Riawani Elyta: Resensi Novel Bulan Mati di Javasche Orange : Langkah Awal yang Sarat Letupan

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 14 May 2014

Resensi Novel Bulan Mati di Javasche Orange : Langkah Awal yang Sarat Letupan




Sinopsis :
Kisah Johana,putra pembesar penjajah Belanda.Pernikahannya dengan Mahmud Ali Syah, Muslim bangsawan keturunan Turki-Inggris menyebabkan mereka tinggal di Puri Javasche Orange, sebuah pabrik gula di Banyumas. Kisah tragis terjalin. Apakah Mahmud tetap meneruskan pernikahannya dengan putera penjajah seperti Johana? Berurai air mata, berdegup sebab semangat akan jihad.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saat membaca novel ini berikut identitasnya, rasanya, ada jarak terentang sangat jauh antara jejak kepenulisan seorang Afifah Afra dengan langkah awal saya di dunia literasi. Betapa tidak. Tahun 2001, jangankan menulis, saya bahkan nyaris tak pernah membaca novel serius, selain hanya novel-novel remaja seperti Lupus, Trio Detektif dan majalah-majalah remaja, tetapi, di tahun yang sama, seorang Afifah Afra sudah melahirkan novel perdana dengan muatan ide yang sangat besar.

Ya. Sinopsis yang tertera pada sampul belakang novel ini saja, sudah membuat saya tercengang, dan lebih tercengang lagi saat sudah membaca jalinan kisah di dalamnya. Di tahun 2001, seorang Afifah Afra sudah menggoreskan novel perdana dengan menggabungkan ide-ide tentang runtuhnya kekhalifahan Turki, masuknya sekulerisme di negara tersebut, dan pengaruhnya pada perjuangan di Indonesia pada sekitar tahun 1920an - 1930an, masih dikombinasikan lagi dengan pergerakan kaum nasionalis, komunis dan al-Ikhwanul Muslimin dalam melawan penjajahan Belanda. Seakan belum cukup kompleks, di tengah benturan-benturan paham dan idealisme tersebut, pembaca masih disuguhkan lagi dengan kelindan kisah para tokohnya yang juga menyimpan jalinan tak kalah rumit : William Rijkard - Lady Margareth - Mahmud Ali Syah - Johana Rijkard - Hamzah. Dan saya memilih untuk tidak menguraikan jalinan hubungan antara tokoh-tokohnya dalam review ini. Simple reason : lagi males :p

Sebagai sebuah novel perdana, tentu, kombinasi ide-ide besar dalam novel ini sangat layak diacungi dua jempol, belum lagi energi yang tersirat dalam setiap rangkaian cerita yang sarat letupan idealisme dan semangat, yang sepertinya sudah menjadi kekhasan penulis bahkan sejak novelnya yang pertama. Hanya saja, dalam eksekusinya, memang masih banyak hal yang belum terjahit rapi : beberapa adegan yang terasa ujug-ujug, plot yang melompat-lompat dan bolong-bolong, logika yang sedikit ruwet, dan....berhubung saya sudah membaca lebih dari selusin novel Afifah, maka untuk kesekian kalinya saya dibuat terdampar dalam dejavu. Saat membaca adegan A, ingatan saya langsung tertuju ke adegan serupa di novel Afifah berjudul B. Saat membaca karakter si D, saya langsung teringat karakter si E dalam novel berjudul F. Juga adegan ketika Hamzah membawa pergi Johana, dan perdebatan antara Johana dengan ayahnya, mengingatkan saya pada film Indonesia berjudul Namaku Johana (kalo nggak salah inget), yang juga berkisah tentang noni Belanda bernama Johana alias Jo yang diperankan Lidya Kandou.

Kali ini, saya nggak mau banyak-banyak mereview, karena setelah sekian belas tahun berlalu, seorang Afifah Afra sudah berproses dalam menghasilkan karya yang jauh lebih baik dan cemerlang. Tetapi, andai novel ini masih ingin direvisi dan dicetak ulang, mungkin, tak ada salahnya jika penulis mau lebih bersabar, cermat dan hati-hati mengurai satu demi satu ide-ide besar tersebut dalam rangkaian cerita yang runut, rapi, lebih logis dan "kedalamannya" lebih tereksplor, agar hasilnya pun tak kalah memukau dengan novel-novel impor sekelas Kite Runner atau A Thousand Splendid Sun.

Udah itu aja :)

Penulis   :    Afifah Afra Amatullah
Penerbit :    Era Intermedia
Edisi :    Soft Cover  
ISBN :    9793414057
Tahun :    2001



3 comments:

  1. Saya baca novel ini udah lama sekali. Tahun 2003. Nyaris lupa dengan ceritanya sampai saya membaca kembali ulasan mbak Lyta :D

    ReplyDelete
  2. saya yang telat nih mbak Eky, baru baca sekarang :)

    ReplyDelete