Riawani Elyta: RESENSI NOVEL HAWA : Menyusuri Cinta Kilat di Seijeram

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 17 January 2014

RESENSI NOVEL HAWA : Menyusuri Cinta Kilat di Seijeram

Judul                :  Hawa
Penulis       :  Riani Kasih
Penerbit     :  Gramedia Pustaka Utama
Tebal         :  255 hal
Genre         :  Novel Amore
Terbit         :  Juli 2013
ISBN           :  978-979-22-9759-1
Harga         :  Rp.45.000,-


Kisah ini berawal dari kepulangan Hawa, adiknya Luna dan ayahnya Praba ke rumah omanya di desa Seijeram, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Desa yang menyimpan banyak kenangan akan masa kecil Hawa, juga kenangan Praba akan mendiang istrinya. 

Kepulangan tersebut, adalah disebabkan rasa malu dan patah hati Hawa akibat pernikahannya yang batal dengan tunangannya Abhirama. Pernikahan yang kemudian dibatalkan oleh Hawa secara sepihak, gara-gara Abhirama yang terlalu sibuk hingga membatalkan rencana prewedding mereka di Bali sebulan sebelum pernikahan.

Di desa Seijeram ini, Hawa berkenalan dengan seorang polisi tampan bernama Landu. Berawal dari kejadian kurang mengenakkan, selanjutnya secara perlahan tapi pasti, mulai tumbuh dan berkembang getar-getar cinta diantara keduanya. Tidak disangka, Abhirama kemudian menyusul Hawa ke Kapuas Hulu untuk menyatakan penyesalannya, dan diluar dugaan Hawa, bahwa antara Abhirama dengan Landu ternyata saling mengenal.

Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah Hawa kembali pada Abhirama ataukah lebih memilih Landu?

Semuanya akan terjawab dalam novel pemenang 2 Lomba Novel Amore 2012 ini. Penuturan  yang bernuansa romantis dan lembut, juga kepiawaian penulis mendeskripsikan latar tempat secara detail dan menarik, menjadi keunggulan tersendiri dari novel ini. Menyusuri lembar-lembarnya, pembaca seakan dimanjakan dengan deskripsi pedesaan Seijeram dan objek wisata danau Sentarum yang indah, hijau, sejuk dan asri. Keindahan yang dapat membangkitkan keinginan untuk mengunjungi, menyaksikan secara langsung dan merasakan pengalaman saat berada di tempat-tempat tersebut. Hal ini menjadi nilai positif dari novel ini ditengah sejumlah novel lokal yang justru menjadikan kota di luar negeri sebagai latar. Budaya agraris masyarakat setempat dan kosakata daerah turut diselipkan sehingga nuansa lokalitas Kalimantan dalam novel ini cukup terasa.

Namun novel ini juga tak luput dari serentetan kejanggalan. 
Pertama, pada plot cerita. Alasan kekecewaan dan kepulangan Hawa ke Seijeram, yaitu pembatalan rencana prewedding oleh tunangannya yang terlalu sibuk, terasa agak berlebihan dan kekanak-kanakan. Apalagi, atas alasan itu pula, Hawa memutuskan meninggalkan Abhirama dan membatalkan pernikahan secara sepihak, selain alasan lain karena selama ini merasa diduakan oleh Abhirama yang lebih mementingkan pekerjaan. Sebenarnya, hal ini masih bisa disiasati jika penulis memberikan ruang eksplorasi yang cukup pada interaksi ataupun eksplorasi perasaan dan prinsip antara Hawa dan Abhirama, karena salah satu “tuntutan” kepiawaian penulis fiksi, adalah pada bagaimana mengondisikan plot yang terasa absurd menjadi jalinan kisah yang setidak-tidaknya bisa ditolerir oleh pembaca. Sayangnya, porsi ini sangat minim, hingga kemungkinan besar, pembaca gagal diajak bersimpati terhadap kekecewaan dan patah hati yang dialami Hawa.

Kedua, menilik genrenya, idealnya kisah ini lebih difokuskan pada pergulatan cinta segitiga antara Landu – Hawa – Abhirama, namun sebagaimana disebutkan pada poin pertama, porsi kisah Abhirama ternyata sangat minim, dan nyaris tidak tergambarkan perjuangan sosok ini untuk mempertahankan cintanya pada Hawa. Penulis bahkan memberikan porsi lebih banyak pada penceritaan latar belakang Praba ayahnya saat ditinggal mati istrinya, padahal, fungsi Praba disini hanyalah sebagai tokoh sampingan saja.

Ketiga, karakter beberapa tokoh dalam cerita ini nyaris typikal atau serupa, tercermin dari cara mereka bersikap dan bertutur. Karakter Landu yang semula digambarkan sebagai polisi yang berdedikasi, makin menuju akhir ternyata kian tereduksi menjadi sosok polisi yang selalu merasa tampan dan deskripsi ketampanannya justru semakin ditonjolkan. Tentu, melukiskan gambaran fisik yang ideal adalah hal yang wajar dilakukan didalam novel roman, namun  sepertinya akan lebih menarik, andai tokoh ini tetap dipertahankan sebagaimana karakter awalnya, yaitu seorang polisi yang “lurus” dan menjalankan tugasnya dengan baik. Semakin ke belakang, gambaran profesi Landu juga kian mengabur. Pada sebagian lembar-lembar akhir cerita, pembaca justru lebih banyak disajikan dengan adegan kebersamaan antara Landu dan Hawa.

