             :           Finalis Cerpen Kompetisi Tulis Nusantara 2012
Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama
Terbit               :           2013
Halaman          :           152 hal








2 comments:

  1. Buku ini masuk daftar dalam wishlist aku mbak. semoga aku bisa menemukannya pas pulang ke aceh nanti. TFS mbak

    ReplyDelete
  2. sama2 mbak eky :) semoga ketemu :)

    ReplyDelete