Riawani Elyta: REVIEW NOVEL TILL WE MEET AGAIN : A LETTER TO YOANA

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 8 October 2013

REVIEW NOVEL TILL WE MEET AGAIN : A LETTER TO YOANA

Judul   : Till We Meet Again (Pemenang 3 Lomba Roman 100% Indonesia Gagasmedia 2010)
Penulis : Yoana Dianika
Penerbit : Gagas Media
Tahun   :  2011

Blurb :
Saat pertama kali aku melihat dia hari itu, aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumannya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa. Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.



Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin, “Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.

============================================================= 

Lagi males bikin resensi yang mainstream, jadi kali ini  bentuknya kaya' surat ke penulisnya :)


Yoana Dianika. Kau mungkin tak ingat lagi, tapi aku masih ingat pertama kali kau mengirimiku contoh goresan kata cinta untuk jadi suplemen di antology reuni pertama kita waktu itu.

Membaca tulisanmu, juga melihat PP-mu yang terkadang unik dan eksentrik, dalam hati aku dapat merasakan bahwa kau menyimpan bintang besar dalam dirimu.

Dugaanku terbukti. Meski komunikasi kita amat sangat jarang setelah itu, dan produktivitas penamu pun tak seheboh rekan-rekan yang lain, tapi aku yakin bahwa kau sedang menyiapkan sesuatu yang lebih berarti.

Dan kau telah membuktikannya. Nggak tanggung-tanggung, kau langsung ajak aku berjalan-jalan di Wina, kota yang tak pernah melintas di impianku apalagi di hidupku. Dan kau benar-benar pemandu wisata yang brilian. Begitu indah dan detail Wina yang kau tinggalkan di rekam jejakku, membuatku serasa benar-benar berada disana, menyusuri bangunan-bangunan artistik Eropa ditengah musim salju yang dingin namun selalu menghadirkan sketsa romantis di benak warga negeri tropis sepertiku.

Juga pada sosok demi sosok yang begitu rinci kau deskripsikan. Sampai-sampai aku berkhayal, bahwa seharusnya bukan Elena yang tengah berjalan bersama si tampan Chris dan si Mr. Cool Hans, sepayung berdua dan membuat snowman bersama Hans, menggesek biola dan menyusuri sore yang indah di Wina bersama Chris, melainkan aku. Ya, aku. (bangun, mpok, bangun!) :D

Kau juga sukses membuatku tercengang-cengang dan berdecak kagum dengan rangkaian kalimatmu yang tak biasa, Yoan. Kalimat yang manis dan indah, serasa aku tengah mendengarnya seraya mengemut permen lollipop.

Tapi, sebelumnya aku minta maaf, harus kukatakan bahwa aku pelancong yang kelewat jujur, sulit buatku menahan apa yang mengganjal dan baru bisa plong kalau sudah melepaskannya keluar.

Perjalanan kali ini serasa memosisikanku pada dejavu. Rasanya aku dapat merasakan perjalanan ini pernah terwujud secara visual tanpa kuingat lagi apa judulnya dan siapa pemerannya, selain yang kuingat bahwa itu adalah drama korea.

Jika kau menggunakan liontin biola sebagai benang merah perjalananmu, maka benang merah di drama itu adalah ikan paus biru. Tentu, aku hanya bisa bilang, bahwa di zaman millenium ini, dengan begitu banyak sumber referensi, adalah amat sangat sulit untuk menghindari kemiripan dengan visualisasi yang sesungguhnya tak lebih dari sekedar inspirasi.

Perjalanan ini pun rasanya terlalu datar, Yoan. Nyaris tak ada gelombang riak yang membuat emosiku terpacu, rasanya tak ada bedanya dengan saat kuberjalan bersama Izzati menyusuri Hari-hari di Raintstherhood-nya dibawah biro wisata KKPK (^_^).

