Riawani Elyta: BUKU INSPIRATIF vs PENDAMPING

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 8 March 2014

BUKU INSPIRATIF vs PENDAMPING


Untuk mulai menulis, Saya hanya perlu membaca buku pendamping satu paragraf awal, itu sudah bisa memancing ide-ide lain muncul.

Apa yang saya dapat dari Novel Persona Non Grata di awal cerita adalah detail setting yang menggambarkan tentang hiruk pikuk supermarket. kemudian disusul ketegangan di bangku kasir. begitulah awalnya, sehingga satu dua chapter terselesaikan. belajar bagaimana mengurai setting dan membuat konflik awal yang menegangkan.



Saya menemukan pict dan kalimat ini di wall sahabat maya saya. Dan, rasanya amazing deh, juga terharu, saat novel-novel saya, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, Alhamdulillah masih bisa memancing inspirasi orang lain untuk menulis.

Saya sendiri termasuk penulis yang belum "mandiri". Setiap kali menulis, saya pasti membutuhkan buku pendamping yang seirama dengan buku yang sedang saya tulis. Jika saya sedang menulis novel romance, maka buku pendamping saya biasanya juga novel romance. Jika saya menulis novel remaja,  pendampingnya juga novel remaja, dst.

Kalau ditanya, apa yang saya dapatkan dari buku-buku pendamping ini? Jawaban saya, yang utama adalah "feel, mood dan sesuatu yang bisa menggerakkan saya untuk mulai menulis". Jujur saja, saya kesulitan mengawali tulisan jika tidak dibarengi dengan membaca. Dan, tidak semua buku yang saya baca mampu melakukan ini : Menggerakkan saya untuk menulis.

Jadi, kalau ditanyakan ke saya, apa itu buku yang inspiratif? saya akan sedikit menyalin pengertian berdasarkan KBBI tentang inspirasi, yaitu petunjuk Tuhan yang timbul di hati, pikiran yang timbul dari hati, dan sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta.

Maka, secara sederhana saya katakan, bahwa buku yang inspiratif, adalah buku yang kontennya mampu menggerakkan saya untuk berbuat atau menulis sesuatu. Jadi, untuk buku yang pada sampulnya terpasang label inspiratif, dan di dalamnya mengandung muatan pesan yang berbusa-busa sekali pun, namun saat membacanya tidak berhasil menggerakkan saya untuk berbuat atau menulis sesuatu, maka saya baru menyebutnya buku yang "berusaha inspiratif". It's okay, namanya usaha, tetap layak dihargai.

Dan saya merasa bersyukur, karena sejauh ini, meski saya telah menggunakan berbagai buku pendamping saat menulis, tulisan saya tetaplah memunculkan karakter yang telah saya miliki. Alhamdulillah, belum ada pembaca yang berkomentar, saat membaca buku atau novel saya, akan mengingatkan mereka pada karakter penulis A, B, C, dst.  

Memang, karakter tulisan saya mungkin belum mampu meraup basic reader dalam jumlah yang fantastis, tapi saya tetap bersyukur, karena saya "gagal" menjadi follower terhadap gaya tutur penulis-penulis yang sudah eksis, dan di luar sana, ada segelintir mereka yang menggunakan novel-novel saya sebagai novel pendamping, untuk menggerakkan mood mereka saat menulis :)

Apakah kamu punya buku pendamping  saat menulis? Atau sudah menjadi seorang penulis yang "mandiri"? Apapun caramu, just enjoy your writing activity, friend :)

No comments:

Post a Comment