Riawani Elyta: RESENSI NOVEL RABITHAH CINTA

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 30 January 2014

RESENSI NOVEL RABITHAH CINTA


 

Resensi                       :

Demi mengikuti suaminya Riyan, seorang PNS dan dokter yang ditugaskan ke pedalaman Papua, Syakilla harus mengorbankan impiannya dan karirnya sebagai Direktur Smart HRD Training Centre, sebuah lembaga pelatihan motivasi yang cukup populer di Semarang.


Kehidupan yang serba sulit menyambut pasangan muda ini di Papua. Mulai dari keterbatasan fasilitas, akses transportasi, sarana medis, kultur masyarakat setempat yang sebagian masih primitif, termasuk kesulitan mereka sebagai keluarga muslim untuk beribadah secara nyaman dan mendapatkan makanan yang halal.



Dalam sebuah misi tugasnya melakukan pengobatan massal di sebuah desa terpencil, Riyan mengalami nasib naas saat disandera oleh para pelaku Operasi Papua Merdeka (OPM). Pada saat yang sama, Syakilla juga sedang berjuang melahirkan putri keduanya dan sempat mengalami pendarahan.


Berbagai peristiwa dialami Riyan selama menjadi sandera, termasuk berkenalan dengan Sokabai, seorang wanita cantik di kalangan OPM, yang belakangan baru diketahui merupakan mata-mata TNI. Dalam sebuah penyerangan oleh TNI, Riyan yang dijadikan tameng oleh pemimpin OPM ikut terjatuh ke dalam jurang, dan mengalami koma hingga berbulan-bulan lamanya.


Sementara itu, hidup yang dilalui Syakilla tanpa Riyan di sisinya juga tak kalah berliku. Kedatangan seorang dokter tampan bernama Andrean yang tak lain adalah kekasihnya di masa lalu, kian menghadirkan kegalauan di hati Syakilla saat kabar tentang Riyan yang sampai  ke telinganya justru menyebutkan bahwa suaminya itu telah meninggal dunia.


Akankah takdir mempertemukan Riyan dan Syakilla kembali? Bagaimana akhir kisah yang mendebarkan ini?


Dalam novel yang pernah terbit dengan judul Obituari Kasih ini, Afifah Afra kembali menunjukkan kelasnya sebagai penulis dengan idealisme yang meledak-ledak (kala itu), berintegritas tinggi, riset yang optimal dan mampu mengolah semua unsur pendukung cerita dengan sangat baik. Nyaris tidak ada unsur yang terbangun dengan sia-sia, semua punya kontribusi dalam mempersembahkan sebuah output berupa novel yang berkualitas.


Kisah yang sarat konflik pun kembali menjadi ciri khas dan keunggulan Afifah dalam novel ini. Kepiawaian Afifah dalam menabrakkan konflik batin, kultur sosial dan historis lalu mengemasnya dalam plot yang rapi, emosi yang kuat dan didukung oleh banyak karakter adalah diantara faktor-faktor keunggulan novel ini.


Saat Afifah mengabari bahwa novel ini akan direvisi dan dicetak ulang, dan untuk itu beliau meminta beberapa saran masukan, bagi saya ini sudah sebuah kehormatan, karena, siapalah saya ya yang punya kompetensi untuk menilai novel sekeren ini? :)


Dan, uniknya lagi, Afifah malah telah menyiapkan “pledoi” sebelum saya sempat berkomentar satu kata pun. Pledoi yang berisi penilaian Afifah terhadap karya-karyanya beberapa tahun lalu, termasuklah novel ini.


Jadi, disini saya tidak lagi akan mengulang isi pledoi tersebut, karena Afifah telah dengan jeli dan cerdas mampu mencermati hal-hal yang perlu dia tingkatkan untuk merevisi novel-novelnya yang dulu agar lebih sesuai dengan konteks kekinian.


Berikut beberapa catatan saya untuk novel Rabithah Cinta, dan ini sama sekali bukan kritik, selain hanya sekadar apa yang terdetak di hati saat membacanya dan pemakluman-pemakluman saya untuk semua detak-detak yang sebenarnya nggak penting-penting amat ini :) :


1.       Beberapa karakter novel ini menurut saya punya kemiripan dengan karakter tokoh pada novel Afifah yang lain. Saya melihat tokoh Riyan dan Sokabai disini tak lain adalah karakter Rangga dan Maria dalam novel DC dengan latar kultur, tempat dan waktu yang berbeda. Hal ini saya maklumi, karena sebagai penulis yang sudah menerbitkan puluhan novel, sangat wajar kemiripan dan repetisi tersebut bisa terjadi. Dan sampai akhir cerita saya belum menemukan alasan yang jelas bagaimana Sokabai bisa menjadi intel atau mata-mata TNI.