Juga, kutemukan begitu banyak kebetulan di sepanjang perjalanan ini, Yoan. Ditambah dengan nuansanya yang langsung menerbangkanku pada dongeng klasik ala negeri serendipity, tak urung dalam hati kuberkata – again and again, I find this kind of too good to be true story -.

However, kau berhasil menutup perjalanan ini dengan kejutan yang manis, Yoan. Yang membuatku tak henti tersenyum. Kalaupun kejujuranku terasa verbal, jangan terlalu diambil hati, itu hanya subyektivitas belaka. Seharusnya aku yang sejak awal menyadari, bahwa adrenalin dan soulku baru move on saat mengarungi perjalanan historis-psikologis bersama Khaled Hosseini ataupun perjalanan melintasi biro hukum dan detektif bersama John Grisham dan Sidney Sheldon.

Jadi, perjalanan semacam ini, cukuplah menjadi refreshing yang menyegarkan dan manis buat jiwa wanita yang kematengan sepertiku namun terkadang anomalinya kumat dengan tetap kepingin mengikuti perjalanan wisata –nya anak-anak remaja.

Aku masih ingat satu kalimatmu, Yoan : Cinta tak butuh waktu, tapi cinta butuh keberanian.
Aku mendukungmu untuk ini, Yoan. Karena inilah refleksi love storyku, one and only love story, mantan kekasihku tak ingin mengandalkan waktu, tapi berjuang mengerahkan segenap keberanian untuk memutus lingkaran waktu hingga cita-cita kami untuk segera menikah tercapai.

Thanks a lot untuk perjalanan yang indah ini, Yoan. Jangan lupa mengajakku lagi kalau kau hendak memulai perjalanan baru, ya.

Terakhir, saat aku telah kembali ke rumah, tak urung ada tanda tanya besar tertinggal di benakku : dengan perjalanan kisah ala dongeng klasik serendipity berpadu dengan manisnya ciri khas drama korea, judul yang berbahasa asing, orang-orang didalamnya yang nyaris semuanya makhluk (orang) asing, dan kalaupun ada yang Indonesia tapi nggak benar2 murni a.k.a blasteran, ditambah lagi dengan setting kota Wina yang nyaris full dan detail, does it match to say this as....100% Roman Asli Indonesia? (piss Yoan, just kidding, absolutely it’s not you to tell me the answer :D)

Yang ingin jalan-jalan ke Wina, jangan lewatkan novel ini ya :)

Hari ke-7 battle challenge #31hariberbagibacaan

7 comments:

  1. buku ini memang bagus di settingnya, tp minim konflik. jadi pengen kapan gitu ada novel yoana yang konfliknya kompleks hehe :D

    btw, keknya penerbit pengen bikin roman asli buatan penulis indo, tp jadinya malah pake merk "roman asli indo". piye kuwi yo, mba? :D

    ReplyDelete
  2. Roman 100% indonesia itumaksudnya piye mba? bukannya ini settingnya di wina?

    ReplyDelete
  3. Ila, mbak Sarah : hehe, ya itu dia, judul kompetisinya waktu itu 100% Roman Asli Indonesia, tapi...ya mungkin standar juri membolehkan pake setting LN

    ReplyDelete
  4. Till we meet again.. sebuah novel romantis yang membuat saya sedikitnya mengenal tentang Wina..
    Jalan ceritanya sederhana tapi kata-kata nya membuat kita terhanyut dalam cerita tersebut.. sebuah pertemuan di masa lalu ternyata di pertemuakan kembali oleh takdir memang benar jodoh tidak akan kemana..
    Numpang promo ya jangan lupa juga buat berkunjung ke blog saya:
    obat kista tradisional.
    obat pelangsing herbal
    terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
  5. thank banget informasinya,,, sangat bermanfaat sekali nih beritanta

    ReplyDelete
  6. haha :D keliatan keren banget artikelnya :D heheh

    ReplyDelete