Riawani Elyta: LHO, KOK DIBUANG?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 30 April 2014

LHO, KOK DIBUANG?




Saat menulis ini, saya baru saja selesai merevisi dan mengedit novel duet saya,dan salah satu point revisi yang menjadi request editor adalah, mengurangi panjang naskah dari 59 ribu kata menjadi 35 ribu kata, it means, ada lebih kurang 24rb kata yang harus dikurangi alias dibuang. Dan usai revisi, saya baru berhasil mengurangi sekitar 19rb kata, yang kalau dihitung dengan jumlah lembar, ini setara dengan....err, 50 lembar A4 spasi 1!


Mungkin ada yang langsung nanya, nggak sayang tuh dibuang segitu banyak?
Jawaban saya : tidak. Karena saya yakin tidak ada tulisan yang sia-sia. Satu lembar yang kita singkirkan hari ini, tetap punya potensi untuk diolah menjadi tulisan yang baru dalam karya yang baru pula. Selain itu, jika dianalogikan dengan asesoris rumah, kalau kita cermati, sesungguhnya ada perabotan dan asesoris yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan, atau bahkan kehadirannya hanya mengurangi nilai estetika dari desain rumah. Misalnya saja, jika anggota keluarga hanya empat orang, punya dua set meja makan tentunya sebuah pemborosan, bukan? Pot-pot bunga yang indah, kalau disusun terlalu banyak, tumpuk-tumpukan, tentu kesannya tak lagi indah,bukan?

Begitu jugalah halnya dengan tulisan. Diantara puluhan ribu kata yang kita tulis, saat kita cermati ulang, selalu terbuka kemungkinan, munculnya kalimat yang tidak efektif. Yang kehadirannya justru membuat tulisan menjadi kurang mengasyikkan untuk dibaca. Dan berkaca dari karya-karya terdahulu, saya juga termasuk penulis yang kerap terjebak dalam perilaku inefektif ini.

Lalu, kira-kira seperti apa tipsnya, menyingkirkan hingga ribuan atau bahkan puluhan ribu kata tanpa merusak tatanan alur cerita?
Pertama - fokuskan perhatian kita pada alur dan plot utama, juga benang merah antar bab. Jadi, untuk sub plot yang tidak atau kurang berkontribusi terhadap cerita, yang tidak berkontribusi untuk membuat cerita bergerak maju, inilah yang pertama kali kita singkirkan.

Kedua - cermati deskripsi, baik deskripsi karakter maupun latar. Deskripsi yang detil memang bisa memperkaya cerita, tetapi untuk detil-detil yang tidak terlalu diperlukan, ini juga bisa kita kurangi. Karena jika tidak diperlukan, maka fungsinya akan berubah dari memperkaya cerita,menjadi Information Dump. Tentang Information Dump, teman-teman bisa ngintip penjelasannya di sini.

Ketiga - baca ulang susunan kalimat. Mungkin, ada susunan kalimat yang sebenarnya masih bisa dibuat lebih padat tanpa mengurangi maknanya. Begitu pun dalam dialog. Coba dipilih-pilih, dialog mana yang kira-kira jika dihilangkan, nggak bakal mengganggu jalan cerita, maka ini pun bisa kita singkirkan.

Keempat - lihat lagi bab per bab. Adakah kira-kira bab yang stagnan, yang jika dihilangkan, cerita tetap berjalan dengan baik? Jika ada, maka satu bab tersebut pun bisa kita singkirkan.

Jangan lupa untuk tetap menyimpan draft asli dari naskah yang hendak diedit, jadi kata-kata yang kita singkirkan dalam proses pengeditan, masih bisa kita gunakan pada karya yang lain pula.

Jadi, ketika editor memintamu untuk mengurangi panjang naskah,jangan dulu mengeluh ya sob. Baca ulang naskahmu, dan temukan hal-hal yang masih bisa dipadatkan dan diefektifkan. Naskah yang efektif juga bisa meningkatkan bobot tulisanmu menjadi lebih enak dinikmati dan tidak membuat jenuh pembaca.

Selamat mencoba :)

5 comments:

  1. hue, 50 lembar. glek. ga rela banget kalo sebanyak itu, mba. tapi bisa jadi novel sendiri tuh kalo dipoles lagi :D

    ReplyDelete