Riawani Elyta: REVIEW NOVEL 3 ANAK BADUNG : Novel lucu apa 'mengharu biru'? :)

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 8 February 2014

REVIEW NOVEL 3 ANAK BADUNG : Novel lucu apa 'mengharu biru'? :)







Sinopsis                      :
Karena terdesak oleh kesulitan hidup, dan ditinggal suami yang kabur entah kemana, Mpok Bung atau Bunga Citra Lebay terpaksa meninggalkan ketiga anak lelakinya  Mola, Rama dan Reh di dalam gerbong kereta api.

Sepuluh tahun berlalu, ketiga remaja ini tumbuh besar di jalanan dengan menjadi pengamen dan banyak mendapatkan pengalaman baru, dan selama itu pulalah, semangat dan keinginan mereka untuk menemukan ibu kandung mereka tak pernah surut.


Berhasilkah ketiga anak badung ini menemukan ibu mereka kembali setelah sepuluh tahun terpisah ?

====================================================================
 
Sebelum membaca novel ini, satu-satunya novel komedi yang saya baca pada usia dewasa ini hanyalah Kunti Cemen karya Eni Martini. Selebihnya, bacaan bersifat komedi yang mengisi rak buku saya adalah yang bersifat personal literatur seperti karya-karya Raditya Dika. Gaya bertutur pada novel 3 Anak Badung ini, sedikit banyak mengingatkan saya pada serial Lupus yang saya baca saat masih duduk di bangku sekolah, yaitu novel yang mengandalkan kelucuan pada dialog dan adegan para tokoh ceritanya.

Dan berkaca pada Kunti Cemen, juga novel ini, saya menarik kesimpulan bahwa tidak mungkin untuk menggunakan standar novel umum agar bisa memberi opini untuk novel-novel jenis ini. Saya tidak bisa membandingkan dari segi unsur inrinsik manapun mulai dari alur, plot, karakter, latar tempat, dan lain-lain, karena sepertinya, yang menjadi standar novel komedi adalah bisa tampil lucu, menghibur, dan syukur-syukur kalau ada pelajaran di dalamnya.

Untuk novel 3 Anak badung sendiri, secara umum, bagi saya cukup menghibur. Beberapa dialog sempat membuat saya tertawa cekikikan, sebagian menarik senyum saya dengan lebar, namun tak sedikit pula yang terasa garing bahkan lebay.

Saya tak ingin berkomentar pada alur cerita yang jelas-jelas menjadi hak mutlak penulisnya saat memanjang-manjangkan bagian yang tak penting-penting amat namun di bagian lain justru membuat lompatan plot yang besar. Kehadiran sosok bang Sofwan dengan petuah-petuah kebaikan juga menyelipkan kutipan ayat, membuat saya mau tak mau teringat pada sinetron-sinetron di televisi yang menggabungkan unsur komedi dan agama dengan format serupa.

Di lain sisi, novel ini tetaplah punya nilai inspirasi, karena setelah menuntaskannya, saya malah tertarik untuk menulis novel komedi juga. (itu mah si mpok aja yang kelewat reaktif, apa-apa mau dijajal  *ops, sapa tuh yang ngomong? :)

Hanya satu hal yang bikin saya geregetan, apalagi kalau bukan endors dari dua selebritis (yang satu sudah wafat) pada sampul belakangnya. Saya tak ingin menduga-duga kalau mereka sudah membaca novel ini atau belum, yang jelas, endorsement mereka bahwa buku ini sesuatu yang menyentuh dan mengharu biru, saya pikir, sama sekali tidak relevan dengan kontennya, bahkan anak saya juga tahu itu, hehe.


Judul                          :            3 Anak Badung
Penulis                        :            Boim Lebon
Penerbit                      :            Indiva Media Kreasi
Tebal                          :            192 hal
Jenis                           :            Fiksi Humor
Terbit                          :            Maret 2013
ISBN                          :            9786028277822

3 comments:

  1. oia inget boim lebom jadi ingat lupus. Pantesan tadi kayak enggak asing denger Boim Lebon :D
    endorsenya beneran merasa haru biru? :D

    ReplyDelete
  2. gak tahu, hihi, tanya aja ama Dude Herlino, dia tuh yang ngasih endors, hehe

    ReplyDelete
  3. eh, maksudnya di back cover komennya mank seperti itu, tapi saya juga gak tahu para endorsernya beneran ngerasa terharu kagak :D

    ReplyDelete