2.      Dalam kapasitas saya sebagai pembaca novel-novel populer, Afifah termasuk penulis yang kurang natural dalam mendeskripsikan interaksi dan ketertarikan antara lawan jenis, kalau dianalogikan dengan adonan donat, maka ini seperti adonan yang masih menampakkan gelembung udara dan tonjolan-tonjolan tepung akibat pengulian yang belum merata. Tapi, berhubung hal tersebut saya temui dalam hampir semua novel Afifah yang pernah saya baca, sekali lagi saya memakluminya sebagai ciri khas penulis. Karena secara segmen dan orientasi, novel-novel roman populer menginginkan pembacanya merasakan getar-getar manis oleh nuansa roman yang dibangun, sementara pada novel-novel islami termasuk novel karya Afifah ini, interaksi antar lawan jenis yang tidak terikat pernikahan, lebih cenderung diposisikan dan dideskripsikan sebagai ketertarikan satu sama lain berdasar nafsu belaka. 


3.      Jika novel ini nantinya terbit dibawah label islami, sepertinya tidak ada masalah dengan kontennya, tapi kalau memang ingin menyasar pembaca yang lebih umum, sepertinya ada beberapa sisi yang perlu diperhalus, mengingat salah satu konflik minor yang tampil disini adalah gesekan antara perbedaan kultur dan agama


4.      Yang nggak kalah penting untuk direvisi, tentu saja pada kemasan dan sampulnya. Untuk masa itu, mungkin sampul model begini memang sedang trend, tapi buat masa sekarang, jelas sudah out-of-date. Bahkan anak bungsu saya (2 tahun) dengan yakinnya mengatakan kalau wajah dokter dengan masker pada sampul novel ini adalah Mr. Bean :D


5.      Hal ini pernah saya sampaikan langsung dengan penulis, bahwa konflik yang sangat padat dalam novel-novelnya membuat nyaris tak ada ruang bagi pembaca untuk merasakan kesan manis, tenang dan nyaman. Pembaca seakan diajak terus berpacu pada lintas arung jeram hingga garis finish. Mungkin ini bisa sedikit disiasati dengan lebih banyak menyelipkan adegan-adegan kekeluargaan yang hangat misalnya, atau deskripsi latar tempat yang indah, jadi emosi pembaca juga tidak terus menerus berkutat dalam ketegangan demi ketegangan, karena efek akhirnya justru akan mengaburkan pesan dari novel tersebut. 


Memang, apa yang paling membekas dari novel-novel Afifah adalah novel yang “hebat”, berkelas, tetapi, ijinkan saya sedikit membuat perbandingan dengan novel Cinta Yang Membawaku Pulang karya Agung F. Aziz, salah satu novel debut terbaik yang pernah saya baca dalam kurun waktu setahun terakhir ini.


Saat menutup novel tersebut, pesan yang langsung terpatri dalam benak saya, bahwa beginilah seharusnya ketabahan dan ketegaran yang layak diteladani oleh seorang muslimah, dan cinta kepada Allah adalah orientasi tertinggi yang harus mampu mengalahkan rasa cinta kita terhadap makhluk.


Dan saat menutup novel Rabithah Cinta, pesan yang merasuk dalam benak saya adalah, bahwa pengorbanan dan ketabahan seorang istri ternyata harus dibayar sangat mahal.


Nah, tanpa membandingkan kualitas kontennya, mana kira-kira pesan yang lebih makjleb?


Tentunya, ini hanya berlaku bagi pembaca yang mengangap pesan moral adalah bagian penting dari cerita. Toh selain pesan moral, novel Afifah sudah memberikan paket lengkap : bacaan yang bergizi, menambah wawasan, merekam dokumentasi sejarah, dan menyajikan cara bercerita yang baik.


