Riawani Elyta: RESENSI SYAIR CINTA PEJUANG DAMASKUS : BELAJAR DARI "DONGENG"

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 5 October 2013

RESENSI SYAIR CINTA PEJUANG DAMASKUS : BELAJAR DARI "DONGENG"


Judul: Syair Cinta Pejuang Damaskus
 Penulis: Elvandi
Harga: Rp. 35.000
Penerbit : Prou Media
Tahun : 2009


Sinopsis :

Pada awalnya kemenangan tak terduga atas sang Pemimpin Kavaleri, dalam pertarungan birjas di Maydan Sultan. Takdir Asad si Pedagang Pasar Suqul Khayyath, Damaskus, mulai mencatatkan diri sebagai orang kepercayaan Sultan Salahuddin. Satu tekad ditanam, membara di dada: bebaskan bumi al-Aqsha, Palestina, dari pendudukan Tentara Salib.

Pada penggapaian tekad, Asad tampil gemilang. Cengkeraman Tentara Salib di negeri sepanjang Jazirah Asia-Afrika perlahan dikembalikan dalam dekapan kemuliaan Islam. Maka, Asad pun menjadi buah bibir yang tak habis untuk dibicarakan. Namun, nama emas Asad melahirkan dengki dan pengkhianatan dari orang-orang yang dihormatinya. Bahkan Sang Sultan pun turut berjarak dengannnya.

 Dalam keterasingan, Asad tetaplah pejuang tangguh selaksa di medan perang. Pena di tangan tak ubahnya pedang yang dimainkan untuk menebas leher lawan. Pena yang melahirkan syair cinta pada seorang yang dirindukannya.

 =============================================================

Bukan hal mudah untuk menulis fiksi dengan setting waktu seabad silam, di negeri yang berbeda dan mengambil kilasan peristiwa sejarah pula. Tidak hanya riset terhadap setting mutlak diperlukan, tetapi juga terhadap kultur masyarakat pada waktu dan tempat yang menjadi setting. Maka, saat membaca beberapa fiksi sejarah, ada beberapa 'hasil' yang saya temui : fiksi yang benar-benar bagus hingga penggambaran adegan dan suasana terasa detail dan hidup (biasanya ini terjadi pada fiksi yang didahului oleh riset bertahun-tahun), fiksi yang 'berat', sarat dijejali informasi peristiwa sehingga unsur ceritanya menjadi minim, dan fiksi dengan penuturan serupa dongeng.

Sekarang saya ingin ngobrol tentang sebuah fiksi berjudul Syair Cinta Pejuang Damaskus. Novel yang mengambil setting sekitar tahun 1100 di tanah Syria (Damaskus) dan berlatar belakang peristiwa perjuangan menghadapi musuh-musuh Islam. Sampai separuh jalan membaca, saya putuskan untuk menganggap fiksi ini sebagai dongeng ketimbang novel. Mengapa?

Pertama, karena gaya penuturan sang penulis (dengan PoV orang ketiga) yang benar-benar memosisikan dirinya diluar cerita sehingga sangat terasa seperti penuturan (bercerita) tanpa melibatkan diri secara maksimal pada penggalian emosi masing-masing tokoh. Jadi jangan heran kalau di halaman kesekian kita menemukan seorang perempuan yang berlinang air mata karena cintanya ditolak oleh pemuda A, namun di halaman sebelahnya sang wanita telah (digambarkan) bersuka cita setelah melangsungkan pernikahan dengan pemuda B. Padahal, ada begitu banyak titik konflik dalam fiksi ini yang berpotensi memancing pergolakan emosi pembaca namun tidak dimanfaatkan dengan maksimal.

Kedua, karena plot yang juga terkesan cepat oleh gaya penuturan bercerita. Kita tidak akan menemukan penggambaran yang terlalu detail tentang runutan beberapa peristiwa. Ditambah dengan cara penulis yang sering menyelipkan pertanyaan retorika lalu dijelaskan sendiri seakan kian menegaskan bahwa cerita ini memang berpola penuturan (bercerita) tanpa perlu sang penulis benar-benar terlibat (berinteraksi) dengan tokoh-tokoh dan peristiwa dalam cerita.

