Riawani Elyta: Resensi Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 6 November 2013

Resensi Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah




Judul                    : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis                  : Tere Liye
Tebal                    : 512 hal
Penerbit                : GPU
Harga                   : Rp.72.000,-
Terbit                    :  Januari 2012

Apakah Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini.
Demikian sepenggal tulisan yang tertera pada back cover novel ini. Ya. Ini memang novel tentang cinta. Novel yang mengusung sosok Borno (berasal dari kata Borneo) sebagai tokoh sentralnya, seorang pemuda yang digambarkan penulis sebagai ‘bujang berhati paling lurus sepanjang tepian Kapuas’, dan setting cerita yang sebagian besar mengambil lokasi di Pontianak khususnya tepian sungai Kapuas.
Kisah dibuka dengan peristiwa yang dialami ayah Borno ketika Borno masih berusia dua belas tahun, ayahnya yang tersengat ubur-ubur saat melaut memilih untuk mendonorkan jantungnya pada seorang pasien gagal jantung hingga pilihan itu membawa konsekuensi pada berakhirnya denyut nadi dan detak jantung ayah Borno.
Cerita kemudian terlempar beberapa tahun kemudian, saat Borno menjalani lika-liku hidupnya dengan bergonta-ganti pekerjaan, hingga dia bertemu seorang gadis peranakan bernama Mei, yang kerap dideskripsikan penulis sebagai si pemilik “wajah sendu menawan”. Ketika itu, Borno tengah menjalankan profesi sebagai seorang pengemudi sepit (sebutan masyarakat lokal untuk perahu kayu bermesin tempel, di adaptasi dari bahasa asing speed). Penampilan gadis itu langsung memesona Borno pada pandangan pertama, selain itu juga, sepucuk angpau merah yang tanpa diketahui Borno memang sengaja ditinggalkan gadis itu pada bangku sepit turut memancing rasa penasaran Borno. Sayang, angpau yang pada awalnya setengah mati dijaga oleh Borno agar bisa dikembalikan pada pemiliknya itu, justru kemudian berbalik menjadi tak lagi bermakna khusus saat Borno menyaksikan Mei yang tengah membagikan amplop serupa pada pengemudi sepit dan pedagang warung di dermaga. Namun, penemuan sepucuk angpau merah yang sengaja ditinggalkan itulah, menjadi momentum pembuka kisah romantika antara Borno dan Mei. Isi angpau itu sendiri baru diketahui Borno lama setelah penemuan itu.
Lantas, bagaimana lika-liku hubungan cinta antara Borno dengan Mei? Apa sesungguhnya isi sepucuk angpau merah itu? Akankah cinta Borno dan Mei berakhir dengan kebahagiaan atau sebaliknya?
Dalam novel setebal 512 halaman ini, pembaca yang sejak awal sudah berekspektasi bahwa tema cinta akan menjadi bahasan utama dalam novel ini, mungkin harus membangun ekstra kesabaran untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, karena novel ini tak hanya melulu bicara soal cinta, melainkan juga menyajikan beragam kisah akan perjuangan hidup, pengorbanan, dan sisi-sisi kehidupan masyarakat Pontianak khususnya masyarakat tepian Kapuas, juga cerita seputar tokoh-tokoh lain yang turut mewarnai novel ini.
Adalah ciri khas Tere Liye, untuk selalu menuturkan adanya sebuah proses kehidupan di dalam novel-novelnya. Proses yang pada umumnya digambarkan sebagai sebuah metamorfosa tokoh utamanya saat memulai hidupnya dari masa-masa sulit hingga akhirnya memperoleh kesuksesan.
Di dalam novel ini pun, pembaca akan diajak menyusuri lika-liku, naik turun dan pahit getir perjalanan seorang Borno saat menjalani berbagai bidang profesi, mulai dari karyawan perusahaan karet, penjaga karcis kapal feri, pengemudi sepit, hingga akhirnya ia sukses memiliki bengkel sendiri. Dalam proses inilah, melalui tokoh Borno, penulis “menitipkan” pesan-pesan tentang pentingnya memelihara sifat jujur, ketekunan dan kerja keras untuk bisa meraih kesuksesan.
Tak ketinggalan pula interaksi Borno dengan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ini, hikmah yang didapat Borno dari peristiwa demi peristiwa yang dia alami bersama tokoh-tokoh tersebut, turut dijadikan sarana penulis untuk menyampaikan nilai-nilai inspiratif melalui penuturan yang ringan, deskripsi peristiwa yang lekat dengan kehidupan sehari-hari hingga terasa akrab dan jauh dari kesan menggurui.
Adalah Pak Tua, tokoh lain yang kapasitas perannya cukup dominan dalam cerita ini, tokoh yang menjadi tempat penulis menitipkan pesan-pesan akan esensi kehidupan melalui petuah, nasehat dan kalimat-kalimat bijak yang mengalir dari mulutnya saat memaknai hikmah dari sebuah peristiwa.
