Riawani Elyta: RESENSI NOVEL MENJADI DJO : LIKA-LIKU MASA REMAJA SANG WARGA KETURUNAN

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 28 June 2014

RESENSI NOVEL MENJADI DJO : LIKA-LIKU MASA REMAJA SANG WARGA KETURUNAN




 

Judul               :           Menjadi Djo
Penulis             :           Dyah Rinni
Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama
Terbit               :           Mei 2014
Halaman          :           290 hal

Sinopsis :
Apa yang ada di pikiran anda saat mendengar sebutan “china”? Sebuah negeri dengan tembok raksasa, hewan panda, orang-orang dengan kemampuan bisnis yang brilian, ataukah hadist Nabi tentang anjuran untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China?


Diantara semua fakta tersebut, tak dipungkiri, masih terdapat fakta miring tentang diskriminasi rasis yang dialami orang-orang etnis China atau Tiongkok di negeri ini sebagai kaum minoritas.

Ini jugalah yang mewarnai perjalanan hidup A Guan, tokoh sentral novel ini dalam metamorfosisnya menjadi seorang “Indonesia”. A Guan menjalani masa kecilnya di Medan pada tahun 1960-an dalam keluarga yang cukup berada. A Guan bersahabat dengan Yanto, anak pembantunya yang seorang Jawa tulen. Suka duka dan lika-liku terkait perbedaan suku dan warna kulit, turut mewarnai persahabatan mereka, hingga akhirnya, tragedi pemberontakan PKI pada tahun 1965 membuat mereka terpisah. Isu bahwa orang-orang china membantu orang komunis berdampak pada keselamatan kaum minoritas. Atas alasan itulah, keluarga A Guan kemudian memutuskan untuk meninggalkan Medan dan pindah ke Jakarta.

Bagian kedua dari cerita ini pun dimulai, dengan A Guan yang menjalani kehidupan barunya sebagai seorang remaja tanggung di Jakarta. Sesuai peraturan pemerintah waktu itu, semua orang harus menggunakan nama Indonesia, tak terkecuali orang-orang tionghoa. Maka A Guan pun berganti nama menjadi Djohan.

Saat duduk di bangku SMP, Djohan menunjukkan minat dan bakatnya dalam bidang penulisan. Bersama teman-temannya, ia membuat majalah Samantha. Kisah cinta monyet khas remaja juga turut dialami Djohan pada fase ini. Ia tertarik dengan Rinai, teman satu sekolahnya. Namun belum sempat ia mengutarakan perasaannya, mereka keburu berpisah.

Fase ketiga dalam kehidupan Djohan dimulai pada tahun 1972. Saat ini, Djohan sudah duduk di bangku kuliah. Siapa menduga, orang-orang yang pernah mengisi masa lalu Djohan, hadir kembali pada masa ini. Mereka adalah Rosie, teman SD yang dulu pernah membela Djohan saat dikeroyok teman-temannya dan sekarang dijodohkan orang tuanya dengan Djohan, Alvaro, mantan musuh Djohan, dan juga....Rinai.

Melalui novel ini, kita tak hanya diajak menelusuri kehidupan warga Tionghoa di Indonesia pada era tahun 1960an – 1970an, tetapi juga representasi suara hati mereka untuk dianggap sebagai orang Indonesia seutuhnya, sebagaimana yang dikatakan Djohan pada Alvaro di bumi perkemahan : “Apa hanya karena lahir di Indonesia, otomatis kita menjadi orang Indonesia? Kalau begitu, bukankah aku berhak disebut sebagai orang Indonesia juga? Tetapi tidak. Hanya karena kulit kami yang berbeda, seumur hidup keberadaan kami akan selalu dipertanyakan apakah kami setia? Apakah kami akan membelot? Apakah kami akan menjual negara ini? Sepanjang hidupku, aku hanya mengenal satu negara, Indonesia. Aku lahir di sini,makan di sini, dan kelak akan mati di sini. Aku berdarah ketika Indonesia disakiti. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan negeri ini sementara semua yang aku cintai dan perjuangan ada di negeri ini?” (hal. 262 – 263).

Menjadi Djo, sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata Johari Zein, orang yang berada dibalik kesuksesan JNE sebagai salah satu perusahaan ekspedisi terbesar di negeri ini, akan mengajak kita merenungkan makna keyakinan, dan perjuangan mewujudkan keyakinan itu menjadi kenyataan.




1 comment:

  1. Oh jadi ini kisah nyata si pemilik JNE...
    Suka resensinya kak Lyta...
    Aku jadi bisa membayngkan isi ceritanya.
    Aku juga setuju dengan perasaan kaum minoritas yang seolah tersisihkan hanya karena perbedaan warna kulit.
    Temanku banyak yang keturunan China tapi mereka asyik kok dan enak bersahabat dengan mereka. Oh persahabatan Yanto dan A Guan mirip Hassan dan Amir ya? Aku juga selalu terkenang kenang dengan dua sahabat ini.
    Musah mudahan bisa baca Buku Menjadi Djo ini...mupeng :D

    ReplyDelete