Ketiga, terkait dengan penggunaan setting, terus terang saya tidak terlalu memahami seperti apa hubungan antara penguasa (Sultan) dengan rakyat jelata pada jaman itu. Mungkinkah Sultan bisa akrab dengan rakyat meskipun rakyat itu seorang yang berjasa dan heroik hingga bisa ngobrol akrab, bermain catur bahkan di salah satu adegan terkesan bahwa sang rakyat bisa 'menyuruh' sang Sultan membaca peraturan pertandingan. Juga penggunaan dialog yang terkadang menggunakan cara metafora bak syair dan puisi, mungkinkah ini memang dialog yang 'pas' untuk setting jaman itu?

Keempat, oleh sebab-sebab diatas yang membuat saya gagal menemukan hal-hal yang menjadi poin penting dalam menghidupkan sebuah novel, maka saya lebih suka menganggapnya sebuah dongeng, karena dalam posisi ini saya akhirnya bisa menyelesaikan membaca dan mengambil pesan-pesan positif yang terkandung didalamnya.

Adalah seorang Asad, yang semula hanya seorang pedagang biasa, namun berkat kecerdasan, kemampuan fisik dan tekad ambisiusnya juga kegigihannya untuk belajar, akhirnya membawa keberuntungan demi keberuntungan atasnya. Menjadi orang kepercayaan Sultan, memimpin perjuangan membasmi musuh-musuh Islam dan dikagumi juga dihormati di seantero negeri.

Namun semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang pula angin bertiup. Kepopuleran Asad kemudian mengundang hasad dengki dan fitnah. Nasib Asad berbalik 180 derajat. Disini pesan moral terpenting bisa kita maknai, bahwa sifat fitnah dan dengki adalah hal terlaknat dalam Islam, dan betapa kesombongan akan mencampakkan seseorang yang memiliki segala kelebihan. Ya. Salah satu kelemahan tokoh Asad adalah kesombongannya yang berulangkali digaungkan oleh kalimatnya 'Aku adalah pencipta takdirku sendiri' dan ambisinya untuk meraup kekuasaan. Kelemahan yang akhirnya menyadarkan Asad lewat kehadiran tokoh Abul Hasan juga rentetan peristiwa pahit yang dialaminya untuk kembali mendekatkan diri pada Illahi dan meluruskan niatnya untuk beristiqomah.

So, dengan pesan-pesan moral dan keislaman yang dibawa dalam fiksi ini, juga apresiasi terhadap penulis yang telah berani mengambil setting waktu dan tempat di masa silam serta kilasan peristiwa sejarah akan kebangkitan Islam melawan musuh-musuhnya di jaman itu, tak ada salahnya kita memosisikan (merubah) perspektif kita untuk dapat mengambil hal-hal baik didalamnya, sebagaimana halnya membaca sebuah dongeng yang juga selalu membawa pesan-pesan kebaikan tanpa harus kita memusingkan unsur-unsur sastrawi yang membangunnya. Toh lembaran-lembaran Harry Potter dan Twilight yang setebel kamus juga tak lebih dari rangkaian fantasi demi fantasi yang membubung tanpa perlu sang penulis merasa repot dengan logika dan pesan moral namun nyatanya terjual sampai jutaan eksemplar, bukan? (^_^)


Hari ke-4 Battle Challenge #31hariberbagibacaan

2 comments:

  1. aku sepertinya idem deh dengan dirimu jika membaca buku2 sejenis ini. Suka mikir, ini beneran kayak gini atau ini cuma ada di imajinasi penulis ya?

    ReplyDelete
  2. Nah itu dia, mau ngecek di google juga males, hehe

    ReplyDelete