Dibandingkan novel-novel sebelumnya, novel Tere Liye kali ini “pengemasan”nya memang jauh lebih ringan, juga kaya akan dialog cerdas, dibumbui oleh humor-humor menggelitik saat memparodikan kehidupan, bernuansa lokalitas yang sangat kental, sehingga dalam keseluruhan paketnya, novel ini berhasil mengajak pembaca mengalami beragam pergantian emosi, tersenyum, tertawa geli, tertegun, kagum, juga terharu. Novel ini juga minim konflik, berbeda dengan novel-novel Tere Liye terdahulu yang justru menjadikan ketajaman konflik sebagai salah satu “andalan”nya.
Namun, minimnya konflik tak lantas membuat novel ini jadi tak bertaji. Karena di sini, penulis mampu menghadirkan penggambaran setting secara detail, natural, melebur harmonis dengan segenap unsur pembangun cerita lainnya sehingga pembaca akan merasa seolah-olah benar-benar berada di lokasi cerita, memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru tentang kultur masyarakat setempat dalam hal ini masyarakat yang tinggal di tepian Kapuas termasuk sekilas pengetahuan akan hal-hal terkait profesi-profesi Borno yang berhasil dideskripsikan secara apik oleh penulis.
Kekuatan lainnya dari novel ini juga terletak pada deskripsi karakter tokoh-tokohnya. Selain sosok Borno dan Mei yang menjadi tokoh sentral cerita, pembaca juga akan diajak berkenalan dengan tokoh-tokoh pendukung yaitu Pak Tua, Koh A Cong, Bang Togar, Tulani, Andi, Sarah, dan lain-lain yang merepresentasikan beragam suku di tanah air berikut kekhasan kultur dan sifat dari masing-masing suku tersebut.
Memang, jika dilihat dari berbagai unsur, tidak ada teknik penyampaian yang benar-benar istimewa digunakan penulis untuk membangun dan menuturkan kisah dalam novelnya kali ini. Bahkan tema yang digunakan pun adalah tema yang selalu didaur ulang. Tema tentang cinta antar dua insan. Lebih spesifiknya adalah tentang kekuatan cinta pada pandangan pertama yang tetap tak tergoyahkan meski banyak lika-liku harus dihadapi. Namun, ciri khas penulis yang selalu mewarnai novel-novelnya dengan nuansa humanis inspiratif, selain kekuatan-kekuatan yang telah disebutkan sebelumnya, menjadikan tema yang sangat biasa ini berhasil dikemas secara baik, apik dan mengasyikkan untuk dibaca.
Kekuatan lain dari karya Tere Liye adalah pada kepiawaiannya menggambarkan adegan filmis yang membuat pembaca seolah-olah dapat merasakan langsung efek visual dari deskripsi adegan tersebut. Tak heran jika satu demi satu novel Tere Liye layak diangkat ke layar lebar atau pun layar kaca.
Untuk ending sendiri, kali ini Tere Liye menghadirkan akhir yang menggantung, seolah sengaja membiarkan pembaca berpikir, menerka-nerka dan memutuskan berdasarkan persepsi masing-masing.
Novel ini, boleh jadi menjadi antitesis terhadap pakem novel cinta (roman) pada umumnya yang kini menyerbu pasaran novel populer, yaitu novel yang menjadikan tema cinta sebagai “penguasa” atas keseluruhan isi novel, dan kehadiran konflik serta alur lain di luar urusan cinta hanya memegang peran sebagai pendukung cerita saja. Demikian pula pada konsentrasi tokoh-tokohnya. Novel cinta (roman) pada umumnya berfokus pada interaksi tokoh-tokoh utama yang terlibat dalam kisah cinta tersebut, dan hanya memberi ruang secukupnya saja pada peran tokoh-tokoh lain.
Maka, hal sebaliknya dilakukan penulis pada novel ini. Novel yang justru dengan bebas dan lentur bergerak kesana kemari, membiarkan konflik dan alur cerita tokoh-tokoh lain terurai dalam lembar-lembarnya sehingga jalinan kisah cinta kedua tokoh utama dalam novel ini pun menjadi tak lagi dominan.
Bagi pembaca yang menginginkan sajian kisah cinta dalam kemasan berbeda, atau pun menginginkan ramuan kisah cinta yang lebih bergizi dan sarat makna, serta tidak peduli akan standar romantisme dan pakem sebuah cerita cinta, novel ini adalah pilihan yang tepat. Dan bagi para pembaca novel-novel Tere Liye khususnya, novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah tetap tak kehilangan ciri khas seorang Tere Liye. Ciri yang selama ini eksis dalam karya-karya beliau termasuk saat bertutur tentang cinta. Menjadikan novel ini, lebih dari sekadar sebuah kisah cinta biasa.


4 comments:

  1. salam kenal mbak... resensinya bagus, mau dong belajar.hehehe

    ReplyDelete
  2. Salam kenal juga:-) hehe, biasa aja koq, masih belajar juga:-)

    ReplyDelete
  3. Jual MURAH novel "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah" karangan Tere Liye !
    (masih baru di dalam plastik)

    Harga Normal: Rp97.000,-
    Harga Diskon: Rp70.000,-

    Cek page kami di tokopedia: https://www.tokopedia.com/sevenskiesbooks untuk daftar buku selengkapnya.

    Salam,
    Bofan (call/ sms/ whatsapp/ line: 0856-9169-0022)

    ReplyDelete