Karakter Hawa sebagai sosok sentral kisah ini pun kurang menimbulkan simpati. Begitu mudahnya dia meninggalkan Abhirama lalu secepat kilat pula jatuh cinta pada Landu, dan chemistry antara keduanya pun lebih ditonjolkan melalui ketertarikan fisik ketimbang pada kesesuaian sikap atau prinsip. Padahal, dengan “dukungan” profesi Landu, penulis sebenarnya punya peluang untuk memunculkan adegan-adegan heroik untuk menguatkan chemistry ini, misalnya adegan Hawa yang dikejar hewan buas saat berjalan-jalan ke hutan ataupun dikejar perampok, lalu Landu muncul sebagai penyelamat.

Keempat, pada salah satu halaman ketika Abhirama mencari Hawa, seorang penduduk mengatakan bahwa Hawa adalah seorang perempuan yang cacat mental, pernyataan ini juga tak kalah janggal, mengingat sejak awal tidak ada gambaran sedikit pun bahwa Hawa adalah seorang yang cacat mental, melainkan seorang wanita yang awalnya suka mengurung diri, namun perlahan-lahan mencair setelah dekat dengan Landu. Mungkin, istilah cacat mental bisa diperhalus dengan menyebut Hawa sebagai seorang perempuan berperilaku aneh saja.

Kelima, cerita ini ditutup dengan epilog yang sangat menghunjam, ibarat menuruni jurang terjal setelah sebelumnya bergerak menuju lembah yang tinggi, dari kebahagiaan yang langsung berubah menjadi musibah dalam sekejap. Namun, satu hal menarik disini, bahwa musibah yang menimpa Hawa dan kesetiaan Landu terhadapnya, sedikit banyak “menyelamatkan” kedua tokoh ini dari (kemungkinan) persepsi tidak simpati pembaca terhadap inkonsistensi karakter keduanya yang dibangun sejak awal.

Saya pernah bertanya pada salah satu editor amore disela-sela revisi novel amore saya : apa sih yang sebenarnya menjadi syarat utama novel amore? Apakah terletak pada alurnya yang dramatis? Jawab beliau waktu itu : cerita yang meninggalkan kesan “manis”.

So, this is the key point. Inilah (mungkin) yang menjadi faktor pendukung mengapa novel ini kemudian terpilih sebagai pemenang 2 Lomba Novel Amore. Terlepas dari beberapa kejanggalan diatas, juga kritik-kritik lumayan tajam di goodread terhadap novel ini, Hawa adalah novel yang berhasil memenuhi syarat “kesan manis” tersebut lewat penuturan dan deskripsi latar tempatnya yang memesona. Hal ini tentunya berlaku bagi pembaca yang menyenangi kisah-kisah romantis dan bernuansa lembut. Juga nuansa lokalitasnya yang terasa eksotis. Bahkan saat menutup novel ini, keindahan Seijeram dan Danau Sentarum masih tertinggal kuat di dalam benak saya. Dan bagi saya, ini adalah kelebihan yang patut diapresiasi. Saya yakin, melihat potensi yang ditunjukkan penulis pada novel debutnya ini, sangat mungkin baginya untuk ke depan berproses menjadi penulis amore yang layak diperhitungkan.


14 comments:

  1. Ihiy... Suka dengan resensinya Mbak Lyta. Baru tau kalau novel ini settingnya Kalimantan. Makin banyak aja novel dengan setting Kalimantan :D

    ReplyDelete
  2. Wah,, makin penasaran aja. Semoga cepat nyampe berdua dgn Miracle of Touch... Kemarin liat terpajang manis di Gramedia...

    ReplyDelete
  3. Wah, kritikannya sama persis kayak kritikan mba Lyta, tapi bahasa kritikan mb Lyta lebih halus dan lebih enak dibaca, hehee
    Btw, ini diikutkan ke IRC mbak

    ReplyDelete
  4. Yanti , sy jd pingin ke kalimantan gara2 bc novel ini:-)

    ReplyDelete
  5. Eyi , baru hari ini dikirim, gabung sama paket untuk pemenang twitpic n resensi:-)

    ReplyDelete
  6. suka sama resensinya, tidak berkesan menjatuhkan sebuah karya tapi berisi masukan yang PAS banget, jadi pengen bisa ngeresensi apik begini

    ReplyDelete
  7. Asyik nih kalau baca resensi yg dibuat oleh penulis, apalagi penulisnya itu Mbak Lyta. Analisis unsur intrinsiknya dalem. Ibarat dokter, ini mah analisanya bukan ala dokter umum tapi dokter spesialis.

    ReplyDelete
  8. Emang bedaaaaa yah resensi yang ditulis oleh penulis novel juga, daleeeem. Suka deh, baca resensi ini jadi dapet dobel, pengetahuan tentang novel Hawa dan juga pengetahuan tentang teknik menulis novel :)

    ReplyDelete
  9. Oalah mbak Linda, kuliah dokter umum aja blm lulus2, qiqiqiqi

    ReplyDelete
  10. Oh begitu ya *apa seh
    Selalu bagus resensinya. Kalau Amore itu skrg nerima naskah reguler nggak, sih,, Dek?

    ReplyDelete
  11. Kayanya terima selalu sih mbak rini, yg bareng jebolan lomba amore kemaren ada bbrp yg reguler yg terbit

    ReplyDelete