Riawani Elyta: Resensi novel Musim Gugur Terakhir di Manhattan : Kekuatan apa yang mengalahkan cinta?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 7 October 2013

Resensi novel Musim Gugur Terakhir di Manhattan : Kekuatan apa yang mengalahkan cinta?




Judul : Musim Gugur Terakhir di Manhattan
Penulis : Julie Nava
Tahun : 2011
Penerbit : Lingkar Pena

Apa rasanya jika berhasil nemu buku yang emang 'pas' dengan momen keinginan? Seneng banget tentunya. Dan inilah yang saya alami saat menuntaskan novel bersetting LN ini, hasil dari jalan-jalan instan di Gramedia saat liburan dua tahun lalu. Sebuah novel yang bertutur tentang konflik pra pernikahan antara dua manusia dengan latar belakang agama, ras, kultur dan negara berbeda, juga selipan unsur feminisme wanita modern.


Kisah diawali dengan Rosie yang menerima lamaran dari Anthony, seorang mualaf berkebangsaan Italia, lewat saran dari imam masjidnya. Cara perkenalan yang sudah kita kenal dalam ajaran Islam. Namun dalam kasus Anthony - Rosie, cara semacam ini ternyata tak cukup, karena nyatanya dalam hari-hari yang mereka lalui menjelang pernikahan, ada begitu banyak lika-liku tak terduga yang harus dihadapi, serta kenyataan akan mengelupasnya satu demi satu motif dibalik keinginan menikah satu sama lain, termasuk permasalahan yang dipicu oleh ketidaksepahaman dalam pembuatan perjanjian pranikah yang semakin 'mengukuhkan' ego dan prinsip masing-masing.

Tentu, bukanlah pada cara perkenalan ini yang harus disalahkan, melainkan ada banyak faktor yang pada akhirnya menyebabkan rencana pernikahan mereka kandas hanya dalam tempo beberapa hari jelang pernikahan. Pentingnya meluruskan niat, bisa jadi ini salah satu pesan yang coba diselipkan, karena kedua tokoh cerita, Anthony dan Rosie, menyimpan alasan masing-masing untuk menikah yang lebih didasari pengalaman traumatis, dan dalam kasus Anthony, juga dibumbui kepentingan dan ego, serta konflik terkait kultur keluarga Italia yang kental.

Sampai pada gagalnya pernikahan mereka, saya menganggap bahwa cerita ini sudah sepantasnya tamat, nyatanya belum. Awalnya saya menganggap bahwa kisah pasca episode kegagalan pernikahan ini dengan jalinan antara Rosie dan Marco yang tak lain adalah adik Anthony, seakan penyambung kisah yang sedikit dipaksakan, tak ubahnya sinetron striping yang harus diperpanjang episodenya karena rating yang terus membubung, nyatanya saat sampai di bab-bab penutup, anggapan saya salah. Justru kisah inilah, yang meski pola penuturannya terasa sedikit mengalami peningkatan kecepatan, menjadi penyeimbang dan pelengkap atas tuturan konflik yang telah terjalin sejak awal. Bab-bab penutup ini juga seakan menjadi peneguh, bahwa disaat cinta, ego dan kepentingan saling berpacu di rel yang sama, maka tetaplah cinta yang akan keluar menjadi pemenangnya.

Cinta yang akhirnya menggoyahkan inkonsistensi Anthony yang sempat berniat menceraikan Aurora istrinya setelah sejak awal begitu kukuhnya ia mempertahankan keinginan untuk menikahi Rosie, salah satunya adalah demi mencapai pernikahan yang langgeng dalam sudut pandang dan prinsip seorang Anthony. Cinta yang akhirnya menjadi sebab perpindahan keyakinan Marco (meski Anthony juga berpindah keyakinan karena Rosie, namun anda akan menemukan alasan yang sangat berbeda dari kedua pria ini). Dan cinta juga yang membuat Rosie akhirnya menerima lamaran Marco meski menyadari bahwa Marco berasal dari trah keturunan yang sama dengan Anthony yang jelas-jelas telah melukainya.

Penulis berhasil memadukan konflik multikultural dalam penuturan yang padat dan dialog-dialog yang cerdas. Memang kalau dilihat dari latar belakang, penulis yang berdomisili di AS dan bersuami seorang mualaf Amerika ini telah memiliki jam terbang tinggi dalam mengisi media-media top tanah air juga menulis beberapa hasil riset.

Hal lain yang saya senangi dari novel ini, adalah tokoh-tokohnya yang terasa real, dalam artian tidak satupun tokoh-tokohnya digambarkan serba sempurna (terus terang, meski fiksi, saya masih kurang legowo nrimo penggambaran tokoh yang terlalu perfect) selain tentu aja performanya digambarkan pada keren2, maklum, sebagiannya, tokoh Italiano gitu loh :D Jadi inget sahabat pena saya waktu SMP, seorang Italiano berwajah kocak n kekanakan yang waktu itu sudah kuliah. Andai waktu itu saya punya cukup uang untuk terus berkorespondensi (waktu itu belum ada jejaring sosial via internet, ongkos prangko ke Italia Rp.4.500,-, jumlah yang cukup untuk membeli satu helai t-shirt keren, berbanding prangko surat dalam negeri yang cuma gocap), mungkin aja saya bisa ngalamin kisah pahit-manis seperti halnya Anthony-Rosie *halah mpok, nghayalnya kejauhan* :D

Dan lagi-lagi episode pasca kegagalan pernikahan Anthony dan Rosie menjadi 'penyeimbang' untuk memunculkan sisi-sisi tidak sempurna dari para tokohnya. Pembaca (wanita khususnya) yang sejak awal udah jatuh benci setengah mati sama sosok Anthony, akan menemukan sisi-sisi manusiawi dan kekokohan Anthony mempertahankan tradisi keluarga di bab-bab akhir yang bisa jadi merebut secelah simpati, sebaliknya menganggap sosok Marco (dimata saya) ternyata tak lebih dari sosok pria flamboyan yang beruntung.

Buat teman2 yang menyenangi novel romantis dalam warna berbeda, tidak hanya sekedar bersetting luar negeri tapi juga menghadirkan kisah akan lintas negara, budaya dan agama, novel ini pantas dilirik. Juga buat teman2 penulis yang pernah stay ataupun saat ini menetap permanen di LN, ayo dong bikin novel2 bersetting LN yang ciamik dan bernas, nggak hanya sekedar untuk keren-kerenan semata sementara temanya homogen. Insya Allah banyak peminatnya, saya salah satunya :D

Day-6 battle challenge #31hariberbagibacaan

5 comments:

  1. aku sering liat nama mba Julie Nava ini tapi baru tau karyanya dari resensi mba lyta :D
    btw, untuk settingnya gimana, mba? keliatan nyata dan kuat ya? kalo karakter mgkn karena sudah sering berbaur dg orang multikultural jd tau gimana kondisi realnya. jd pengen nyari bukunya di perpus :)

    ReplyDelete
  2. Ila, nah mbak julie justru gak terlalu memaksakan detail pd setting tp meleburkannya naturally dgn cerita, dan yg jelas kultur italiano nya tersampaikan tnp ada kesan menggurui, natural bgt lah ceritanya

    ReplyDelete
  3. "Musim Gugur Terakhir di Manhattan" ceritanya membuat saya terhanyut dalam ceritanya, sampai-sampai tidak sadar air mata keluar karna baca novel ini. :)

    ReplyDelete