Riawani Elyta: Resensi Wedding Night : Malapetaka Bulan Madu

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 31 March 2014

Resensi Wedding Night : Malapetaka Bulan Madu



Sinopsis :
Lelah menanti lamaran sang kekasih, Richard yang tak kunjung ia dapatkan, Lottie nekad menerima lamaran Ben, mantan pacarnya saat remaja yang muncul kembali, dengan satu syarat : tidak ada pacaran, kencan dan pertunangan, melainkan langsung menikah.

Kedua pasangan ini lalu berbulan madu ke pulau kecil di Yunani tempat mereka pertama kali bertemu. Namun, keluarga dan teman dekat mereka ternyata tidak senang dengan keputusan mereka yang terburu-buru, lalu berusaha keras untuk menggagalkan malam pertama mereka.


Berbeda dari tiga novel Sophie Kinsella yang telah saya baca sebelumnya, dimana sang penutur hanya ada satu dan bertutur dengan pov 1, maka pada novel ini, Sophie menampilkan tiga tokoh yang berbicara dengan pov 1 : Lottie, Fliss kakak Lottie, dan Arthur sang pemilik penginapan, yang bertutur dalam porsi paling kecil.

Lottie dan Fliss digambarkan sebagai kakak beradik dengan karakter yang lumayan ekstrem dan sanggup berbuat nekad bahkan sedikit gila, Ben digambarkan sebagai lelaki yang kurang bertanggung jawab (karakter yang sedikit banyak mirip karakter tokoh pria dalam novel Sophie yang berjudul I’ve Got Your Number), dan satu hal menarik di sini, bahwa kehadiran beberapa tokoh pembantu tak hanya punya andil cukup besar, tetapi juga meninggalkan kesan yang cukup berarti. Yang saya maksud di sini adalah Lorcan sahabat Ben dan Noah anak Fliss yang memiliki imajinasi sangat tinggi. 

Kehadiran Noah dan imajinasinya yang tak terduga,membuat beberapa adegan dalam novel ini terasa menggelikan, dan untuk sosok Lorcan sendiri, awalnya saya menganggapnya sosok antagonis dan percaya saja pada penggambaran karakternya dari sudut pandang Ben yang menganggap Lorcan memegang kendali penuh atas diri dan perusahaannya. Namun seiring cerita yang bergerak menuju akhir, barulah terungkap sisi lain Lorcan yang justru adalah tempat bergantung Ben selama ini dalam mengendalikan perusahaan warisan ayahnya.

Dalam novel ini, saya mendapat pemahaman yang lebih detail akan makna hubungan seksual dan pernikahan dalam kultur masyarakat Barat - setidaknya dari sudut pandang penulis – yang tentu saja, sangat berlawanan dengan prinsip dan budaya ketimuran. Namun di sisi lain, melalui sosok Fliss dan dilema perceraiannya, Sophie sepertinya sedikit banyak mencoba memberi gambaran akan dampak terhadap anak yang orang tuanya bercerai.

Seperti juga pada novel-novel sebelumnya, Sophie kembali menunjukkan kepiawaiannya mengolah hal-hal absurd menjadi sesuatu yang layak diterima logika, dan menghadirkan ketegangan-ketegangan yang cukup seru saat Fliss berusaha keras menggagalkan bulan madu Lottie. Memang, diantara novel Sophie sebelumnya, novel yang satu ini lumayan banyak diselipi adegan “dewasa” sehingga lebih cocok untuk dikonsumsi pembaca dewasa atau yang sudah menikah.

Kepiawaian Sophie dalam menghadirkan twist juga kembali ia tunjukkan di dalam novel ini,dan bukan hanya single twist, melainkan double atau bahkan triple twist. Hal ini kadang membuat saya ingin mengintip proses kreatif Sophie. Di saat banyak penulis kerap terburu-buru membuat ending, Sophie justru berbuat sebaliknya dengan semakin meliuk-liukkan cerita menjelang ending dan menutupnya dengan kejutan.

Setelah ini, saya berharap dapat membaca serial Sophaholic yang fenomenal itu. Meski sejauh ini, karakter tokoh utama dalam novel-novel Sophie cenderung typikal, namun alur ceritanya yang menarik, dinamis dan menghibur, terkadang konyol, juga penuturan khas Sophie yang lincah, cerdas dan detail, membuat saya tetap menanti kejutan apalagi akan dihadirkan Sophie pada novel berikutnya.
  
Judul               :           Wedding Night
Penulis             :           Sophie Kinsella
Penerbit           :           Gramedia Pustaka Utama
Terbit               :           Juli 2013
Halaman          :           592 hal

2 comments:

  1. Wah, makin penasaran. aku suka novel2 dengan jalan menuju ending yang ber-twist2 itu :D

    ReplyDelete
  2. Sophie paling jago soal twist2 ini mbak :-)

    ReplyDelete