Diluar semua catatan “not-so-important” diatas, saya berharap novel sebagus ini tidak hanya sekadar dicetak ulang, tetapi juga dibuat versi visualnya alias diangkat ke layar lebar, dan saya kira, empat nama ini : Oki Setiana Dewi, Reza Rahadian, Prisia Nasution dan Vino G Bastian lumayan cocok untuk memerankan kwartet tokoh novel Rabithah Cinta : Syakilla-Riyan-Sokabai-Andrean :) 
  
Judul                   :            Rabithah Cinta
        Penulis                :            Afifah Afra

        Penerbit              :            Mizania

        Tebal                  :            336 hal

        Genre                  :            Fiksi Islami

        Terbit                  :            2008

        ISBN                   :            9786028236195




15 comments:

  1. Maksud dari pembandingan pesan antara RC dan CyMP bisa diperjelas nggak?

    ReplyDelete
  2. Maksudnya, CYMP itu pesannya lebih kuat dgn penyampaian yg halus, ya itu yg kurasakan sih, kalo RC itu kuat di jalinan konfliknya, jadi unsur pesannya jadi 'kalah'

    ReplyDelete
  3. Padahal pesan utamaku sebenarnya justru tentang konflik Papua, bagaimana cara agar Papua dan Indonesia tetap bersatu. Novel ini awalnya kuniatkan sebagai novel semi 'politik.' Bias ya?
    Oke deh, ntar lebih diperhatikan.

    ReplyDelete
  4. hohoho...lagi-lagi RR masuk dalam list aktor yang diinginkan untuk sebuah peran tertentu :D
    btw, resensinya kereeeeeen. aslii
    *mlipir

    ReplyDelete
  5. kalo untukku, gak kebaca malah pesan semi politik itu, mungkin krn sejak awal pembaca langsung digiring masuk ke konflik pasutri itu sebelum pindah, dan cerita pun lbh kuat pd kisah si syakilla, endingnya pun msh ttg pasutri itu, jd yg lebih kerasa ya konflik mrk b2, papuanya jd konflik pendukung aja.
    Malah nurutku Always Be-nya Shabrina, meski hny sekilas penyampaiannya, pesan agar kedua negara itu bersatu terasa lbh kuat, cukup dgn dia menyampaikan bahwa ada dua hati dan keluarga yg harus terpisah krn referendum, kalo aja Shabrina bisa eksplorasi dan fokuskan disitu, tuh novel bakal lbh menggetarkan deh

    ReplyDelete
  6. Mbak Eky, aslinya sy minim pengetahuan ttg aktor lokal, jadi bolak-balik tahunya itu aja :D

    ReplyDelete
  7. Mengapa oh mengapa ada Aa Reza muncul di sini? :) *fans Aa Reza mendoakan film dari novel ini segera rilis * *memancing isu* :))

    ReplyDelete
  8. bener kata mba yeni, novel ini menurutku lebih menonjolkan papuanya, mba. terlepas dari repetisi karakter yang biasanya dilakukan penulis. penulis lain juga sering repetisi, ada kemungkinan karena itu karakter ideal yang dia suka.

    ReplyDelete
  9. Mbak ifa : mengapa ? Karena saya nggak kenal banyak aktor lokal, hihihi

    ReplyDelete
  10. Ila : ya ini hanya yang mampu tertangkap olehku :-) aslinya aq juga bukan pembaca yang teliti , hihihi, jadi ya terserah penulisnya aja sudi mempertimbangkan opini gak penting ini kagak:-)

    ReplyDelete
  11. Untuk yang repetisi karakter juga aq maklumi koq, tuh ada di poin 1, not big problem buatku:-)

    ReplyDelete
  12. Ambil nafas dalam-dalam dan hembuskan. Aku bacanya sampai tahan nafas mbak. Luar biasa, ini resensi kedua yang aku sukai setelah 12 menit ^^

    ReplyDelete
  13. Oalah capek juga ika tahan napas sambil baca, hihi

    ReplyDelete
  14. Ini novel mengusung pesan politik, terasa kok, karena disusupkan dengan sangat lembut. Bagi yang mengikuti perkembangan Papua, pasti tahu. Justru saya mengapresiasi gaya penuturan semacam ini, konflik seperti cenderung ke pasangan suami istri, namun pesan menyusup tanpa disadari.

    ReplyDelete
  15. Wah, saya punya bukunya yang ini.. Hadiah quiz Pembaca Afifah afra...

    ReplyDelete