Riawani Elyta: RESENSI NOVEL FRANKFURT TO JAKARTA

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 31 January 2014

RESENSI NOVEL FRANKFURT TO JAKARTA





 
Resensi                       :
Perkenalan Rianda dengan Fedi di Frankfurt saat keduanya menuntut ilmu disana membawa keduanya pada hubungan yang kian akrab dan terus berlanjut menjadi jalinan cinta. Fedi berjanji pada Rianda bahwa hubungan itu akan mereka resmikan dalam ikatan pernikahan. Siapa menyangka, kepulangan Fedi ke tanah air justru menyisakan kekecewaan dan luka di hati Rianda. Fedi dijodohkan dengan Andini, mereka menikah dan dikaruniai dua orang anak. Rianda kemudian memutuskan untuk menjadi wanita karir yang mandiri. Di lain sisi, Andini harus merelakan putus kuliah saat menikah dengan Fedi.


Roda kehidupan terus bergulir. Rianda yang kembali ke tanah air bertemu lagi dengan Fedi dan secara diam-diam mereka pun kembali menjalin hubungan. Namun, Andini akhirnya mengetahuinya. Kenyataan yang membuatnya sangat terpukul, karena selama ini, ia pun telah sering berinteraksi bahkan bersahabat dengan Rianda.

Bagaimanakah kisah rumah tangga Fedi dan Andini? Akankah kehadiran Rianda berhasil menghancurkan ikatan suci mereka?

Membaca novel yang ditulis secara duet ini, sesuai judulnya, pembaca akan diajak menelusuri kota Frankfurt dan suasana hiruk pikuk Jakarta khususnya kota Depok secara bergantian. Deskripsi latar tempat yang detail dari keduanya membuat visualisasi kedua kota ini terasa begitu hidup. Selipan kultur dan dialog betawi di awal cerita juga menambah kesan hangat. Andai unsur lokalitasnya terus dipertahankan hingga akhir, saya pikir novel ini akan terasa lebih ‘kaya’ dan variatif.

Penokohan yang kuat juga menjadi kelebihan lain novel ini. Kedua penulis berhasil menggiring emosi pembaca untuk ikut bersimpati pada nasib Rianda atau Andini, dan sebaliknya merasa sebel luar biasa dengan karakter Fedi yang plin plan dan egois.

Novel ini akan menggugah kesadaran kita, bahwa cinta atau ego sesaat tak harus diperturutkan, apalagi jika kita telah terikat pernikahan ataupun saat menyadari bahwa cinta sesaat itu terjalin dengan seseorang yang telah menikah.

Andai ke depan, kedua penulisnya masih akan konsisten dengan teknik menulis mereka dalam novel ini, it’s no problem. Saya yakin novel-novel seperti ini juga memiliki segmen pembaca dan peminatnya tersendiri. Tetapi kalau keduanya masih menganggap writing progress tetap diperlukan, maka yang bisa saya sarankan adalah, nggak ada salahnya untuk melakukan pembaruan. To do something new. Baik dalam tema maupun gaya penuturan.

Novel islami selalu membuka peluang untuk tema-tema berdasarkan sendi-sendi islam yang universal, tak hanya berkutat pada urusan perjodohan, cinta segi tiga dan saran poligami ketimbang selingkuh. 

Kalaupun tetap ingin bertahan dengan tema-tema semacam ini, setidaknya, nggak ada salahnya juga untuk sedikit memperbaharui gaya penuturan dan variasi diksi. Jujur saja, saat membuka lembar-lembar novel dengan narasi yang panjang-panjang ini, saya seakan tengah membaca sebuah memoar yang ditulis dengan pov yang berbeda. Dan ending novel ini langsung mengingatkan saya pada novel duet islami lain yang ditulis oleh rekan BAW dengan premis yang juga nyaris sama. Novel apa gerangan? Tunggu ya, sepertinya saya harus baca ulang sebelum bisa nulis resensinya :)


Judul                          :            Frankfurt to Jakarta
Penulis                        :            Leyla Hanna dan Annisah Rasbell
Penerbit                      :            Edu Penguin
Tebal                          :            320 hal
Genre                         :            Fiksi
Terbit                         :            2013
ISBN                          :            9786021777725




1 comment: