Riawani Elyta: REVIEW : BETANG, CINTA YANG TUMBUH DALAM DIAM : Perjuangan Gadis Desa Mendayung Harapan

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 8 February 2014

REVIEW : BETANG, CINTA YANG TUMBUH DALAM DIAM : Perjuangan Gadis Desa Mendayung Harapan





 
Resensi                       :
Olahraga dayung, merupakan salah satu jenis olahraga andalan Indonesia. Tak tanggung-tanggung, atlet dayung Indonesia pernah mempersembahkan sembilan medali emas dari cabang olahraga ini pada Sea Games tahun 2011.

Novel ini bercerita tentang seorang gadis remaja bernama Danum, yang jatuh cinta pada olahraga dayung sejak pertama kali ia memiliki dan memegang alat dayung. Ia kemudian menjadikan atlet dayung sebagai urutan pertama pada daftar cita-citanya. (hal. 17).


Danum yang lahir dan dibesarkan di rumah Betang (rumah adat Kalimantan), bersahabat dengan seorang lelaki bernama Dehen sejak mereka kecil. Dehen juga menyenangi olahraga dayung, memiliki cita-cita yang sama, dan sejak kecil, mereka selalu bersama-sama menyusuri sungai dengan jukung (perahu) dan saling beradu kecepatan. Kebersamaan itu, diam-diam menumbuhkan perasaan simpati antara keduanya yang tak pernah terungkapkan.

Perjalanan Dehen menuju cita-citanya menjadi atlet dayung terbilang mulus. Dalam waktu singkat, ia telah berhasil masuk pelatnas dan mengharumkan nama Indonesia saat meraih medali emas dalam kejuaraan dayung Korea Terbuka di Busan (hal. 41). Namun sebaliknya dengan Danum. Ia berkali-kali gagal di perlombaan tingkat daerah hingga jauh tertinggal dibandingkan Dehen.

Ketika akhirnya ia memperoleh kesempatan saat dipanggil mengikuti kualifikasi masuk tim propinsi, Danum merasa bimbang, karena ia harus pergi ke Palangkaraya, meninggalkan kakek yang sangat disayanginya di rumah betang, kakek yang menjaganya sejak ibunya meninggal dan ayahnya pergi meninggalkannya, juga Arba, satu-satunya abang kandungnya yang dibawa pergi oleh ayahnya lalu kembali lagi ke rumah betang saat ayahnya masuk penjara.

Berkat dukungan penuh dari Arba dan kakeknya, Danum memutuskan untuk mengejar cita-citanya. Ia berhasil lolos kualifikasi. Kebimbangan kembali mendera Danum, karena ia harus mengikuti pelatihan daerah selama berbulan-bulan. Danum merasa tak sanggup berpisah dengan rumah betang, kakeknya dan juga Arba dalam waktu yang lama. Ia merasa harus membayar terlalu mahal untuk mengejar cita-citanya, karena selama ini, kakek tidak pernah meninggalkannya. Kakek selalu ada di sampingnya saat satu demi satu orang-orang yang dicintainya pergi. (hal. 70).

Manakah pilihan yang akan diambil Danum? Berhasilkah ia mencapai cita-citanya menjadi atlet dayung kebanggaan Indonesia? Lalu, bagaimana pula nasib hubungannya dengan Dehen?

Semuanya akan terjawab dalam novel yang dituturkan dalam bahasa yang halus dan lembut ini. Novel setebal 175 halaman ini sarat pesan-pesan moralitas dalam hal perjuangan meraih cita-cita dan cinta. Dengan berlatar lokalitas Kalimantan, kultur Dayak dan selipan kosakata bahasa daerah, turut memberikan nuansa eksotis pada jalinan cerita ini. Pembaca akan diajak mengenali rumah betang dan ciri-cirinya, suasana pedesaan di tanah Borneo yang hijau dan asri, serta kehidupan masyarakat setempat diantaranya pekerjaan bertanam dan mengembangbiakkan kayu ulin. Meski tidak menyajikan konflik yang tajam, novel ini cukup memberikan nilai-nilai inspiratif lewat kalimat-kalimat motivasi yang disebar pada setiap bab. 


Melalui tokoh Danum, novel ini mengajarkan pentingnya arti  kegigihan dan pengorbanan, termasuk saat harus meninggalkan keluarga yang dicintai demi mengejar cita-cita. Novel ini juga seakan mengingatkan, bahwa negeri ini menyimpan potensi atlet olahraga yang tak kalah bersinar dibandingkan atlet cabang olahraga lain yang lebih populer seperti bulutangkis dan sepak bola, yaitu olahraga dayung. Apalagi, ditunjang oleh kondisi geografis Indonesia yang banyak memiliki sungai dan dikelilingi lautan, sangat memungkinkan untuk melahirkan lebih banyak lagi atlet-atlet dayung potensial yang kelak akan mengharumkan nama negeri ini. Tak peduli meski berasal dari daerah terpencil sekali pun, karena yang terpenting, adalah kegigihan dan komitmen dalam meraih impian dan cita-cita.

Judul         :            Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis      :            Shabrina WS
Penerbit     :            Quanta
Tebal         :            175 hal
Genre        :            Novel
Terbit        :            Oktober 2013
ISBN         :            9786020220352
Harga        :           Rp.29.000,- 

*) Resensi pernah dimuat di Koran Jakarta edisi hari Jumat tanggal 8 November 2013


Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

1 comment: